Murder Admirer ~Part 1~

*Gereja Di Kota Seoul*

Kim Kibum dimakamkan, sebelum dimakamkan, jasadnya di semayamkan di gereja. Barisan balon biru safir semuanya menggunakan pakaian hitam, semua berkabung atas meninggalnya sang killer smile, terlebih dengan cara yang tragis dan menakutkan seperti itu.

Tapi tidak ada yang lebih sedih selain member Super Junior sendiri. Mereka semua sangat shock kehilangan Kibum, belum lagi teror yang mereka hadapi sekarang. Orang yang mengirimkan mereka ancaman, tahu dimana mereka berada, dan membuktikan kata-katanya.

Haejin menggigit bibirnya, menahan takut, baru kali ini setelah sembilan belas tahun ia hidup, ia ketakutan. Setelah Misa selesai, dia terus mengawal Donghae, Donghae tidak berhenti menangis. Sementara beberapa kali Heechul pingsan, karena tidak sanggup menahan rasa sedihnya.

Haejin menutupi Donghae dari kerumunan ELF yang berusaha menggapainya, namun karena begitu banyak orang Haejin terpaksa mengibaskan tangan kanannya, sehingga lima shuriken muncul di sela-sela jarinya, para ELF yang melihat mundur, dan tidak jadi mendekati Donghae, Haejin bisa memasukkan Donghae dengan aman ke dalam mobil khusus untuk Donghae.

Ya, memang setelah kejadian Kibum tersebut, setiap member diberikan satu mobil, dengan kaca tahan peluru, dengan satu pengawal, satu manajer, dan satu supir untuk tiap member.

”Haejin-ssi…”

Haejin mengerling ke Donghae, wajah Donghae kalut, dengan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya, dia nampak acak-acakan.

”Apa menurutmu… aku akan mati?” tanya Donghae lirih.

Haejin mengangguk.

”He?!” wajah Donghae pucat. ”Kau kan pengawalku! Kenapa kau malah bilang kalau aku akan mati?”

”Bukankah semua orang memang akan mati…”

Donghae menghela napas. ”Tapi sekarang ini?!”

”Aku bukan Tuhan, aku tidak tahu kapan kau mati, Tuan…”

Donghae menghela napas dan menoleh ke jendela di sebelah kanannya, percuma meminta saran dari wanita seperti dia! Donghae menghela napas, ”Kibum, may rest in peace… doakan kami…” bisiknya.

Hujan turun, bulir-bulirnya yang deras mengaburkan kaca mobil, jalanan menjadi macet.

Ponsel Haejin berbunyi, Haejin mengangkatnya. ”Yeoboseyo…”

”Hiromi-san, Lee Donghae bersamamu?”

”Ne…”

”Dia aman?”

”Aman…”

”Baguslah, hati-hati di jalan…”

”Ne…” Haejin menutup kembali ponselnya, dan menatap ke depan tanpa ekspresi lagi.

Donghae di sebelahnya menghela napas lagi. Dia selalu tegang jika ada telepon untuk pengawalnya, tapi menanyakan dirinya. Jalanan padat merayap, hujan deras, dan petir yang menambah suasana mencekam, perasaan Donghae malah jadi tidak enak. Dia melirik gadis di sebelahnya lagi, wajahnya santai, diam, kalem. Yah, mungkin karena dia sama sekali tidak kena terror, tapi dia kan pengawal pribadi, seharusnya dia juga tegang, dia bisa terbunuh seperti Yui, pengawal pribadi Kibum.

”Aku lapar…” keluh Donghae tiba-tiba.

”Hanya ada apel, Tuan…” Haejin mengeluarkan apel dari dalam tasnya sigap. ”Mau dipotong?”

Donghae mengangguk. ”Kau bawa piso?”

Haejin menyentakkan telunjuk dan jari tengah di sebelah kanannya, tiba-tiba sebilah pisau sudah muncul, kemudian dengan waktu singkat dia berhasil mengupas dan memotong apel tersebut, diserahkannya kepada Donghae yang terperangah.

”Waeyo?” tanya Haejin.

”Aniyo… aku masih belum terbiasa melihatmu mengeluarkan benda-benda itu dalam sekelebat saja…”

Haejin tersenyum tipis, dan berpaling menatap ke depan lagi, sementara Donghae kembali memakan apelnya. Mobil merayap pelan, hingga akhirnya mereka sampai di dorm.

 

*Stasiun Radio Sukira, 01.00 AM KST*

Eunhyuk berjalan ke kamar mandi membawa gelas kopinya, badannya terasa pegal, dan matanya merah karena acara radionya hari ini dengan tema mengenang Kim Kibum. Eunhyuk menghela napas berat setelah selesai buang air kecil, dia beranjak ke wastafel, dan mencuci mukanya, matanya masih merah.

Kehilangan Kibum, belum lagi binatang-binatang yang dibunuh secara brutal oleh pembunuh itu, Eunhyuk menghela napas dalam-dalam. Tapi, tiba-tiba lampu kamar mandi berkedip-kedip sendiri, dan padam-hidup-padam-hidup, Eunhyuk mendongak melihat lampu tersebut.

Kemudian terdengar suara garukan yang membuat ngilu telinga, Eunhyuk menggelengkan kepalanya sendiri, dia meraih botol minumnya ketika seseorang muncul.

”Oh kau… tolong bilang pada pengurus toilet dong, lampunya sepertinya…”

Orang itu mengeluarkan shuriken dari antara jari-jarinya, Eunhyuk terperangah, dan mundur beberapa langkah ke belakang, ”Jadi… jadi… selama ini…  kau… yang…” ucapnya terbata-bata.

Orang itu mengeluarkan evil smirk-nya, berjalan semakin mendekati Eunhyuk. Dengan sigap, Eunhyuk mengeluarkan ponselnya, dibelakang tubuhnya, dan menekan speed dial.

”Kau… punya dendam apa dengan kami? Kami salah apa?” tanya Eunhyuk nyaris menangis.

”AAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGHHHH…” teriak Eunhyuk saat shuriken mengoyak perutnya beserta isinya.

Eunhyuk tergeletak tidak bernyawa di lantai kamar mandi, sementara orang itu membaringkan Eunhyuk, menangkup darah yang keluar dari isi perut Eunhyuk, dan meminumnya.

 

*Pada saat yang sama, Dorm Super Junior*

Ponsel Donghae berbunyi nyaring, Donghae meraba-raba kasurnya, mencari ponselnya yang diletakkannya di sebelah bantal, dan melihat nama yang tertera di layarnya. [Naui Hyukjae… J Calling…]

Donghae melirik jamnya, kemudian mengernyit, lalu menekan tombol hijau dan mengangkatnya. ”Yeoboseyo, Hyuk-ah, wae? Rindu padaku?”

Tapi yang di dengar oleh Donghae adalah suara Eunhyuk yang mau menangis,   ”Kau… punya dendam apa dengan kami? Kami salah apa?” Donghae mendengarkan dengan seksama, apa maksud Eunhyuk? Pikirnya.

AAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGHHHH…”

Donghae langsung pucat. ”HIROMI!” teriaknya.

Jendela Donghae tersibak, muncullah Hiromi, dengan baju hitam kulit, dan rambut di kuncir ke atas a la Go Hara di MV Lupin, Hiromi masuk ke dalam kamar Donghae.

”Kau memanggilku, Tuan?”

”Eunhyuk, Eunhyuk…” ucap Donghae terbata-bata.

”Tuan Eunhyuk, kenapa?” tanya Hiromi sambil menuntun Donghae duduk di atas tempat tidurnya.

Donghae pucat. ”Kita harus ke Sukira sekarang, sesuatu yang buruk pasti terjadi padanya… Hiromi, kau harus menolongku!”

”Lokasinya dimana?”

”Kantor KBS, di Prefektur XX…”

”Kalau begitu ayo…”

Mereka turun ke bawah, dan Hiromi mengeluarkan kunci mobil, mereka menuju kantor KBS dengan kecepatan tinggi, dengan Hiromi yang mengendarainya, begitu sampai keduanya buru-buru turun.

”Ken… mana Hyukjae?” tanya Donghae pada Ken, pengawal pribadi Eunhyuk yang berdiri di depan ruang siaran.

”Tuan sedang ke kamar mandi…”

Leeteuk keluar dari dalam ruang siaran karena melihat Donghae datang bersama pengawalnya. ”Hae, apa yang kau lakukan disini?”

”Hyung!” Donghae menghampiri Leeteuk dan langsung menjelaskan apa yang terjadi mengenai telepon barusan.

”Kalau begitu, semuanya tunggu disini, Hiromi-san, bisa kupercayakan Tuan Leeteuk padamu?”

Hiromi mengangguk.

Ken dan Jie, pengawal Leeteuk masuk ke dalam ruangan, sementara Donghae dan Leeteuk duduk menunggu, raut cemas menggelayuti keduanya. Hiromi berdiri diam, dengan wajah tanpa ekspresi.

Tiba-tiba lampu ruang siaran berkedip-kedip, Donghae dan Leeteuk mendongak ke arah lampu.

Hiromi memejamkan matanya. ”Tuan Donghae… Tuan Leeteuk, sepertinya ada tamu…” Hiromi melirik ke atas. ”Ada bau darahnya…”

”He?”

”Apa maksudmu?”

”Lima… empat… tiga… dua…” Hiromi melompat dan melakukan gerakan memutar di udara, dan dia sudah berada di depan Donghae dan Leeteuk. ”Tuan, pegang tangan saya…”

Donghae menurut.

”Tuan Leeteuk juga…”

Leeteuk memegang tangan Hiromi yang satunya, lampu mati. Terdengar suara langkah.

”Hyung… itu suara siapa?”

Leeteuk berbisik, ”Molla, Hae…”

”Minggir…” ucap suara dingin tersebut.

”Shiruh…” sahut Hiromi tenang. (Tipe-tipe suara Moon Geun Young kalo ngomong ’Shiruh’ di Cinderella Sister)

Leeteuk langsung panas dingin, dia kenal suara ini. ”Kau…”

”Halo, Leeteuk-ssi…” sapanya. ”Dan Donghae-ssi, siapa menemui kematian kalian, kah?”

Hiromi masih tenang. ”Tidak akan ada yang mati malam ini…”

Terdengar siulan angin, kemudian Leeteuk dan Donghae merasa keduanya melayang, tapi tangannya masih menggenggam tangan Hiromi, Hiromi memanfaatkan Donghae dan Leeteuk untuk menendang tubuh di depannya itu, setelah tubuh itu terjengkang, Donghae dan Leeteuk dibiarkan duduk oleh Hiromi.

”Kaget, kah?” tanya Hiromi.

”Aku tahu memang kau yang akan menghambat tugasku, Hiromi-san… satu-satunya pengawal keturunan klan Ninja…”

”Bukankah kau juga sebetulnya klan Ninja?”

Terdengar baku hantam lagi, kemudian lampu menyala, orang itu sudah hilang, hanya ada Hiromi yang berdiri di tengah-tengah ruangan, dengan tangan kanannya mengeluarkan lima buah shuriken.

”Hiromi…” panggil Donghae.

Hiromi menoleh, perut Leeteuk tergores, Hiromi terperangah, dia berlari menghampiri Leeteuk. ”Tuan Leeteuk, gwenchana? Joesohamnida, aku tidak bisa menjaga Tuan dengan baik…” Hiromi menunduk.

”Gwenchana, gwenchana…” Leeteuk memegang perutnya dan menggeleng.

Hiromi merobek begitu saja bajunya di bagian perut, sehingga perut ratanya dengan pusar bertindik terlihat jelas, dan dengan kecepatan diatas rata-rata dia membebat perut Leeteuk.

”Kemana Jie?” tanya Donghae sambil memegangi Hyungnya. ”Kenapa dia belum kembali?”

Donghae menggeleng.

”Aku tidak mungkin keluar dari sini…” wajah Hiromi nampak cemas. ”Tapi penyerang itu…”

Leeteuk meringis. ”Ne, rasanya aku kenal penyerang tadi…”

”Hyung… jangan banyak bergerak, mungkin sebaiknya kutelpon rumah sakit…” Donghae mengeluarkan ponselnya.

”Gwenchana, sudah tidak terlalu sakit…”

Pintu mendadak terbuka, tapi yang masuk adalah staf KBS bersama petugas kepolisian.

”Leeteuk-ssi…”

Leeteuk duduk tegak. ”Kami diserang…” ujarnya. ”Eunhyuk, bagaimana dia? Dia tidak apa-apa, kan?”

”Mohon maaf, Eunhyuk-ssi, beserta dua pengawal… ditemukan tewas dengan tubuh terkoyak di dalam kamar mandi, dan darahnya habis…”

Donghae langsung lemas, Hiromi menahannya, begitu pula dengan Leeteuk, wajahnya pucat, dan kehilangan kesadarannya. Hiromi mengeluarkan sebuah botol dari dalam kantungnya, dan menyorongkannya di bawah hidung Leeteuk dan Donghae, kesadaran keduanya pulih.

Donghae menutup wajahnya dan menangis terguncang, Leeteuk juga nampak tidak sanggup mengontrol emosinya.

 

*Dorm Super Junior 08.00 AM KST*

Jenazah Eunhyuk di semayamkan di Gereja Seoul lagi, sepertinya publik sudah mulai mencium ada yang tidak beres dengan Super Junior, dimulai dengan kematian Kibum yang begitu mendadak dengan pengawalnya. Dan sekarang Eunhyuk dengan dua pengawal sekaligus, pengawalnya sendiri, dan pengawal Leeteuk. Belum lagi kenyataan bagaimana jenazahnya ditemukan.

Terkoyak di bagian perut, dengan darah habis.

Leeteuk, Heechul, Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Donghae, Siwon, Ryeowoook, dan Kyuhyun duduk di ruang tengah apartemen mereka yang baru. Wajah mereka kuyu.

Para pengawal lain mulai mengundurkan diri mereka masing-masing karena melihat kenyataan bahkan pengawal pribadi mereka saja bisa dibunuh dengan begitu brutalnya.

”Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Sungmin berkata lirih. ”Hanya Hiromi yang bersedia terus mendampingi Donghae.”

”Hyung, yang benar saja… Hiromi itu kan perempuan, sampai kapan dia bisa bertahan kalau nyawanya juga terancam!” sahut Kyuhyun kuyu. ”Kita harus melakukan sesuatu!”

Leeteuk menyela. ”Tapi, Kyuhyun-ah, Hiromi tidak selemah yang kau kira lho, dia bisa melindungi aku dan Donghae dengan baik kemarin. Seharusnya mungkin aku juga sudah mati kemarin…”

”Tapi Hyung terluka, kan?!” tanya Shindong. ”Itu Hiromi baru menjaga kalian berdua! Bagaimana kalau dia menjaga kita bersebelas? Lagipula Hiromi itu perempuan, Hyung… sekuat-kuatnya perempuan, tetap saja tidak mungkin baginya menjaga laki-laki sebanyak kita.”

”Kita harus melakukan sesuatu…” kata Heechul cemas. ”Kita harus menyelidiki, siapa yang sebetulnya mau membunuh kita, mungkin saja kita memang punya salah padanya… kita harus menghentikannya sebelum dia menghabisi kita semua.”

Selesai Heechul berbicara, semua langsung merinding, karena yang dikatakan Heechul benar. Eunhyuk sudah meninggalkan mereka semua, menyusul Kibum, mata rantai ini harus diputus.

 

Kamar Donghae

”Hiromi…” bisiknya.

Jendela tersibak, dan masuklah Hiromi ke dalam kamar Donghae. ”Tuan memanggilku?”

”Ne…” Donghae duduk di kasurnya, sambil menangkupkan kedua tangannya. Matanya sedih, dan dia menunduk. ”Duduklah…”

Hiromi duduk dikasur kosong di hadapan Donghae.

”Kau yakin mau meneruskan pekerjaan ini?” tanya Donghae lirih.

”Memang ini pekerjaanku, Tuan…” sahut Hiromi.

Donghae mendongak menatap Hiromi. ”Kau tidak takut? Sudah tiga orang yang mati, aku tidak tahu apa yang salah dengan kami, tapi aku rasa ini terlalu berat untuk seorang yeoja…”

”Tuan tidak merasa amankah bersamaku?”

Donghae mendongak. ”Ani, bukan begitu… aku merasa aman, kok… apalagi kemarin… tapi, apakah kau yakin mau meneruskan ini?”

”Tentu saja… itu sudah hukum kami sebagai Klan Ninja Kinomoto. Klan Ninja kami memiliki peraturan… dan kami terikat hukum untuk mematuhi peraturan tersebut sampai mati.”

”Peraturan apa?” tanya Donghae.

”Klan Ninja Kinomoto, tidak pernah dipilih, atau dipekerjakan… mereka yang memilih siapa yang akan mereka jaga, sampai mereka mati…”

Donghae tertegun. ”Jadi maksudmu…?”

”Ne, aku tidak dibayar oleh pihak SM Entertainment… aku memilih Tuan untuk jadi Tuanku, kepada Tuan aku mengabdi, seumur hidupku sejak aku memutuskannya…” Hiromi menjelaskan.

Donghae masih terpana menatap wajah Hiromi, ketika pintu kamarnya diketuk. ”Hae! Ada surat lagi…” suara Sungmin terdengar lemah dari luar, Donghae tau semua pasti ketakutan.

”Hiromi… aku senang kau mau menjagaku… tapi aku juga punya saudara, aku punya keluarga, aku juga mau mereka selamat… tanpa mereka, aku tidak ada artinya, aku tidak mau hidup juga…” ucap Donghae lirih.

”Tuan jangan khawatir, aku akan mempertaruhkan hidupku demi keinginanmu…”

Donghae mendongak. ”Waeyo?”

”Karena aku memilih Tuan…”

Donghae masih bingung, kemudian dia berdiri dan keluar dari dalam kamarnya, sementara Hiromi menghela napas dalam-dalam. ”Otokhe? Aku harus melakukan sesuatu…”

 

Di Ruang Tengah

Heechul duduk di sofa, yang lain duduk melingkarinya. Tangannya memegang kotak yang warnanya sudah sangat familiar dengan gemetaran, untunglah kali ini tidak ada bangkai sesuatu, melainkan hanya sepucuk surat.

Semua menahan napas melihat surat tersebut. Heechul menarik napas dalam-dalam dan membuka lipatan surat itu lagi.

 

Selamat Siang, Super Junior…

Bagaimana pria-pria tampan? Sudah mengerti kalau aku bukan cuma menggertak?

Nyawa kalian bagiku hanya mainan, gampang digerakkan…

Kim Kibum sudah lewat seperti kepala Heebum dan Baengshin…

Eunhyuk pun terkoyak layaknya Ddangkoma dan kedua temannya…

Berikutnya, aku pastikan aku akan terus membunuh kalian sampai kalian habis…

Lee Donghae, aku berbicara langsung padamu… lihatlah keadaan Bada kecilmu sekarang…

Itu clue, siapa yang akan mati berikutnya…

 

Donghae langsung berdiri dan berlari ke arah ruangan yang disediakan khusus untuk anjing kesayangannya, bersama dengan ruangan untuk menjemur pakaian, betapa terkejutnya ia, Bada sudah berbaring lemah, dengan muntahan darah.

”Bada… Bada…” Donghae langsung duduk dan menghampiri Bada. Member lain mengikuti Donghae. ”Hiromi!” teriak Donghae.

Hiromi muncul di belakang mereka begitu saja. ”Ya, Tuan?”

”Bada… tolong Bada!”

Hiromi bergegas mendekati Bada, dan dengan satu tangan dia meraba tubuh Bada, lalu melihat bercak darah di lantai, mencoleknya dan menciumnya. ”Racun! Anjing Tuan diracun…”

”Racun?!”

”Jadi maksudnya, habis ini… akan ada yang diracun?” tanya Sungmin lemah.

Siapa Korban Selanjutnya?

Benarkah yang berikutnya akan keracunan seperti Bada?

Sebetulnya siapa yang mengincar nyawa anak-anak Super Junior?

Dapatkah Haejin a.k.a Hiromi menyelamatkan seluruh member?

Murder Admirer ~Part 2~

Coming Soon

 

____________________________________________________________

temen-temen jangan siksa saya ya… ini cuma FF kok, wkwkwkwkwk… buat yang request supaya Bias-biasnya nggak di matiin, Mohon Maaf, saya lagi keranjingan matiin orang di FF #plakk

Kalo ada kritik dan saran tentu aja saya tunggu disini, tapi pliss yg mau bashing… jangan di Blog ya, kalo mau bash langsung aja ke Facebook sama Twitter saya …

Facebook : nisya_nadine_haejin@hotmail.com (Nisya Mutiara Busel-Siregar)

Twitter : @nisya910716

One thought on “Murder Admirer ~Part 1~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s