It’s Fine, Donghae’s Dauhgter & Son ~Part 7~ ENDING

*Seoul International Hospital, 04.00 AM KST*

”Dia kenapa?!” tanya Eunhyuk panik.

”Aku tidak tahu, dia terus menjerit dalam tidurnya, dan kemudian dia jatuh dari kasur begitu jauhnya karena dia terus meronta, aku sudah berusaha menahannya, tapi tenaganya kuat sekali…” Donghae menjelaskan dengan kalut. ”Dia terus meronta, dan akhirnya…”

Eunhyuk menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya, mereka berdua berdiri di depan ruang UGD, menunggu dokter memberikan keterangan tentang Nadine Lee.

”Jamkaman!” Eunhyuk menoleh cepat ke arah Donghae yang menggigit bibirnya dengan cemas. ”Kau bersamanya?”

”Eh?”

Alis Eunhyuk benar-benar sudah terangkat. ”Jangan pura-pura tidak tahu apa yang kukatakan, Lee Donghae… apa yang dia lakukan di kamarmu, atau entah apa yang kau lakukan di kamarnya, tapi aku lebih ingin bertanya apa yang kalian berdua lakukan?!”

”Ah, jebal! Itu tidak penting…” desah Donghae, wajahnya benar-benar cemas.

Eunhyuk menghela napas dalam-dalam. ”Kau ini benar-benar ya…” desahnya juga. ”Aku tidak tahu bagaimana harus menyembuhkanmu, ckckckck… ya sudah kau tunggu disini, aku mau mengurus sesuatu dulu…”

Donghae mengangguk.

Eunhyuk beranjak mencari lobi, kemudian berkata. ”Suster, ini penting… tolong lakukan segera pengecekan DNA, antara saya dan gadis yang baru saja diperiksa di UGD ini…”

”Pemeriksaan DNA?”

”Ya!” jawab Eunhyuk mantap.

”Silakan, Anda isi formulirnya…” Eunhyuk meraih kertas tersebut dan langsung mengisinya secepat kilat.

 

*           *           *

Incheon International Airport

Seorang pria berpakaian rapi menarik kopernya hatinya cemas, karena nomor ponsel yang dihubunginya sama sekali tidak dijawab! Dia benar-benar telah dibohongi mentah-mentah oleh gadis itu.

Dia bilang mau ke Jepang, dan Changmin merasa Haejin tidak mungkin berbuat macam-macam karena ingatannya yang belum pulih, dan selama lima tahun ini, Haejin terus percaya bahwa dirinya adalah suaminya, dan Haejin tidak menunjukkan tanda-tanda mengingat sesuatu. Maka Changmin cuek saja melepaskannya ke Jepang. Tapi entah apa yang membuatnya tiba-tiba sudah sampai di Korea, dan Eunhyuk yang tiba-tiba menghubunginya.

Pasti telah terjadi sesuatu disini, Changmin harus segera menemukan gadis itu dan segera membawanya kembali ke Amerika, sebelum gadis itu bertemu dengan pria perampas bernama Lee Donghae. Changmin mengepalkan tangannya, dan memanggil taksi.

Dia pergi menuju alamat apartemen Haejin, yang memang Haejin sendiri yang memberikan alamatnya. Changmin punya kunci serepnya, dan begitu masuk ke dalam, sepi dan lengang, dia mencari ke kamar, kosong!

Kemana Haejin jam segini?

Tapi begitu Changmin membuka lemari, baju-baju Haejin hilang setengahnya, kemana dia? Pikiran Changmin semakin kacau! Dia harus mencari gadis itu, dan dia harus membawa gadis itu kembali ke Amerika, suka atau tidak! Baru saja dia mau keluar, ponselnya berbunyi.

”Yeoboseyo…”

”Dengan Tuan Max Shim? Atau Shim Changmin?”

”Ya benar, saya sendiri…” sahut Changmin.

”Istri Anda, Nadine Lee kecelakaan…”

Dan Changmin langsung buru-buru melejit ke rumah sakit yang disebutkan, dan berdoa di atas apa pun, keselamatan Haejin lebih penting, dibandingkan semua pikiran liarnya tadi.

 

*Unit Gawat Darurat SI Hospital, 08.00 AM, KST*

Donghae masih kalut menunggu di depan ruangan tersebut, hingga akhirnya seorang dokter keluar.

”Anda, Lee Donghae-ssi?”

”Ye…” Donghae mengangguk. ”Apa yang terjadi, Dok? Dia… tidak apa-apa, kan?” tanyanya cemas.

”Tidak apa-apa, benturannya tidak terlalu keras, tapi masih perlu pengecekan lebih lanjut, karena sepertinya kepalanya pernah terkena benturan yang cukup keras, tapi untuk saat ini, kondisinya stabil…”

Donghae menghela napas dalam-dalam, lega.

”Dan, dia mencari Anda, Donghae-ssi…”

Donghae langsung masuk ke dalam kamar perawatan Nadine, dan melihat gadis itu dengan selang infus, dan kepala di perban. Bibirnya pucat terus menggumam, tapi Donghae tahu apa yang dia gumamkan.

Donghae-ya…’

Dokter berkata kepada Donghae, ”Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kami mungkin perlu scan otak, karena kemungkinan ada trauma juga dalam diri Nona Nadine ini… dia diberi obat penenang.”

”Sebetulnya dia sakit apa, Dok?”

”Masih belum bisa dipastikan, saya tinggal dulu…” Dokter tersebut berlalu.

Donghae menarik kursi, dan duduk, sambil menggenggam tangan Nadine. ”Ireona… kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?”

’Donghae-ya…’ bisik Nadine lirih.

”Aku disini…” sahut Donghae.

Eunhyuk muncul, dia melihat Donghae menggenggam tangan Nadine begitu erat, Eunhyuk membawa sebuah map, hasil dari laboratorium pemeriksaan DNA-nya dengan gadis bernama Nadine ini.

”Hyuk-ah… sejak kapan disini?” Donghae kaget dan langsung melepaskan genggamannya.

”Baru…” sahut Eunhyuk lesu, dan duduk di seberang Donghae, di sisi kasur Nadine yang satu lagi. ”Aku sudah menghubungi perusahaan untuk menghandle pekerjaan selama kita tidak ada, dan aku punya kabar untukmu…”

Donghae menatapnya tidak minat. ”Apa?”

”Suami Nadine sedang dalam perjalanan kesini…”

Donghae langsung menunduk, kemudian mengangguk, biar bagaimana pun, suami Nadine lebih berhak, meski banyak hal yang memang sudah terjadi diantara mereka berdua beberapa hari ini.

”Kau sedih?” tanya Eunhyuk pelan.

Donghae mengangguk, ”Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, Nadine kan bukan istriku, meski aku mau dia yang jadi istriku…” Donghae meraih tangan Nadine, dan mengelusnya pelan. ”Tapi aku juga tidak bisa egois, aku menyukai Nadine karena ada Haejin di dalamnya… atau setidaknya aku yang merasa begitu… sebetulnya pasti tidak adil bagi Nadine kalau aku melihat bayang-bayang Haejin pada diriya, tapi dia… dia malah tidak peduli…”

”Hmm…” Eunhyuk menghela napas dalam-dalam. ”Kau pasti sangat mencintai… adikku ya?”

Donghae menatap Eunhyuk, dan memberikannya senyum tulus. ”Sangaaaat… aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan rasa cintaku padanya, karena rasanya kata-kata saja tidak cukup untuk mewakili seluruh perasaanku kepadanya… dia sering menganggap dia yang beruntung mendapatkanku, tapi kurasa sebaliknya… aku lebih beruntung lagi mendapatkan dia sebagai pendamping hidupku, walau kenyataannya…” air mata Donghae menetes. ”Dia pergi duluan meninggalkanku… aku hanya berdoa, segera… setelah Sea dan Sky dewasa, aku pergi… bisa menemui Haejin lagi…”

Bahkan Eunhyuk ikut menitikkan air mata, dia tidak tahu ada cinta yang seperti ini. Awalnya dia pikir, kalau sudah kehilangan ya sudah, carilah yang baru, life must go on, kan? Tapi sepertinya, Eunhyuk mulai paham, jika kita memang menemukan jodoh dan cinta sejati kita, pastilah seperti itu.

Jujur, Eunhyuk iri! Dia mau seperti Donghae-Haejin, yang saling mencintai begitu dalamnya, sampai-sampai orang pun bisa merasakan aura cinta yang mengelilingi mereka. Mereka tidak butuh apa-apa, kecuali satu sama lain, dan kehadiran Sea dan Sky melengkapi cinta mereka.

Donghae-ya…

Baik Eunhyuk dan Donghae langsung menoleh, dan melihat Nadine sudah membuka matanya, meski masih sedikit, kemudian Eunhyuk mendekati ranjang lebih dekat lagi. Nadine menoleh menatapnya, air matanya langsung mengalir, Donghae panik, nyaris dia memencet tombol untuk memanggil perawat, ketika Nadine berkata… ”Eunhyuk Oppa…”

Mata Donghae dan Eunhyuk melebar.

”Eunhyuk Oppa…” kata Nadine sambil terus menangis, kemudian menoleh pada Donghae perlahan. ”Donghae-ya…”

”Mwoya?! Ige mwoya?!” Donghae langsung berdiri, dan membuat kursi yang dia dudukkan terjungkal.

Eunhyuk menangis, kali ini dia yang sesenggukan, dan meraih tangan Nadine. ”Ne… gwenchana, aku disini!”

”Mwoya?! Jelaskan padaku‼!” Donghae benar-benar histeris, dia menatap Eunhyuk dan Nadine bergantian. ”Ini ada apa sebetulnya?!”

Baru Eunhyuk mau membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Donghae, pintu kamar terbuka, dan muncullah sosok pria yang ingin sekali Eunhyuk hajar pada saat ini.

Tapi pria itu juga terpana mendapati Eunhyuk dan Donghae yang ada di depannya, Donghae mungkin tidak mengerti, tapi gurat kemarahan sudah terpeta jelas di wajah Eunhyuk. Begitu Eunhyuk hendak menyambar Changmin, tangannya di tahan oleh sang adik.

”Oppa, andwe!” Nadine mencoba berdiri, tapi kepalanya langsung pusing, Donghae menangkap tubuhnya, dan membaringkannya lagi.

”Keureom…” Changmin gemetaran di depan pintu. ”Kalian sudah tau yang sebenarnya?”

”Ne!” sahut Eunhyuk.

”Mwoya?!” tanya Donghae tajam.

Eunhyuk melempar amplop yang dipegangnya kepada Donghae, Donghae meraihnya dan membukanya.

”Tadinya aku mau membongkar kedok manusia ini!” tuding Eunhyuk pada Changmin. ”Tapi, berhubung sekarang semua sudah tahu… kau buka, dan bacalah… lihat apa yang tertulis disitu!”

Donghae membacanya, hasil tes DNA antara Eunhyuk dan Nadine, matanya membelalak begitu membaca kesamaan DNA mereka, yang berikisar 99,99 %. Donghae menoleh kepada Nadine yang berbaring.

”Haejin-ah?”

”Donghae-ya…” tangis Haejin sambil mengulurkan tangannya.

”Kau… jadi… selama ini… kau?” Donghae meraih tangan Haejin dan menangis, entah harus bahagia entah harus sedih, semua perasaannya bercampur menjadi satu. Donghae mengecup dahi Haejin perlahan. ”Tapi… aku masih tidak mengerti, apa maksudnya?!”

Eunhyuk menunjuk Changmin. ”Dia berhutang penjelasan, Donghae-ya! Atau… perlu Haejin sendiri yang menjelaskan, apa yang kau lakukan kepadanya selama Haejin amnesia?!”

”Haejin amnesia?!” lengking Donghae. ”Jamkaman! Jadi selama ini Haejin amnesia, dan mengira dirinya adalah Nadine Lee?!”

”Ne…” sahut Changmin langsung menatap Donghae.

”Dan pria ini…” Eunhyuk menunjuk Changmin. ”Telah mengakui Haejin sebagai istrinya!”

”Mwo?! Bukankah kau sahabat Eunhyuk?!” tanya Donghae kepada Changmin dengan tatapan tidak percaya. ”Kenapa kau melakukan ini? Apa kau tidak tahu… bagaimana sedihnya kami saat mengira Haejin sudah meninggal?” tanya Donghae dengan suara bergetar, tetes demi tetes air mata turun dikedua pipinya. ”Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang kau cintai?!”

”Aku tahu!” balas Changmin. ”Dan aku merasakannya juga karena kau, Lee Donghae-ssi!”

”Mwo?!”

”Aku mengenal Haejin jauuuh lebih dulu darimu! Dan kau tiba-tiba datang, mengambilnya pergi begitu saja!”

”AKU BUKAN BARANG!” teriak Haejin.

Semua menoleh kepadanya.

”KAU KEJAM, SHIM CHANGMIN!” teriak Haejin berapi-api, dia histeris. ”AKU SUDAH PUNYA ANAK! KAU TIDAK PERNAH BERPIKIR BAGAIMANA KEDUA ANAKKU TANPA AKU, HAH?! MEREKA MASIH KECIL, DAN KAU TEGA MEMISAHKAN KAMI?!”

Changmin diam, dia menunduk. ”Aku tidak berpikir kesitu… awalnya aku hanya ingin menolongmu… dan aku, aku menyukaimu sejak dulu!”

”TAPI AKU TIDAK!” balas Haejin.

”Haejin-ah, jebaaaal… kesehatanmu belum baik benar…” Donghae berusaha menenangkannya.

Haejin menutup wajahnya dan menangis tersedu, Donghae memeluknya. Eunhyuk menatap Changmin lagi.

”Kenapa kau tega, Changmin-ah? Kenapa kau tega membawa lari adikku? Kenapa kau memalsukan identitasnya?! Kau tidak pernah memikirkan setidaknya keponakanku, ketika itu usia mereka baru satu bulan, Changmin…” Eunhyuk kehabisan tenaga untuk marah, dia hanya bisa mengeluarkan kekecewaannya dengan lirih.

”Mianhae…” ujar Changmin akhirnya, dia juga menangis. ”Aku memang tidak berpikir pada saat itu, mengetahui Haejin sendirian, kehilangan seluruh barang-barangnya… aku hanya mau membantunya…” isak Changmin. ”Tapi… aku memang tidak bisa melupakanmu, Haejin-ah…”

Donghae menoleh kepada Changmin, dengan Haejin yang menangis dalam pelukannya.

”Kukira itu satu-satunya kesempatanku untuk…” Changmin berusaha meneruskannya. ”Aku tahu semua perbuatanku salah, tapi aku tidak bisa mencegah diriku sendiri, karena memang aku sendiri ingin bersamamu, Haejin-ah…” jelas Changmin panjang lebar.

”Mianhae…” ucap Changmin lagi.

Haejin diam saja, dan terus menyembunyikan wajahnya dibalik tangan Donghae, Changmin kemudian mundur, dan keluar dari dalam kamar rawat Haejin. Haejin kemudian menangis histeris lagi, dan dokter terpaksa menanganinya dengan obat penenang terlebih dahulu.

”Amnesianya sudah sembuh total, Lee Haejin-ssi atau Nadine Lee, sudah mengingat semuanya… hanya saja, mungkin dia masih agak shock menghadapi kenyataannya, kalau bisa tolong jangan dibiarkan banyak berpikir…” pinta sang dokter.

Eunhyuk dan Donghae mengangguk.

”Untuk sementara jangan biarkan dia banyak berpikir, jauhkan dari segala macam tekanan… demi kesehatannya juga, tekanan darahnya turun terus… kalau dibawah lima puluh, bisa mengancam nyawanya…”

Donghae mengangguk mantap.

”Syukurlah…” Eunhyuk menepuk bahu Donghae, dan memeluknya. ”Syukurlah… syukurlah…”

Donghae balas memeluk Eunhyuk, ”Ne… syukurlah, ternyata gadis yang kucintai tetap dia sampai kapanpun…” tetes air mata turun.

”Kuurus segala yang berkaitan dengan identitas Haejin…” kata Eunhyuk setelah melepas pelukannya. ”Nanti kalau sudah memungkinkan, kubawa si kembar kesini, Haejin pasti mau bertemu mereka, dan mereka pasti sudah rewel di rumah… kau jaga saja Haejin!”

”Oke…” Donghae mengangguk, sementara Eunhyuk menepuk pelan kaki Haejin, dan keluar dari kamar. Donghae kemudian duduk lagi dengan tangan menggenggam tangan Haejin.

Haejinnya, ternyata selama ini tidak pergi… Haejin yang masih tetap mencintainya dalam keadaan lupa sekali pun. Donghae mengelus pipi istrinya yang tidur dengan nyenyaknya, tersenyum. ”Anak kita… pasti senang, ibunya benar-benar kembali… jangan tinggalkan kami lagi ya…” bisiknya.

Sekitar tengah hari, Donghae dipanggil oleh dokter untuk melihat kondisi kepala Haejin, setelah di rontgen.

”Memar… awalnya hanya memar ringan, ketika pertama kali terbentur… saya rasa ini ketika kecelakaan pesawat, ya?” tanya Dokter tersebut, Donghae mengangguk-angguk cemas. ”Kemudian setelah terbentur lagi, sedikit terkena syaraf matanya… kemungkinan terburuk adalah Haejin-ssi harus operasi, jika matanya mulai berselaput…”

”Tapi untuk sekarang ini?” tanya Donghae cemas.

”Untuk sementara memarnya hanya terkena syaraf mata, kita belum tahu bagaimana efeknya kepada mata Haejin-ssi sendiri, kalau bisa… nanti sepulang Haejin-ssi ke rumah, jangan menonton televisi atau apa pun yang terangnya berlebihan selama kurang lebih dua bulan, agar syarafnya bisa kembali fleksibel… selebihnya kondisi kepalanya tak apa-apa…” Dokter menyelesaikan penjelasannya.

”Jadi, Haejin akan pulih kan?” tanya Donghae penuh harap.

”Keureom…”

”Ah, kamsahamnida, Dokter…”

Donghae keluar dari ruangan dokter tersebut, lalu buru-buru kembali ke dalam kamar rawat Haejin, tapi begitu Donghae membuka pintunya, Haejin tidak sendirian, ada yang menemaninya.

Changmin datang lagi.

”Mau apa kau?” tanya Donghae tanpa bisa dicegah.

Changmin tersenyum, senyum sedih, tapi Donghae sama sekali tidak bisa kasihan pada pria di hadapannya ini. Donghae mendekati ranjang, Haejin masih tidur pulas. Donghae bersyukur istrinya itu diberi obat penenang, sehingga jika terjadi perkelahian, Haejin takkan pernah menyadarinya.

”Aku mau minta maaf, Donghae-ssi…” kata Changmin pelan, wajahnya tak lepas dari menatap Haejin. ”Aku yang membuat Haejin begini, aku yang telah merampasnya paksa dari kalian…”

Donghae menatap Changmin, Changmin masih menolak memandangnya, dan terus menatap Haejin. ”Aku hanya merasa, kesempatan itu datang… ketika aku sedang merancang beberapa ruangan di rumah sakit Los Angeles, dan aku bertemu lagi dengan gadis yang kucintai sejak kecil…” Changmin mulai bercerita. ”Kau pernah mengenal dia dari kecil, Donghae-ssi? Kalau kau kenal dia dari dulu, aku yakin kau akan mencintainya juga seperti sekarang… dia terlalu mudah untuk dicintai…” kekeh Changmin miris. ”Aku sadar, semua memang kebodohanku… aku yang tidak berani mengungkapkan perasaanku kepadanya saat dia masih kecil. Hingga aku kuliah di luar negeri, dan berharap saat aku kembali nanti dia mau menerimaku…” tak disangka Changmin malah bercerita.

Donghae menggigit bibirnya, menahan gejolak emosinya.

”Aku tidak pernah berpikir panjang, bagaimana nanti jika dia sudah punya kekasih… pikiranku terlalu pendek! Bahwa dia akan selamanya menjadi gadis kecil…” lanjut Changmin lagi. ”Tapi tak disangka, saat aku pergi… ternyata dia malah jatuh cinta padamu, kalian beruntung… bisa saling mencintai… maka ketika aku melihat Haejin yang hilang ingatan, aku tidak mau berpikir lagi, aku merasa itu kesempatanku… tanpa berpikir bagaimana kau, terlebih… bagaimana anak-anak kalian.”

”Ada gunanya kau menceritakan ini sekarang?!” tanya Donghae tajam.

Changmin menghela napas, ”Tidak ada… tapi setidaknya meringankan bebanku, Donghae-ssi… Haejin, memang tidak pernah di takdirkan untuk siapa pun di dunia ini selain untukmu…” kini Changmin menatap Donghae, Donghae balas menatapnya. ”Bahkan dalam keadaan hilang ingatan pun, cintanya tetap untukmu… tidak bisa untuk orang lain.”

Donghae sedikit merasa bangga di dalam hatinya, ada haru yang melanda mendengar kata-kata Changmin barusan.

”Mungkin tak ada yang bisa menggantikan kesedihanmu dan anak-anakmu selama lima tahun ini, tapi percayalah… dia memang ditakdirkan untukmu… aku pamit, aku takkan menunjukkan wajahku lagi pada kalian.” Changmin tersenyum lagi. ”Dan, Donghae-ssi… aku bersumpah aku tidak pernah melakukan sesuatu apa pun padanya… aku bukan tipe pria seperti itu… jangan khawatir, dia sepenuhnya masih milikmu!” dan Changmin keluar.

Donghae menghela napas dalam-dalam setelah Changmin pergi, dan tersenyum kecil lagi. ”Terima kasih, Changmin-ssi… walaupun kau membawa Haejin pergi, kau menjaganya dengan baik, setidaknya…”

 

*Rumah Donghae, 2 Bulan Kemudian*

 

”Eomma kemana, Ahjussi?”

”Eomma kenapa? Kok tidak pernah pulang lagi?!”

Eunhyuk bingung menghadapi dua keponakannya yang berwajah malaikat, tapi cengeng ini! Kenapa keduanya mendapatkan gen cengeng sih?! Kenapa tidak gen yang lain?! Cengengnya persis sama seperti kedua orangtuanya.

”Kemarin Eomma kalian jatuh… sekarang Eomma baru boleh ketemu orang setelah terapi.” kata Eunhyuk pelan, dan justru membuat si kembar menangis. ”Aigooo… jangan nangis dong,” dia berjongkok. ”Makanya sekarang, kita ke rumah sakit, biar Eomma cepat sembuh!”

”Iya… iya…” mereka mengangguk semangat.

”Jangan nangis, nanti Eomma kalian tambah sakit!” pesan Eunhyuk.

Sea dan Sky mengangguk, Sky mengusap air matanya kuat-kuat dengan tangannya, lalu dia mengusap air mata di pipi Noona-nya. ”Ayo, ke rumah sakit, Ahjussi… kami kangen Eomma…”

”Iya… kangen Eomma ya? Eomma kalian juga kangen kalian kok, Eomma kalian udah mau sembuh.”

Eunhyuk membawa si kembar yang tingginya tak lebih dari lutut Eunhyuk, yah lebih tinggi sedikit sih. Tapi karena mereka gemuk, dan sehat, membuat mereka berdua terlihat kecil.

Ákhirnya mereka tiba di rumah sakit empat puluh lima menit kemudian, Eunhyuk berpesan kepada di kembar agar tidak berisik, begitu Eunhyuk mengetuk pintu kamar, Donghae menjawabnya, dan si kembar langsung masuk.

”Eomma!” pekik mereka kompak.

Haejin yang sudah bisa duduk dan beraktivitas dengan normal, juga karena perbannya sudah dibuka langsung menangis terharu melihat si kembar. ”Sea… Sky…” dia langsung turun dari tempat tidur, dibantu Donghae dan berjongkok, membuka tangannya.

Si kembar langsung memeluknya.

”Eomma kenapa?! Eomma sakit ya?!”

”Eomma… jangan pergi lagi yaaaaaa… kalau sakit Eomma di rumah sakit saja, tapi kami boleh bertemu ya? Jangan pergi ya…” bujuk Sky.

Sea mengangguk. ”Jangan hilang lagi ya, Eomma…”

”Ani, Eomma gak akan hilang lagi…” Haejin memeluk si kembar erat-erat. ”Maafin Eomma ya, selama ini hilang… nggak sama kalian.”

”Yaksok?” tanya si kembar kompak. ”Nggak pergi lagi?”

Haejin mengangguk. ”Eomma gak akan pergi lagi…”

”Aaaaaah, Appa di cuekin!” potong Donghae berusaha menghangatkan suasana yang penuh haru.

Sea mendongak. ”Appa juga! Jangan nemenin Eomma hilang…”

”Iya… Appa juga!” kata Sky.

Haejin melirik Donghae, ”Appa nakal ya? Eomma hilang, bukannya nemenin kalian malah kabur sama Eomma?” Donghae nyengir.

”Iya, Appa janji gak begitu lagi…”

”Aigooo… aku seperti patung hiasan melihat kalian berempat seperti ini, ckckckckck…” gumam Eunhyuk iri, sementara Haejin duduk di kasurnya, dan Donghae menggendong Sea dan Sky ke atas kasur juga.

Haejin menatap kakaknya itu. ”Cari pacar, makanya! Jangan cuma ke klab aja… ckckckck, kalau begini iri kan?”

”Ne… cari pacar sana… daripada kau mengganggu si kembar terus seperti tidak ada kerjaan kalau di rumah…” timpal Donghae.

Haejin terus bermain bersama si kembar, sementara Donghae duduk di sisi mereka. Bahagia, apa lagi yang dia butuhkan di dunia ini? Istrinya ada, kedua anaknya ada, dan mereka bahagia.

”Eomma… Sea bawa parfum kesukaan Eomma lho…”

”Oh ya?”

”Ayo, Noona… buka!” kata Sky.

Sea mengambil parfum di dalam ransel birunya, kemudian membuka tutup botolnya, baru tutup botolnya dibuka, Haejin sudah berteriak.

”Kenapa?!” panik Donghae dan Eunhyuk. Sementara Sea dan Sky pucat, memandang ibunya.

Haejin memencet hidungnya. ”Donghae-ya… aku mau muntah!”

”Eh?!” Donghae langsung membantu Haejin turun dari tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi. Di kamar mandi Haejin memuntahkan isi perutnya, sampai lemas, sementara Donghae memijat tengkuknya.

Sea menunduk sedih, Sky menepuk-nepuk pipinya. ”Eomma masih sakit, Noona… simpan lagi ya?”

”WOEEEK!” Haejin muntah lagi.

”Kau kenapa?!” tanya Donghae panik. ”Badanmu tidak enak lagi?! Kepalamu pusing?! Beritahu?! Aku panggil suster ya…”

Tapi Haejin terus muntah.

Eunhyuk bingung sendiri di atas ranjang Haejin sambil mengelus kepala Sea yang mau menangis. ”Sea, Sayang… itu parfum Eomma betulan, kan?”

”Ne, parfum pinusnya…”

Akhirnya Eunhyuk memanggilkan dokter, karena sepanjang hari itu, Haejin mulai muntah-muntah hebat. Begitu dokter selesai memeriksanya, Donghae bertanya. ”Apa yang terjadi? Ada yang tidak beres lagi dengan kepalanya?!”

”Iya… Eomma kami kenapa? Tidak akan dibawa pergi lagi kan?” tanya Sky polos.

Dokter tersenyum dan mengelus pipi Sea dan Sky. ”Kalian mau punya adik, tidak? Eomma kalian mengandung dua bulan…”

”Mwo?!”

”Iya, positif hamil kok…” lanjut dokter. ”Sebetulnya saya sudah curiga dari seminggu yang lalu, karena berat badan Haejin-ssi naik, dan nafsu makannya bertambah… tapi belum ada tanda apa-apa sampai  hari ini. Selamat ya…” dan Dokter tersebut keluar.

”Aaaah punya adik! Kita punya adik!” Sea memeluk Sky.

Sky balas memeluknya. ”Aaaah, akhirnya… kita punya adik, Eomma… Appa… gomawo!”

”Iya, ternyata selama ini Eomma pergi cari adik ya?”

”Ne… Appa dan Eomma selama ini pergi cari adik untuk kita.”

Eunhyuk tertawa mendengar kepolosan dua bocah itu. Sementara Donghae langsung mengecup pipi Haejin. Mereka hanya bertukar tatapan penuh arti. Banyak yang tak terucapkan dari pandangan itu.

It’s called Love… whenever and wherever you are, if you belong to someone… you will be… someday we’ll know… if love can move a mountain. Like Donghae and Haejin’s story… even a thousand miles cant keep them apart…

It’s okay Sea, it’s okay Sky… you’ll be able to have your parents complete, with te bonus… a little baby in your Mom’s stomach…

The End

Thanks buat semua yang udah ngikutin dari awal sampe ending…🙂 Sea dan Sky aku tarik dulu dari peredaran FF, wakakaka… nanti kalo disuruh main FF terus, mereka merasa di eksploitasi, aku gak mau mereka kayak si Arumi Bachsin… LOL! tapi nanti, mudah-mudahan bisa bikin FF yang ada si Kembar lagi ya? maaf buat request-request tunangannya sama Allen… nanti mereka bakalan di tunangin lewat FF, tungguin aja ya…

oiya, FF terbaru saya… When You Believe, ntar part 1-nya tolong baca dan komen juga ya… makasih semuanya *bow*

15 thoughts on “It’s Fine, Donghae’s Dauhgter & Son ~Part 7~ ENDING

  1. alhamdulillah, tamat jg bacanya….
    btw,sy dah 3x bca ff ini, bagus banget ceritanya gak ngebosenin.

    ga nyangka, donghai tokcer banget ya, sekali ngelakuin langsung jd anak wkwkwkkwk…..
    *sigh* andai teuki setokcer itu *tabok*

    teruslah berkarya, chinguuuuu…..
    HWAITING!!!!!!!!!!

  2. Tokcer bnr si abang ikan..
    Mau Bang…. Lgs kembar selusin yack..
    *berasa kucing*
    Nice Story, Sweet Couple, n Happy Ending…
    Good Job Author…

  3. Keren, seru trus terharu pas baca sea ama sky ngomong:

    ”Eomma… jangan pergi lagi yaaaaaa… kalau sakit Eomma di rumah sakit saja, tapi kami boleh bertemu ya? Jangan pergi ya…” bujuk Sky.

    Sea mengangguk. ”Jangan hilang lagi ya, Eomma…”

    Ahhhh jd pengen anak kembar >///<
    Si cloud sama lucunya jg gak yah? tp jgn cengeng ky papa mama sama kakak2nya. Biar ada yg beda gt he3x
    Daebakk pokoknya…

  4. happy ending,,,,
    i like it,,,!!!

    gila tu JinHae,,,br ktmu dh ngcez pling y,,,dh hamil 2 bln gt,,,!!!hahaha

    Changmin oppa m q aj de,,,!!!*dbnuhKyuppa
    hahaha

    lnjut bc ff yg lain ah,,,!!!

    gomawo,,,^^

  5. Ceritanya mengharukan..
    Dan sukses buat saya menitikkan air mata..
    Sebuah kluarga kecil akhirnya bersatu kembali dan malah dpt bonus satu lagi..
    Wahh donghae daebak nihh buat menghasilkan anak..
    Wkwkwk..

    Keren bgt chingu ceritanya..
    Berasa nyata gitu ceritanya..
    Malah image artis donghae gx da sama sekali..
    Daebakkk

  6. aaaahhhhhh akhirnya mereka bahagia bareng, seneng deh
    gila bang ikan!! baru benerbener ketemu istrinya langsung nyamber gitu. lansung hamil pula kkkkkkk
    hebat bang ckckckckckckck

  7. woooo happy ending ,hahah
    sky,sea mau punya adik pula, welcome to cloud,ahha
    bsk klo cloud punya adik jangan2 namanya rain atau strom.wkkk

  8. Akhirnya happy end.
    Akhirnya nadine inget juga kalo dia itu haejin.
    Akhirnya hae gak galau lagi~
    Satu kata buat ff ini: daebak!😀
    Alurnya juga gak membingungkan.
    Terus berkarya ya author! Hwaiting^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s