It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 6~

*Kamar Donghae, 02.00AM KST*

Donghae terus menatap lembut gadis di hadapannya itu, gadis itu balas menatapnya, rasanya mereka sanggup terus bertatapan sampai kapan pun, sebelah kiri tangan Nadine terletak di dada bidang Donghae, sementara tangan kanannya mengelus perlahan wajah Donghae, meraba kulitnya yang halus. Kini, Nadine tahu apa yang memanggil-manggil dari dalam dirinya, ternyata itu hatinya.

Pertanyaannya, bagaimana bisa?

”Kita benar-benar sudah terlalu jauh…” bisik Donghae. ”Maafkan aku kalau kau nanti tidak bisa kembali.”

”Aku memang tidak mau kembali…” Nadine memejamkan matanya, dan memeluk tubuh Donghae erat-erat.

”Ini salah…” Donghae balas memeluk Nadine. ”Dan aku makin tidak peduli.”

”Jangan dibahas sudah…” suara Nadine mengantuk.

Donghae mengangguk, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, dan bersama-sama mereka menuju alam mimpi. Mimpi Donghae indah, dirinya, bersama kedua putra dan putrinya, kemudian Haejin datang, mendekati mereka bertiga, dan Donghae menggenggam jemarinya, terasa nyata, terlalu nyata, dan terlalu benar.

’Jangan pergi lagi…’ ucapnya pada gadis itu.

Haejin cuma tersenyum, ’Aku tidak pernah pergi… aku selalu bersama kalian, kok…’

Dan itu membuat Donghae tersenyum, bahkan dalam tidurnya dia tersenyum, dia merasa hal itu benar terjadi.

 

*Flashback*

Incheon International Airport

 

”Jangan lupa makan, jangan tidur malem-malem, jangan ke bar sendirian, jangan pernah ke bar malah, jangan jalan-jalan sendirian, jangan lupa telepon, dan jangan lama-lama perginya… Sea dan Sky butuh ASI, dan lebih pentingnya aku tidak suka jauh-jauh darimu! Dan kau ceroboh…”

Haejin cekikikan. ”Aku kan  kesana cuma untuk tiga hari, Honey… jaga diri baik-baik, jangan ikut-ikut Eunhyuk ke klab malam, sampai ketahuan, mati kau!” ancam Haejin mengerikan. ”Dan jaga si kembar…”

”Pasti!” Donghae mengangguk yakin.

Penumpang ke Los Angeles sudah dipanggil, Haejin tersenyum kemudian memeluk suaminya itu. ”Aku tidak lama-lama…”

”Tiga hari rasanya seabad, Sweety…

”Ne, aku tahu rasanya…” Haejin melepas pelukannya, dan mencium Donghe cepat, namun tidak kehilangan passionnya, setelah melepas ciumannya dia mengecup pipi Donghae satu persatu.

”Hati-hati…” Donghae mengecup dahi Haejin.

Haejin melambai, dan menarik koper kecilnya masuk ke dalam pintu yang sudah ditentukan. Setelah Haejin menghilang Donghae langsung ke kantornya, selama bekerja dia sama sekali tidak menangkap firasat kecil apa pun, hingga ibunya Haejin menelepon.

”Hae… anakmu rewel nih dua-duanya, nangiiiiis terus…” kata Eommonimnya cemas.

Karena mengira si kembar kangen eommanya, Donghae pulang ke rumah dan meninggalkan pekerjaannya. Seharian itu dia dan mertuanya mengurus si kembar, yang tidak berhenti menangis. Namun mungkin, karena kelelahan dan telah diberikan susu yang sudah di pompa dari Haejin untuk persediaan, selama dirinya tidak ada, akhirnya si Sea pun tertidur, dan ibunda Haejin berani untuk meletakkan gadis kecil itu di boxnya. Donghae pun menyuruh sang mertua untuk beristirahat, karena dia yakin bisa menangani Sky sendirian.

Nyatanya, tidak.

Donghae terpaksa membawa Sky ke kamarnya, karena takut Sea yang sudah tidur terbangun. Sky terus menangis, dan Donghae akhirnya ikut menangis putus asa. ”Sky… Appa binguuuuung…” katanya sambil menangis. ”Kok tidak mau diam sih?” dia terus menggerakkan Sky dalam pelukannya. ”Kangen Eomma, ya? Iya… Appa juga…” malah tambah menangis. ”Nanti kalau udah sampai kita telepon Eomma ya… jangan nangis lagi dong, Appa juga sedih nih…”

Dan kemudian memang, telepon dari Haejin tidak pernah tiba, Sky pun tertidur, tapi tidak mau ditaruh di kasur, alhasil Donghae terus menggendongnya kesana-kemari ketika dia terus cemas soal Haejin yang tidak kunjung memberinya kabar juga, padahal seharusnya dia sudah tiba.

Pukul tiga pagi, Eunhyuk tiba di rumah mereka, Eunhyuk melihat Donghae yang gelisah sambil terus menggendong Sky. Eunhyuk tidak tahu harus bagaimana menyampaikan kabar ini, tapi kemudian Eunhyuk masuk.

”Hyuk-ah…” sapa Donghae sambil tersenyum, wajahnya letih sekali. Lebih dari dua belas jam dia menggendong Sky. ”Ada apa kau datang jam segini? Baru pulang dari klab ya?”

”Eomma, eodi?”

”Tidur…” sahut Donghae pelan. ”Kenapa? Ada apa?”

”Aku panggil eomma dulu, kau… Sky taruh di boxnya dulu, aku mau bicara sesuatu…” suara Eunhyuk yang serius, membuat Donghae mau tidak mau membawa Sky ke kamarnya, dan meletakkannya di box, Sky bergulik-gulik gelisah, tapi Donghae keluar buru-buru.

”Hyuk-ah… palli, katakan ada apa, anakku sedang rewel!” serunya, dilihatnya kemudian Eunhyuk dan mertuanya keluar.

”Ada apa, Eunhyuk-ah?” tanya Eommonim.

Eunhyuk menghela napas dalam-dalam, sebelum akhirnya berkata. ”Pesawat Haejin tergelincir di bandara, sebagian besar penumpang tewas…”

Dan dunia rasanya kiamat saat itu juga bagi Donghae, dia tidak bisa merasa lagi, seolah-olah seluruh inderanya dimatikan, hanya sisa selongsong tubuh berjiwa, tapi hati dan pikiran sudah tidak ada. Napasnya langsung sesak, dan dia tahu apa yang akan Eunhyuk katakan selanjutnya.

”Haejin… meninggal…” lanjut Eunhyuk lirih.

Berikutnya, hanya gaya gravitasilah yang mampu menahan Donghae di dunia ini, karena selebihnya dia suda tidak merasakan apa-apa lagi. Padahal ibu mertuanya pingsan, Eunhyuk menangis, dan si kembar mulai menjerit pada saat yang bersamaan, tapi Donghae tidak bisa bergerak. Dia seolah-olah terkunci, akan lebih baik jika dia menangis, tapi bahkan menggerakan satu jari saja, Donghae sudah tidak bisa.

Setelah itu, esoknya Donghae pergi ke Los Angeles, dan mengurus pemakaman Haejin disana, dia tidak bersuara. Donghae seolah kehilangan suaranya, dia tidak mau bicara sedikit pun. Dia memutuskan untuk lebih lama tinggal di Los Angeles. Seminggu dia mengurung diri di dalam kamarnya, kemudian dia akhirnya keluar dari kamar, dia menuju pantai, dan akhirnya pertama kalinya dia bicara.

”Kenapa?” hanya itu yang Donghae tanyakan. ”Kenapa?” seberapa keras usaha Donghae untuk berteriak dan bertanya, tak pernah ada jawaban yang menghampirinya, bagaimana Eunhyuk, kedua orangtuanya, kedua mertuanya datang membujuknya, Donghae tetap tidak bisa!

Bagaimana tubuh bisa hidup tanpa jiwa? Itulah yang Donghae pikirkan, bagaimana tubuhnya hidup tanpa jiwanya sendiri? Kalau jiwanya lebih suka berkelana pergi menyusul Haejin! Tanpa terasa, tiga tahun berlalu, Donghae tiba di satu titik, bahwa dia masih punya jiwa.

Sea dan Sky.

Donghae mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihannya, dan pasti, Haejin sedih karena Donghae menelantarkan buah hati mereka. Donghae pulang ke Korea, dan mendapati begitu banyak Haejin pada diri Sky, dan itulah kenapa diingatnya, ketika Haejin meninggal, Sky menangis lebih parah daripada Sea, meski Sea pasti merasakan bahaya mendatangi ibunya juga. Sky terlalu mirip Haejin, kecuali matanya, mata Donghae, sejak saat itu Donghae berjanji akan melakukan apa saja demi putra-putrinya mulai saat ini!

Dia shock dengan perlakuan Sea dan Sky yang tidak mau memanggilnya Appa. Tapi Donghae sadar, ini seperti hukuman baginya karena telah menelantarkan si kembar, dan Donghae merawat mereka sungguh-sungguh, hingga akhirnya Sea dan Sky membawa Haejin dalam bentuk Nadine ke dalam hidupnya.

 

*Flashback End*

 

Awalnya semua terlihat sempurna, hanya warna-warni indah saja, tapi kemudian awan warna-warni itu menggumpal, dan menjadi awan kelabu. Petir, hujan, badai jadi satu, dan kecemasan, dan ketakutan, bahkan teriakkan mulai memenuhi kepala. Kemudian perutnya terasa seperti disentakkan, dan dia merasa tempatnya duduk sekarang berpusing cepat. Terdengar suara ledakan, dan bau asap dimana-mana, dia berusaha berteriak, tapi tidak bisa.

Hingga akhirnya dia terlempar dari sabuk pengamannya, dan membentur atap pesawat. Darah merembes dari kepalanya, dan Lee Haejin tidak sadarkan diri.

 

*           *           *

”AAH!” pekik Nadine kaget, dan langsung terjaga dari tidurnya. Keringat merembes dari keningnya, tangannya langsung dingin. Kepalanya sakit, terasa berputar-putar. Nadine langsung memegangi kepalanya dan merintih. ”Aah…”

”Wae?!” Donghae yang langsung terbangun begitu gadis dipelukannya menjerit tadi refleks cemas. ”Kau kenapa?! Apa yang terjadi? Apa yang sakit?!” Donghae langsung panik melihat Nadine yang nampak sakit.

Nadine menggeleng-geleng. ”Gwenchana, hanya… kepalaku, sakiiit…”

”Ke dokter?”

”Ani, ani…” Nadine menggeleng pelan. ”Cuma… mimpi buruk, kok…”

Donghae menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri juga. ”Ya sudah, baring lagi ya…” Donghae merebahkan tubuh Nadine perlahan, tangan Nadine masih sibuk memijat pelipisnya. Donghae menurunkan tangan Nadine tersebut, dan mengecup dahinya, kemudian mengelus kepalanya pelan, dan mendekap Nadine erat-erat.

Nadine memejamkan matanya, dan berusaha tidur lagi. Ketika mimpi demi mimpi datang menghampirinya.

”Jangan lupa makan, jangan tidur malem-malem, jangan ke bar sendirian, jangan pernah ke bar malah, jangan jalan-jalan sendirian, jangan lupa telepon, dan jangan lama-lama perginya… Sea dan Sky butuh ASI, dan lebih pentingnya aku tidak suka jauh-jauh darimu! Dan kau ceroboh…”

”Tiga hari rasanya seabad, Sweety…”

 

Nadine bergerak gelisah dalam tidurnya, Donghae terbangun dan memerhatikan wajah Nadine yang berkerut tersebut.

 

”Lee Haejin… would you be my girlfriend?”

”Aku cinta padamu… tidak tahu kenapa, dan aku sendiri tidak mau mencari tau…”

”I wanna hold the stars, down from the sky… I wanna live a day, that never die… I wanna change the world, only for you… all the impossible, I wanna do…”

”Thank God, I found you, I was lost without you, my everywish and everydream somehow become reality… you change my whole life, completing my own life, I’m overwell with gratitude and I’m so Thankful I found you…”

 

Donghae makin tidak bisa tinggal diam, dia langsung duduk dan hendak memanggil dokter, karena melihat Nadine semakin berontak dalam tidurnya. Tapi, kemudian tangan Nadine terulur, Donghae meraihnya.

”Nadine, kau kenapa?”

 

”Kalau kita ke luar negeri, nama Korea kita suka sulit dilafalkan, aku mau rubah ah… jadi Aiden Lee…”

’…’

”Nadine? Boleh, itu dari bahasa Perancis kan? Namanya kan artinya sesuatu yang indah…”

’…’

”Aaaah jinja?! Asyik, itu berarti kau benar-benar cinta padaku, I love you Mrs. Nadine Lee…”

 

”Nadine kau kenapa? Jebaaaal, jangan membuatku kalut!”

 

”Donghae-ya, aku hamil!”

”Jinja?! Aaaaaah, terima kasih, Tuhaaaaan…” Donghae memelukku erat, dan air mata bahagia langsung membanjiri pipinya. Dua bulan kami menikah, dan usia kandunganku langsung dua bulan juga. Donghae memang hebat!

Aku tersenyum, saat Donghae merengkuh wajahku, dan menempelkan dahinya pada dahiku, dengan mata indahnya, dia menatap mataku! Aaah, dia selalu tahu kalau aku pasti lemas jika menatap mata indanya. ”Gomawo, Sweety…”

”Cheonmaneyo, Honey…” balasku.

”Kalau anak kita lahir mau diberi nama apa?”

Aku menjawab sambil menatap ke dalam mata indahnya. ”Sea, Sky, dan Cloud… kau kan yang minta.”

”Tapi itu kan anakmu juga, kita bisa kompromi kok, Sweety…”

”Ani… aku selalu setuju denganmu, kau minta tiga… akan kuberikan tiga… karena bagiku kau saja sudah lebih dari cukup untukku!”

Donghae tersenyum, dan mencium bibirku.

 

”Nadine?” panggil Donghae lagi.

Kau saja sudah lebih dari cukup untukku…” bisik Nadine.

Donghae tersentak, Haejin sering kali mengatakan hal itu, ketika mereka telah menikah. Karena awalnya Donghae tidak percaya, Haejin bisa mencintainya seperti Donghae mencintai gadis itu, Haejin terlalu lincah sih… dan populer pula, sudah begitu senang sekali membuat Donghae cemburu! Tapi, sejak menikah, dan hamil… Haejin yang biasanya gengsi tingkat tinggi untuk menunjukkan terang-terangan isi hatinya lewat ungkapan, karena biasanya Haejin lebih mengungkapkan perasaannya lewat tindakan, jadi sering mengatakan hal-hal manis.

’Kau saja sudah lebih dari cukup untukku…’

’Kenapa kau menatapku seolah-olah aku ini hadiah? Padahal kau lah yang hadiah bagiku, dalam hidupku…’

’Honey… hidupku sudah sempurna denganmu, dan bayi kita… aigooooo…’

Donghae terdiam, dan tidak jadi berbuat apa-apa, hanya mengenggam tangan Nadine. Nadine masih terus bergerak dalam tidurnya, dan wajahnya masih terus mengerut-ngerut.

 

Memori itu perlahan-lahan berkumpul jadi satu, ingatan ketika Donghae pertama kali memintaku jadi kekasih, ingatan ketika Donghae menciumku untuk pertama kali, ingatan ketika dia menggandengku pertama kali dan memperkenalkan aku sebagai kekasihnya, ingatan ketika Donghae melamarnya, tak perlu ramai, tapi romantis. Dan ingatan ketika akhirnya mereka berdua mengikat janji setia seumur hidup!


*Flashback*

Aku duduk di atas kasur putih ini, dengan tanganku memeluk kakiku, aku merebahkan kepalaku di atas kakiku. Hatiku perih, meski kaki-tangan, dan kepalaku yang berdarah. Ada yang sakit di hatiku, ada yang kurang, ada yang tertinggal, dan sepertinya ada yang janggal!

Aku tidak ingat siapa pun, aku tidak ingat siapa diriku, aku tidak ingat apa-apa, yang kuingat hanyalah ada yang menungguku! Pasti ada yang sedang menungguku, tapi siapa? Dimana? Aku saja tidak tahu aku itu siapa… aku terus memeluk lututku, dan terus berharap ada jawaban yang muncul.

”Haejin?!” pekik seseorang pada diriku.

Aku mendongak, tapi wajahku bingung. Dia mencari siapa? ”Nun nuguya?” tanyaku heran.

Anehnya, aku merasa kenal dengan orang ini, dia tinggi, atletis, dan cukup tampan. Aku kenal orang ini. Kemudian dokter datang dan nampak lega bicara pada pria tersebut.

”Anda kenal, Nona ini?” tanya dokter tersebut, kemudian membawa pergi pria itu ke dalam ruangannya. Aku hanya diam, apakah benar dia mengenalku? Karena aku memang merasa mengenalnya…

Kemudian dia datang lagi, dan langsung memelukku. ”Nadine, kau jangan buat aku cemas lagi ya? Kukira kau sudah meninggal…”

”Kau siapa?” tanyaku polos.

Dia tersenyum. ”Aku Shim Changmin, Max… aku suamimu… kau pasti tidak ingat, kan?”

”Kau suamiku? Jinja?” tanyaku. Aku tahu memang ada yang menungguku, dan bagian suami itu terasa benar, tapi anehnya, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Apa yang terjadi dengan otakku saat ini?

Changmin mengangguk. ”Tidak percaya?” Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-fotoku yang ada di ponselnya, dilihat dari gambarnya, itu sepertinya sudah lama, dia pasti benar suamiku.

”Tapi kenapa aku tidak ingat padamu?” tanyaku.

Dia tersenyum. ”Bagaimana mungkin kau bisa ingat? Kau itu mengidap penyakin Post sleep memory lost… dan kemarin saat kembali kesini, kau terbentur… menurut dokter, kau amnesia ringan… tapi saat kau ingat semuanya Post sleep memory lost-mu akan hilang…”

”Itu penyakit apa?” tanyaku lagi.

Post sleep memory lost itu adalah penyakit dimana ketika kamu tidur, kamu akan lupa kejadian kemarin… semuanya, tanpa terkecuali.” Jelas Max sambil duduk di tepi tempat tidurku, dan membelai rambutku, sentuhannya asing, terlalu asing. Apakah memang begini penyakitku?

”Dan kau menerimaku yang seperti ini?”

”Aku mencintaimu apa adanya, kok…” sahut Max.

Beruntung sekali aku memiliki suami sepertinya, aku mengangguk. ”Namaku siapa, Max?”

”Nadine, Nadine Lee…”

”Maaf, harus mengurusku yang seperti ini…”

”Tak apa…”

Esoknya, aku dibawa pulang ke rumah kami. Rumah itu kecil, tapi asri, jadi disinikah selama ini aku tinggal? Aku tidak bisa ingat, yang kuingat hanya hal-hal dalam diriku yang kosong, dan hilang! Amnesia ini pastilah benar-benar menguras isi kepala dan pikiranku. Menurut Max seluruh data identitasku hilang ketika kecelakaan pesawat kemarin, dan Max mengurus segalanya, aku mendapatkan identitasku kembali.

Namaku Nadine Lee, istri dari Max Shim.

Aku menjalani hari-hariku sebagai istri yang buruk, semangat hidupku sama sekali tidak ada! Meski Max mengerti, dan dia bilang itu faktor penyakitku ini, tapi rasanya aneh sekali. Sebaik apa pun Max memperlakukanku, aku tidak pernah bisa membalasnya. Ya, aku melihat di matanya, bagaimana dia mencintaiku dengan tulus, sangat tulus.

Aku berusaha jadi istri yang baik, dengan balas memperlakukannya dengan baik, tapi tetap saja, rasanya hambar! Aku membuatkannya makanan, menyambutnya dan mengantarnya kerja dan pulang, tapi tidak lebih. Kami tidur sekamar, seranjang, tapi kami tidak pernah melakukan apa-apa, dan Max tidak pernah memaksaku.

Aku bodoh, aku bodoh… dia begitu baik. Akhirnya aku memutuskan pergi, dengan hanya berkata aku mau berlibur, dan dia mengizinkanku. Dia memintaku untuk tidak ke Korea sendirian, dan aku berbohong ingin ke Jepang, dan dia mengabulkannya. Aku merasa heran, kenapa dia tidak mau aku ke Korea sendirian, dan akhirnya aku ke Korea.

Disana, aku mulai menjauhi Max, hanya memberi kabar seadanya, dan mulai mencari pekerjaan. Aku diterima menjadi seorang guru TK, entah kenapa aku mau jadi guru TK, mungkin untuk mengisi kekosongan yang kurasakan sejak kejadian itu, lima tahun yang lalu.

Hari pertama, aku gugup sekali, aku menyemprotkan parfum pinusku dan aku langsung merasa tenang. Wangi pinus, entah kenapa selalu membuat seluruh syarafku berfungsi dengan baik. Aku memasuki lobi sekolah, dan bertemu dengan Kepala Sekolah.

”Annyeonghaseyo, Sunsangnim…”

”Annyeonghaseyo, Saem… kebetulan sekali, ini anak asuhmu…”

Aku otomatis menunduk dan melihat, dua malaikat kecil sedang menatapku dengan dua pasang mata polos mereka. Mata yang siap membuatku meleleh, mata itu begitu indah, dan mereka sangat tampan dan cantik. ”Annyeong…” sapaku lembut.

”Annyeong… Saem…” mereka menyahut kompak.

Aku berjongkuk untuk menyamakan posisi kami, mereka berdua begitu, begitu… entah apa menyebutnya, aku langsung jatuh cinta pada kedua anak ini. Mereka berdua begitu mirip, entah apa yang mendorongku untuk berkata yakin, ”Kembar ya?”

Gadis kecil itu menjawab, ”Saem, daebak! Tidak ada yang bisa menebak kalau kami kembar, ya kan?” dia menoleh pada saudara lelakinya.

Pria kecil tampan itu menyahut. ”Orang selalu mengira kami sepupu, kenapa Saem bisa tau?”

Aku menjawab yakin, ”Kalian mirip… mata kalian sama-sama indah…” memang iya, mata keduanya indah sekali, rasanya aku tahu mata indah seperti itu, mata yang membuatku, bersemangat!

Akhirnya aku merasa hidup lagi. Akhirnya ada yang menjadi penyemangat hidupku, akhirnya ada yang membuatku menanti hari esok, dua malaikat kecil ini, memang diutus Tuhan untuk membuatku kembali bersemangat, bersyukur, dan menjalani hidup.

Esoknya, dengan bersemangat aku datang lagi ke dalam kelas, dan dua malaikat itu sudah menungguku.

”Saem!” kata mereka, mereka senang bertemu denganku, terima kasih Tuhan. Aku tidak bisa berhenti bersyukur.

Aku berjongkok. ”Annyeong…” aku membuka tanganku lebar, dan mereka berdua sudah masuk dalam pelukanku, aku memeluk mereka erat. ”Aigooo, kangen Saem tidak?” aku bertanya dengan penuh harap, aku berharap mereka merindukanku, sama seperti aku merindukan mereka. Lucu ya, bahkan merindukan Max saja, aku tidak pernah.

”Sangaaat…” jawab dua bocah itu kompak.

Dengan penuh rasa bahagia aku berkata,  ”Popo doooong…” dan mereka mengecupku dengan lembut di masing-masing pipi.

”Saem, tadi Appa kami mau bertemu dengan Saem…” Sky menatapku sambil mengatakan hal itu.

Ah iya, kudengar ibu mereka sudah tidak ada, dan hanya ada ayahnya. Kasihan sekali, kenapa dua malaikat seperti ini harus tidak memiliki ibu? Mereka terlalu rapuh, aku tersenyum kecil.

”Jinja?! Lalu dimana Appa kalian?”

”Appa banyak pekerjaan…” jawab Sea, diamini dengan anggukan dari Sky. ”Jadi Appa titip salam saja untuk Saem…”

”Salam balik untuk Appa, ayo duduk… kita belajar…”

Banyak hal yang membuatku terus ingin bersama mereka, tapi banyak halnya itu sama sekali tak terkatakan. Ada bagian dalam hatiku yang merasa benar, saat merengkuh mereka, memeluk mereka, mencium pipi mereka, dan ada keinginan menjaga mereka.

Aku mengantar satu persatu anak-anak yang lain kepada orangtua mereka, ketika mendengar hal yang membuatku kaget. Orangtua muridku yang lain bertanya padaku, ”Nadine Saem, kata Kepala Sekolah… di kelas Riwon dan Sihyo ada anak kembar juga, ya? Laki-laki dan perempuan?”

Aku menjawab, ”Iya betul…”

Dan saat itu juga Sky muncul, ”Saem!” dia memanggilku.

Aku langsung memberi senyum pada orangtua muridku yang lain, Sihyo dan Riwon, yang sama kembarnya seperti Sea-Sky, hanya saja kembar ini mirip satu sama lain, berbeda dengan Sea-Sky yang tidak identik.

”Sky… ah iya, Ririn-ssi, ini teman sekelas Sihyo dan Riwon, yang kembar itu… namanya Sky… Sky, beri salam…”

Sky tersenyum dan membungkuk. ”Annyeonghaseyo, Riwon Eomonim…”

”Annyeong…” Ririn memandang Sky perlahan, lalu dia menoleh kepadaku, dan tidak disangka-sangka kalimatnya membuatku melayang hingga ke langit ke tujuh. ”Saem… dia mirip sekali denganmu…” dan hal itu membuatku terus berkaca, dan membandingkan diriku dan Sky.

Mau tak mau aku mengakui, aku memang mirip dengannya.

 

*           *           *

Aku kembali keesokan harinya, tak sabar untuk mengajar anak-anak yang menggemaskan itu. Begitu tiba di lobi, seperti biasa Kepala Sekolah sudah ada disana menyambut anak-anak yang datang.

”Ada orangtua murid yang mau bertemu denganmu… beliau sedang menunggu di kelas sekarang…” kata Kepala Sekolah.

”Ah, ye… kamsahamnida, Sunsangnim…” aku membungkuk.

Kepala Sekolah menahan tangannya. ”Dia adalah Ayah dari Lee Dong-Sea dan Lee Hae-Sky…”

”Oh jinja?!” tanyaku. Entah kenapa aku sangat gugup, ada sesuatu yang membuatku ingin sekali cepat bertemu dengan ayah dua malaikat kecil itu.

”Ya… kau tahu kan, si kembar sudah tidak memiliki ibu lagi, jadi mungkin Donghae-ssi hendak berterimakasih dan meminta pertolongan darimu… lagipula kulihat, kau langsung dekat dengan anak-anaknya…”

”Ah ye, tenang saja… mereka berdua anak baik kok, Sunsangnim… aku akan memberikan seluruh kasih sayangku kepada anak-anak kok…”

”Baiklah, sana temui ayah mereka, jangan membuatnya menunggu…”

”Ne, Sunsangnim…” aku melangkah pelan ke dalam kelasku, jantungku berdegup kencang begitu tiba di pintu, perlahan-lahan aku menggeser pintunya. ”Annyeong…” sapaku kepada seluruh ruangan.

”SAEM!” dan anak-anak di dalam bersorak gembira melihat kedatanganku. Aku langsung berjongkok, dan membuka tanganku, dan anak-anak itu masuk ke dalam pelukanku, ah rasanya damai bersama mereka.

”Saem… Appa mau bertemu…”

Aku mengangguk dan tersenyum, kemudian mendongak. ”Oh, jinja? Mana Appanya?”

Kerumunan di hadapanku membelah menjadi dua, seperti Musa yang membelah laut Merah, hanya menyisakan si kembar Sea dan Sky di hadapanku, kemudian mereka berdua juga memisahkan diri, dan aku akhirnya melihatnya.

Jika sebelum ini, aku berdiri karena gaya gravitasi yang menahanku, kali ini tidak, rasanya tata surya berpindah, dan pria inilah yang menahanku. Aku tidak sanggup melukiskan keindahan yang diberikan Tuhan padanya, melalui mataku, dia luar biasa indah.

Aku cuma tersenyum,   ”Annyeonghaseyo… Anda pasti orangtua Sea dan Sky…” tapi yang mengagetkan, dia nampak kaget saat melihatku.

”Neo…” pria itu benar-benar tidak bisa bergerak, dia terpaku melihatku.

Sesuatu terus bergetar dari dalam hatiku, aku tidak mengerti ini apa, ada yang memanggil-manggil dalam hatiku, terus menerus!

”Tuan… ada yang salah?” tanyaku bingung.

”Andwe!” bisiknya.

 

*Flashback End*

”AAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHH‼!”

Donghae langsung menepuk-nepuk pipi gadis di hadapannya, yang terus meronta, dan menangis. ”Ireona, Nadine, Haejin… bangunlah, sadarlah… ini aku, kau kenapa? Apa yang terjadi?!” Donghae panik.

Gadis itu terus meronta, meski Donghae sudah berusaha menahannya, tapi cengkramannya lepas, Nadine terlempar dan kepalanya membentur tembok, Nadine diam, tapi darah merembes dari kepalanya.

To Be Continued

Hopefully, next chap is the last chap… LOL… habis itu menggarap ff baru, When You Believe… please appreciate yaaa🙂

kritik saran komen ditunggu, saya mau kerja dulu… hehehehe… ketemu banyak bayi lagi *girang*

8 thoughts on “It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 6~

  1. ’Kau saja sudah lebih dari cukup untukku…’

    ’Kenapa kau menatapku seolah-olah aku ini hadiah? Padahal kau lah yang hadiah bagiku, dalam hidupku…’

    kata2nya so sweeeeet…… jd inget jaman dulu waktu dilamar teuki di sungai amazon *tabok*

    waduh, itu nadine ma donghai tidur sekamar? ckckckck…. dasar ikan asin, bukan muhrim tau!!!! *plaaaaak*

  2. Changmin kok tega nian sih misahin sea ama sky sama omma nya. Nti dpt karma loh #plak

    Btw kata2 yg ini manis bgt..bisa bikin cowo2 senyum ky nya he3x :

    Kenapa kau menatapku seolah-olah aku ini hadiah? Padahal kau lah yang hadiah bagiku…’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s