It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 5~

*Flashback*

”Eomma, Appa, Oppa…” Haejin tiba-tiba masuk ruang keluarga dengan heboh, membuat kedua orangtuanya, dan kakak sematawayangnya yang sedang bersantai menonton televisi menoleh. ”Aku punya hal penting yang mau dibicarakan kepada kalian…”

”Mwo?” tanya Appa sambil terus menonton televisi.

Haejin menarik napasnya dalam-dalam kemudian berkata mantap. ”Lee Donghae melamarku hari ini!”

Eunhyuk yang sedang minum coke langsung menyemburkan isinya, dan terbatuk-batuk. ”Hah?!” lengkingnya. Sementara Appanya menatap Haejin kaget, tapi Eommanya santai.

”Ne… tidak percaya?” tantang Haejin lalu memamerkan sebuah cincin emas putih, dengan batu permata kecil yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Membuat ayah dan kakaknya semakin melongo.

Eommanya dengan santai meraih remote, dan memindahkan channel. ”Tidak heran… Yeobo, Hyukjae-ya… seharusnya kalian tidak usah kaget! Kalian bisa lihat betapa seriusnya mereka berdua, sekali lihat saja aku sudah yakin mereka berdua akan nekat begini!”

”Kau hamil ya?!” tembak Eunhyuk, yang langsung dihadiahi lemparan sandal bulu milik Haejin. ”Aduuuh!” Eunhyuk meringis. ”Lagipula kenapa kau mau menikah muda jika memang tidak hamil? Kau kan masih delapan belas tahun, Haejin-ah!”

”Agar aku bisa menikah hingga ratusan tahun!” ucap Haejin bangga.

Appa cuma bisa geleng-geleng. ”Sebetulnya Appa tidak setuju dengan keputusanmu jika bukan Donghae yang menikahimu, hanya saja anak itu sudah terlalu serius begitu memacarimu… baiklah, kalau memang Donghae serius, suruh orangtuanya datang secara resmi!”

Eunhyuk menatap kedua orangtuanya tidak percaya. ”Appa! Eomma… Haejin masih keciiiiil… Juli ini dia baru mau delapanbelas tahun. Masa dia melangkahi aku menikah sih?!”

”Ya ampun, Eunhyuk-ah… sudahlah, kau saja tidak serius pacaran… kasian Haejin juga kalau harus menunggumu serius! Bisa-bisa sampai usia tigapuluh pun kau masih betah menjomblo. Haejin-ah, menikahlah… Eomma setuju!” kata Eommanya benar-benar santai.

Dan begitulah, akhirnya, ketika semua teman-teman sebaya Haejin sibuk melakukan pendaftaran kuliah, dan mengikuti berbagai macam tes masuk perguruan tinggi negeri, Haejin malah mempersiapkan pernikahannya. Dan herannya, dia sama sekali tidak iri pada teman-temannya, yang justru malah mengasihaninya.

”Kasihan sekali kau, Haejin-ah… masa depanmu kan masih panjang, kau bisa menjadi diplomat seperti yang kau idam-idamkan dulu ketika SMP, Haejin-ah…” ujar sahabat laki-lakinya sejak SMP, Im Seulong.

Haejin menjitak kepalanya. ”Lupa ya, cita-citaku berikutnya apa?”

”Ingat sih… ibu dari tujuh anak… kasihan Donghae, Haejin-ah…” Seulong geleng-geleng. ”Dikira ngurus anak gampang? Dan tujuh anak… kau kan belum pernah hamil, kata Eommaku melahirkan itu sakit, lho… yakin mau punya tujuh?”

”Aku sih mau punya tujuh, tapi Donghae cuma mau tiga… yah, atur saja lah… tadinya aku minta sembilan…”

”Udah kayak kucing!” teriak Seulong.

”Biar tambah aku dan Donghae jadi tim sepakbola, tapi Donghae tidak menganggap serius, dia bilang tiga saja… ya sudah, aku nurut saja deh…” kata Haejin bahagia.

Berhubung kedua keluarga Haejin dan Donghae, sama-sama berasal dari Mokpo, mereka masih memegang teguh ajaran-ajaran yang menganjurkan pengantin tidak boleh bertemu satu minggu sebelum pernikahan digelar, karena bisa-bisa terjadi sesuatu dalam pernikahan mereka, itu katanya siiih… tapi memang dasar bandel, mereka suka curi-curi waktu untuk bertemu di malam hari, biasanya Donghae memanjat pagar rumah Haejin, dan Haejin mengendap-endap keluar rumah, tengah malam buta, dan mereka pacaran sampai subuh, kemudian Donghae pulang, dan Haejin kembali ke kamar.

Hari pernikahan pun akhirnya tiba, dilaksanakan secara biasa-biasa saja, tidak terlalu sederhana, juga tidak terlalu mewah. Diantara seluruh tamu yang berbahagia, nampak satu orang yang lain, dia tidak menikmati pesta, dan tentunya dia tidak merasa bahagia, dia mencoba, tapi dia terlarut dengan kesedihannya sendiri, dia menatap ke arah lengkungan bunga di tengah-tengah kebun tempat Donghae-Haejin melangsungkan resepsi pernikahan.

Eunhyuk menghampiri pria tersebut dan melingkarkan lengannya di bahu pria jangkung tersebut. ”Jangan sedih… aku tahu, dan aku yakin pasti menyakitkan bagimu melihat mereka berdua…”

Pria itu mencoba tersenyum.

”Aku jadi bersalah padamu, man!” Eunhyuk meninju bahunya.

”Gwenchana…” sahutnya sambil menarik napas dalam-dalam. ”Sudah, jangan bicarakan hal itu di hari bahagia mereka, salam saja untuk mereka… ya?” Shin Changmin mencoba tersenyum kepada Eunhyuk.

Eunhyuk mengangguk, ”Sudah bertemu mereka?”

”Sudah tadi… aku titip ini…” Changmin menyerahkan sebuah kotak kepada Eunhyuk.

”Ige mwoya?” tanyanya.

Changmin tersenyum, ”Hadiah terakhirku untuk Haejin, dia mungkin selamanya tidak akan menganggapku sebagai pria, karena memang matanya sudah buta…” kekeh Changmin. ”Tapi, ya… ini bentuk rasa sayang Oppa kepada adiknya…”

”Ini… kunci?”

”Kalung kunci…” ralat Changmin.

”Mana kalung gemboknya?” tanya Eunhyuk bodoh.

Changmin cuma tersenyum, ”Aku mau pergi… aku harus ke Los Angeles malam ini, aku kerja disana mulai besok…”

”Oh, ya… hati-hati ya!”

Changmin merangkul Eunhyuk, dan Eunhyuk balas merangkulnya. Dia merasa kasihan. Changmin dan dirinya adalah sahabat dari semasa SMP. Changmin langsung suka pada Haejin begitu Eunhyuk mengajaknya main ke rumahnya, berhubung ketika itu, usia Haejin baru sepuluh tahun, Changmin tidak berani memacarinya, dia akan menunggu hingga gadis itu SMA.

Sayangnya ketika lulus SMA, dan Haejin SMP, Changmin malah kuliah ke Los Angeles. Sementara Eunhyuk kuliah di Universitas Nadam, disitulah dia satu jurusan dan satu kelas dengan Donghae, mereka bersahabat, dan seperti biasa Eunhyuk selalu mengajak sahabatnya, siapa pun itu ke rumahnya, kali ini, yang dibawanya adalah Donghae.

Begitu melihat Haejin yang turun tangga, tergesa-gesa mau ke perpustakaan karena ada tugas, Donghae pun langsung jatuh cinta, padahal Haejin sama sekali tidak sadar ada Donghae di dalam rumah. Berikutnya, ketika akhirnya Haejin pulang setelah berhasil meminjam buku, Eunhyuk sedang di kamar mandi, sehingga yang membukakan pintu rumah adalah Donghae, dan saat itu pula Haejin langsung melongo di depan pintu.

Bisa ditebak, malam itu juga bukannya bermain bersama Eunhyuk, Donghae malah lebih sering bercanda dengan Haejin, dan sejak itu, Donghae tidak segan-segan main ke rumah, ada atau tidak ada Eunhyuk, Donghae selalu main ke rumah, dan akhirnya keduanya resmi pacaran, dan begitu Haejin lulus, Donghae langsung melamarnya, dan Changmin yang di LA pun kaget ketika mendapatkan undangan pernikahan mereka.

 

*Flashback End*

”Max Shim… Shim Changmin… tapi tidak mungkin…” Eunhyuk bergumam sendiri. Berbagai pikiran berkecamuk ke kepalanya, awalnya dia mengira tidak mungkin! Tapi… jika seperti itu, memang kemungkinannya begitu… ah, Eunhyuk mengacak rambutnya frustasi. ”Aku beritahu Donghae atau tidak… atau…” Eunhyuk terus berpikir.

Sementara itu di taman, Nadine dan Donghae sama-sama diam setelah Donghae melontarkan pertanyaan terakhir tentang Nadine, keduanya kini hanya menikmati angin yang berhembus antara niat dan tidak, sambil terus memandangi dua bocah kecil itu berlarian.

”Appa… ayo pulang…” ajak Sea tiba-tiba begitu sudah berada di hadapan mereka. Sky menghampirinya.

”Sudah mau pulang?” tanya Sky.

Sea mengangguk. ”Kita tidur siang yuk… biar nanti malam bisa main di loteng sama Eomma dan Appa!”

”Ah, johta!” Sky setuju.

”Lihat bintang?” tanya Nadine heran.

Donghae tersenyum. ”Ne, dulu waktu usia mereka tiga tahun… kalau mereka mencari… mencarimu, aku selalu membawa mereka ke loteng yang atapnya bisa kubuka, dari situ kami melihat bintang…”

”Ah…” Nadine mengangguk-angguk.

”Kalau begitu ayo kita pulang…” Donghae berdiri dan membantu Nadine berdiri, dan kemudian menggendong Sky, sementara Nadine menggendong Sea dan membawa mereka ke dalam mobil. Tak lama perjalanan, keduanya sudah tertidur, Nadine dan Donghae menggendong keduanya dan membawa mereka ke kamar tidur mereka, setelah itu keduanya berjingkat keluar dari kamar agar keduanya tidak terbangun.

Nadine menghela napas. ”Aku rasa aku harus pulang…”

”Ah, sekarang?” tanya Donghae.

Nadine mengangguk, ”Ne, aku tidak bisa terus memakai baju ini ke sekolah kan, Donghae-ssi?” candanya.

”Ah, keurae…” Donghae ikut tertawa. Nadine kan telah menginap selama dua hari, dan selama dua hari itu, Nadine tetap memakai satu pakaian meski di hari ini Nadine tidak memakai fez-nya. ”Tapi, kau akan kembali lagi, kan?” tanpa bisa dicegah, nada penuh harap itu keluar.

Nadine tersenyum, ”Andaikan aku tidak mau, aku pasti tetap kembali…”

”Kalau begitu ada baiknya kau kuantar, menjaga kemungkinan kau berubah pikiran…” Donghae langsung meraih kunci mobilnya.

”Oke, oke…”

Donghae mengendarai mobilnya menuju apartemen Nadine, sesampainya disana, Donghae pun ikut masuk ke dalam apartemen Nadine. Apartemennya cukup mewah, dan cukup elegan, suami Nadine pastilah arsitek berbakat juga, Donghae melihat-lihat seisi apartemen Nadine, sementara Nadine di dalam kamarnya, mengambil beberapa baju.

Lukisan-lukisan yang terpajang di seluruh apartemen, terasa janggal! Justru tidak ada foto pemilik rumahnya sendiri, hanya ada foto-foto pemandangan alam, dan apartemen tersebut memang terasa lengang. Nadine kemudian keluar setelah mengganti bajunya dengan dress berbahan ringan, berwarna pink, dan rambutnya diikat ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang.

”Donghae-ssi, kau mau minum?”

”Boleh…” sahut Donghae sambil tersenyum.

Nadine berjalan ke dapur, dan membuka kulkasnya, kemudian menoleh, ”Donghae-ssi, mianhaeyo… disini tidak ada kopi, aku cuma punya jus, dan itu juga bukan jus jeruk, seperti yang biasa orang-orang makan… aku punya jus jambu.”

”Kau tidak suka jeruk?” tembak Donghae langsung.

’Aku tidak suka jeruk, Oppa… buah favoritku apel, tapi kalau jus aku lebih suka jus jambu, tanpa susu.’

Nadine mengangguk. ”Darimana kau tahu, Donghae-ssi?”

”Jadi…” sambung Donghae yang pikirannya masih menerawang. ”Kau menyukai hys jambu, tanpa susu?”

”Ne, kau benar…” Nadine ganti yang terpana menatap Donghae sambil membawa kotak minumannya, dan gelas. ”Bagaimana mungkin kau bisa menebak sampai seperti itu, Donghae-ssi?”

Donghae tersenyum sedih, dan tidak berniat menjawab, tapi nampaknya Nadine tahu jawabannya, karena Donghae kemudian berbalik dan pura-pura menatap seluruh ruangan, Nadine menghela napas dalam-dalam, dan menuangkan jusnya, lalu menyerahkannya kepada Donghae.

”Niatku hanya ingin membantumu, Donghae-ssi…” tiba-tiba dia bicara.

”Maksudmu?” tanya Donghae heran.

Nadine menarik napas dalam-dalam, dan kemudian menatap Donghae nanar. ”Aku mau membantumu, untuk Sea, dan juga Sky… tapi kalau… kalau kehadiranku justu malah semakin membuatmu sedih, aku tidak tau apakah aku bisa melanjutkan hal ini atau tidak…”

”Aku tidak sedih…” kata Donghae pelan. ”Aku hanya… bukankah justru kau yang harusnya sedih, Nadine-ssi?” Donghae kini balas menatap Nadine tajam.

”Eh, wae?” tanya Nadine tidak mengerti.

”Karena aku… aku… justru menganggapmu… Haejin…” aku Donghae akhirnya. ”Aku terus melihat Haejin pada dirimu, kalian terlalu sama…” lanjutnya lirih. ”Aku tidak… aku tidak…” Donghae kehilangan kata-kata, kemudian dia berusaha mengendalikan diri, dan memejamkan matanya sebentar, kemudian menatap Nadine lagi.

”Apakah aku harus sakit hati karena itu?” tantang Nadine.

”Memang seharusnya tidak, karena kau sudah punya suami…” Donghae memalingkan wajahnya. ”Err… ini tidak benar!” Donghae beranjak dan meletakkan gelasnya di konter.

Nadine menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu apa yang sedang bergolak dalam dirinya pada saat ini, yang jelas ada sesuatu dalam hatinya yang memanggil-manggil, dan entah sejak kapan, Nadine merindukan panggilan itu. Dan panggilan itu hanya terjadi jika pria di hadapannya ini, ada di dekatnya.

Apa maksudnya?!

”Ne, memang tidak benar…” Nadine mengangguk, dan Donghae terus memunggunginya. ”Dan semakin tidak benar karena, rasanya aku tidak peduli sama sekali soal itu.”

”Mwo?!” Donghae berbalik, dan menatapnya.

”Lupakan… ayo kita ke rumahmu lagi, Donghae-ssi… aku tidak mau Sea dan Sky terbangun dan bingung kita berdua tidak ada…” Nadine meraih tasnya di kursi, tapi Donghae mencekal tangannya.

”Kau tidak peduli?!” tanya Donghae tidak percaya. ”Kau tidak peduli aku memperlakukanmu seperti istriku? Atau kau tidak peduli kau sudah memiliki suami, Nadine-ssi?”

Nadine kemudian menunduk, ”Nan molla…” air matanya jatuh sendiri. ”Nan molla… aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku sendiri… dan itu membuatku seperti wanita yang rendah, karena… karena… aku sudah menikah… tapi… aku malah…”

”Gwenchana…” Donghae menegakkan kepala Nadine, dan lemas sendiri, bahkan cara menangis saja Nadine dan Haejin terlalu sama! Dan apa yang Donghae lakukan di masa lalu jika Haejin menangis karenanya, dilakukannya pada Nadine, persetan dengan segala pikiran buruk orang-orang mengenai mereka berdua. Donghae memeluknya.

Rasanya pun sama… tubuh Nadine dan Haejin pastilah benar-benar sama, karena rasanya sama. Mungil, dan Nadine semakin menangis dalam pelukan Donghae! Khas Haejin sekali. Dipeluk bukannya diam, malah semakin menangis, dasar cengeng! Tapi Donghae tersenyum kecil.

”Joahae, Donghae-ssi… joahae…”

Wajah Donghae seperti dipenuhi horror, bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana mungkin hal ini datang?! Kenapa Tuhan memberikannya cobaan seperti ini? Dia disuruh bertahan dengan Nadine yang benar-benar seperti Haejin, dan sekarang Nadine menyukainya!

Demi apa pun, Donghae tau dia tidak akan bisa menolaknya, karena jauh dari dalam dirinya, dia juga menyukai gadis itu, meski dengan bayang-bayang Haejin, dan seharusnya itu tidak boleh! Tapi Nadine sendiri menegaskan, kalau dia tidak peduli sama sekali, dan sekarang malah bilang dia menyukai Donghae? Bagus, semua orang seperti menunggu Donghae jatuh saja!

”Nado, joha..” balas Donghae, kemudian melepaskan Nadine, dan menatap matanya. ”Tapi benarkah tidak apa-apa?”

”Karena aku sudah menikah?”

”Ani, karena Haejin…”

Nadine menggeleng, ”Sama sekali tidak apa-apa… justru aku yang bertanya, apakah tidak apa-apa? Karena aku sudah menikah? Bagaimana kalau aku tidak peduli… aku menyayangimu, Sea, Sky…”

”Dan aku lebih tidak peduli lagi…” jawab Donghae dan mencium bibir Nadine begitu saja. Air mata Nadine meleleh begitu Donghae menciumnya, dia tahu bahwa bagian dari dirinya yang memanggil-manggil itu begitu menantikan sentuhan Donghae, tapi Nadine tidak tahu kalau begini nikmatnya saling bersentuhan dengan pria itu.

 

*           *           *

Eunhyuk bolak-balik berpikir, akhirnya sebuah ide terlintas di benaknya. Dia tahu resikonya, tapi ini demi Donghae, dua keponakannya, dan tentunya demi adik kandungnya sendiri! Eunhyuk mengangkat gagang teleponnya dan menelepon sambungan luar negeri.

Good night, Sir… would you mind if I talk to Mr Max Shim? Yes, with Spencer Lee here…” kata Eunhyuk, setelah lama menunggu kemudian, orang tadi menjawab lagi, Eunhyuk mendengarkan dengan seksama jawaban orang tersebut, Eunhyuk  tersenyum. ”Oh, okay… thanks, just tell him that I called… thank you very much…” Eunhyuk meletakkan kembali gagang teleponnya.

Fakta bahwa Shim Changmin enggan mengangkat teleponnya, membuat Eunhyuk semakin yakin, Nadine Lee adalah Lee Haejin‼!

 

*           *           *

Donghae dan Nadine kembali ke rumah, yah… memang tak ada kata yang terucap, tapi status mereka saat ini berubah, berubahnya pun entahlah jadi apa, mereka enggan membahasnya satu sama lain juga. Bagi Donghae, yang penting adalah Haejin kembali, meski dalam bentuk Nadine, dia tidak peduli dia disebut egois, apalagi Nadine sendiri ikhlas diperlakukan begitu.

Bagi Nadine, ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya, jika melihat ke dalam mata Donghae, ada dorongan untuk selalu bersama pria itu, tak peduli dengan suaminya yang di LA sana!

Mereka sampai rumah ketika para pengasuh sedang kelimpungan menangani Sea yang menangis mencari Nadine dan Donghae, sementara Sky kebingungan, akhirnya Nadine menggendong Sea, dan Sea berhenti menangis.

Mereka benar-benar merasa keluarga! Donghae merasa lubang di dadanya yang terasa sesak jika memandang si kembar, terangkat, mereka makan malam bersama-sama, kemudian malamnya mereka benar-benar menatap langit berempat.

”Aku senaaaaang… sekarang aku punya Eomma…” Sea memeluk Nadine, Nadine memeluknya erat. Sky ikut memeluk mereka, dan Donghae memeluk ketiganya dari belakang, kemudian menatap langit.

Sky berkata. ”Tuhan… terima kasih ya, sudah menurunkan Eomma kami kembali.”

”Ne, terima kasih Tuhan… aku janji, tidak akan nakal lagi…” Sea juga ikut bicara.

Nadine cuma tersenyum saja, Donghae melirik jam tangannya, ”Ah… sudah malam, ayo tidur… Sea, gendong Appa sini, jangan sama Eomma melulu, Appa kan juga mau gendong kamu…” ledek Donghae.

Sea mengulurkan tangannya, dan Donghae menggendongnya.

”Appa kok cemburu sama Eomma, sih?” Sea membelai-belai pipi Donghae, Donghae menciumnya gemas.

Nadine berdiri menggendong Sky, Sky menjawab. ”Appa kan memang cemburuan orangnya…”

”Ya, Lee Hae-Sky, siapa yang mengajarimu? Eunhyuk Ahjussi pasti?” tanya Donghae menatap Sky.

Sky mengangguk. ”Ne, kata Ahjussi, Appa pencemburu… tapi katanya Eomma lebih lagi…” Sky berbalik memandang Nadine, Nadine tertawa, dan memeluknya. ”Ayo tidur…”

Mereka turun bersama ke kamar si kembar, setelah menyelimuti si kembar, kemudian mengecup dahi mereka berdua bergantian, Nadine dan Donghae melambaikan tangan mereka kepada si kembar.

”Jaljayo, uri aegi…” kata Nadine lembut.

”Jaljayo, Eomma… Appa…” sahut Sea dan Sky kompak.

Donghae menutup pintu kamar mereka, kemudian menatap Nadine, ”Kita ke atap lagi yuk…” ajaknya. Nadine hanya mengangguk, kemudian Donghae menggandeng tangannya kembali ke atap, dan membuka atapnya yang langsung membuat mereka memandang langit malam.

 

*           *           *

Los Angeles

 

Seorang pria jangkung duduk menghadap jendela kantornya, dia menggigit bibirnya terus menerus. Telepon dari Seoul tadi membuatnya ketakutan, dia harus menemukan Nadine, sebelum orang-orang tersebut menemukan Nadine. Pria itu membalik kursinya kembali ke meja kerjanya, dan menatap pigura foto dengan wajah Nadine dan dirinya.

Satu-satunya foto mereka, tapi Nadine terlihat enggan, meski tersenyum. Changmin berdiri, dan menghela napas. ”Aku harus kembali…”

To Be Continued

Yeeeey… akhirnya saya punya foto si kembar juga #plakk wkwkwkwk… banyak yg minta fotonya si kembar sih, wkwkwkwkwkw… dan malam ini adalah malam pertunangan Sea, bayi perempuan saya dengan Cho Allen… Cho, ada yg bisa nebak itu baby-nya siapa? yaaa… tebakan kalian gak salah kalo nebak itu anaknya Cho Kyuhyun & Tante Nara #plakk

berhubung Sky laku banget, dan banyak gosip gak enak yang justru ngejodohin Sky sama Sea *aku ngeri bayanginnya* jadilah saya dan Nara memutuskan menjodohkan dua bayi kami, ini piku diatas adalah baby-nya Evil Couple… mudah-mudahan gak seevil ortunya, amin…

sampai ketemu di part 6 yaaaa🙂

7 thoughts on “It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 5~

  1. haejin kena karma tuh, mangkannya kalo mo nikahmah jgn ketemuan pamali. kasian bang unyuk, dilangkahin haejin nikahnya wkwkwkwk.. mangkannya bang, ubah dulu tuh, kepribadiannya yg super irit, pelit, kikir yg amat sangat niannya biar cepet dpt jodo *ditabokin jewel*
    hiks..hiks.. sroot..
    nasib suami sy *red shim changmin* jd orang jahat….*tabok*

  2. Cinta ga bs dipaksain Max…
    *toel2 dagu Minnie*
    hedeh, kyknya haena –> baca Hae Nadine
    Mesra Abis niey..
    Moga2 ga bikin mupeng romantisnya abang ikan..

  3. ckckckckckcck ternyata ini ulah changmin tooooohhh!!!
    cinta ga harus memiliki bang,,,
    cukup melihat org yg kita cintai bahagia ajah udah cukup senang,,,

  4. aigo,,,tu gmbr ank2 lucu2 bgt ce,,,!!!
    ankx Kyuppa,,,,mrip Nara y pstix,,,cz g gt mrip m kyuppa,,,!!!hehehe

    Changmin oppa jahadt bgt ce,,,tega,,,!!!
    jd g sabar bc lnjutanx,,,!!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s