It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 4~

*flashback*

”Aigo… lucuuuu…”

Donghae mengulurukan kedua tangannya, dan memeluk tubuh istirnya dari belakang, dan dagunya diletakkan di bahu Haejin. ”Mau sampai kapan kau mengagumi mereka?”

”Ya! Mereka kan anak kita… wajar dong kalau aku kagum?” kata Haejin masih terus memerhatikan boks bayi, dengan dua bayi mungil dengan rambut seadanya sedag tidur dengan damai dibalik selimut.

”Ne, mereka berdua itu cantik dan tampan… sama seperti kita lah, tapi kau cueki aku terus dari kemarin!” Donghae mulai menciumi leher Haejin, dan semakin mengeratkan pelukannya.

”Hmm… ngomong-ngomong urusan nyuekin…” Haejin berbalik dan menghadap Donghae. ”Aku mau ke Los Angeles…”

”Ngapain?!”

”Periksa rahim, semoga sudah habis benih kistanya… aku tidak mau terlalu lama periksa… karena aku mau hamil lagi!” kata Haejin semangat.

Mata Donghae membulat terkejut. ”Lagi?! Jagiya, kamu itu baru melahirkan dua bayi sekaligus, lho…”

”Dan itu karena kamu…” ledek Haejin sambil mencubit pipi Donghae.

”Istirahat dulu ah, jangan langsung hamil lagi…” geleng Donghae.

”Ah, nanti kalau istirahat kebablasan, mendingan sekarang… mumpung Sea dan Sky masih kecil juga, jadi mereka beda usianya tidak terlalu jauh…” kata Haejin sambil mengelus-elus pipi Donghae. ”Ya? Ya? Ya?”

Donghae menghela napas. ”Jagiya… kalau urusan kau mau periksa ke LA, aku setuju… tapi kalau hamil lagi…”

”Ya udah kalau gak mau juga nggak apa-apa…” kata Haejin memalingkan wajahnya, sok ngambek!

”Ah, jangan ngambek doooong… aku kan cuma nggak mau kamu kecapekan, Jagiya…” Donghae memeluk Haejin lagi, tanda bahwa Haejin tidak menghempaskan tangannya adalah bukti, bahwa Haejin tidak beneran marah. ”Aku lihat sendiri gimana susahnya kamu melahirkan, dua pula… kalau aku bisa ngelahirin satu, kita bagi dua deh kemarin…”

Haejin tertawa dan berbalik, kemudian dengan dua tangannya di diletakkan tepat di wajah Donghae. ”Aniya… aku sama sekali tidak merasa susah, apalagi anaknya itu anakmu… benihmu, aku malah bahagia… ayolah, tunggu si kembar dua bulan, lalu kita buat lagi, bagaimana?”

”Astaga, kau ini memang keras kepala ya?” keluh Donghae.

”Tapi suka, kan?” ledek Haejin.

Donghae langsung mendekatkan wajahnya pada Haejin, dan Haejin memejamkan matanya. Baru kedua bibir mereka hendak bersentuhan, si kembar sudah menangis pada saat yang sama. Haejin tertawa lepas, sementara Donghae langsung menundukkan kepalanya.

”Jagiya… aku bahkan belum menyentuhmu sebulan ini…” keluhnya. ”Apalagi kalau kita tambah satu bayi lagi, hah?!” desahnya, sementara Haejin sudah menggendong Sky yang menangis.

”Sudahlah, jangan mengeluh… itu gendong Sea! Kasihan dia menangis juga…”

 

*Flashback End*

Donghae berdiri di balkon kamar tamu, sementara Nadine tidur dengan nyamannya di atas kasur di dalam kamar tersebut. Donghae memandang langit, kalau saja dia tahu waktunya dan Haejin hanya sebentar, dia memilih ikut Haejin ke Los Angeles, dan meski harus mati, setidaknya mereka bersama. Jika dia tahu keinginan Haejin memiliki anak lagi tidak mungkin tersampaikan, dia pasti waktu itu akan mengabulkannya, agar semua keinginan wanita yang dicintainya itu terkabulkan.

”Donghae-ssi…”

Donghae menoleh, dan masuk kembali ke dalam kamar. ”Nadine-ssi, gwencahana? Sudah sadar?”

”Ah, nado mollayo…” Nadine mencoba duduk dan memegang kepalanya. ”Kepalaku tiba-tiba sakit…”

”Mungkin kau terlambat makan, dan hari ini terlalu capek karena mengurus si kembar… maaf ya…” Donghae nampak menyesal.

”Ah, ye… gwenchana Donghae-ssi, that’s my pleasureI love kids…” sahut Nadine sambil terus memegangi kepalanya.

”Mungkin sebaiknya kau menginap disini, Nadine-ssi… kau kan tinggal sendirian di rumah… kalau ada apa-apa, tidak ada yang tahu nanti…” ujar Donghae. ”Atau kau mau menghubungi suamimu?”

”Ah, tidak perlu, Donghae-ssi… suamiku pasti sangat sibuk, dan aku tidak mau mengganggunya dengan hal sepele…” kekeh Nadine. ”Baiklah, kalau begitu, kuturuti saranmu, Donghae-ssi… lagipula aku tidak tenang juga meninggalkan Sea dalam keadaan sakit begini.”

”Kau baik sekali…” kata Donghae sambil tersenyum. ”Kalau begitu, kutinggalkan kau agar bisa beristirahat, Nadine-ssi…”

”Ah, ne… kamsahamnida, Donghae-ssi…”

Ketika Donghae pergi, Nadine memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. ”Ah… ige mwoya? Kepalaku kenapa sakit begini?” tanyanya sambil terus memijat-mijat pelipisnya.

 

*Esok Paginya*

”Eomma… pagi…”

Nadine mengerjapkan matanya perlahan-lahan, dan kaget mendapati dua wajah mungil sudah muncul di depan matanya. Mata identik mereka menatap Nadine dengan sumringah seolah-olah mereka berdua sudah bertahun-tahun tidak berjumpa dengan Nadine. Dan di ambang pintu Donghae berdiri, dan bersandar menatap kedua putra-putrinya yang tidak bisa diberitahu, bahwa Nadine adalah Nadine, dan bukan ibu kandung mereka. Wajah Donghae penuh sorot minta maaf.

Nadine tersenyum, campur meringis, kemudian mengelus pipi Sea dan Sky satu persatu. ”Pagi, Sea… pagi, Sky…”

”Pagi…” dan dengan kompak keduanya mengecup pipi Nadine bersamaan.

”Oke, cukup! Eomma kepalanya sedang pusing… dan kalian harus mandi, ayo ayo ayo…” potong Donghae.

”Hmm… mau mandi sama Eomma…” kata Sea.

Sky mengangkat alisnya, lalu menoleh kepada Donghae, yang langsung berwajah putus asa. ”Sea…” baru Donghae hendak membujuk Sea.

”Kaja…” Nadine sudah menggendong Sea. ”Mandinya pakai air hangat ya, kan Sea lagi sakit…”

Sky tersenyum. ”Aku juga mau!”

”Oke… sekarang ke kamar mandi…” dengan satu tangan menggendong Sea, dan satu tangan menggandeng Sky, ketiganya melewati Donghae di ambang pintu yang masih terbengong-bengong.

 

*Di Kantor*

”Hai, man! Bagaimana keadaan rumahmu?” tanya Euhyuk begitu masuk ke dalam ruangan Donghae, dan langsung duduk di depan meja Donghae.

Donghae yang sedang memeriksa proposal keuangan, langsung mengangkat wajahnya. ”Kau berharap apa?” tanyanya. ”Jujur aku semakin pusing dengan keadaan seperti ini, Eunhyuk-ah…”

”Jadi, kau sudah sadar kan kalau Nadine Saem itu Nadine Saem, dan bukannya uri Haejin?”

”Bagaimana bisa?” tanya Donghae lagi. ”Dia benar-benar seperti Haejin, Hyuk-ah… semuanya sama!”

”Kecuali namanya…” Eunhyuk mengangguk. ”Tapi Haejin adalah Haejin, Donghae-ya…”

Donghae menutup laporannya kemudian bersandar di kursinya. ”Semalam dia menginap di rumah. Paginya si kembar memintanya memandikan mereka, itu adalah hal yang aku idam-idamkan, melihat Haejin mengurus anak-anak kami… Eunhyuk-ah, mungkinkah Nadine itu Haejin?”

”Jangan gila, ah! Mana ada orang sudah mati hidup lagi… bahkan di Harry Potter saja tidak bisa…”

”Barangkali saja Haejin belum mati!”

”Ya! Kau ini kebanyakan nonton drama…” Eunhyuk menyelanya.

Donghae menjitak kepala Eunhyuk. ”Kau itu belum pernah benar-benar jatuh cinta, kemudian menikah, dan punya anak! Jadi tidak tahu rasanya…”

”Euww… bicaramu seram!” keluh Eunhyuk.

Donghae melirik jam. ”Sepertinya sudah waktunya aku menjemput si kembar… aku pergi dulu!”

”Kau sangat bersemangat…” ledek Eunhyuk. ”Ingat-ingat, itu Nadine, bukan Haejin!”

”Oh yeah… aku lupa!” seringai Donghae dan langsung keluar dari dalam ruangannya dan meninggalkan Eunhyuk.

Eunhyuk geleng-geleng. ”Sejujurnya aku heran pada Donghae, dia tampan, dan kaya… banyak wanita yang mau padanya, tapi hatinya entah sudah tersangkut, atau entah apa yang Haejin perbuat padanya hingga dia begitu… ckckckck… Nadine Saem… Nadine Lee, aku jadi tertarik mengetahi latar belakangnya!” Eunhyuk langsung menarik gagang telepon dan menekan tombol-tombol. ”Halo, Korean Air… saya Lee Hyukjae…”

 

*TK Anvield*

”Johta!” Nadine mengelus kepala Sea. ”Sudah makan siang, sudah minum obat… begitu baru anak pintar!”

Sky mengangguk-angguk. ”Jadi kita bisa main lagi.”

”Kau kemarin memanggilku Noona… aigoo… aku jadi malu!” Sea menutup wajahnya malu.

Sky memeluk Noona-nya. ”Kau mau kupanggil Noona terus?”

”Ani… panggil Sea saja… kita cuma beda menit…”

Nadine tertawa melihat tingkah menggemaskan kedua anak kecil ini. Kemudian saat Nadine hendak bangkit, tangannya di tahan oleh Sea.

”Eomma… nanti kita jalan-jalan yuk…”

Nadine menoleh lagi pada Sea. ”Jalan-jalan?”

”Ne… mumpung sekarang Eomma sudah ada…” kata Sea dengan mata berbinar, sementara Sky menatap Sea dan Nadine bergantian. ”Kemarin Sihyo dan Riwon bercerita pada kami kalau mereka dan orangtuanya berjalan-jalan, piknik di taman… aku juga mau, bersama Eomma dan Appa…”

Alis Nadine terangkat. ”Hee??‼”

”Keurae! Ayolah, Eomma…” Sky ikut membujuk.

”Tapi…” Nadine menggigit bibirnya, sebetulnya dia hendak menolak! Bagaimana mungkin bisa terjadi hal seperti ini? Tapi pandangan mata puppy eyes dari kedua anak itu, mata indah itu––Nadine merasa kepalanya berputar lagi, dan seperti melihat kilasan-kilasan yang lebih cepat dari kilat di langit.

”Eomma… Eomma gwenchana?!”

”Eomma…”

Nadine menggelengkan kepalanya. ”Ani, gwenchana…”

”Sea… Sky…”

”Appa!” seru si kembar melihat Donghae datang.

Nadine masih sibuk memijit pelipisnya, dan tersenyum kepada Donghae yang sekarang memeluk kedua anaknya itu bergantian. ”Bagaimana belajarnya? Sky, apakah Sea nakal?”

”Ani! Sea minum obat dengan baik, Appa…”

”Johta! Anak baik dua-duanya…” Donghae mengelus kepala Sea dan Sky satu persatu. Donghae berdiri dan memerhatikan Nadine yang masih memijit pelipisnya. ”Gwenchana?”

”Ah, hanya sakit kepala biasa… Donghae-ssi…”

”Mungkin kau lelah…” wajah Donghae menjadi khawatir. Guru anak-anaknya ini sudah mengorbankan dirinya terlalu banyak dalam mengurus kedua putra-putrinya. ”Ayo, pulang… Nadine-ssi…”

”Appa… bagaimana kalau kita ke taman?” tanya Sea.

”Ne, kita piknik bersama… seperti Riwon, Sihyo, dan kedua orangtuanya… mau ya Appa, Eomma…” bujuk Sky.

”Tapi, Sea… kau belum sembuh benar… Eomma juga lelah tuh…” tunjuk Donghae.

”Gwenchana…” Nadine menggeleng. ”Ayo, mau ke taman mana?”

Donghae menghela napas dalam-dalam, sejujurnya aku senang, tapi Nadine, kalau kau begini terus… aku bisa gila! Rutuknya dalam hati, akhirnya membawa keluarga kecilnya tersebut ke dalam mobil, tak lama kemudian mereka sudah tiba di sebuah taman kota, yang masih sepi, karena jam kerja, apalagi waktu menunjukkan baru pukul dua siang, meski taman ini rindang, jarang orang yang sudah pulang kerja.

”Woah…” Sea nampak takjub melihat taman yang sangat hijau itu.

”Kita main yuk…” ajak Sky.

”Jangan capek-capek ya… kau masih belum sembuh!” seru Nadine ketika melihat keduanya sudah berlarian diatas rumput-rumput. Begitu keduanya sudah pergi, Nadine menoleh kepada Donghae. ”Donghae-ssi, mianhaeyo… mungkin keadaan ini tidak nyaman bagimu.”

Donghae menatap Nadine terkejut. ”Aniya… aku justru berterima kasih…”

”Aku hanya tidak bisa melihat mereka sedih…” lanjut Nadine sambil terus memandang si kembar yang bermain. ”Dari seluruh muridku, baik disini, maupun di Los Angeles, memang hanya Sea dan Sky yang paling memiliki ikatan denganku… aku sendiri tidak tahu kenapa…” Nadine menoleh lagi pada Donghae. ”Aku sangat ingin jadi seorang ibu. Aku bisa bayangkan rasanya istrimu sangat ingin jadi ibu, tapi… kesempatan itu begitu sebentar.”

Donghae langsung menutup mulutnya dengan punggung tangan. Topik Haejin selalu sensitif baginya. ”Kau akan jadi ibu yang baik, Nadine-ssi…” kata Donghae setelah berhasil mengontrol diri. ”Kau begitu lembut, dan sangat penyayang… bukan hanya kepada anak-anakku, pada anak-anak lainnya juga, aku yakin itu… suamimu pasti bahagia.”

”Ah…” Nadine mengangguk, dan tersenyum.

Entah karena faktor wajah Nadine yang sangat Haejin, atau memang mereka berdua sangat satu tipe, Donghae mengenali sesuatu yang disembunyikan disana. ”Ada apa, Nadine-ssi?”

”Keurae… mendengarmu bicara tentang istrimu, anak-anakmu… kau pasti sangat… aku tidak bisa mengatakan bahagia, karena aku tahu kau sangat kehilangan istrimu, tapi jika Haejin-ssi masih hidup, kalian pasti bahagia…” kata Nadine dengan pandangan menerawang. ”Aku sangat iri dengan kalian, andai aku… bisa seperti itu, bisa merasakan hal yang sama. Meskipun waktunya sangat sebentar, tapi kenangan itu kan sangat berharga…”

Semilir angin melewati mereka, Donghae menatap Nadine lekat-lekat, wajah Nadine seperti semakin muram. Dan Donghae benci hal itu, ia benar-benar merasakan bahwa Haejin yang sedang memasang ekspresi seperti itu! Mereka kemudian duduk bersila ditengah taman, dan masih mengawasi si kembar yang sedang memetik bunga-bunga kecil.

”Berharga… walau sebentar, aku mau menikmatinya…” ujar Nadine lagi sambil memandang Sea dan Sky. ”Aku mau jadi wanita seutuhnya dengan memiliki putra-putri, seperti Sea dan Sky… pasti bahagia, juga memiliki suami sepertimu Donghae-ssi…” Nadine menolehkan wajahnya pada Donghae.

Donghae tentunya terkejut mendengar penuturan Nadine yang jujur seperti itu, keduanya sekarang saling bertatapan. Donghae bahkan masih ingat bagaimana tatapan teduh dari wajah Haejin, yang kini memandangnya melalui mata Nadine.

”Kenapa kau tidak bisa menikmatinya?” tanya Donghae dengan suara nyaris tercekat.

”Ah…” Nadine tertawa miris. ”Mungkin yang lebih tepatnya, aku beruntung memiliki suami seperti dia… tapi aku tidak tahu diuntung, Donghae-ssi… karena selama aku menikah dengannya, yaaah… terlalu childish untuk mengungkapkan hal seperti ini, tapi hell yeah, aku yakin kau mengerti… I never loved him…” Nadine menatap Donghae sungguh-sungguh.

Entah kenapa Donghae percaya akan hal itu.

”Oh…” Donghae berusaha mencerna.

”Kadang aku sendiri bingung kenapa bisa menikahinya…” Nadine mendongak ke langit. ”Dia sangat baik, setidaknya dia memperlakukanku dengan baik… kurang lebih lima tahun ini… kau tahu penyakit Post sleep memory lost?”

”Tidak…” Donghae menggeleng.

”Aku mengidap penyakit itu sekitar lima tahun yang lalu, semacam Alzheimer…” kata Nadine ringan. ”Tapi bedanya, jika Alzheimer, lama kelamaan penderitanya akan benar-benar amnesia, sedangkan Post sleep memory lost tidak…” sambung Nadine. ”Setelah diingatkan, penderita post sleep akan ingat lagi… aku ingat segalanya, meski kurang yakin…” tambah Nadine sambil terkekeh. ”Bahwa ya, dia memang suamiku… tapi, aku tidak ingat pernah mencintainya…”

Donghae mendengarkan dengan seksama, sambil mengangguk.

”Aku hanya masih heran, kenapa dulu aku bisa menikah dengannya… aku merasa sebagai wanita paling jahat sedunia, karena tidak bisa mencintainya seperti dia mencintaiku…” lanjut Nadine lagi. ”Hingga akhirnya, aku memutuskan kembali ke Korea, sendiri…”

Donghae bergumam sebentar kemudian bertanya. ”Kalau begitu, maaf jika aku lancang berbicara begini, tapi apakah… kau, maksudku… jatuh cinta pada orang lain? Sebelumnya?”

”Ne, kurasa begitu…” Nadine memberinya sebuah senyuman yang sangat indah.

 

*Ruang Kerja Eunhyuk*

”Ini yang berhasil saya kumpulkan tentang kecelakaan Korean Air di Los Angeles lima tahun yang lalu, dan data tentang Nadine Lee…” ujar seorang pria berseragam hitam-hitam meletakkan dua buah map di atas meja Eunhyuk.

Eunhyuk mengangguk. ”Oke…” Eunhyuk menyerahkan selembar cek. ”Ini bayaranmu, dan jangan coba-coba beritahu Donghae, arasseo?”

”Ne, arasseoyo, Sajangnim…” pria itu membungkuk dan keluar setelah mengambil ceknya.

Eunhyuk membuka map pertama, yang berisi data korban-korban kecelakaan naas yang merenggut nyawa adik sematawayangnya tersebut. Dan nama adiknya memang tertera disana.

Lee Haejin.

Miris, Eunhyuk bahkan sudah berulangkali membaca daftar nama korban, melalui koran pada saat itu, dan stasiun televisi, tapi melihat nama adiknya yang ketika lima tahun lalu berusia 19 tahun itu kini, rasanya masih sama menyakitkannya. Eunhyuk menutup lagi lembar hitam tersebut, dan membuka map satunya yang berisi data lengkap tentang Nadine Lee, namun ada sesuatu yang membuat Eunhyuk tertegun, dibagian nama suami.

Max Shim. Eunhyuk kenal orang ini… Donghae juga, dan Haejin juga. Eunhyuk menarik daftar nama korban lagi, dan kini membacanya dengan teliti satu demi satu.

To Be Continued

Annyeong… hahahaha, akhirnya bisa curhat juga… Author sudah berhasil menyelesaikan seluruh UAS kuliah yang menyiksa, dan untuk beberapa bulan ke depan : I’m FREE… *lebe* wkwkwkwkwk, tapi tetep aku bersemangat untuk ngajar… wkwkwkwkwk… doain ya semoga aku bisa jadi guru yang sabar, cos muridku rata-rata anak TK-SD…

Oiya, untuk telenovela 13 tahun yang lalu itu wkwkwkwk, judulnya Cinta Kasih Clarita, ada yang inget? hehehehe… lama-lama saya bikin Amigos juga nih #plakk yowes, makasih untuk semua support di ffku… feel free to chat :

Twitter : @nisya910716

Facebook : nisya_nadine_haejin@hotmail.com

YM : nisya_siregar

MSN : nisya_horrible@hotmail.com

dan buat temen-temen author freelance, dan yang bkin ff di facebook, atau mau ffnya aku baca… kasih tau aja yaaaa, insya allah aku baca.🙂 gomawoooo

8 thoughts on “It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 4~

  1. ckckckc… .ga nyangka, bang unyuk secerdas itu, nyewa detective bwt nyelidikin nadine.
    mesti diteliti kyknya, pengaruh nonton film yadong terhadap kecerdasan otak, wkwkwkkkk….

  2. tu kan,,,makin jlas klo Nadine tu sbnrx Haejin,,,!!!
    Max Shim,,,Shim Changmin mksdx y,,,???

    oalah telenovela Clarita toh,,,ank kcil yg nakal tp pinter,,,!!!
    gp2 Nis,bkin Amigos jg aj,,,!!!
    tu telenovela favq pas SD dl,,,!!!

    lanjut ah,,,!!!^^

  3. wooo kyknya haejin emng nadine .
    trus si max itu ngaku2.
    haejin kecelakan tapi gg meninggal cuma amnesia aja ..
    #sok tau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s