It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 3~

*Rumah Donghae*

Donghae memeriksa kamar si kembar, keduanya sudah tidur dengan damainya, Donghae menutup pintu kamar si kembar, kemudian melangkahkan kakinya ke ruangan tersebut. Ya, bisa disebut galeri, karena memajang display foto-foto kenangannya dahulu.

Rasa bersalahnya yang selama ini melarangnya masuk ke dalam ruangan tersebut, tapi semenjak ada ’jejak’ Haejin lagi, Donghae memberanikan diri masuk ke dalam ruangan tersebut, menatap wajah istrinya yang tersenyum abadi, dan nampak bahagia dalam pelukannya. Dia merindukan hal tersebut, dan sekarang jejak Haejin ada dalam hidupnya.

”Appa…”

Donghae tersentak kaget saat menoleh, dan melihat Sea berada di ambang pintu. ”Sea… kok bangun?”

”Tenggorokanku sakit…” tunjuk Sea pada tenggorokannya, kemudian dia masuk dan menghampiri Donghae, kedua tangannya terentang. Donghae menggendongnya, dan memeluknya.

”Kok tenggorokannya bisa sakit? Makan es, ya?”

Sea mengangguk, dan memeluk Donghae lesu. Donghae membelai-belai kepalanya, ”Appa buatkan susu hangat ya, habis itu tidur lagi…”

”Hmm…” gumam Sea, kemudian Sea melihat pigura yang terang tersebut. Di atas padang rumput, foto ayahnya dan Nadine Saem! Sea mendongak. ”Appa! Kenapa ada foto Nadine Saem?!”

Donghae tersentak, dia lupa… kemudian Donghae melepaskan Sea, Sea masih terpaku melihat foto tersebut. Dia bisa melihat bagaimana Nadine Saem-nya dipeluk begitu mesra oleh sang ayah.

”Appa…”

Donghae menatap Sea, kemudian foto itu, dia bingung bagaimana harus bagaimana menjelaskannya kepada Sea.

”Appa… kenapa disini ada foto Nadine Saem?” Sea menarik-narik kaus ayahnya.

”Sea… Sea… kau dimana?” tanya suara kecil lagi.

Donghae tidak bisa mencegah, tapi kemudian pintu terbuka semakin lebar, dan Sky berdiri di ambang pintu. ”Sea? Kau kok bangun?” Sky menghampiri Sea dan Donghae yang masih tak bisa bicara.

”Sky… Sky… lihat deh, ada foto Nadine Saem…” tunjuk Sea.

Sky mendongak dan matanya juga melebar, kemudian Sky kembali menatap keseluruhan foto yang ada di ruangan tersebut, sementara Sea minta turun dari gendongan Donghae.

”Nadine Saem… disini banyak foto Nadine Saem dan Appa…”

Sea mengangguk-angguk.

Donghae menghela napas, kedua anaknya kemudian mendekatinya, dan bersamaan menarik-narik celana Donghae dan menatap Donghae dengan puppy eyes mereka. ”Appa… Nadine Saem itu siapa?”

”Kenapa banyak fotonya?”

Donghae berjongkok dan menatap kedua putra-putrinya, ”Itu bukan Nadine Saem.”

”Itu Nadine Saem! Wajahnya sama!” Sea ngotot.

”Iya, Appa kenal ya dengan Nadine Saem?” tanya Sky.

Donghae menggeleng-geleng. ”Itu Eomma kalian… itu bukan Nadine Saem, itu Eomma kalian…”

Kedua pasang mata di hadapannya membulat terkejut.

”Eomma?”

”Uri Eomma yang sudah di surga?”

Donghae mengangguk, ”Mirip ya dengan Nadine Saem? Appa juga terkejut saat bertemu dengan Nadine Saem, selain mereka berdua mirip… suara mereka berdua juga sangat mirip…”

Dan kedua mata jernih di hadapannya kini bersamaan digenangi air mata. ”Appa…” rengek keduanya.

Donghae memeluk kedua anaknya, air matanya juga jatuh. ”Kalian mau bertemu Eomma?” Sea dan Sky mengangguk dalam pelukan Donghae. ”Sama… Appa juga, Appa kangen sekali dengan Eomma kalian…” Donghae menggendong kedua anaknya sekaligus dan dibawanya ke kamar tidur mereka.

”Appa… tidur sini ya…” pinta Sea.

Sky mengangguk.

Donghae mengangguk, ”Oke… tapi janji langsung tidur ya, besok kan mau sekolah…”
”Appa…” kata Sky setelah berbaring disebelah kiri Donghae, sementara Sea di sebelah kanan Donghae.

”Ne…”

”Ceritakan tentang Eomma…”

Donghae kaget sebetulnya ditanya begitu, sudah lama dia tidak membuka-buka kotak kenangannya tentang Haejin.

”Ne… kami mau tau tentang Eomma…”

Donghae tersenyum, kemudian berkata. ”Eomma kalian? Seperti yang kalian lihat, Eomma kalian cantik, kan? Eomma kalian itu rambutnya panjang, dan suka parfum dengan wangi-wangi alami, tapi bukan wangi bunga… Eomma kalian suka pinus dan greentea. Waktu Eomma muda, Eomma pernah bilang mau punya anak tujuh…”

”Tujuh?!” tanya Sea dan Sky kompak.

”Ne, Eomma kalian itu suka anak-anak…” ujar Donghae sambil tersenyum dan menatap langit-langit. ”Makanya anak-anaknya itu pintar-pintar seperti kalian…”

”Hihihi…” Sea dan Sky cekikikan.

Sky memeluk Donghae, Sea juga.

”Andai Nadine Saem itu Eomma…”

Donghae tersenyum saja, kemudian mengelus rambut kedua anaknya. ”Sudah, ayo tidur… nanti kita sambung lagi ceritanya.”

 

*TK Anvield*

”Saem…”

”Annyeong, Sea… Sky…” Nadine langsung memeluk kedua muridnya itu.

Sea membelai-belai pipi Nadine, dan Sky mencium pipi Nadine lama-lama. Nadine agak heran sendiri dengan perlakuan kedua muridnya yang jujur saja, dia merasa paling ada ikatan.

”Hei… ada apa?” tanya Nadine heran.

”Tak apa-apa…”

Sky nampak menghirup sesuatu. “Hmm… wangiiii… Saem pakai parfum wangi apa?”

”Ne, wanginya enak!” puji Sea.

”Pinus…” jawab Nadine sambil tersenyum.

Sea dan Sky malah semakin merapat memeluknya. Nadine cuma kebingungan dan balas memeluk mereka.

Sea terbatuk.

Nadine memandangnya. ”Sea sakit?” tanyanya khawatir.

”Ne, Saem… tenggorokan Sea sakit semalaman, dia sampai tidak bisa tidur…” kata Sky sambil mengelus pipi Noonanya tersebut.

”Jinja?” Nadine kemudian meraba kening Sea. ”Aduh agak panas…”

Sea tersenyum. ”Gwenchana… Sky akan menjagaku…”

”Bagus… kalau begitu ayo masuk kelas, yuk…”

Tapi memang Sea benar-benar dalam keadaan tidak enak badan, sehingga dia terlihat lesu hari ini. Dia tidak banyak bermain, dan Sky menemaninya duduk di pinggir lapangan sementara teman-teman sekelas mereka bermain dengan riang di tempat bermain.

Sea terus terbatuk. Sky merangkul Noona-nya dengan perhatian, tapi kemudian Sea lemas, dan Sky menjerit. Nadine yang sedang menemani anak-anak lainnya bermain menoleh dan langsung berlari menghampiri Sea dan Sky.

”Wae?!” pekiknya.

”Saem… Sea sakiiit…” Sky mulai menangis.

”Tenang, kau tenang ya, Sky… Sea, Sea… sayang…” Nadine meraih tubuh Sea yang lemas, dan menepuk pipinya lembut. ”Ya Tuhan, badannya panas!” pekiknya. ”Sky… panggil Ibu Kepala Sekolah ya, kita harus bawa Sea ke rumah sakit!”

Sky mengangguk, dan langsung berlari. Setelah meminta izin, Nadine langsung membawa Sea dan Sky ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit, Nadine mengikuti Sea yang dibawa dengan keranda ke dalam UGD, tapi Nadine dan Sky ditahan diluar, karena dokter perlu melakukan pemeriksaan intensif kepada Sea.

”Kita tunggu disini ya…” kata Nadine pada Sky yang terus menangis. ”Kita doakan semoga Sea cepat sembuh, ya…”

Sementara di kantor, Donghae mendapatkan telepon dari Ibu Kepala Sekolah, bahwa Sea pingsan di sekolah dan dibawa ke rumah sakit. Akhirnya Eunhyuk mengantarkan Donghae yang nampak panik, Donghae sudah nyaris menangis, tapi begitu tiba di rumah sakit, dan melihat Sky yang memeluk Nadine sambil menangis, Donghae dan Eunhyuk lagi-lagi terkesima.

Pemandangan itu terlalu nyata! Haejin dan Sky, itu Sky dan ibu kandungnya kah? Tapi kemudian Donghae menghampiri mereka berdua dengan tergesa. ”Apa yang terjadi? Saem, bagaimana Sea?”

”Dokter masih belum keluar, Donghae-ssi…” sahut Nadine.

Sky mendongak dan melihat ayahnya, lalu memeluknya. ”Appa…”

”Ne, gwenchana… Sea tidak akan apa-apa, Sea tidak akan apa-apa…” Donghae berusaha menenangkan Sky. ”Kamsahamnida, Saem…”

Nadine mengangguk. ”Tak apa-apa, Donghae-ssi…”

”Ah iya, kenalkan… ini Lee Hyukjae, kakak istriku…”

Nadine menyalami Eunhyuk.  ”Annyeonghaseyo, Hyukjae-ssi… Nadine-imnida.”

”Annyeonghaseyo…” kata Eunhyuk membungkuk.

Donghae duduk diantara keduanya, dan menatap Nadine, ”Sebetulnya bagaimana kejadiannya, Saem?”

”Ah, ye… waktu aku sampai di sekolah, mereka berdua mendatangiku seperti biasa… tapi Sea memang sudah terlihat batuk-batuk, dan badannya hangat, tapi dia selalu bilang… gwenchana…” Nadine mulai menjelaskan, Sky mengangguk-angguk cemas di pangkuan Donghae. ”Lalu pada saat jam bermain, Sea dan Sky hanya duduk, tidak ikut bermain sementara aku mengawasi anak-anak lainnya… kemudian Sky berteriak, dan Sea sudah tidak sadarkan diri…”

Eunhyuk tersenyum tipis. ”Benar-benar mirip ibunya…” dia melirik Donghae, Donghae tersenyum kecil, kemudian pintu UGD terbuka, baik Donghae dan Eunhyuk berdiri. Seorang dokter menghampiri mereka.

”Keluarganya, kan?”

”Iya, Dokter… bagaimana keadaan putri saya?” tanya Donghae.

”Ah, putri Anda baik-baik saja… putri Anda mengidap darah rendah, sebetulnya agak rawan mengingat usianya yang baru lima tahun…” kata Dokter tersebut, Donghae dan Eunhyuk saling pandang. ”Perlu istirahat cukup, dan dia juga terkena radang…”

Enhyuk terkekeh. ”Penyakitnya Haejin banget!” dia meninju bahu Donghae.

”Tapi sekarang dia sudah sadar, Dok?” tanya Donghae.

”Nah ini yang mau saya bicarakan, sejak tadi dia memanggil ibunya terus…”

Dan senyum serta cengiran dari wajah Donghae dan Eunhyuk seketika langsung menghilang, keduanya langsung saling pandang gugup. Nadine yang berdiri dibelakang keduanya mengerti, bagaimana mungkin bisa membawa ibunya, jika ibunya sudah tidak ada.

”Kaja…” Sky tiba-tiba sudah menarik Nadine.

”Eh?!” mata Nadine membulat.

Donghae dan Eunhyuk masih saling pandang, tapi kemudian Sky sudah mengikuti sang dokter menuju ruang perawatan Noona-nya, sambil terus menggandeng tangan Nadine, Nadine menoleh kepada Donghae dan Eunhyuk dengan wajah kebingungan, tapi Donghae malah maju dan mengikuti mereka, sementara Eunhyuk menghela napas dalam-dalam di belakang mereka.

”Donghae sudah gila!” celetuknya melihat kelakuan sahabat sekaligus adik iparnya tersebut, tapi akhirnya dia mengikuti mereka ke dalam.

Di dalam kamar rawat Sea, Sea berbaring dengan mata terpejam, wajahnya kelihatan kuyu, dan tangannya diberikan infus, tubuh mungilnya pun diselimuti oleh selimut berwarna putih. Sky langsung menarik kursi dan mendekati Sea yang tertidur, dia membelai-belai pipi Sea.

”Noona…” katanya sedih. ”Ini, Eomma datang…” katanya.

Eunhyuk geleng-geleng, Donghae menggigit bibirnya menahan tangis, sementara Nadine bingung. Tapi dilihatnya kemudian Sea bergulik-gulik gelisah, dan berbisik. ”Eomma… Eomma… bogoshipo… jangan tinggalkan aku, Sky, dan Appa…” dengan suara penuh rengekan.

Donghae langsung balik badan, dan menutup mulutnya menahan isakannya yang hendak keluar, Eunhyuk menepuk bahunya berusaha menguatkan. Sementara Nadine menatap Sea prihatin, Sky terus membelai pipi Noona-nya tersebut. ”Noona… Eomma ada disini! Eomma bersama kita… Noona tidak perlu khawatir… Sea Noona…” katanya pelan.

”Sky… kau tidak boleh bohong pada Sea seperti itu…” kata Nadine pelan dan mengelus kepala Sky. ”Eomma kalian kan…”

”Eomma, kau adalah Eomma kami!” seru Sky.

Donghae dan Eunhyuk menoleh cepat, sementara Nadine semakin tidak mengerti. ”Apa maksudmu, Sky? Aku kan gurumu, hei… Sea kan bukan hilang ingatan…” kata Nadine lembut.

”Eomma…” bisik Sea.

Nadine dan Sky menoleh, Sea sudah membuka matanya, dia menatap Nadine lekat-lekat. ”Eomma… Eomma…”

”Sea…” panggil Nadine pelan.

”Eomma…” dia mengulurkan tangannya.

Nadine tidak punya pilihan lain, akhirnya dia mendekat, dan memeluk gadis kecil itu. Donghae dapat melihat wajah Nadine yang menerawang, dia menoleh kepada Eunhyuk yang juga memerhatikan Nadine. Sky memeluk Nadine dan Sea juga, wajahnya nampak bahagia.

 

*           *           *

”Dua-duanya sudah tidur…”

Nadine membuka matanya, dia nyaris tertidur ketika menidurkan si kembar yang sejak di rumah sakit tadi tidak mau lepas dari pelukannya, Sea boleh di bawa pulang dengan catatan mendapatkan perhatian khusus, dan harus istirahat cukup. Karena Nadine sangat menyayangi si kembar, dia tidak keberatan untuk pulang ke rumah mereka, dan menjaga mereka. Setidaknya untuk hari ini.

Nadine membangunkan badannya perlahan-lahan agar tidak membangunkan si kembar yang tidur di sebelah kanan dan kirinya. Donghae tersenyum dan membantunya berdiri.

”Terima kasih banyak, Nadine-ssi, anak-anakku sudah merepotkanmu lebih banyak hari ini.”

”Gwenchana, Donghae-ssi…” Nadine terus melirik si kembar yang tidur dengan damai. ”Aku hanya tidak mengerti dengan beberapa kejadian hari ini. Tapi kurasa penyebabnya adalah mereka merindukan ibu mereka, ya?”

Donghae tersenyum lagi. ”Kita bicara diluar saja… nanti mereka bangun.”

”Ah, ye…” Nadine mengangguk setuju dan mengikuti Donghae keluar.

”Nadine-ssi, kokiku sudah menyiapkanmu makan malam, makan malam lah dulu… nanti kuantar pulang.” Kata Donghae sambil mengajak Nadine ke ruang makan, dan menarik kursi untuk Nadine.

Nadine duduk. ”Kamsahamnida, Donghae-ssi…”

Donghae duduk di hadapannya dan tersenyum, sementara makanan dihidangkan. ”Silakan, dimakan…” kata Donghae.

Nadine mengangguk, dan mulai makan perlahan-lahan. ”Aigooo… bulgogi…” katanya sambil tersenyum dan mencecap-cecap bibirnya. ”Rasanya enak sekali… sudah lama tidak makan bulgogi.”

”Oh ya?” Donghae mengangkat alis.

”Di Los Angeles, susah menemukan restoran Korea yang rasa bulgoginya persis seperti ini!”

”Waeyo?”

”Entahlah, cita rasanya sudah beda… kokimu hebat, Donghae-ssi… rasanya enak!”

Donghae tersenyum. ”Ini makanan favoritmu, Nadine-ssi?”

Nadine mengangguk semangat.

Donghae menatapnya lekat-lekat. ”Kalau begitu kita sama, kau… aku, dan istriku sama-sama penyuka bulgogi, tak heran anak-anak sangat menyukai bulgogi.”

”Ah keurae, istrimu, Donghae-ssi… anak-anak mungkin merindukannya.”

”Yeah, istriku meninggal ketika Sea dan Sky baru satu bulan…” kata Donghae sedih, menatap Nadine di depannya.

Wajah Nadine berubah. ”Oh…” sepertinya dia tidak menyangka kejadian yang menimpa keluarga anak didiknya akan seperti ini.

”Kejadiannya lima tahun yang lalu…” kata Donghae pelan sambil terus mengiris daging bulgoginya. ”Istriku pergi ke Los Angeles sendirian, dalam rangka memeriksakan kandungannya, dulu waktu SD, dia pernah kista…”

Kunyahan Nadine melambat dan menatap Donghae lekat-lekat.

”Katanya setelah melahirkan sudah tidak mungkin kista lagi, dan dia mau periksa kesana… aku tidak bisa menemani, karena aku bekerja, dan aku tidak suka Sea dan Sky tanpa kedua orangtuanya di Korea, karena mereka baru satu bulan…” lanjut Donghae lagi. ”Kemudian kecelakaan itu terjadi…” Donghae terdiam. ”Kemungkinan Haejin selamat memang tipis…”

”Hae…jin?” tanya Nadine pelan.

Donghae mengangguk. ”Nama istriku… kemudian aku ke Los Angeles untuk melihat keadaannya, dan ternyata korban tidak ada yang bisa diselamatkan, Haejin sudah…” Donghae terdiam, suaranya tercekat. ”Sudah di dalam peti, dan… dikuburkan disana… pukulan berat untukku.”

”Aku mengerti, Donghae-ssi…” kata Nadine pelan.

”Aku tidak kembali ke Korea, aku menutup diriku… dan… melupakan putra-putriku, terutama aku menjauhi Sky. Dia sungguh mirip Haejin… hingga usia mereka empat tahun, barulah aku kembali, Sea dan Sky tidak mau memanggilku Appa, karena merasa aku tidak pernah mengurus mereka, saking sibuknya dengan patah hatiku sendiri… aku menyadari itu kesalahanku, Nadine-ssi… dan aku memutuskan menebusnya, dan berkatmu… mereka mau memanggilku Appa.”

”Berkat aku?”

”Ne, sejak sekolah… dia memanggilku Appa, tahukah kau kenapa Sea dan Sky memanggilmu Eomma?”

”Sejujurnya itu yang mau aku tanyakan…”

Donghae meletakkan garpu dan sumpitnya, kemudian berdiri, ”Ayo ikut aku…” Nadine pun berdiri dengan ragu-ragu tapi kemudian mengikuti Donghae menuju sebuah ruangan.

Donghae berdiri di depan ruangan tersebut, dan membuka pintunya perlahan, lalu menoleh kepada Nadine. ”Kuharap kau jangan kaget, Nadine-ssi… tapi kurasa kau tidak akan sekaget aku…”

”Hmm?” Nadine masih tidak mengerti.

Donghae menyalakan lampu-lampu temaram yang menerangi pigura-pigura saja, dan berkata. ”Masuklah…” ajaknya. Dia masuk ke dalam, Nadine mengikutinya, dan Donghae berdiri di depan sebuah pigura. ”Ini istriku, Lee Haejin…”

Nadine mendongak dan matanya melotot, nyaris keluar dari rongga matanya sendiri. Dia benar-benar sama sekali tidak ingat pernah berpose begitu mesra dengan orang bernama Lee Donghae! Tapi gambar itu begitu nyata, keduanya duduk di atas sebuah kayu, dengan latar belakang danau, lengan Donghae mengalungi lehernya, wajah Donghae terlihat hendak mengecup pipi wanita yang sangat mirip dirinya tersebut, sementara wanita itu nampak bahagia dengan pelukan pria itu.

Kepala Nadine terasa berputar, dan dia tidak sadarkan diri, tepat ketika Donghae menoleh. Donghae langsung menahan tubuhnya. ”Nadine-ssi! Nadine-ssi!”

To Be Continued

Thanks buat semuanya yang sudah sangat mengapresiasi FF aku ini, hihihi… untuk pertama kalinya aku bikin FF yang terinspirasi dari hidupku sendiri, bukan berarti aku ngalamin ya… aku cuma excited aja waktu jadi guru bahasa inggris anak-anak TK, wkwkwkwk… mereka bawel-bawel dan lucuuuuuuu bangeeeeeet! dan plotnya sih aku ngambil-ngambil dari salah satu telenovela kesukaanku waktu aku kelas 1 SD, yang dibintangin sama Daniella Lugan, ayooo ada yang inget? wkwkwkwk… dan Sea & Sky udah bisa bedain kan yang mana yeoja yang mana namja???

Feel free to chat with me okay???

Twitter : @nisya910716

Facebook : nisya_nadine_haejin@hotmail.com

YM : nisya_siregar

MSN : nisya_horrible@hotmail.com

dan aku punya blog khusus update berita-berita my husband…

indonesiaelfishy.wordpress.com

makasih ya semua *bow*

7 thoughts on “It’s Fine, Donghae’s Daughter & Son ~Part 3~

  1. hiks…hiks..SROOOOT…
    nyesek bacanya, kasian si kembar ditinggal ma eomma, appanya meratapi kepergian eommanya….
    sea, sky, yg sabar yaaa…..
    come to jumma *chu*

  2. yasalaaaaaaammmm kesiannya sea n sky udah ditinggal mati ibunya,, bapanya pun sibuk benahin serpihan hati yg berantakan,,, ckckckckck

    jgn2 nadine itu haejin yax?
    tp dia ngalamin kecelakaan di LA??

  3. skrg dh bs ngebedain,yg cwe Sea yg cwo Sky,,,!!!
    ksian bgt tu ank2 imut,,,dh dtnggl Eommax mninggal,,eh dtnggl pula m Appax yg sk galau…!!!hahaha*plak

    ky’x bnr de klo Nadine tu Haejin,,,!!!
    kn Donghae g nglyt ndri mayat istrix pas dh mninggal,,,!!!
    tenang aj Haeppa,klo jodoh g bkal ktuker koq,,,!!!hehehe

    lanjuuuutt,,,,,^^

  4. lagi-lagi nggak slah dan nyesel nyasar ke blog ini
    apa yang pengen aku baca bisa aku temuin di sini.
    ini ceritanya kyaknya aku udah nemuin titik terangnya nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s