Hyukjae + Jiyoo (Romeo & Juliet Adaptation) ~Part 2~

Shit!

”Wae?” tanya Kyuhyun dan Kangin, saudara sepupu dari Choi Minho, dan pastinya Choi Jiyoo.

Minho menatap tajam seorang pria dari kejauhan. ”Lee Hyukjae! Berani-beraninya dia datang ke pesta ini!” Emosi Minho sudah naik hingga ke kepalanya. ”Demi nama baik keluarga Choi, membunuhnya saat ini juga bukan dosa!” dan Minho segera menarik pistol dari dalam jubahnya, lalu mulai berlari hendak mendekati Hyukjae dari kejauhan, namun badannya masuk dalam pelukan seseorang, dan ternyata itu adalah Pamannya, Siwon.

”Hei… Minho-ya…” tanyanya oleng, nampaknya Siwon Ahjussi sudah mabuk karena terlalu banyak menikmati minuman keras. ”Kenapa kau tampak emosi, Nak?”

”Ahjussi! Coba lihat disana, Lee Hyukjae, dia datang ke pesta kita, tandanya dia mau menginjak-injak keluarga Choi!” ujar Minho menggebu-gebu.

”Ah, sudahlah biarkan saja… biarkan dia menikmati pesta ini…”

”Tidak bisa! Ini namanya menghancurkan dan menginjak-injak nama baik keluarga kita! Dia mempermalukan kita, Ahjussi! Aku akan tetap membunuhnya!”

Tapi kemudian justru Siwon menamparnya. ”Kau mau membuat malu di pestaku?! Diam kau! Sudah jangan berbuat macam-macam, atau kau yang akan kubungkam!” ancam Siwon tegas. Meski mabuk, ternyata Choi Siwon tetaplah pria yang tegas. Terpaksa Minho diam, dan mengawasi Hyukjae dengan tatapan benci dari jauh.

 

*Hyukjae’s POV*

Aku hanya bisa terpaku, dan kulihat pengasuhnya itu membisikkan sesuatu pada gadisku, kemudian gadisku nampak terperangah dan melihatku dengan tatapan ketakutan. Kurasa dia sudah tahu siapa aku, dan aku tahu siapa dia.

Seseorang menabrak bahuku. ”Ya! Hyukjae-ya… ayo kita pergi dari sini, selagi kita masih berjaya!”

Kesadaranku masih menghilang, kali ini bukan karena kecantikannya, melainkan kenyataan yang ada. Aku nyaris tidak bisa bergerak, namun Heechul dengan rambut pitanya terus menarikku agar menghilang dari situ, terpaksa kuikuti dia. Kulihat Seunggi, Taemin, Sungmin, dan Jinki sudah berlarian keluar, dan aku bisa melihat Minho serta sepupunya yang lain sedang menatapku serius.

Kurasa aku memang harus pergi dari sini, kami melangkah keluar dari rumah keluarga Choi, dan aku masih terus menoleh. Aku melihat bayangan wanita dengan gaun bersayap di jendela-jendela lantai atas, gadis itu sedang berlari, dan dia muncul di sebuah balkon, menatapku sedih.

Kami sudah berada di dalam mobil, sementara saudara-saudara sepupuku dan Heechul terus cekikikan membicarakan Im Saera. Dan Demi Tuhan, siapa Im Saera itu? Hatiku terus berperang, antara turun dan mengejar gadis itu, atau tetap terus berada di dalam mobil ini, yang mengantri untuk keluar pelataran rumah keluarga Choi.

Dan hatiku menang! Aku meloncat keluar dari convertible merah milik Heechul dan terus berlari, tak kuhiraukan teriakan Heechul dan sepupuku yang lainnya, dan terus memutuskan berlari dan memanjat pagar tinggi, yang bahkan aku sendiri tidak pernah membayangkan untuk memanjatnya selama ini. Dan berhasil, aku turun di sebuah pelataran kecil di belakang rumah keluarga Choi. Yang hanya berisi sebuah kolam renang, dan hiasan lampu-lampu.

Aku bergerak rusuh hingga kemudian menabrak lampu taman, tapi aku berhasil membuat lampu tersebut tidak jatuh berdebam, dan aku buru-buru merayap naik sebuah pagar menuju sebuah jendela terang di lantai dua.

”Keluarlah bidadariku…” bisikku sambil terus memanjat. ”Tempat ini adalah timur, dan Jiyoo, adalah mentari…” aku  terus tersenyum membayangkan wajah manisnya. Tapi kemudian jendela terbuka, aku sudah menatap penuh harap, namun malah pengasuhnya yang muncul, aku buru-buru bersembunyi dengan membuang tubuhku ke samping, sehingga punggungku menghantam tembok, aku berusaha mencari pegangan agar aku tidak jatuh.

Tapi kemudian sesuatu berdenting di pintu yang terletak di samping bawahku, karena aku sedang memanjat, aku bisa melihat dengan jelas siapa yang keluar dari pintu tersebut. Jiyoo, sudah melepas tatanan rambutnya, hingga rambutnya tergerai halus di pundak dan punggungnya, serta sudah melepas sayapnya.

Dewi tak bersayap, kau begitu indah.

”Bicaralah bidadariku… bicaralah, atau haruskah aku yang bicara duluan?” bisikku pelan.

Kulihat Jiyoo yang tadinya hanya diam berjalan maju dan mendekati kolam renang, sambil menghela napas dalam-dalam. ”Hyukjae…” katanya, membuat jantungku mau meloncat.

”Bicara lagi, gadisku…” bisikku.

Jiyoo berjongkok dan memainkan air di dalam kolamnya. ”Hyukjae…” bisiknya lagi. ”Kenapa namamu harus Hyukjae? Kenapa kau harus berasal dari keluarga Lee?” tanyanya sedih. ”Aish! Apalah arti sebuah nama… bunga mawar pun, meski namanya bukan mawar, harumnya akan tetap sama… begitu pula dengan Hyukjae, biarpun namanya bukan Hyukjae, dia tetap tampan dan hangat seperti Hyukjae…” Jiyoo mendongak menatap langit sambil tersenyum.

Aku berjalan perlahan-lahan mendekatinya, tetap berusaha menyembunyikan diri darinya.

”Hyukjae-ya… tinggalkanlah Lee-mu… karena kau akan tetap sempurna tanpa nama itu…” desah Jiyoo berat. ”Atau… aku tidak peduli dengan Choiku, dan aku akan meninggalkan nama Choi ini untukmu…” Jiyoo berdiri, dan aku begitu bahagia mendengarnya, hingga ketika dia berbalik aku bertanya.

”Jinjayo?”

”Aaaah!” Jiyoo menjerit, dan jatuh ke dalam kolam renang, begitu pula aku yang mengejarnya. Kami sudah sama-sama berada di dalam kolam renang, dan mulut serta hidung kami kemasukkan air.

Kulihat Jiyoo sibuk menepuk-nepuk hidungnya, dan mengatur napasnya, karena sepertinya dia meminum cukup banyak air berkaporit ini. ”Apa yang kau lakukan disini?!” desisnya. ”Terlalu berbahaya… kalau semua orang disini tahu ada kau disini, kau bisa mati!” dia nampak cemas.

”Aku tidak peduli! Jangankan mati, apa pun akan kulakukan agar aku bisa kesini dan bertemu denganmu…”

Terdengar langkah-langkah kaki, wajah Jiyoo berubah pucat, dan menyuruhku bersembunyi di bawah air, aku berusaha menahan napas sekuat tenaga sambil memeluk kedua kakinya yang mungil, setelah penjaga yang memeriksa pergi, barulah Jiyoo keluar lagi.

”Kau lihat?!” tanyanya cemas. ”Disini terlalu berbahaya!”

”Aku tidak peduli! Kalau perlu aku akan bertemu dengan mereka semua untuk menunjukkan bahwa aku disini untuk bertemu denganmu…”

”Yaaa, jangaaaan…” Jiyoo menggeleng-geleng, dia mengusap wajahnya. ”Tunggu dulu, Hyukjae-ya… kau sudah menungguku dari tadi?” aku mengangguk. ”Ani…” dia nampak malu-malu. ”Demi sopan santun, mestinya aku berkata jangan kau dengarkan kata-kataku yang tadi… tapi…” wajahnya merona merah dan dia menatapku. ”Tapi… persetan dengan sopan santun, apakah kau cinta padaku?”

”Aku bersumpah demi bulan yang bersinar di atas kita pada saat ini, bahwa aku memang betul-betul jatuh cinta padamu…”

”Aniya…” Jiyoo menggeleng. ”Jangan bersumpah demi bulan, karena bulan itu berubah bentuk! Memangnya cintamu berubah bentuk seperti itu?!” tanya Jiyoo nampak tidak percaya.

”Lalu aku harus bersumpah demi apa?” tanyaku penasaran.

Dia nampak berpikir sambil tersenyum cantik, Ya Tuhan cantik sekali dia, aku hanya bisa terus mengaguminya.

”Bersumpahlah demi dirimu sendiri…” ujarnya.

”Aku akan bersumpah demi apa pun…” aku tidak bisa menahan diri lagi, wajahnya begitu cantik dibawah sinar rembulan, bibir kami kembali bertemu. Lembut seperti biasa, namun semakin membawa kami ke dalam air, kami seperti berdansa, aku meraih pinggang mungil Jiyoo dan kami berdua seperti berdansa di dalam air, dan bibir kami saling berpangutan.

Jiyoo terus menutup matanya, dan tangannya membelai-belai wajahku. Kemudian setelah berapa lama kami memisahkan diri dan dia menyandarkan tubuhnya di dinding kolam.

Dia tersenyum padaku. ”Kalau begitu, sepertinya sudah saatnya aku pergi… aku harus kembali, atau ayahku akan mencariku.” Dan dia langsung menaiki tangga, aku ternganga.

”Ya! Kau mau meninggalkanku mati penasaran disini?”

Dia menoleh dan nampak terkejut. ”Jawaban apa memangnya yang kau tunggu?” tanyanya.

Aku benar-benar heran padanya! Ya jawaban apa lagi? ”Bagaimana dengan kita?” tanyaku lantang. ”Apakah kau mau mengikat janji sehidup semati denganku?”

Wajah Jiyoo tiba-tiba berubah berwarna, ”Tanpa dimintapun aku sudah berjanji!” dan dia meloncat kembali ke dalam kolam, ke dalam pelukanku, kami berciuman lagi di dalam kolam, semakin lama semakin berhasrat, seolah-olah kami tidak mau berpisah sejengkalpun.

”Jiyooooooooooooooooo…” sayup-sayup terdengar suara panggilan dari dalam rumah.

Kami tetap belum mau memisahkan diri, aku dan Jiyoo semakin mengeratkan pelukan dan ciuman kami. Tapi kemudian suara tersebut semakin keras, dan Jiyoo dengan berat hati melepaskan ciumanku.

”Besok, pukul sepuluh pagi… datanglah ke Pantai Karnaval, disana kita akan membicarakan apa yang akan kita lakukan selanjutnya…” kata Jiyoo lirih sambil menatapku dalam, kedua tangannya berada di pipiku.

Aku mengangguk sambil tersenyum dan membelai pipinya. ”Ne, arasseo…”

”Sebetulnya aku belum mau pergi, tapi aku tidak mau di tangkap…” akhirnya dia beringsut ke tangga lagi, dan kali ini aku mengikutinya.

”Jagalah hatiku kalau begitu…” aku mengecup pipinya pelan.

Jiyoo mengangguk, ”Kalau kau memang serius, datanglah jam sepuluh pagi, jangan terlambat. Tapi kalau kau tidak serius, biarkanlah aku meratap malam ini, oke?” Jiyoo kembali menatapku dengan mata bulatnya.

”Aku akan datang…” kukecup lagi bibirnya, dan dia membalasnya.

”CHOI JIYOO‼!” teriak seseorang dari dalam.

Jiyoo menghela napas dan melepaskan ciumanku, lalu menjawab. ”Ya! Aku kesana…” dia menatapku. ”Aku harus pergi, malam…” senyumnya, kucium dia lagi, dan dia mengecupku pelan sambil terkikik, kemudian dia berbalik dan masuk ke dalam pintu tadi.

Hatiku sangat ringan, dan aku berbalik arah dan mendekati tembok tinggi yang tadi kupanjati, ketika hendak memanjat…

”Hyukjae-ya!” desis seseorang dari jauh. Aku menoleh, dan ternyata Jiyoo sedang berdiri di balkon kamarnya. Aku berbalik dan langsung berlari cepat menuju ke arahnya, bahkan memanjati tembok menuju balkon dengan kecepatan di atas rata-rata. Lalu kami sudah berciuman lagi, dengan posisi Jiyoo yang merunduk, dan aku dengan tangan di tembok. Rasanya romantis sekali, benar-benar seperti pasangan dimabuk cinta pada umumnya.

”Ini…” setelah melepaskan ciumanku, Jiyoo memberikanku sebuah kalung salib perak.

Aku tersenyum dan mengalunginya. ”Ne, gomawo…” dia menciumku lagi dengan gemas, aku terkikik sambil terus berciuman dengannya.

”Sudahlah, ayo pulang sudah malam… selamat malam lagi…”

”Oke… malam,” aku menciumnya lagi seklilas, lalu turun dari tembok, dan melambaikan tangan ke arahnya, serta kemudian pergi menjauh dari rumah keluarga Choi.

 

*Gereja St. Petrus, 08.00 KST*

”Pagi, Bapa…” sapaku dengan riang saat memasuki ruangan dibalik mimbar gereja. Pastur Hankyung tersenyum mendongak menatapku.

”Baru kali ini setelah selama sebulan ini kau datang, aku melihat wajahmu yang begitu ceria, Hyukjae-ya…”

Aku mengangguk senang. ”Hari ini ceraaaaaah sekali!” ujarku bersemangat.

”Ne, pajo…” Pastur Hankyung mengangguk. ”Lalu, apa yang membuatmu datang kesini pagi-pagi seperti ini?”

”Aku ada permohonan bagimu, Bapa…”

”Apa?”

Aku berjalan mendekatinya dan menggenggam tangannya. ”Bapa, bisakah kau menikahkanku nanti siang jam dua?”

Pastur Hankyung mengernyit. ”Apanya yang lucu, Hyukjae-ya?”

”Aish! Bapa, aku benar-benar serius! Aku sama sekali tidak sedang bercanda… Bapa, jebal… nikahkan aku nanti siang, kau bisa kan?”

Pastur Hankyung menggeleng-geleng tak percaya. ”Kau ini sedang sakit? Kau mau menikah?”

”Ne…” sahutku.

Pastur Hankyung yang sedang membuka-buka alkitab kemudian menoleh cepat, dan langsung memberkati dirinya sendiri. ”Hyukjae-ya, jangan bilang kau mau menikah dengan Saera?”

”Saera?!” aku mengernyit. ”Astaga, aku sudah lupa padanya, Bapa… dan aku bukan mau menikah dengannya!” sahutku.

Pastur Hankyung menghela napas lega, tapi kemudian menatapku kaget. ”Lalu kau mau menikah dengan siapa?”

Aku tersenyum. ”Choi Jiyoo.”

”Mworago?!”

“Ne, Choi Jiyoo… Putri tunggal dari Choi Siwon dan Park Ririn. Kami bertemu semalam di pesta…” aku bersandar di pilar, dan pikiranku mulai menerawang. ”Kami bertemu, dan kami bercumbu…”

”Dalam waktu sesingkat itu kau sebut cinta?!”

Aku mengangguk yakin. ”Aku tidak peduli dia siapa, dan berasal dari keluarga mana… yang penting aku cinta dia, dan dia cinta padaku. Kami sudah bersumpah untuk bersama semalam! Bapa, nikahkan kami…”

Pastur Hankyung menatapku dalam-dalam kemudian menghela napas. ”Mungkin dengan jalan kalian berdua menikah… kedua keluarga kalian bisa hidup rukun lagi. Baiklah, aku akan nikahkan kalian nanti siang pukul dua…”

”Jinjayo?!” pekikku, dan aku langsung menghambur memeluk Pastur Hankyung, dan menghadap patung Bunda Maria, buru-buru aku berdoa dan bersyukur, kemudian berjingkat-jingkat.

Sekitar pukul sepuluh, aku sudah berada di Pantai Karnaval, yang ramai dan sesak, yang juga masih penuh dengan kekumuhan yang ada. Disana Jinki, Taemin, Seunggi, dan Sungmin sedang bercanda-canda bersama Heechul, aku hanya tersenyum menanggapi mereka, sampai aku melihat seorang wanita dengan mantel  merah, dan berpayung hitam.

”Hei! Aku mau  bicara padamu!”

Jinki, Taemin, Seunggi, Sungmin, dan Heechul memandang ingin tahu, tapi aku menahan mereka, dan mengikuti wanita itu. Dia adalah Kwan Nara, pengasuh Choi Jiyoo.

Begitu kami sudah berada di luar jangkauan banyak orang dia berbalik menghadapiku dengan sikap dingin, kemudian menusuk-nusuk bahuku dengan telunjuknya.

”Kuperingatkan kau! Jiyoo Agesshi masih muda, dia masih punya masa depan yang panjang! Jadi kalau kau cuma berniat mempermainkannya, kuharap kau mundur sekarang atau kau bisa kubunuh!”

Aku melongo, tapi aku bisa mengerti sikap protektifnya. Choi Jiyoo itu sangat berharga. Akhirnya aku tersenyum dan berkata. ”Bilang pada Jiyoo, pergilah ke gereja St Petrus, pukul dua siang nanti…” aku menarik napas. ”Disana Pastur Hankyung akan mendengarkan pengakuan dosanya, dan menikahkannya…”

Nara tersenyum puas, dan menepuk bahuku senang.

 

*Jiyoo’s POV, Choi’s Mension 12.00 KST*

”Immo…” pekikku melihat Nara Immonim memasuki dapur dengan langkah berat dan nampak kelelahan. Aku buru-buru menuruni tangga dengan berisik dan menghampiri Nara Immonim. ”Immo… bagaimana?!” tanyaku tak sabar.

Nara Immonim hanya mengernyit, dan membuka lemari es, serta mengeluarkan sebuah piring berisi puding cokelat dan mulai memakannya. ”Aigooo, lapar sekali, dan diluar sangat panas…” dan Nara Immonim malah langsung duduk di sofa, aku terus mengekorinya.

”Immonim, bagaimana?” tanyaku nyaris merengek mengikutinya duduk di sofa.

Nara Immonim malah berdecak dan berkata, ”Aduuuh punggungku pegal sekali… aigooo…”

Aku tersenyum dan langsung memijitinya. ”Aigo, Immo…”

”Woah, enak… Jiyoo-ya…”

Aku terus berusaha sabar meskipun sangat penasaran, setelah kurasa cukup, sekali lagi aku bertanya. ”Immo… bagaimana???”

”Ya Tuhan, Jiyoo-ya, sejak kapan kau menjadi anak yang tidak sabaran seperti ini, sih???” tanya Nara Immonim.

”Immo…”

Nara berbalik menghadapku sambil tersenyum. ”Kau tidak salah memilih pria, Jiyoo-ya… apa nanti siang kau diizinkan melakukan pengakuan dosa di gereja?”

”Keurom… wae?”

”Disana Pastur Hankyung akan menunggumu, dan calon suamimu juga akan menunggu.”

”Jinjayo?!” aku terkejut, dan mau menangis terharu, langsung saja kupeluk Nara Immonim saking bahagianya.

 

*Gereja St Petrus, 14.00 KST*

Kami berdua berjalan beriringan, aku mengalungkan lenganku pada lengan Hyukjae. Kami berdiri di ujung karpet merah yang menuju altar tempat dimana sebentar lagi kami berdua akan mengikat janji sebagai suami-istri. Nara Immonim tersenyum di belakangku.

Aku dan Hyukjae saling pandang dan bertukar senyum, kemudian kami sama-sama melangkah dengan pasti ke arah Pastur Hankyung. Ketika pembacaan wedding vow, aku sama sekali tidak bisa menahan air mata bahagia, apalagi ketika Hyukjae menyematkan cincin hitam dengan inisial H + J di jari manisku, dan menciumku.

Well, kami sepasang suami istri sekarang.

 

*Pantai Karnaval, 15.00 KST, Hyukjae’s POV*

”Hai…” aku dengan riang menghampiri sepupu-sepupuku dan Heechul yang sedang asyik minum di sebuah kafe tenda di pinggir pantai.

”Kau ini sibuk sekali sih akhir-akhir ini…” gerutu Heechul. ”Bukankah kau kemarin sedang patah hati? Sekarang begitu cepatnya kau sudah ceria seperti biasa, apa yang dilakukan Im Saera?”

Aku mengernyit. ”Im Saera nuguya?”

Taemin dan Seunggi saling pandang.

”Ah iya, Minho mengirimkan surat tantangan kepadamu…” Jinki berkata santai. ”Kukira kucing kampung itu tidak melihat kita…”

”Matanya tajam, Jinki-ya…” sahut Sungmin sambil terkekeh.

Aku cuma ikut duduk dan meminum gelas yang terletak di hadapan Taemin, nampak tidak peduli.

”Ya, kau tidak marah?” tanya Heechul heran.

Aku meletakkan kembali gelasku. ”Marah untuk apa?”

”Ya! Dia sudah menginjak-injak dirimu…” Heechul nampak kesal dan meninju bahuku.

Aku cuma tersenyum, ”Chul-ah, bukankah hidup akan lebih bahagia jika kita hidup berdampingan dengan damai?”

”Eh??? Damai dengan Choi maksudmu?!” tanya Taemin tak percaya. ”Nonsense, Cousin…

Sebuah mobil tiba tidak jauh dari tempat kami duduk-duduk, aku tidak perlu menoleh untuk memastikan siapa yang datang itu. Karena Taemin, Jinki, Sungmin, Seunggi, dan Heechul mendadak siaga.

The Choi’s.

”Ya! Lee Hyukjae, aku mau bicara denganmu!” tanya suara Choi Minho dengan nada yang amat sangat merendahkan.

”Bicaramu dijaga ya!” Heechul naik darah. Tapi aku langsung menahannya, dan menenagkannya.

Aku menoleh menatap Minho. ”Kita bicara berdua saja…”

What the hell?!” teriak Taemin. ”Kau direndahkan, Hyukjae-ya!”

Aku mengangkat tanganku menyuruh mereka semua untuk meredakan emosinya, dan aku pergi bersama Minho, setelah kami berdua sudah saling berhadapan. Minho mengeluarkan pistolnya.

”Keluarkan pistolmu! Disini kita berduel sampai mati…”

Aku menghela napas. ”Minho-ya… aku bersumpah, aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai musuh! Jadi hentikan saja pertengkaran kita ini, karena tidak akan ada gunanya… aku mencintai namamu, Choi…” aku berbalik badan dan meninggalkan Minho.

Tapi kemudian kurasakan Minho meninju kepalaku, dan aku terpelanting jatuh ke tanah. Minho sudah berdiri di hadapanku dengan wajah dingin penuh amarah. ”Keluarkan pistolmu!”

Seluruh sepupuku berdiri dan berlari menghampiri kami. Aku mengelap darah yang keluar dari hidungku ketika menghantam tanah, Minho masih menatapku sangar. Aku tetap tidak mau menghiraukannya, tapi kemudian Heechul yang maju dan menyerangnya. Aku berusaha bangkit dan memisahkan Heechul dan Minho yang sedang baku hantam.

”Sudahlah, Heechul-ah! Sudaaaah…” aku mendorong Heechul menjauh, dan mengeluarkan pistolku sambil menangis dan aku berlutut di hadapan Minho. ”Kalau kau memang membenciku… bunuh aku sekarang juga, tapi aku tidak akan pernah melawanmu!”

”HYUKJAE-YA, PABO‼!” teriak Heechul yang hendak menyerang lagi, tapi aku menahannya dengan seluruh badannya yang nyaris remuk karena Kangin dan Kyuhyun ikut maju menghajarku.

Aku terus menghalangi Heechul meski mereka terus berusaha menyerangku, Heechul mengeluarkan pistolnya.

”Jebal, Chul-ah, andwe!” aku terus mendesak Heechul untuk terus mundur.

Heechul dengan emosi malah meninjuku, ”Dasar kau bodoh! Mau-maunya kau dipermalukan oleh mereka?! Ya, Choi Minho, maju kau!” Heechul dengan bringas langsung terlibat baku hantam mendekati bibir pantai.

Seunggi membantuku berdiri, sementara kulihat Jinki, Taemin, dan Sungmin sudah berlari mengejar Heechul dan Minho yang sudah berguling sambil terus saling menghajar satu sama lain.

“Gwenchana?” tanya Seunggi cemas.

Aku berusaha menenangkan diri, dan menelan semua rasa sakit yang terasa pada tubuhku, aku mengangguk, dan buru-buru berdiri karena Jinki, Taemin, dan Sungmin sudah saling tonjok dengan Kyuhyun dan Kangin. Seunggi mengikutiku dari belakang dengan panik.

”Hentikan! Sudah… kumohon hentikan!” aku berteriak mendekati mereka semua. ”Chul-ah, keumanhae…” aku benar-benar memohon, dan membuat Heechul mengalihkan pandangannya dari Minho dan menatapku tidak percaya.

Sayangnya Minho benar-benar mengambil kesempatan itu untuk mengambil pecahan botol yang ada di pasir pantai, dan menancapkannya ke perut Heechul.

”Chul-ah!” teriak Taemin dan Jinki.

Heechul malah terkekeh. Seunggi, Sungmin, Taemin dan Jinki berdiri meninggalkan tawanan mereka dan mendekati Heechul, sementara bisa kulihat Minho, Kyuhyun, dan Kangin buru-buru pergi.

Aku berdiri dan mendekati Heechul, ”Heechul-ah…”

Dia mendorongku, dan berjalan tertatih-tatih menuju pantai sambil terus tertawa-tawa. Aku langsung tahu ada yang tidak beres padanya, Jinki, Sungmin, Taemin, Seunggi semuanya ikut mendekat.

”Aku baik-baik saja…” dia mengangkat kedua tangannya memunggungi kami.

”Chul-ah…” panggilku lagi.

Dia kemudian menarik napas berat, dan berbalik, dengan tangan menutupi perutnya. Dia melepaskan tangannya, dan terlihat luka tusukan dalam.

”Heechul-ah!” pekik kami semua mendekat.

Dia mengangkat tangannya. ”Jangan ada yang dekati aku! BRENGSEK‼!” dia tiba-tiba berteriak ke arah laut dan terduduk. Aku tidak bisa menahan diri lagi dan langsung berlari mendekatinya. Dia terus mendorongku dan menatapku penuh kebencian.

”Aku bersumpah…” katanya tersendat-sendat. ”Kalau keluarga kalian akan habis semua!”

Air mata sudah berlinang di mataku, dan Heechul jatuh terduduk, aku menahan tubuh sahabatku itu, Heechul terus membuka mulutnya dan terus berkata. ”Keluarga kalian akan habis…” dan dia tidak bicara lagi, matanya tetap terbuka, tapi aku tahu dia sudah tidak bernyawa.

Aku berdiri dengan darah mendidih di kepalaku, tak kupedulikan tangan Seunggi dan Jinki yang berusaha menahan tubuhku, mereka berdua kuhempas begitu saja, dan aku langsung menekan kokang pistol yang selalu kubawa kemana-mana, dan masuk ke dalam mobilku, dan kuinjak pedal gas dengan kesetanan.

Choi Minho, kau harus mati malam ini juga!

Aku berhasil membuntuti mobil Minho, nampaknya dia berusaha kabur dari kota ini, karena tidak ada Kangin dan Kyuhyun yang biasa mengawalnya. Aku terus menabrakkan mobilku dengan mobilnya hingga lalu lintas padat di kota Seoul menjadi semakin semrawut dengan aksi kejar-kejaran kedua mobil kami. Bisa kulihat Minho sangat ketakutan. Kami berhenti tepat di sebuah taman dengan air mancur patung Bunda Maria.

Aku berhasil menabrakkan mobilnya hingga mobil biru milik Minho tersebut terguling, aku langsung keluar dari dalam mobilku dengan pistolku dalam posisi sudah siaga. Minho berusaha lari dengan pistol di tangannya dia berusaha menembak ke arahku, tapi aku dengan mudah berkelit.

”CHOI MINHO KELUAR KAU‼!” aku benar-benar seperti orang kesetanan mengejarnya.

Minho mengumpet di sisi kolam bagian sana, dan aku dibagian sini, begitu kulihat Minho berusaha mengejarku, dengan kekuatan penuh aku tembakkan peluruku ke arah tubuhnya, berkali-kali, sehingga Minho yang tak bernyawa terhempas ke dalam kolam di taman tersebut.

Sebuah mobil berhenti di belakangku yang sedang menangis menatap tangan kotorku sendiri! Aku telah membunuh sepupu kesayangan istriku, kurasakan tangan Taemin menarikku masuk ke dalam mobil membawaku pergi dari sini.

 

*Lokasi Pembunuhan Choi Minho, Author’s POV*

”Jadi, Jinki-ya… bisa kau jelaskan?” tanya Inspektur Leeteuk pada Jinki yang lemas mengantar Paman-Bibinya yang dipanggil oleh Inspektur Leeteuk ke lokasi pembunuhan Minho.

Jinki terisak, ”Minho… dia… terus menantang Hyukjae…” ujar Jinki lirih. ”Tapi Hyukjae melarang Heechul untuk melawan Minho, dan Heechul dibunuh oleh Minho… Hyukjae emosi… dan… dan…” Jinki tidak sanggup melanjutkan lagi.

Haejin menangis tersedu-sedu di bahu suaminya (aslinya sih karena Minho mati, bukan karena Hyukjae ngebunuh, hahahaha… author cuma bercanda), sebuah payung besar menaungi mereka berdua. Sementara Choi Siwon menenangkan istrinya, Park Ririn yang histeris.

”Aku mau Hyukjae membayar semuanya‼! Nyawa Minho melayang, nyawa harus dibayar dengan nyawa!” jerit Ririn pada Inspektur Leeteuk. ”Leeteuk, kau harus adil! Kau harus menegakkan ini semua, pancung Hyukjae sekarang juga!”

Donghae menatap nanar kepada Ririn sambil terus merangkul istrinya, karena mereka berdua tidak bisa berbuat apa-apa. Hyukjae memang sedang dalam posisi bersalah.

”Minho membunuh Heechul! Itu juga bayaran untuknya!” tegas Leeteuk pada Ririn dan Siwon. ”Siapa yang akan menuntut bayaran nyawa Heechul, hah?!” tanyanya tegas.

Ririn semakin lemas dan menangis karena tidak mampu menjawab.

”Mulai malam ini, LEE HYUKJAE, DIASINGKAN‼! JIKA ADA YANG MELIHAT LEE HYUKJAE BERKELIARAN DI KOTA SEOUL TERHITUNG DETIK INI, MAKANYA NYAWANYA AKAN MENJADI BAYARANNYA.” Teriak Leeteuk dengan keputusannya.

Haejin sudah mau pingsan, dan Donghae hendak menyela.

”Keputusanku sudah bulat, tanpa tapi!”

To Be Continued

Kemaren banyak yang bilang bahasanya ketinggian, hahahahaha… jadi kali ini bahasanya aku sesuaikan aja lah sama anak-anak seumuran kita… *saaaah* kemungkinan part selanjutnya itu part terakhir, tapi masih kemungkinan. Jangan lupa komen, kritik, sarannya ditunggu…

Credit : Movie & Novel Romeo + Juliet by William Shakespeare

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

Blog : indonesiaelfishy.wordpress.com (isinya update news tentang Lee Donghae, mampir yaaa :))

 

4 thoughts on “Hyukjae + Jiyoo (Romeo & Juliet Adaptation) ~Part 2~

  1. ..hmm brdansa dlm air tuh gmna y cra’a.,jd pngent hhe:D *apaandh.brenang.ja.g.bza*
    ..waa,ng’byangin si eunhyuk bwa pistol kjar”n tembak”n..sru jg hahaha,:D
    ok ak kbur k’part slnjut’a..
    /wink/

  2. Kt2 nya ktinggian? Ga aaah biasa aj.. Malah bgus bget kt aq sii… Aah ff in bkin ngbayangin filmny niih.. Tp leonardony brganti wajah jd hyuk hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s