Hyukjae + Jiyoo (Romeo + Juliet Adaptation) ~Part 1~

I love the thee… why love be hated, and why hate the love…

 

’Hari ini perkelahian antara kedua keluarga yang menjadi pemegang kota Seoul, Choi dan Lee kembali terjadi, dan seperti biasa, selalu mengakibatkan korban jiwa, dan korban luka parah… kali ini pemicu bersinggungan kedua keluarga yang sudah turun temurun menjalin permusuhan ini adalah karena mereka bertemu di sebuah Pom Bensin di kawasan Distrik, yang juga mengakibatkan kehancuran Pom Bensin tersebut…

 

Kejaksaan Tinggi Seoul

”Perlu saya sebutkan berapakah korban kalian kali ini?” tanya Inspektur Leeteuk dengn tegas sambil menatap kedua orang pria yang duduk di hadapannya secara jauh-jauhan. ”Dalam satu minggu terjadi tiga perkelahian sipil! Kalau dalam waktu dekat terjadi lagi, aku tidak akan segan-segan untuk mengasingkan kalian berdua, baik Choi… dan juga, Lee! Arasseo?!”

Kedua pria tersebut nampak enggan memandang satu sama lain, hanya dua pria muda dibelakang mereka yang masih saling tatap secara sinis.

Lee Jinki mengikuti sang paman masuk ke dalam limosin hitam dengan kaca gelap tersebut, di dalam mobil Bibinya sudah duduk menunggu. Limosin itu terus berjalan menyusuri kota Seoul, bersama dua limosin pengawal pendamping, baik di depan maupun di belakang limosin mereka.

”Jinki-ya… apa kau tidak melihat Hyukjae?” tanya Haejin Ahjumma nampak cemas memikirkan putra tunggalnya.

”Dia berkurung terus di kamarnya…” gumam Donghae geleng-geleng memikrikan putranya.

Jinki menghela napas. ”Hyukjae dalam depresi berat, Ahjumma… Ahjussi.”

”Dia tidak pernah mau keluar untuk makan,” Haejin menunduk. ”Dia berkurung diri di dalam kamarnya, membuat malam sendiri meski sudah siang… aku tidak tahan melihatnya seperti ini terus. Sebetulnya apa yang terjadi padanya?”

Limosin berbelok ke arah pantai karnaval, yah pantai yang sudah sepi pengunjung, dengan beberapa bangunan rusak.

”Itu Hyukjae!” tunjuk Donghae sambil menurunkan kaca otomatis di limosinnya.

Hyukjae mengenakan jas hitam, dengan kemeja putih yang dikeluarkan, dua kancing diatas terbuka, berikut celana hitam panjang sedang duduk sambil menulis sesuatu dalam buku kecil, di panggung kecil yang sudah usang.

Haejin dan Donghae menatap penuh harap pada putra tunggal mereka, tak lama kemudian Hyukjae mendongak, dan mata mereka bertemu. Hyukjae memutuskan berdiri, dan berjalan pergi menjauh.

Haejin menghela napas berat.

”Jinki-ya… mungkin Hyukjae perlu nasihat dari pandangan muda sepertimu…” Donghae menatap penuh arti keponakannya.

Jinki mengerutkan alis dan berkata, ”Baiklah, Ahjussi…” dia keluar dari dalam limosinnya, dan menatap ketiga limosin itu menjauh, barulah kemudian dia berlari menyusul Hyukjae yang berjalan gontai dengan wajah tanpa semangat dan langsung duduk di sebuah ayunan.

”Pagi, sepupu…” sapa Jinki.

Hyukjae mendongak muram. ”Jam segini masih kau sebut pagi?”

Jinki mengangkat bahu.

Hyukjae melirik ke belakang Jinki. ”Apakah itu ayah dan ibuku, yang pergi secepat itu?”

”Mereka khawatir padamu…”

Hyukjae menghela napas dalam-dalam, kemudian mendongak. ”Tak ada yang bisa mengerti perasaanku saat ini…” dia berdiri dan berjalan lagi.

Jinki mengikutinya. Ketika tiba-tiba Hyukjae berhenti di depan salah satu kios makanan, yang memiliki sebuah televisi yang sedang menayangkan perkelahian di jalanan antara sepupunya tersebut, dengan Choi Minho dari keluarga Choi.

Hyukjae berhenti, dan berbalik. ”Apa maksudnya ini?! Kenapa kalian semua tidak ada yang bisa bersikap dewasa sedikitpun?! Apakah kalian sama sekali tidak lelah bertengkar terus menerus?” dan dia langsung berjalan pergi lagi.

Jinki cuma terkekeh dan mengikuti sepupunya yang sedang emo tersebut masuk ke dalam tempat bermain billiard. Di dalam sana, sudah ada beberapa anggota keluarga Lee yang lainnya, yang memang suka mengikuti kemana Hyukjae berada.

Hyukjae menyodok bolanya dengan wajah masih masam.

”Ya! Sebetulnya apa yang membuat uri Hyukjae sampai seperti ini?” tanya Sungmin sambil menatap Hyukjae dengan wajah meledek.

Taemin menyahut. ”Apalagi kalau bukan Im Saera…”

Seisi ruangan tertawa.

”Aku sedang patah hati!” keluh Hyukjae.

”Kalau kau sedang patah hati, ya sudah… lupakan saja dia, apa gunanya menangisi wanita yang tidak memikirkanmu?!” tanya Taemin.

Hyukjae menyeringai. ”Beritahu bagaimana caranya?”

”Apa yang sudah dilakukan Saera hingga belenggu cintanya berhasil menyusup ke akal sehatmu sih, kawan?” tanya Sungmin geleng-geleng.

”Tapi Saera payah juga! Hyukjae begitu tampan, mengapa dia menolak Hyukjae?” tanya Taemin heran.

Hyukjae menyahut. ”Saera itu wanita paling bodoh sedunia!”

”Jangan bilang kalau dia memutuskan untuk jadi biarawati, dan meninggalkan semua kenikmatan duniawi?” sahut Jinki.

”Ne, pajo!” Hyukjae menunjuk Jinki. ”Kau tahu betapa bodohnya hal itu kan?”

Sungmin, Taemin, dan Jinki geleng-geleng.

”Eh, eh, eh… ada berita tuh… denger, denger!” Taemin dengan heboh menunjuk ke televisi yang terletak di konter.

Sang pembawa berita muncul. ”Malam ini keluarga Choi akan mengadakan sebuah pesta besar-besaran, akan datang pula mantan Miss Seoul tahun lalu, Im Saera… jadi jika anda bukan berasal dari keluarga Lee, datanglah ke pesta malam ini…

”Hyukjae-ya!” Sungmin menepuknya. ”Saera akan datang malam ini!”

”Terlalu berbahaya, Sungmin-ah…”

 

*Choi’s Corporation*

”Damai itu indah, Ahjussi… bukankah lebih baik, kalau Anda dan Tuan Lee berdamai saja?” tanya Kim Junsu, seorang pemuda berbakat, anak tunggal dari Walikota setempat, yang sering disebut-sebut sebagai Bachelor Of The Year. Tampan, kaya, pandai pula!

Choi Siwon mengangguk sambil tersenyum. ”Memang mungkin tidak sulit untuk orang tua seperti kami untuk berdamai, namun demikian juga… rasanya hal itu sedikit mustahil…”

”Baiklah, Ahjussi, kita lupakan saja soal itu, bagaimana Ahjussi, mengenai lamaranku untuk Putri Anda, Choi Jiyoo?”

Siwon tertawa. ”Junsu, putriku Jiyoo masih kecil, tunggulah dua tahun lagi kalau kau ingin melamarnya.”

”Tapi, Ahjussi, banyak yang muda sepertinya, menikah dan bahagia…” senyum Junsu penuh semangat.

”Dan banyak pula yang menikah muda dan menderita karenanya…” balas Siwon sambil tersenyum.

Junsu langsung diam.

”Kalau begitu begini saja, bagaimana kalau nanti malam kau hadir di pesta keluargaku. Disana kau bisa berkenalan dengan putriku, Jiyoo… kalau memang Jiyoo suka padamu, kalian bisa melangsungkan pernikahan, tapi kalau Jiyoo menolak, tunggu dua tahun lagi.”

 

*Choi’s Mension*

”CHOI JIYOOOOOOO‼!”

Ririn kembali membuka balkon kamarnya yang mewah dan berteriak. ”CHOI JIYOO‼!” masih belum ada jawaban, Ririn membalut tubuhnya dengan kimono transparan, lalu buru-buru keluar dari dalam kamar, dengan tatanan rambutnya yang masih belum jelas. ”JIYOO! JIYOO!” dia terus berteriak sambil menuruni tangga megah yang menuju ruang tengah rumahnya.

Para pelayan sibuk hilir mudik melakukan tugas mereka.

”Immonim! Immonim!” teriak Ririn.

”Ya, Nyonya?!” Nara Immonim muncul dari belakang dengan seragamnya nampak panik. ”Ada apa?!”

”Immonim! Cepat cari Jiyoo!”

”Iya, baik…” Nara Immonim akhirnya buru-buru berlari ke atas. Dan berteriak-teriak memanggil nama anak asuhnya.

Sementara yang dipanggil sedang di dalam kamar mandi, memasukkan wajah cantiknya ke dalam air di wastafel. Tapi kemudian dia mendengar teriakan-teriakan menyakitkan telinganya. Buru-buru dia keluar dari dalam kamarnya dan turun ke bawah.

”JIYOOOOOO…” Sang bunda masih memanggilnya.

”Eomma, aku disini…” sahut Jiyoo pelan dari belakangnya.

Ririn menoleh, dan terkejut, lalu buru-buru menyeretnya naik ke atas lagi, diikuti Nara Immonim di belakangnya. Ririn buru-buru membuka pintu kamar putrinya tersebut, dan mendorong Jiyoo agar duduk di kursi.

”Immo, kami perlu bicara empat mata…” Ririn mendorong Nara Immonim keluar.

Tapi ketika Ririn berbalik dan menatap dua mata bulat Jiyoo yang menatapnya, Ririn jadi ketakutan sendiri, dan buru-buru membuka pintu kamar, lalu menyeret Nara Immonim yang masih berdiri di depan pintu.

Nara Immonim langsung masuk dan menyisiri rambut Jiyoo.

”Ya, Jiyoo-ya… kau tahu kan kalau aku melahirkanmu ketika aku seumuran denganmu sekarang?” tanya Ririn bersemangat.

Jiyoo tersenyum, dan mengangguk.

”Sekarang kau sudah tumbuh besar…” Ririn mengunyeng-unyeng wajah Jiyoo.

Nara Immonim mengangguk. ”Kau adalah wanita paling cantik, yang pernah kuasuh, Jiyoo Ageshi…”

Jiyoo tersenyum.

”Dan sekarang…” Ririn mendekati meja rias, dan mengambil sebuah majalah. ”Si tampan Kim Junsu, yang merupakan bachelor of the year ingin menikahimu…”

Nara Immonim cekikikan.

”Jadi, Jiyoo-ya, bagaimana menurutmu? Apakah kau akan menerima pinangan dari Junsu?” tanya Ririn bersemangat, bahkan ketika beberapa pelayan datang dan memakaikannya kostum Cleopatra.

Jiyoo mengernyitkan alisnya, menatap wajah Ibunya yang sudah memakai mahkota Cleopatra. ”Aku akan melihatnya dulu…” ujar Jiyoo pelan. ”Baru kemudian memutuskan untuk menyukainya atau tidak, tapi aku tidak akan melihatnya tanpa seizin darimu…”

Ririn menghela napas, lalu menggeleng-geleng.

Pintu diketuk, dan masuklah seorang pria tua, yang merupakan butler keluarga Choi. ”Nyonya Ririn, tamu sudah datang…”

”Kau pergi duluan…” Ririn menarik kipas yang diangsurkan kepadanya dan mengikuti keluar.

Nara Immonim tersenyum kemudian berbisik di telinga Jiyoo. ”Jiyoo-ya… keluarlah nanti malam, Nak… nikmati pestanya.”

Jiyoo tersenyum manis.

 

*Pantai Karnaval*

Sungmin, Jinki, Taemin, Seunggi, yang merupakan sepupu dari Hyukjae, sudah berkumpul di pantai karnaval usang tersebut. Semua sudah memakai kostum mereka untuk menyelinap masuk ke pesta keluarga Choi malam ini.

”Ayolah, kita tunggu apa lagi?” tanya Seunggi. ”Bukankah sebaiknya kita berangkat sekarang?”

”Jinja! Kalian yakin ini aman?” tanya Hyukjae dengan kostum pangerannya.

”Kau kan punya topeng, Hyukjae-ya…” sahut Taemin.

”Lalu kenapa kita belum jalan?” tanya Sungmin.

Jinki menjawab. ”Tunggulah, kau kira masuk ke pesta itu bebas… kita harus pakai undangan!”

”Ya, kita ini keluarga Lee, mana mungkin bisa mendapatkan tiket masuk ke keluarga Choi?!” tanya Taemin.

”Tenang… kita punya tiketnya…” Jinki menepuk bahu sepupunya itu.

Tak lama kemudian sebuah mobil convertible merah datang, dan dari dalamnya keluar seorang pria atau wanita? Yang jelas dia adalah seorang pria dengan dandanan ala Lady Gaga. Sahabat Lee’s Brother, Kim Heechul.

”Hai! Siap berdansa malam ini?!” tanya Heechul sambil keluar. Heechul lengkap memakai stileto dan rok yang super mini. Tangannya mengulurkan sebuah undangan, Kim Heechul & Friends.

”Berangkat!” pekik Seunggi. Sungmin dan Taemin buru-buru meloncat masuk ke dalam convertible milik Heechul.

”Ya! Hyukjae-ya, palli!” ajak Jinki.

Hyukjae masih bersandar. ”Kalian yakin?”

”Ya ampun, Hyukjae-ya…” Heechul berjalan anggun mendekati Hyukjae. ”Kalau kau memang takut, lebih baik kau coba ini…” Heechul mengeluarkan kotak kecil, berisi sebuah pil putih dengan gambar hati merah di tengahnya. ”Obat ini akan memanipulasi pikiranmu. Segala perasaan cemas, takut, dan gelisah… jadi disana, kau bisa menikmati pesta, dan melihat Im Saera-mu!”

Hyukjae menatap Heechul penuh arti. Heechul mengangguk bersemangat, akhirnya perlahan-lahan Hyukjae meraih pil itu, dan memasukkannya ke dalam mulutnya, dan menelannya begitu saja.

”Kaja!” Heechul menariknya masuk ke dalam convertible merahnya.

Tak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah yang megahnya hanya bisa ditandingi oleh rumah keluarga Lee. Tentu saja, ini adalah rumah keluarga Choi. Mereka berhasil melewati metal detector dan penjaga diluar dengan aman, tanpa dikenali bahwa mereka adalah anggota keluarga Lee.

Dekorasi pesta benar-benar mewah, pesta di rumah keluarga Choi kali ini bertemakan pesta topeng. Hyukjae bisa melihat Choi Siwon, sang kepala keluarga yang berpakaian ala Kaisar Yunani kuno, sedang mabuk dan berdansa bersama istrinya, Park Ririn yang memakai kostum Cleopatra. Sementara Hyukjae melirik ke arah kiri, dimana para penari sudah memulai aksi mereka di tengah ballroom keluarga Choi. Kepala Hyukjae terasa berputar.

Efek obat yang diberikan Heechul.

Hyukjae menekan keras topengnya yang hanya menutupi bagian maatanya saja, dan tangannya terus mengurut kepalanya, karena ruangan terus berputar dalam pandangan matanya. Terlebih sekarang Heechul sudah berdiri di atas panggung, dan bergoyang dengan heboh, membuat suasana ruangan semakin panas.

Tapi kepala Hyukjae terus berputar, dia berusaha mencari Sungmin, Taemin, Jinki, dan Seunggi, tapi keempatnya sudah tidak ada. Maka Hyukjae memutuskan untuk mencari sebuah restroom, dan mendekati sebuah wastafel, lalu menyumbat lubang pembuangan airnya, dan mengumpulkan airnya hingga nyaris memenuhi wastafel. Hyukjae membuang topengnya begitu saja ke bawah, dan langsung memasukkan seluruh wajahnya ke dalam air.

Setelah merasa lebih segar, barulah Hyukjae mengangkat wajahnya lagi dan mengatur napasnya yang ditahan saat mencelupkan wajahnya di dalam air tadi. ”Obatnya terlalu parah…” dia menatap bayangan wajahnya di kaca, tapi pantulan tersebut juga membiaskan sebuah benda warna-warni yang ada dibelakangnya. Hyukjae langsung menoleh dan merasa nyaman.

Akuarium yang sangat besar, dengan terumbu karang, beserta clown fish warna-warni di dalamnya. Hyukjae mendekati akuarium yang panjang dan lebarnya melebihi tinggi manusia normal, dan menikmati pemandangan di dalamnya. Ikan-ikan yang berenang kesana-kemari dengan bebasnya. Keluar masuk terumbu karang dengan riangnya, mata Hyukjae mengikuti sebuah ikan berwarna oranye kecil, yang masuk ke dalam lubang di terumbu karang tersebut, hingga menunduk, dan terkejut mendapati sebuah mata di seberang sana sedang menatap lubang terumbu karang tersebut.

Hyukjae langsung berdiri tegak, dan jantungnya seakan mau berhenti berdetak, melihat dibalik akuarium yang sama, berdiri seorang wanita dengan mata bulat, rambut panjang sepinggang yang diatasnya dibentuk mahkota dengan rambutnya sendiri, memakai kostum bidadari.

Dia memang seperti bidadari. Atau bahkan dia memang bidadari, Hyukjae hanya bisa terus mendekati akuarium dan berusaha mendekati wajah cantik tersebut. Gadis itu hanya tersenyum malu-malu. Hyukjae senang sekali melihat senyuman tulus gadis tersebut, sengaja Hyukjae mendekat ke akuarium, dan ternyata gadis itu juga mendekati akuarium dari arah berlawanan.

Hyukjae bisa merasakan kalau gadis itu tertawa bersamanya, seolah-olah mereka memang sudah kenal lama, dan sekarang sedang bercanda.

Baru Hyukjae hendak bicara, datang seorang wanita paruh baya, mengenakan seragam pelayan dan menarik gadis di hadapannya itu.

”Agesshi, Nyonya mencarimu!” dan dia membawa gadis itu raib.

Entah memang itu pengaruh obat yang Heechul berikan, Hyukjae tidak tahu, yang jelas Hyukjae mengejar gadis itu. Entah semua baut yang ada dikepalanya sudah lepas, bahkan bayang-bayang Im Saera yang selama ini menggerogoti pikiran Hyukjae lenyap begitu saja oleh munculnya gadis itu. Hyukjae terus mengejar gadis tersebut, melewati kerumunan orang-orang yang menikmati pesta.

Sementara gadis di depannya terus ditarik-tarik sang pengasuh, sambil terus mengangkat gaun putih panjangnya. Gadis itu terus menoleh ke belakang, dan pandangannya diartikan Hyukjae seperti pandangan minta tolong.

 

*Jiyoo’s POV*

Nara Immonim terus mendesakku agar turun ke bawah, aku tidak mau! Aku masih mau bersama pria tadi… entah siapa dia, yang jelas dia sudah mencuri hatiku. Ya Tuhan, aku merasakan cinta pertama pada pesta hari ini… tapi kenapa Nara Immonim mengacaukannya???

Aku terus menoleh ke belakang ketika Nara Immonim menarikku dengan kasar, aku masih bisa melihat pria itu mengejarku, meski agak tertinggal jauh oleh langkah Nara Immonim dan aku. Aduh, apakah wajahku seperti orang mabuk kepayang atas kehadirannya?

Siapa dia? Dia begitu tampan, dia begitu gagah, hatiku berdetak kencang melihatnya tadi, aniya… sampai sekarang, tapi tiba-tiba kami berhenti di tengah-tengah lantai dansa, dan Eomma muncul.

Kemudian seorang pria yang kukenali lewat majalah-majalah muncul di hadapanku dengan kostum astronotnya, dan langsung meraih tanganku untuk berdansa. Untuk menutupi rasa terkejutku, terpaksa aku hanya tersenyum dan menerima uluran tangannya untuk terus berdansa, sementara di sisi kami, aku bisa melihat Nara Immonim dan Eomma mengangguk puas.

Sejujurnya pria di hadapanku ini sekarang cukup tampan, dan tentu saja memikat. Tapi hati dan pikiranku pada saat ini, adalah seorang pria yang sedang memerhatikanku di balik sebuah pilar. Sungguh aku ingin bicara padanya sekarang juga, dibandingkan berdansa konyol dengan pria di hadapanku ini.

Setelah kami selesai berdansa, rupanya itu adalah puncak pembukaan acara, sehingga kami berempat, ya bersama Eomma dan Nara Immonim bertepuk tangan, dan dihujani konfeti serta balon-balon. Aku mencoba mencuri-curi pandang ke belakang, tapi aku tidak melihat pria itu lagi, oh dimana dia? Apakah dia sudah pergi?

 

*Hyukjae’s POV*

”Apakah aku pernah jatuh cinta sebelum ini?” bisikku ketika mengintip di balik sebuah pilar, kepada gadis cantik dengan sayap mungil di belakangnya itu. ”Hingga malam ini aku tidak pernah melihat kecantikan sejati macam itu…” aku terus mengagumi gadis itu, yang sedang berputar dengan gemulai dengan pria di hadapannya. Ingin sekali aku menghentikan pria itu, dan ganti justru mengajak gadis itu berdansa.

Lagu selesai, dan kulihat gadis itu membungkuk kepada lawan dansanya, dan mereka bertepuk tangan ketika konfeti dan balon-balon berjatuhan. Dadaku berdegup kencang, ini saatnya, kesempatanku untuk mengajaknya bicara. Kulirik lagi dia, dia sedang menoleh kebelakang, seperti mencari-cari sesuatu. Apa dia mencariku? Hatiku sungguh senang.

Setelah kurasa agak aman, ketika tiga orang disampingnya tidak ada yang memerhatikan, aku memberanikan diri menarik tangan halusnya itu dan membawanya ke pilar. Dia di depan pilar, dan aku di belakang pilar.

”Alangkah bahagianya jika aku bisa mengenal gadis cantik ini…” ucapku tanpa berpikir lagi.

Bisa kulihat wajahnya merona, dia tersenyum malu-malu. Aku semakin bahagia melihatnya tersenyum, hatiku semakin penuh dengan luapan kebahagiaan. Kurasa aku tidak pernah sebahagia ini dalam hidupku.

”Tangan halus yang dimiliki orang suci, kabulkanlah permintaan musafir yang haus ini…” kubisikkan hal itu lagi, sambil mengecup tangannya.

Dia berbalik ke belakang pilar, dan sekarang sudah berdiri di hadapanku. Wajahnya begitu cantik, ditambah dengan senyumannya. Kemudian dia bicara, suaranya lembut bagai beledu.

”Musafir yang baik, jangan gunakan tangan sebagai alasan… karena tangan dilakukan orang suci untuk berdoa, dan musafir saling bertemu pun berjabat tangan…” ucapnya diplomatis.

”Kalau begitu haruskah aku menggunakan bibirku?” tanyaku sambil tersenyum.

”Musafir yang baik, bibir juga digunakan untuk berdoa…”

”Tapi biarkanlah tangan melakukan pekerjaan tangan, dan bibir melakukan pekerjaannya sendiri…” dan entah setan mana yang merasukiku, aku langsung mendekati wajahnya.

Tapi kemudian dia menoleh ke samping dan nampak panik, dia justru menarik tanganku menuju lift yang dekat dengan pilar tempat kami bicara. Pintu lift terbuka, dan kami langsung masuk.

Gadis itu menoleh ketika pintu lift menutup, melihat tiga orang yang bersamanya tadi sedang mencarinya. Tapi gadis itu kemudian menatapku penuh arti, dan seakan dua kutub magnet yang saling bersebrangan, aku mengecup bibirnya, dan dia nampak siap, langsung menerima sentuhan bibirku, dan membalasnya dengan lembut. Kukalungkan tanganku di pinggangnya, sementra dia meletakkan kedua tangannya di dadaku, kami berciuman cukup lama. Hingga akhirnya kami memisahkan diri, dan saling tersenyum.

”Terima kasih, karenamu…  dosa dari bibirku terhapus…” ujarku sambil terus menatap wajahnya.

”Lalu apakah aku yang harus menanggung dosa dari bibirmu?”

”Pelanggar tergugah, kembalikan lagi dosaku…” dan aku langsung menciumnya lagi, hingga kemudian lift terbuka, kami berdua keluar sambil tertawa dan bergandengan tangan.

Tapi kemudian tiga orang tadi muncul, dan membuat gadis di hadapanku panik, dan menarikku masuk ke dalam lift lagi, dan lagi-lagi kami berciuman. Ciuman kami agak liar kali ini, bahkan aku mengalihkan ciumanku hingga ke lehernya, dan dia mendesah sambil bergumam. ”Kau pencium yang pandai…”

Pintu lift terbuka, dan seorang wanita dengan seragam pelayan sudah melotot di hadapan kami. ”Agesshi! Lebih baik kau ikut aku!” dia langsung menarik gadisku pergi lagi.

Aku terus mengikutinya. Dan kulihat dia bertemu lagi dengan seorang wanita dengan baju Cleopatra dan pria kostum astronot, tapi aku langsung menahan langkahku. Karena kemilau gadis itu, aku tidak memerhatikan terlalu pasti, siapa orang-orang yang ada di sekitarnya, aku baru sadar siapa mereka.

Park Ririn dan Kim Junsu.

Park Ririn adalah istri dari Choi Siwon, dan Kim Junsu adalah pria yang diisukan kuat akan menikahi anak gadis tunggal Choi Siwon dan Park Ririn. Ya Tuhan, jangan bilang kalau gadis itu… adalah Choi Jiyoo?

 

*Jiyoo’s POV*

Aku dan Nara Immonim sudah tiba di lantai dua menuju kamar kami, apa sih maksud Eomma? Aku kesal sekali, tapi aku menoleh ke bawah tangga, dan melihat pria tampanku sedang terkejut, wajahnya sangat ketakutan.

Aku mengernyit bingung.

”Agesshi! Sudah jangan dekat-dekat dengannya! Dia adalah Hyukjae, Putra Tunggal musuh besarmu, keluarga Lee!”

Aku langsung menganga ngeri. ”Ya Tuhan…” bisikku. ”Terlalu terlambat untuk tahu… cinta pertamaku justru muncul dari musuh besarku.” Rasanya aku mau meledak saat itu juga.

To Be Continued

Hai semua, saya kembali lagi dengan FF Adaptasi… wkwkwkwk, waktu itu udah janji mau bikin FF Adaptasi dari Romeo + Juliet dan Titanic, nah ini Romeo + Juliet dulu yaaaa… dan FF ini aku dedikasikan khusus untuk Choi Jiyoo aka Shela my couple!🙂

Credit : Romeo + Juliet (Movie & Novel) By William Shakespeare

 

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

My Blog : indonesiaelfsihy.wordpress.com (share berita tentang si Ikan :))

6 thoughts on “Hyukjae + Jiyoo (Romeo + Juliet Adaptation) ~Part 1~

    • Titanic versi JinHae?
      iya aku juga pengen banget bikin…
      tunggu ya… kalo ada waktu pasti aku bkin…
      makasih mau mampir…
      sering2 kesini ya…

  1. ..wuiih si eunhyuk…jd kpkiran truz..*apaandh*
    ,,onnie ngmbil kta”a koq bza bgus sih?ajarin ak dunk..*ngarep.com*
    ..ok ak tinggal k’part slnjut’a hohoho^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s