Hyukjae + Jiyoo ~Part 3~ PG-15 ENDING

*Gereja St Petrus*

Hyukjae duduk sambil menangis. ”Diasingkan?!” dan air matanya jatuh satu persatu. Dibelakangnya Pastur Hankyung sedang berusaha mengobatinya, dan Taemin duduk melihat dengan pandangan iba kepada Hyukjae yang menangis.

”Kau harus bersyukur, Hyukjae-ya… setidaknya kau masih hidup!” seru Pastur Hanyung sambil terus membebat luka-luka di tubuh Hyukjae.

”Ini sih sama aja dihukum mati…” desah Hyukjae sambil terus tersedu.

”Sebut nama Tuhan! Jangan tidak bersyukur begitu, ingat! Kau masih punya Choi Jiyoo… sejak tadi, dia adalah tanggung jawabmu…”

Hyukjae langsung berdiri. ”Jiyoo… Jiyoo…” dia panik.

Pintu ruangan diketuk, semua menoleh dengan panik. Taemin langsung mengeluarkan pistolnya, dan Pastur Hankyung memberi isyarat pada Taemin untuk memeriksa siapa yang datang, sementara Hyukjae bersembunyi.

Suara Taemin menutup pintu, kemudian muncullah Kwan Nara dengan tergopoh-gopoh. ”Dimana suami Agesshiku?” tanyanya panik.

Hyukjae langsung menghampiri Nara. ”Aku disini… Immonim, bagaimana keadaan Jiyoo? Dia baik-baik aja, kan?” tanya Hyukjae cemas.

”Bagaimana mungkin dia baik-baik saja?” tanya Nara dengan sedih. ”Yang dia lakukan hanya menangis, berdoa, menangis, berdoa… kemudian dia pingsan karena kelelahan. Huijangnim, kau harus menemuinya…”

Hyukjae mengatupkan kedua tangannya kewajah, dan menangis.

”Sudah, lebih baik kau segera kesana… besok sebelum fajar, Taemin akan menjemputmu, dan dia akan mengantarkanmu ke sebuah kota kecil di Jeollado Selatan, tempatmu bisa bersembunyi… setelah berapa lama, kau bisa kembali dan memohon pengampunan dari Leeteuk! Palli!”

 

*Choi’s Mension*

Ririn dengan jas kamarnya yang berwarna putih dan terbuat dari sutera turun ke bawah. Masih terpeta jelas air mata yang membekas, karena kematian keponakan yang sangat dekat dengan putri tunggalnya tersebut.

”Sepertinya Jiyoo tidak akan turun malam ini…” kata Ririn pelan.

Siwon dan Junsu saling pandang, tapi kemudian Junsu tersenyum. ”Gwenchana, Ahjumma… biarkan Jiyoo beristirahat, aku yakin dia pasti sangat terguncang. Dia dan Minho kan sangat dekat…”

”Kau baik sekali…” Ririn tersenyum, lalu kembali naik ke atas.

”Yeobo! Besok pagi-pagi, kau bilang pada putri kita… bahwa lusa, dia akan segera dinikahkan dengan Kim Junsu…” kata Siwon senang.

Ririn cuma tersenyum. ”Besok akan kukatakan…”

 

*Kamar Jiyoo*

Jiyoo terus berdoa, dengan air mata berlinangan. ”Apakah sekarang tangan Hyukjae berlumuran darah Minho?! Ya Tuhan… apakah suamiku adalah orang yang seperti itu?” dan Jiyoo lagi-lagi menangis.

Hujan deras di luar, hingga suaranya yang menggedor-gedor jendela. Tapi kemudian pintu balkonnya berderit terbuka, Jiyoo masih dengan air mata menggenang menoleh, dan segala sesak di dadanya hilang begitu melihat Hyukjae yang basah kuyup muncul sambil tersenyum kecil.

Tanpa kata, Jiyoo langsung menghampirinya dan keduanya langsung berpelukan erat. Hyukjae mengelus pelan punggung istrinya itu, setelah Jiyoo melepas pelukannya, Jiyoo langsung memeriksa  keadaan Hyukjae, mengelus pipinya yang lebam dengan perlahan, lalu melihat perban-perban luka di tangan dan lengan Hyukjae dengan sedih. Hyukjae mengelus pipi Jiyoo perlahan, kemudian keduanya bertemu dalam satu kecupan dalam.

Jiyoo menelusupkan tangannya ke dalam rambut Hyukjae, lalu perlahan tangannya turun dan melepas satu persatu kancing kemeja Hyukjae, dan perlahan-lahan menanggalkan kemejanya. Ciuman keduanya terlepas, Jiyoo nampak khawatir dengan perban-perban yang ada di sekitar perut dan dada bidang suaminya, tapi Hyukjae menggeleng pelan, sambil terus mengelus pelan pipi Jiyoo, berusaha menenangkannya.

Hyukjae mengecup bibir Jiyoo lagi, sambil perlahan mengangkat kaus Jiyoo ke atas, Hyukjae mengelus perut rata Jiyoo, dan Jiyoo pun mengelus balik dada bidang Hyukjae. Napas Hyukjae memburu, dan dengan kasar ditariknya kaus Jiyoo menyentak ke atas, dan dibuangnya kaus tersebut sembarangan. Digendongnya Jiyoo tepat di hadapannya, dan masih dengan kedua bibir yang bertemu, Hyukjae membawa Jiyoo ke tempat tidur, dan dibaringkannya tubuh putih mulus itu ke atas tempat tidur, dan Hyukjae tetap tidak melepaskan kontak mereka. Tangan Jiyoo yang mengelus perut dan dada Hyukjae pun perlahan menarik ikat pinggang Hyukjae, dan membuangnya ke lantai. Dilepaskannya kait celana Hyukjae, dan Hyukjae menarik celananya lepas begitu saja, sekaligus menarik turun celana piyama Jiyoo.

 

*SKIP!!!*

Mata Hyukjae mendadak terbuka, mimpi buruk itu terlalu nyata. Minho mati di tangannya, dan sekarang dia diasingkan. Sinar matahari sudah masuk ke dalam kamar Jiyoo, ini tandanya dia sudah benar-benar kesiangan! Rasanya berat sekali untuk melepaskan pelukan gadis yang paling dicintainya saat ini, apalagi ketika saat ini mereka masih ’menyatu’ (ngerti lah maksud saya apa).

Tapi perlahan-lahan dengan berat hati, Hyukjae melepaskan ’kontak’ mereka dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak membangunkan belahan jiwanya yang masih tertidur dengan rambut terurai indah itu. Hyukjae menoleh ke bawah mencari underwearnya, tapi kemudian sepasang lengan sudah mengalungi bahunya, dan Jiyoo meletakkan kepalanya di bahu Hyukjae.

”Masih pagi…” ujarnya lembut. ”Kau mau kemana?”

”Aku harus cepat pergi, Jagiya…” Hyukjae menoleh dan mengecup pipi Jiyoo pelan. ”Coba kau lihat… matahari sudah tinggi, seharusnya aku pergi saat Subuh tadi…”

Jiyoo malah mengeratkan pelukannya. ”Ani, ani… itu bukan matahari, itu hanyalah meteor yang akan menerangi jalan suamiku pergi… tapi aku tidak akan melepasmu! Kau harus disini!” katanya manja.

Hyukjae terkekeh, dan tiba-tiba saja keduanya sudah saling tatap di bawah selimut sambil tertawa. Jiyoo berbaring, sedangkan Hyukjae menopang tubuhnya dengan tangannya tepat di atas tubuh Jiyoo.

”Kalau begitu, aku tidak akan pergi…” kata Hyukjae, dan dia berteriak. ”Akan kukabulkan semua permintaan Jiyoo-ku! Meski aku harus mati, aku akan tetap disini bersamanya…”

Jiyoo tertawa terbahak-bahak, dan meraih wajah Hyukjae, lalu mereka kembali berciuman mesra cukup lama, keduanya berguling di atas kasur, sehingga selimut berantakan, dan membelit mereka menjadi satu. Keduanya seperti kepompong, saling berhadapan tanpa ada jedah diantara keduanya, Hyukjae kembali mencium Jiyoo mesra.

Pintu menjeblak terbuka, dan Jiyoo serta Hyukjae gedabrukan jatuh ke balik kasur, karena keduanya belum memakai apa-apa, dan hanya terhalang selimut putih transparan.

Nara Immonim yang datang, ”Agesshi! Ririn Sajang kesini…”

Hyukjae buru-buru memakai boxer-nya dibantu oleh Jiyoo yang ikut panik, sementara Nara berjaga diluar. Kemudian Hyukjae mengenakan celana jinsnya dan segera memakai kemejanya, lalu bersembunyi di balik gorden, tepat ketika Ririn masuk ke dalam kamar Jiyoo.

”Jiyoo-ya, kau sudah mandi?” tanya Ririn heran melihat putrinya dalam keadaan topless tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.

Jiyoo mengangguk, dan menarik jas mandinya, lalu langsung mengenakannya. ”Ada apa, Eomma?”

”Aigoo, tunggu sebentar, Eomma mau ke kamar mandi…” Ririn ke kamar mandi.

Jiyoo berlari keluar dan menemui Hyukjae di balkon, keduanya berciuman panas tapi cepat. ”Aku akan rindu padamu…” desah Jiyoo.

”Gwenchana, kita pasti akan segera bersama…” kata Hyukjae sambil tersenyum.

”Ne, pergilah… hati-hati, aku cinta padamu…”

”Aku juga…”

Lagi-lagi keduanya berciuman cepat dan panas, kemudian Hyukjae mengecup cincin di jari Jiyoo. ”Jaga hatiku…” diciumnya lagi Jiyoo, tapi mendengar suara Ririn yang keluar dari kamar mandi, Hyukjae langsung terjun bebas ke kolam renang di bawah.

”Aish… aku benci melihatnya jauh di bawah seperti ini…” desah Jiyoo dan melambaikan tangannya pada Hyukjae yang berlari keluar dari pelataran rumah keluarganya.

Ririn keluar ke balkon, dan menarik Jiyoo masuk ke dalam kamarnya dan mendudukan Jiyoo di kursi.

”Jiyoo-ya, kau tahu kan, kalau Appamu itu orang yang sangaaaaaaaaaat baik!” puji Ririn sambil merapikan vas bunga.

Jiyoo cuma manggut-manggut.

”Appamu, tidak mungkin mencarikan pilihan yang salah untukmu, kan?” lanjut Ririn lagi. ”Untuk itu, kau tahu Appamu yang baik itu, sudah menyiapkan masa depan yang baik untukmu, dan lusa kau akan dinikahkan dengan Junsu!”

Pikiran Jiyoo langsung kosong. ”Mwo?!”

”Ne, kau akan dinikahkan dengan Kim Junsu, si bachelor of the year…” kata Ririn bahagia. ”Kau senang kan?”

”Andwe!” teriak Jiyoo.

Ririn langsung shock, melihat putrinya yang tidak pernah melawan sekalipun dalam hidupnya. ”Waeyo?!” tanya Ririn kaget.

”Aku tidak mau, Eomma! Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai!‼”

Ririn terperangah. Kemudian pintu menjeblak terbuka, dan muncullah Siwon, ”Yeobo… sudahkah kau beritahukan pada putri kita tentang rencana bahagia ini?” tanyanya sumringah.

Ririn menoleh dan menjawab. ”Sebaiknya kau saja sendiri yang bilang, karena dia tidak menganggap itu rencana bahagia…”

”Apa maksudmu?” tanya Siwon pada Jiyoo.

Jiyoo menatap ayahnya dengan air mata berlinang. ”Appa, jangan nikahkan aku dengan pria itu… aku tidak mencintainya…”

”Lalu kau mau menikah dengan siapa, Jiyoo-ya?!” teriak Siwon tiba-tiba. ”Dengar, kau sudah kubesarkan, kau kuberi makan! Dan sekarang kau mau melawan perintah ayahmu?!”

”Aku tidak akan pernah menikahi Junsu‼!” teriak Jiyoo.

Dan Siwon langsung menampar pipi Jiyoo, hingga Jiyoo terjatuh ke lantai dan menangis. ”Kau akan menikahi dia, atau kau mau melihatku mati, Jiyoo-ya!” Siwon melangkah keluar kamar dengan marah, sementara Ririn menangis di pojok kamar.

Jiyoo merangkak dengan sangat sedih ke kaki ibunya. ”Eomma, bilang pada Appa… aku tidak mau menikah dengan Junsu…”

”Mianhae, maafkan Eomma…” Ririn pergi meninggalkan Jiyoo.

Jiyoo menangis dengan pilu, hanya Nara Immonim yang datang dan memeluknya, Nara Immonim mengelus rambut Jiyoo perlahan. ”Jiyoo-ya, sudahlah… mungkin pernikahan pertamamu memang sudah gagal, dan tidak diberkati… lebih baik kau terima saja…”

Jiyoo cuma menatap nyalang kosong ke depan.

 

*Gereja St Petrus*

”Jadi Bapa, mohon kerjasamanya… besok aku dan Jiyoo akan menikah disini,” kata Junsu dengan sangaaaaaat bahagia.

Pastur Hankyung nampak terkejut, tapi dengan segera dia bisa menguasai dirinya sendiri. ”Junsu-ssi, apakah kau sudah benar-benar mantap dengan keputusanmu? Dan Choi Jiyoo-ssi sudah setuju?”

”Orang tuanya sudah setuju… Choi Siwon langsung yang bilang padaku…”

”Tapi apakah Choi Jiyoo juga setuju?”

”Bukankah jika ayahnya sudah bilang berarti dia setuju?” tanya Junsu retoris. ”Bapa tidak perlu khawatir…”

Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar, keduanya menoleh, dan panjang umur, gadis yang mereka bicarakan muncul. Dengan pakaian serba hitam, layaknya orang berkabung. Wajahnya sendu, matanya merah.

”Halo, calon istriku…” sapa Junsu ramah.

Jiyoo sama sekali tidak menunjukkan wajah bersahabat. ”Bapa, aku hendak melakukan pengakuan dosa…”

”Kalau begitu mari…” ajak Hankyung.

Junsu tersenyum. ”Sampai jumpa besok di altar…”

Jiyoo berjalan menghentak ke dalam ruangan Pastur Hankyung, begitu mereka sudah hanya berdua disana, air mata Jiyoo langsung tumpah.

”Kalau Bapa tidak punya cara untuk menolongku lebih baik aku mati sekarang!” teriaknya sambil mengeluarkan pistol, dan menodongkannya tepat di pelipisnya. Membuat Hankyung terperangah. Air mata bercucuran dari mata Jiyoo. ”Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau menikah dengan Junsu‼!”

”Anakku, kau tidak boleh pendek akal begitu!” tegur Hankyung.

”Aku sudah bingung, Bapa… aku harus bagaimana?!”

”Aku bisa menolongmu dan mencarikanmu solusi…” saran Hankyung sambil kemudian berjalan menuju kotak obatnya dan mengambil botol kecil berisi cairan biru safir. ”Malam ini, kau tidur dan minum ini… ini tegukan hidup bagai mati… semua orang akan mengiramu sudah meninggal, padahal kau masih hidup… obat ini berfungsi dalam waktu dua puluh empat jam…”

Jiyoo menatap botol tersebut dengan pandangan kosong.

”Nanti, aku akan menulis surat kepada Hyukjae, agar dia menjemputmu saat kau sudah bangun, kemudian kalian bisa kabur bersama, dan pergi jauh dari sini. Bagaimana?”

 

*Choi’s Mension*

”Semua sudah siap?” tanya Ririn bahagia di dalam kamar Jiyoo. ”Eomma sangat senang, kau akhirnya mau mendengarkan Appa. Jiyoo-ya, percayalah Appa pasti mau yang terbaik untukmu…”

Jiyoo berusaha memberikan senyum terbaiknya, ”Ne Eomma… semua sudah siap kok. Aku kan tidak perlu bekerja keras, semua sudah disiapkan… gomawo, Eomma…”

”Keurom, sekarang kau istirahatlah… besok hari penting, dan kau tidak boleh terlambat ke pemberkatan…”

Jiyoo masuk ke balik selimut. Ririn mengelus kepalanya, ”Jaljayo…” dan Ririn beranjak hendak membuka kenop pintu, tapi Jiyoo memanggilnya.

”Eomma…”

”Ne?” Ririn berbalik.

Jiyoo menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. ”Sampai jumpa… kita tidak tahu apa yang terjadi pada usia, kan?”

Ririn mengernyit, tapi kemudian tersenyum. ”Ne, sampai jumpa… tidurlah sekarang, Jiyoo-ya…”

Ketika Ririn sudah pergi, Jiyoo buru-buru mengambil botol kecil yang dia dapatkan dari Pastur Hankyung. Jiyoo menatap botol biru tersebut lekat-lekat, ”Bagaimana kalau tidak berhasil? Apa aku harus menikah besok?” Jiyoo menggeleng, kemudian membuka tutup botolnya. ”Hyukjae-ya…” dia bersulang demi cintanya pada Hyukjae kemudian menenggak habis isi botol. Kesadarannya mulai menghilang, kemudian dia terbaring kaku begitu saja.

Esoknya duka menggelayuti rumah keluarga Choi. Choi Jiyoo ditemukan meninggal dalam tidurnya, karena meminum obat penenang. Pastur Hankyung datang, dan memerintahkan agar Jiyoo didandani dengan cantik, dengan pakaian pengantinnya dan segera di bawa ke Gereja St Petrus. Disana suasana berkabung semakin terasa, ditambah Junsu yang sepertinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa Jiyoo memilih cara seperti ini untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mau menikah dengannya. Juga Choi Siwon dan Park Ririn yang menyesali tindakan mereka memaksa Jiyoo untuk menikah dengan Junsu.

Hankyung memimpin misa dan terkejut ketika Taemin dengan wajah terperangah hendak masuk ke dalam gereja. Belum sempat Hankyung memanggilnya, Taemin sudah berlari pergi. Hankyung menghela napas, dia berharap suratnya sudah tersampaikan kepada Hyukjae yang sedang bersembunyi di Busan.

 

*Busan*

Petugas FedEX mengetuk karavan milik Hyukjae, tapi tak ada jawaban… maka petugas tersebut hanya menyelipkan pesan dengan tulisan bahwa Hyukjae memiliki sebuah surat, dan diselipkannya di bawah pintu, setelah itu si petugas pergi.

Tak jauh dari situ, Hyukjae sedang bermain layang-layang sendirian di pinggir pantai Busan yang penuh dengan semilir angin. Kertas tersebut pun ikut terbang menjauhi karavan Hyukjae.

 

*Seoul*

Hankyung mulai panik, surat tidak sampai kepada Hyukjae.

”Saya harus mengirimkan surat ini, dan harus sampai di tangannya hari ini! Ini menyangkut hidup mati seseorang!”

”Mohon maaf, Pastur… tapi ini hari Jumat, maka pengiriman besok dan Minggu sama sekali tidak ada…”

”Kirim paket hari ini! Saya akan bayar berapa pun!”

 

*Busan*

Taemin memarkirkan mobilnya terburu-buru, dia melihat Hyukjae yang sedang menatap lautan sambil menenggak softdrink. Taemin keluar dari mobil dan berlari menghampiri saudara sepupunya tersebut dengan tergesa-gesa, dan menyentuh bahunya kasar.

”Taemin-ah! Mwoyaaaaa?” kaget Hyukjae, tapi kemudian dia tersenyum. ”Kau membawa kabar dari Pastur Hankyung?”

Taemin menggeleng-geleng.

”Ani? Lalu kau membawa kabar apa? Aaah, istriku… Jiyoo, bagaimana keadaannya disana? Apakah dia baik-baik saja?”

Taemin menghela napas perlahan-lahan, kemudian menjawab dengan nada bergetar. ”Mianhae, Hyukjae-ya, andai aku bisa mengatakan demikian…”

”Maksudmu?”

”Istrimu, dia terbaring di peti mati… di gereja St Petrus…”

Rasanya seolah-olah jantung Hyukjae lepas dari rongganya, kepalanya kosong, dan napasnya sesak. Apa maksud kata-kata Taemin barusan?! Hyukjae cuma bisa mematung dan mencerna dengan sangat lama.

Hyukjae jatuh terduduk, dan air matanya jatuh perlahan-lahan. ”Jiyoo-ya…” bisiknya. ”CHOI JIYOO‼!” Taemin berusaha meraih bahu sepupunya, tapi Hyukjae menghempaskan Taemin dengan kasar, Taemin tersungkur, Taemin berusaha berdiri dan menenangkan Hyukjae, tapi Hyukjae malah melayangkan bogem mentahnya pada Taemin.

Setelah bisa mengontrol tangisnya, Hyukjae menarik napas dalam-dalam. ”Keurae… kalau memang begini, hanya ada satu cara…” Hyukjae langsung berlari menuju mobil Taemin, dan Taemin tergopoh-gopoh mengikuti. Dengan kecepatan tinggi Hyukjae melarikan mobilnya sehingga Taemin yang ada disebelahnya meringis ketakutan. Dalam waktu singkat saja, mobil Taemin sudah berada dalam jalur menuju Pantai Karnaval.

”Tunggu disini!” Hyukjae merampas paksa pistol dari saku Taemin, dan langsung keluar dari mobil.

”Hyukjae-ya, kau mau kemana?!”

Hyukjae berlari masuk ke dalam sebuah bar kecil ketika hari mulai menggelap, digedornya pintu dengan kalap, sehingga pria tua keluar.

”Soo Man-ssi, berikan racun yang sekali teguk langsung membuat orang mati!” perintah Hyukjae.

Pria bernama Lee Soo Man itu terkejut, kemudian mengernyit. ”Kalau aku memberikan racun itu, hukuman mati menungguku…”

Hyukjae mengeluarkan tiga gebung uang. ”Hidup dan berbahagialah…”

”Tunggu sebentar…” Lee Soo Man menutup kembali pintu, dan dia keluar lagi menyodorkan sebuah botol bening kecil, berisi cairan berwarna merah tua pekat. ”Ini…”

”Kau yakin aku langsung mati kan kalau meminum ini?!” tanya Hyukjae.

”Yakin sekali… meminum itu ibaratnya dua belas orang sedang menghajarmu, sangat mustahil tetap hidup!”

”Ne… kamsahamnida!” Hyukjae langsung berlari turun ke bawah ketika sebuah helikopter melintas dan suara-suara sirine terdengar.

Polisi sudah tahu bahwa Hyukjae masuk Seoul. Hyukjae tidak peduli, tetap terus membawa mobil dengan kencang menuju gereja St Petrus. Sesampainya disana ternyata polisi sudah mengepung gereja.

Hyukjae membawa mobil menyelip lewat kebun kecil disamping gereja, dan memarkir mobil mendadak.

”Taemin-ah, berjanjilah kau hidup dengan baik!”

”Hyukjae-yaaa…” tahan Taemin.

Hyukjae melangkah keluar, dan terdengar banyak bunyi letusan senjata, tapi Taemin terperangah melihat Hyukjae berkelit dengan gesit menuju pintu masuk gereja. Suara Leeteuk bergema di udara, karena dia memakai pengeras suara dari Helikopter.

”LEE HYUKJAE! MENYERAHLAH‼!”

Hyukjae menyandera seorang pendeta, hingga semua polisi berhenti menembakinya. Hyukjae melempar begitu saja pendeta itu, dan buru-buru masuk ke dalam gereja, dan mengunci pintunya dengan gerendel kayu. Hyukjae bersandar pada pintu dan menghela napas pelan-pelan.

Perasaan sama sekali tidak bisa tenang, begitu dia melihat ke depan, air matanya otomatis tumpah lagi. Hyukjae mengantongi pistolnya perlahan, dan berjalan lurus ke depan. Koridor gereja hanya diterangi banyak lilin, dengan karpet merah, Hyukjae bisa melihat peti mati yang begitu indah di depannya, dan menangis membayangkan wajah yang akan dilihatnya disana. Kaki Hyukjae seakan lumpuh, hatinya tidak mau melihat, matanya apalagi.

Tapi akhirnya dia tiba disamping peti jenazah itu, dengan tubuh Choi Jiyoo yang putih, pucat, kaku terbaring. Hyukjae langsung menjatuhkan badannya disamping Jiyoo, dan membelai wajah pucatnya sambil terus menangis.

”Jiyoo-ya… wae?” bisik Hyukjae tepat di telinga Jiyoo. Hyukjae membelai pipi Jiyoo, ”Kematian yang merenggut nyawamu, tak sanggup menghapus cantik wajahmu… Jiyoo-ya…” Hyukjae kembali tersedu, dan mengecup pipi Jiyoo. Lalu perlahan dilepaskannya kalungnya dan dipasangkan cincin yang menjadi liontin itu ke jari Jiyoo, lalu dikecupnya bibir Jiyoo cukup lama, hingga air matanya menetes di pipi Jiyoo. ”Bibirmu masih hangat, Jiyoo-ya…” desahnya. ”Hidupku, istriku… kenapa kau meninggalkanku?”

Tanpa Hyukjae sadari, perlahan-lahan jari tangan Jiyoo bergerak.

Hyukjae mendongakkan kepalanya dan air matanya terus tumpah. ”Keurae… aku akan segera menyusulmu, Jiyoo-ya…”

Jiyoo membuka matanya, dan menggeliat, dia tersenyum. Hyukjae benar-benar datang dan menjemputnya, badan Jiyoo kaku semua. Jiyoo masih berusaha melemaskan semua badannya.

Tapi, Hyukjae masih menengadah, menahan tangis.

Hyukjae perlahan membuka tutup botol yang dia bawa, Jiyoo mengernyit menatapnya. Hyukjae mengangkatnya ke mulutnya, dan Jiyoo langsung tahu ada yang tidak beres, dia langsung buru-buru menyentuh pipi Hyukjae.

Hyukjae terlonjak, dan justru membuat seluruh cairan itu masuk ke dalam tenggorokannya, dan efeknya langsung muncul. Hyukjae sudah tidak bisa berbicara, melainkan dengan tangisannya, berusaha menggapai Jiyoo.

Jiyoo bangun dan langsung meraih tubuh Hyukjae. ”Hyukjae-ya, ige mwoya?!” dia langsung meraih botol yang dipegang Hyukjae, dan membantu Hyukjae berbaring di sisinya.

”Ra…cuuun…” sahut Hyukjae pelan.

Jiyoo terperangah, air matanya mulai menetes. ”Dihabiskan semua? Dan tidak disisakan sedikit untukku?!” Jiyoo menatap dalam mata Hyukjae yang pupilnya perlahan mengecil. Jiyoo menggenggam tangan Hyukjae. ”Biarkan aku menciummu, barangkali masih ada racunnya di bibirmu…” dan Jiyoo mengecup bibir Hyukjae dalam.

Hyukjae terus menangis, dan berusaha bicara, tapi semua syarafnya sudah melumpuh.

”Bibirmu masih hangat…” tangis Jiyoo, dan membelai wajah Hyukjae.

Perlahan-lahan dan sangat perlahan, wajah Hyukjae membiru, dan sorot matanya mati. Hyukjae mati dengan air mata menetes, dan matanya memancarkan sorot pilu. Jiyoo menjerit histeris memeluk suaminya. Dia panik, dan berusaha membangunkan Hyukjae, namun sia-sia.

”Hyukjae-ya… jebal!” dipeluknya Hyukjae erat. Sampai matanya terpancang pada sebuah pistol, Jiyoo menariknya dan memeriksa pelurunya, kemudian mengokangnya.

Jiyoo menarik napas dalam-dalam, dan satu tangannya menggenggam tangan Hyukjae, dan satu tangan dengan pistol mengangkatnya ke pelipisnya. Jiyoo menutup matanya, diiringnya dengan pelatuk pistol. Jiyoo menyusul Hyukjae pergi dari dunia ini selama-lamanya.

 

*Halaman Gereja St Petrus*

Dua kantung jenazah keluar dari dalam gereja St Petrus, dan kedua kantung tersebut dimasukkan ke dalam ambulance untuk di otopsi. Sementara di kedua sisi ambulance, dua buah limosin diparkir, dengan Lee Donghae dan istrinya, Lee Haejin yang menangis tersedu di pelukan suaminya, begitu pula Choi Siwon dan istrinya, Park Ririn yang nyaris pingsan jika tidak disangga suaminya.

”Semua dihukum!” seru Leeteuk tegas kepada dua pasangan di depannya. ”Akibat perseteruan kalian, kalian lihat? Putra-putri kalian yang menjadi korban! Semua mendapatkan hukuman!”

Dan perseteruan dua keluarga, keluarga Lee dan Choi pun berakhir. Semua karena putra-putri mereka, Hyukjae dan Jiyoo, yang melepaskan hidup mereka, demi cinta sejati.

The End

akhirnya FF spesial untuk Couple tersayang, Shela a.k.a Choi Jiyoo kelar juga… hehehehe… mian yooo say kalo cuma bisa ngasih kayak gini, huhuhuhu… Untuk readers juga mian kalo mengecewakan, yang jelas saya terlalu cinta sama cerita Romeo & Juliet, wkwkwkwkwk

jangan lupa komen yaaaa

Twitter : @nisya910716

WP : indonesiaelfishy.wordpress.com

6 thoughts on “Hyukjae + Jiyoo ~Part 3~ PG-15 ENDING

  1. aigoooooo,, sedih amat yahh tpii knapa aku ga nangis yahh *mian eon*
    tpii tetep ko daebak bnged dahh.. yg adaptasi titanicnya ditunggu yah eonn^^

  2. .onnie~..ng’byangin si eunhyuk mati mnum racun,../dri kmren krja’ny ng’byangin mlu nih anak/*plakk*
    ..aigoo ak jd mrinding sndri ==”
    ,ok onn bgus deh pkok’a..
    .*g bza ngritik,.mzih mrinding*

  3. angst nya kereeeeeeeeen~~~~~~~~~~~~~~~~~~ hohoho, kenapa dibuat sadending onn? *terserah authornya sih ya* coba kalo dibuat happy ending ini lebih seru lo onn ^^ nice ff tapi, keep writing onn ^^~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s