Babydoll ~ PG-15 ~

Warning!!!

FF ini banyak adegan kekerasannya, jadi kalian pastinya tahu mana yang baik dan mana yang buruk, kan? jangan sampai salah penerapan adegan *?*

”Jadi dia itu gadis yang sering dibicarakan banyak orang…”

Aku menatap gadis yang berjalan anggun ke dalam gerbang sekolah, aku mengamati paras gadis itu dari ujung rambut ke ujung kaki, kemudian seulas senyuman terukiri di wajahku. ”Oh ya?” tanyaku.

”Ne… dia sering dibicarakan semua orang…” gumam sahabatku, Eunhyuk yang terus memandang gadis itu dengan tatapan benci, aku mengerti, dan tentunya sangat mengerti jauh lebih dalam daripada rasa benci Eunhyuk kepada gadis tersebut. Eunhyuk tidak tahu apa yang kuketahui tentunya.

Aku tersenyum lagi. ”Memang segitu parahnya kah gadis itu?”

”Ne, dia ganti pacar seperti ganti celana dalam!” kata Eunhyuk emosi.

”John Tucker Must Die… Jane Tucker Must Die?” tanyaku dengan sunggingan senyum semakin lebar.

”Yeah, kira-kira sama! Ya, kau kenapa tersenyum?”

Aku melirik Eunhyuk. ”Hyuk-ah… kau mau bertaruh denganku?”

”Apa? Dia?” Eunhyuk melirik gadis itu.

Aku mengangguk. ”Siapa lagi? Cuma dia mainan yang paling seru di sekolah kita untuk saat ini!”

”Bagaimana kalau imagemu hancur, Pangeran Mokpo?” tanya Eunhyuk sarkastik.

Who cares?” tanyaku kemudian berbalik dan tidak memandang jendela lagi.

Aku sengaja menyuruh Eunhyuk untuk tidak duduk di sebelahku, dan tebakanku memang benar, gadis itu masuk di dalam kelasku. Dia bersama wali kelasku sekarang sedang berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.

”Annyeonghaseyo, Lee Haejin-imnida… manasseo bangapsumnida.” Dia membungkuk.

”Haejin ini pindahan dari SMA Kyunghee…”

Siapa peduli? Pikirku, yang penting sekarang gadis itu harus duduk di sebelahku, dan rencanaku harus berjalan lancar dan mulus! Ketika tiba saatnya gadis itu memilih tempat duduk, aku menunjukkan senyumanku yang paling mempesona kepada guruku, dan guruku langsung menyuruh Haejin duduk disampingku.

Well, she’s got trapped!

”Annyeonghaseyo…” sapaku lembut.

Dia tersenyum dan membungkuk. ”Annyeonghaseyo…”

”Donghae…” aku mengulurkan tanganku, dan tentunya dia menjabatnya dengan mudah, gadis bodoh! Dia menjawab dengan suara beningnya, dengan lembut, namanya yang sebetulnya indah tersebut. Sayang gadis itu aslinya tidak seindah namanya, rutukku.

Gadis itu memandang ke depan, sambil membuka tasnya dan menarik keluar sebuah buku, lalu mulai memerhatikan apa yang guru bicarakan, hah! Pasti hanya gayanya saja, banyak yang terperangkap jerat manisnya, gadis murahan! Kalau tidak diberi pelajaran dia tidak akan jera, atau mungkin jika diberi pelajaran sekenanya, dia akan kembali seperti itu, dan membuat orang benci padanya! Hah, dasar gadis bodoh… dia yang memaksaku berbuat seperti ini. Dan dia lihat betapa sakitnya patah hati…

Jam istirahat, aku melihatnya keluar dari dalam kelas dengan anggunnya, membuat semua tatapan pria tertuju ke arahnya, dasar Siluman Rubah Betina pencari mangsa! Aku harus begerak cepat, atau akan ada yang mendekatinya duluan. Bukankah membunuh perlahan-lahan lebih enak rasanya dibandingkan membunuh langsung?! Lee Haejin, kau tidak tau bermain dengan siapa…

Kuikuti dia dari belakang, dan ternyata dia duduk di bawah pohon, yang lengang dan sepi, aku tersenyum kecil, kemudian menghampirinya dan menampilkan senyum terbaikku, meski aku hendak menerkamnya.

”Hai…” sapaku lembut.

Dia mendongak, agak kaget, terbaca dari ekspresi wajahnya, kemudian dia tersenyum. ”Hai…” balasnya.

Can I join you, please?”

Sure…” sahutnya.

Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya, dia terus bersandar di pohon, dan memejamkan matanya. ”Kau akan bosan disini…” katanya.

”Kenapa?”

”Bukankah lebih enak bermain seperti anak-anak disana? Disini kan cuma melamun-melamun saja…” sahut Haejin.

Kalau kau bukan kau juga aku tidak sudi duduk disini! Pikirku kesal, tapi tentu saja tidak aku tunjukkan, kan? Aku tersenyum dan mengeluarkan suara sehalus beledu milikku, ”Tapi disini indah, kan? Makanya kau mau disini…”

”Ne…” dia mengangguk. ”Disini lengang… tidak terlalu ramai.”

”Kenapa kau menolak keramaian?”

”Hanya karena… aku mau menolak keramaian.” Sahut Haejin sambil terus bersandar di dahan pohon.

Aku terus menatapnya lekat-lekat, berharap dia membuka matanya dan melihatku yang memerhatikannya, sehingga dia terjebak perangkapku. Dan dasar wanita, gampang di tebak! Dia membuka matanya dan menangkap mataku, dia nampak terkejut, dan wajahnya memerah. Hahahaha, siapa yang bisa menolak pesona Pangeran Mokpo, ya kan?

”Ada apa? Ada yang aneh di wajahku?” tanyanya heran.

”Ani, neomu yeppeo…” kataku, meski mau muntah!

Wajahnya makin memerah, aiyaaa dasar wanita dimana-mana sama saja! Ckckckck, aku tersenyum. Aku mengelus pelan rambutnya, rambutnya lembut, tentu saja… tipe wanita yang tidak mau pamornya jatuh, pastinya. Dia nampak terkejut dengan perlakuanku.

”Rambutmu lembut sekali…” aku menyuarakan seolah aku keheranan, dan sedikit menyelipkan nada kagum dalam kalimatku barusan, kena! Dia tersenyum.

Tinggal tunggu dia jatuh cinta padaku, dan hari itu adalah hari kematianmu, Lee Haejin-ssi.

 

*           *           *

Aku memainkan peranku dengan baik, yah memang sebetulnya aku anak baik-baik! Hanya saja kejadian yang terjadi pada Donghwa Hyung membuatku melakukan hal ini, gadis itu harus mendapatkan balasannya! Oke perlu kujelaskan siapa gadis bernama Haejin itu? Dia adalah mantan kekasih Donghwa Hyung. Cinta pertama Donghwa Hyung, kakak kandungku ketika masih SMA. Gadis itu masih kecil ketika Donghwa Hyung SMA, tentunya…

Gadis itu ternyata adalah seorang Queenka sekolah, patut kuakui secara fisik seorang Lee Haejin itu sempurna! Tapi, secara hati… dia sama saja seperti wanita jalang lainnya! Dia memacari pria-pria tampan dengan status tinggi, atau pria biasa dengan intelektualitas yang tinggi! Entah siapa yang bodoh, tapi bagiku pria-pria itu juga bodoh, karena mau saja dimanfaatkan siluman rubah betina seperti itu!

Donghwa Hyung itu tampan, pintar, tapi kami tidak kaya! Hingga Haejin yang ketika itu sedang ujian untuk kelulusan SMA mau menerimanya menjadi kekasihnya. Tidak Donghwa Hyung dimanfaatkan, dan begitu Haejin memperoleh nilai sempurna, dia selingkuh di depan hidung Donghwa Hyung dengan sahabat Donghwa Hyung sendiri! Donghwa Hyung yang baru pertama kali jatuh cinta pun shock, dan melakukan percobaan bunuh diri, sehingga terganggu jiwanya!

Lihatlah, wanita jalang… apa yang kau perbuat kepada kakakku?! Akan kukembalikan tiga kali lipatnya! Itu janjiku… beruntunglah begitu masuk SMA, gadis itu pindah ke luar negeri, dan di luar negeri ternyata dia sempat mempermainkan saudara sepupu sahabatku, Eunhyuk. Eunhyuk sangat sakit hati pada Haejin, dan ternyata begitu kuceritakan tentang kakakku yang juga disakiti seorang gadis, kami sama-sama tahu kalau kami mengincar gadis yang sama.

”Jadi, apa rencanamu?” tanya Eunhyuk padaku di ruangan klub.

”Apalagi? Aku sudah menyiapkan rencana paling sadis yang bisa kupikirkan untuk balas dendam…” aku tersenyum.

Eunhyuk tertawa. ”Aku tidak menyangka kau punya otak iblis juga…”

”Dia itu siluman, tak ada yang bisa melawan siluman jika bukan iblis! Lagipula, kalau nanti dia makan korban orang dekat kita lagi bagaimana?!” tanyaku geram.

”Ne, kuserahkan semua padamu…”

”Tapi saat aksi balas dendam harus dibalas, kau harus membantuku…”

”Memang apa sih rencanamu?” tanya Eunhyuk heran.

”Kau akan tau, nanti…”

Eunhyuk cuma mengangguk, ”Aku percaya padamu… asal jangan kau malah ujung-ujungnya jatuh cinta pada gadis itu.”

Aku mengetok kepalanya kencang, Eunhyuk meringis. ”Jangan bicara sembarangan, Lee Hyukjae!”

 

*3 Months Later*

Aku dan Haejin sudah sangat dekat sekarang, semua orang di sekolah menganggap kami sebagai pasangan yang sangat serasi. Dia cantik, dan aku tampan… meski sejujurnya aku muak sekali, aku mau langsung membalaskan dendamku kepadanya, tapi aku tidak boleh gegabah, salah-salah justru dia malah mencari kumbang lain! Dasar bunga mawar, cantik-cantik tapi berduri!

Mungkin orang-orang mengira kami berpacaran, karena aku selalu ikut kemana dia pergi, dan dia merasa nyaman kapan pun aku mengikutinya. Tapi satu hal yang membuatku heran, dia tidak seperti yang Eunhyuk dan Donghwa Hyung gambarkan! Dia tidak suka pergi ke club, dan dia selalu sendiri di sekolah, ya kecuali bersamaku tentunya. Apa yang terjadi pada Siluman Rubah Betina ini? Tidak mungkin dia berhenti mencari mangsa, kan?

Di sekolah, jika aku sedang latihan sepakbola, dia selalu memilih menyendiri di bawah pohon tempat pertama kali aku mendekatinya, pulang sekolah kuantar, dan aku menunggu di depan rumahnya hingga malam, dia tidak keluar sedikit pun, kecuali untuk membeli sesuatu di toko kelontong.

Tapi beberapa kali kulihat, pria-pria yang sudah paruh baya, ganti-ganti datang ke rumahnya, tidak masuk ke rumah, tapi memaksa Haejin keluar. Yang terjadi, Haejin justru lapor polisi, atau bahkan menyirami mereka dengan air, dan yang paling parah, sehingga membuatku harus ikut lari adalah, dia melepaskan anjing herdernya yang sangat besar kepada kawanan ahjussi-ahjussi itu!

”Mainannya sama Ahjussi-ahjussi…” aku geleng-geleng. ”Dasar Siluman Rubah Betina!” aku meremas kaleng softdrinkku, kemudian ku buang ke tempat sampah. Rasanya malam ini adalah malam yang tepat untuk melaksanakan aksi balas dendamku kepada Lee Haejin!

Aku mengeluarkan ponselku, dan menghubungi Eunhyuk.

”Yeoboseyo…” sahut Eunhyuk dari ujung telepon.

”Kurasa nanti malam saat yang tepat untuk menjalankan rencanaku, Hyuk-ah…” sahutku pelan.

”Woah…” Eunhyuk terdengar amat sangat kagum. ”Jinjayo? Akhirnya… kukira kau benar-benar telah jatuh cinta pada wanita jalang itu?”

”Kubilang waktu itu apa?! Jangan pernah salah pikir…”

”Ne, aku kan percaya padamu… lalu apa yang harus kulakukan?”

”Kau buat seolah-olah malam ini aku mau membuat pesta kejutan dengan pesta kejutan kepadanya?”

”Lalu?”

”Lalu lihat nanti saja apa yang kulakukan padanya disana…” sahutku.

”Oke, kurasa aku bisa sedikit menebak jalan pikiranmu…” kata Eunhyuk lagi. ”Berikan saja alamatnya, nanti aku akan menjemput anak itu.”

”Oke…” aku menutup flip ponselku, dan segera mengirimkan lokasi dimana gadis itu akan dibawa malam ini. Setelah mengirimkan pesan kepada Eunhyuk, aku langsung pergi menuju tempat itu, untuk melakukan persiapan untuk menghabisi gadis yang paling kubenci itu!

Aku pergi ke tempat itu, Mokpo, ya kampung halamanku, dan kampung halaman gadis itu! Tempat dimana dia membuat kakakku jatuh hati, dan akhirnya kakakku jadi seperti ini. Setelah persiapan selesai, aku pergi ke rumah sakit, untuk menemui kakakku.

Aku melihat Donghwa Hyung yang duduk lemah di dalam kamarnya, memandang nanar ke arah jendela, dan tangannya menggenggam sesuatu. Aku tersenyum, ”Hyung… tunggulah, akan kuselesaikan sakit hatimu…” aku meraih cincin itu, cincin yang dikembalikan Haejin padanya dulu, kemudian aku keluar dari kamarnya.

Aku kembali ke tempat itu. Hanya sebuah gudang, yang kusulap sedemikian romantis, untuk mengelabui Haejin. Dengan meja bundar dibalut taplak putih, lilin, dan bunga mawar, yang melambangkan dirinya.

Cantik, tapi berduri!

Aku kemudian memeriksa perlengkapan balas dendamku, semua sudah siap! Ponselku berdering, Eunhyuk mengabarkan bahwa dia sudah membawa Haejin kembali ke Mokpo! Disini dia lahir, dan disini pulalah dia harus berakhir… aku tersenyum sinis.

Malam akhirnya tiba, memang lebih enak begini, tak ada orang yang akan mendengar jeritannya! Tak lama kemudian pintu gudang terbuka, aku menoleh, dan menampilkan senyum terbaikku, Eunhyuk masuk mendorong Haejin yang matanya telah ditutup. Tapi tidak secara paksa, belum tahu dia yang sebenarnya.

Good luck, dude!”

Thanks…” sahutku, Eunhyuk keluar dari dalam gudang,

Aku mengunci pintu gudang perlahan-lahan, agar Haejin tidak mendengarnya kemudian aku menghampiri Haejin yang masih diam di tengah ruangan, perlahan-lahan aku bukakan ikatan di matanya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, ruangan ini memang temaram, karena hanya dibantu oleh cahaya lilin yang terletak di meja bundar tersebut.

Dia nampak kehabisan kata-kata. ”Woa…” hanya itu yang terucap di mulutnya ketika melihat yang terjadi di depan kami.

”Suka?” bisikku di telinganya.

Dia cuma mengangguk. ”Ini indah sekali…”

”Ayo…” aku menggandengnya, dan mengajaknya duduk di kursi. Dia duduk dan tersenyum, kemudian aku berpindah duduk di depannya. Dan menatapnya sambil tersenyum. ”Bagaimana?”

Dia cuma tersenyum. ”Kenapa Mokpo?” itu yang terlontar.

”Kau kan orang Mokpo, aku juga orang Mokpo… lebih baik kita berkencan di tempat asal kita kan…” sahutku.

Dia nampak terkejut, ”Kau orang Mokpo?”

”Kenapa? Kok kau kaget? Tidak pernahkah melihat pria Mokpo setampan diriku?” tanyaku narsis.

Dia tertawa.

”Ah, ya… aku punya hadiah untukmu…”

”Apa?” tanyanya.

”Bukalah…” aku menunjuk sebuah tudung saji yang biasa digunakan untuk menutupi hidangan.

Haejin nampak penasaran, kemudian dia membuka tutup itu perlahan-lahan, dan langsung pandangannya terpaku pada sebuah cincin emas putih yang terletak di tengah-tengah piring. Cincin itu jika dirawat tentunya masih amat berkilat, dan berkilau, tapi berhubung semenjak Donghwa Hyung dan Haejin berpisah, hal itu tidak terjadi.

”Ini…” Haejin ternyata tahu itu cincin apa, wajahnya berubah pucat.

Aku tersenyum. ”Wae?” tanyaku.

Dia mendongak dan menatapku ngeri. ”Cincin ini… bagaimana… bisa… ada di tanganmu?”

”Memang ini milik siapa sebelumnya?” tanyaku.

”Donghwa Oppa…”

Aku tersenyum simpul, berbeda dengan senyum yang biasa kuberikan kepadanya sebelum ini. Kali ini aku benar-benar menunjukkan kepadanya siapakah aku sebenarnya, dan dia sudah tidak punya jalan untuk lari.

”Kau siapa?” tanya Haejin ngeri.

”Aku, Lee Donghae… adiknya Lee Donghwa…” sahutku. ”Kau kira selama ini kau mengenalku? Cih, aku yang mengenalmu, aku tahu siapa kau sebetulnya Lee Haejin! Gadis murahan!”

Matanya melebar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tidak mempan! Aku tidak akan pernah mengampuninya telah membuat kakakku seperti ini. ”Kenapa? Mau nangis? Nangis sana… kau mau berteriak, silakan teriak! Tidak ada yang bisa mendengarmu… kau mau kabur, pintunya cuma satu, dan kuncinya ada padaku…”

”Apa maksudmu?! Kenapa kau melakukan ini padaku?!” teriak Haejin mulai menangis, dia berdiri.

”Kenapa?” aku berdiri, dan berdiri tepat di hadapannya dan tersenyum meremehkan, ”Kau kira aku tidak punya pertanyaan yang sama denganmu, Gadis Jalang?! Kenapa kau meninggalkan kakakku, dan kau lihat apa yang terjadi pada kakakku?!” suaraku mulai meninggi, aku mengambil vas bunga dan membantingnya, Haejin menjerit. ”Kau benar-benar gadis murahan! Aku tahu semua tentangmu…”

Dia menangis ketakutan.

”Kau lihat apa yang terjadi pada Hyungku?! DIA TERKENA GANGGUAN JIWA, HANYA KARENA GADIS MURAHAN SEPERTIMU?!”

Haejin menangis tersedu, aku mendorongnya ke sebuah tiang dari besi yang terletak di tengah ruangan, kemudian dari sakuku kukeluarkan tali, kuangkat kedua tangan Haejin tinggi ke atas, meski Haejin menangis meronta-ronta, aku mengikatnya, dengan kasar! Kemudian aku mengikat kaki Haejin juga, sehingga Haejin hanya bisa menggerakkan badannya.

”Toloong… aku sama sekali… tidak bermaksud seperti itu…” isak Haejin berusaha memohon.

”Tidak mempan!” kemudian aku mengambil botol anggur yang terletak di meja dan membuka tutupnya.

Haejin menunduk ketakutan. ”Apa yang mau kau lakukan?”

”Apa ya?” godaku kemudian membuka gabus penutup botol anggur, dan kuguyurkan isi anggur tersebut ke atas kepala Haejin, Haejin menjerit, menangis, dan gemetaran, setelah seluruh anggur tersebut habis tumpah ke atas seluruh tubuhnya, aku memecahkan botolnya lagi, dan Haejin kembali menjerit.

Haejin menatapku penuh permohonan. ”Oke, aku memang salah… tapi… aku menyesal… sumpah… aku menyesal!”

”Alibi!” aku menampar wajahnya kuat dengan genggaman beling di tanganku.

”AAAHH…” jeritnya.

Aku langsung menelengkan wajahnya agar menatapku, garis luka di wajahnya yang cantik, dan darah yang warnanya mirip dengan anggur. Aku tersenyum simpul, ”Kau sudah tidak bisa memikat pria-pria lagi sekarang…”

”Ampuni aku, Donghae-ya… aku tidak bermaksud seperti itu…”

”Alasan ah!” sahutku ringan sambil terus menampar wajahnya.

Haejin kembali menangis. Aku kemudian mengangkat dagunya, membuatnya menatap mata indahku, dan aku tersenyum. ”Lee Haejin, yang seluruh pria di Mokpo mengenalinya sebagai gadis yang paling cantik, idola para pria… tapi bagiku kau murahan, lho…”

”Izinkan aku menjelaskan semuanya, Donghae-ya…” isak Haejin ketakutan.

Aku tersenyum sinis, kemudian dengan pecahan beling tersebut kuukir wajahnya perlahan-lahan, tidak peduli ringisan, teriakan, bahkan tangisan gadis itu, yang terpenting adalah sekarang bagaimana menyiksa gadis itu, agar mentalnya menjadi terbelakang seperti kakakku.

”Kumohon, Donghae-ya… sudaaah… sakit!”

”Oh ini belum seberapa…” sahutku manis, kemudian dengan beling tersebut, kurobek bajunya, sekaligus mengenai kulitnya. Dia menjerit semakin histeris dan ketakutan.

Aku tertawa. ”Kau mau menjerit sampai kapan pun, tidak akan ada yang mendengar, Haejin-ah… percuma!”

”Dimana belas kasihanmu, Donghae-ya?” ujar Haejin memohon.

”Belas kasihan?” aku menarik rambutnya ke belakang, sehingga wajahnya menatapku. ”Apa kau punya belas kasihan waktu meninggalkan kakakku?!”

”Sumpah! Aku tidak bohoooong… kakakmu yang memaksaku…” aku semakin menjambak rambutnya, hingga ia tidak bisa meneruskan kata-katanya. Kurobek semua bajunya dengan sayatan beling langsung kepada kulitnya.

Aku memerhatikan tubuhnya yang sudah terekspos dari ujung rambut hingga ujung kaki. ”Jadi ini yang kau jual pada laki-laki?”

”AKU TIDAK SERENDAH ITU!” teriak Haejin marah.

Kutampar lagi wajahnya. ”Bicara lagi membela diri, kau akan langsung mati…”

”BUNUH SAJA AKU!”

”Ani, membunuh pelan-pelan lebih enak daripada langsung! Dan tenang saja, nanti juga kau kubunuh…” aku mendekatinya perlahan-lahan, dan menyentuh tubuhnya, dia menjerit dan semakin menangis. Oh, dia salah… semakin dia menangis, semakin aku menjadi. Semakin dia menjerit, semakin keras kuhujamkan beling ini kepada tubuhnya.

Setengah jam kemudian, Haejin sudah tergantung-gantung seperti itu di tiang, dengan aku yang hanya memakai boxer duduk di kursi makan, menatap langsung ke arahnya.

”Kukira kau sudah bekas…”

Haejin menangis pilu, seluruh tubuhnya sudah bau amis darah bercampur wangi anggur. ”Kau kejam… kau kejam…”

”Kau lebih kejam, dan kau yang membuatku jadi kejam…” aku berdiri dan memakai semua pakaianku lagi, dan mendekatinya lagi, melihat matanya yang sudah terasa mati. ”Nikmati perjalananmu ke surga, Lee Haejin-ssi…”

Dia menatapku nanar.

Aku mengambil bensin, dan menuangkannya ke atas kepalanya, dia menangis terus dan menatapku ketakutan. Aku menyalakan korek api dan menaruh apinya tepat di atas kepalanya, dia menjerit, kemudian aku keluar dari dalam ruangan.

Hyung, dendammu terbayar… aku tersenyum dan pergi dari situ.

 

*1 Year Later*

”Aku tidak tahu kalau Donghae bisa senekat itu…” isak Donghwa di depan ruangan adiknya. Donghae sedang dikurung di dalam ruangan, atau dia bisa menyakiti dirinya sendiri.

Eunhyuk mengangguk sedih. ”Aku kira… dia hanya balas dendam apa, tapi dia membunuh Haejin, Hyung… aku yang salah, seharusnya aku menghentikannya berbuat sejauh itu…”

”Haejin tidak salah…” sahut Donghwa. ”Memang aku yang memaksanya agar jadi kekasihku, karena itulah aku terpuruk sendiri…”

”Dan dia dicap seperti itu oleh semua orang… padahal dia begitu mencintai Donghae.”

Haejin hanyalah korban, oleh gosip tidak enak di Mokpo, dia tidak pernah mempermainkan siapa pun. Dia melarikan diri karena tidak tahan dengan gosip tersebut, di luar negeri, ternyata ada orang yang juga tahu tentang gosip tersebut, sehingga Haejin tidak bisa tenang. Akhirnya ia kembali ke Korea, ke Seoul, dan bertemu Donghae.

Disitu dia betul-betul jatuh cinta, itu semua dapat diketahui dari buku harian Haejin, begitu Haejin dimakamkan. Donghwa pulih, Donghae akhirnya yang mengalami gangguan kejiwaan, karena merasa bersalah.

END

Hueeee, jangan mutilasi saya… hehehe, kalian pasti kalo yang sering baca FF buatan aku, tahu kalau aku GAK PERNAH bikin image Donghae jahat, sekalipun? wkwkwkwk, jadi sekaranglah saatnya… hahahahaha… yang jelas aku pun gak berharap Donghae seperti itu, *hug ikan, sea, sky* wakakakakaka

jangan lupa komen yaaa… dan INGAT, ini hanya FF belakaaaa… gak ada maksud apa-apa…

16 thoughts on “Babydoll ~ PG-15 ~

  1. #Cengo
    emg hae bisa gtu megang beling?wkwkwk.
    kurang sadis nih kuraaang #plak
    wkwkwk.
    keren kereeen,ikan bego bnget disini -.-

  2. Ngeri sya pas adegan mka haejin d gores pke beling…. acchhhh! oennie drimu berhasil membuat drq gemeteran… tpi tetep KEREN!!!

  3. Onn…. klo bisa buat hae jahat d FF yg lain kan lebih keren… hehehehe…

    ntar klo nangis terus matax bisa kayak panda…

    Pengen lihat dormX mereka seperti kapal pecah ala Hae…

  4. ini udah pernah baca tapi karena aku suka jadi kubaca lagi :p
    sumpah yahh unn,, saya ngeri ngebayanginny.. sii ikan tega nian dirimu.. bahasa penulisannya bagus bnged unn..
    aku kaget tuhh pas hae bilang “kukira kau sudah bekas” haduhh sakit hati luar dalem itu mahh…
    sumpah dahh tega.. uda nyayat pake beling pula ,, sebelum dibunuh direnggut keperawanannya pula..
    aigooo tetep dahh ff unn DAEBAKK!!

  5. Hwaduh dibunuh perlahanlahan itu lebih sakit drpd langsung ;____;
    Donghae tega nih *lemparkekolam* main hakim sendiri pula gamau dengerin penjelasan orang *lemparikan*
    Suka jalan ceritany thor xD tp ga suka bagian dia diukirukir itu-_-
    10 thumbs up ;D

  6. KEJAM,,,
    cm tu yg ad dpkiranq pas Haejin mukax diukir2,,!!!
    mang dy batu diukir,,,!!!hehehe
    g xangka Donghae bs jahat jg t’xata,,,!!!
    tp keren bgt lah,lain dr pd crt Jinhaexy yg lain,,,!!!^^

  7. annyeong unnie-ya aku hapchan new raeders;)
    sumpaaaaaaaaaaaah keren disini ff nya!!! donghae kejem banget dan berakhir gila._. keep writing unnie!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s