Cinta Pertama ~Part 2~ Ending

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

”Kamu dateng…” ucap Kyu. ”Terima kasih, aku sudah menganggapmu saudara, karena kau mau datang kesini…”

”Kyuhyun-ssi, aku tidak yakin aku bisa membantu…” kata Donghae lirih di depan kamar rawat Haejin. ”Aku harus apa disini?”

”Ajaklah dia bicara… mungkin itu yang dia butuhkan,” jawab Kyuhyun. Kemudian dia mengeluarkan buku harian Haejin. ”Ini…”

”Itu?” tanya Donghae. ”Itu buku harian Haejin…”

”Ne… ini…” Kyuhyun menyodorkan buku hariannya kepada Haejin.

”Buat apa?” tanya Donghae menolak. ”Ini buka hariannya Haejin, tidak boleh dibaca orang lain.”

”Tapi itu isi hatinya… dan dari situ aku tau kamu, Donghae-ssi…”

Donghae menatap Kyuhyun lurus tepat di manik mata. ”Nggak seharusnya kamu baca buku itu, Kyuhyun-ssi.”

”Chihoon juga bilang begitu…”

”Chihoon?!” mata Donghae membelalak lebar. ”Cho Chihoon?! Sahabatnya Haejin waktu SMA?”

”Ne, mereka masih bersahabat… dan kebetulan, Chihoon itu adikku…” jawab Kyuhyun, sinar harapan seperti sudah tidak ada sama sekali di wajahnya, dia lalu membuka pintu kamar rawat Haejin. ”Donghae-ssi, masuklah… aku cuma bisa melakukan yang terbaik, bagi orang yang aku cintai.”

Donghae menatap Kyuhyun dalam, kemudian dia masuk perlahan-lahan ke dalam kamar rawat Haejin. Diletakkannya tasnya di sofa, kemudian menarik kursi dan mendekati ranjang Haejin sambil duduk di kursi tersebut.

”Haejin-ah, annyeong…” sapanya dengan suara tercekat. Tak ada jawaban dari gadis itu, dia tetap baring dan diam. Gadis yang semasa SMA dikenalnya tidak pernah sedih, dan selalu ceria itu, kini benar-benar kaku dan diam di hadapannya. ”Ya ampun, kok diem aja sih? Kita kan udah lama nggak ketemu…” lanjut Donghae, tipis sekali harapan Haejin menjawabnya, tapi tidak dapat dipungkiri Donghae juga berharap. ”Ayo bangun dong… nanti kita ke kafe depan SMA lagi, kamu minum jus jambu nggak manis, dan nggak pake susu…”

Tanpa disadarinya tangannya menggenggam tangan Haejin.

”Donghae?” panggil suara dibelakangnya.

Donghae menoleh ke belakang, dan kaget mendapati Cho Chihoon. ”Chihoon-ah, annyeong…” Donghae langsung melepaskan genggamannya kepada Haejin.

”Hai…” sapa Chihoon agak kurang suka. ”Kau sedang apa disini?” tanyanya.

”Kyuhyun-ssi yang memberitahu kalau Haejin sekarang sedang sakit. Jadi sebagai temannya waktu SMA, boleh kan aku menjenguknya?” tanya Donghae, karena dia tahu sekali kalau Chihoon nampak tidak suka dengan kedatangannya.

”Astaga!” keluh Chihoon gusar. ”Donghae-ah… kau itu datang dari masa lalu Haejin! Kau tidak pantas berada disini! Karena kakakku, Kyuhyun, adalah tunangan dari Haejin sekarang.”

”Aku tau, aku tau…” kata Donghae pelan. ”Chihoon-ah… izinkan aku disini, anggap saja menjenguknya… menjenguk teman lamaku…”

Chihoon hanya bisa mengangguk pelan. ”Kalau memang yang kau katakan itu benar, aku tidak bisa berkata apa-apa!” Chihoon kemudian keluar dan mencari kakaknya yang sedang duduk lemas di kursi. ”Oppa!”

”Waeyo?”

”Kenapa Oppa bawa dia kesini, sih?!” kata Chihoon kesal.

”Chihoon-ah…” Kyuhyun mendongakkan wajahnya yang terluka. ”Kau kira aku suka melakukannya?! Aku juga menderita… tapi aku sangat mencintai Haejin! Aku mau dia bahagia!”

”Tapi bukan dengan cara mendatangkan Donghae kesini‼!” Chihoon kemudian duduk dan mengguncang bahu kakaknya. ”Oppa! Sekarang apa yang Oppa lakukan adalah demi Haejin! Kalau Haejin nanti sadar… yang dilihat Haejin bukan Oppa, tapi Donghae! Oppa, aku tahu Oppa bisa melakukannya sendiri… suruh Donghae pulang! Nanti kalau Haejin sadar, yang akan dilihat Haejin itu Oppa! Bukan Donghae…”

Kyuhyun tetap menunduk dan menggeleng. ”Aku tetap yakin, dengan membawa Donghae kesini, itu berarti kebahagiaan Haejin.”

Sementara Donghae duduk memandangi gadis yang dikenalnya dulu itu. Gadis ceria yang ceroboh, yang suka gerimis.

 

*Flashback*

”Hoi!”

”Hai…”

Donghae duduk di hadapan Haejin, yang dengan tampang madesu, berbaring di meja kafe depan sekolah. ”Kau ini… sebentar lagi ujian akhir, tidak adakah kegiatanmu yang lain selain tidur disini?”

”Molla…” jawab Haejin tak semangat.

”Aigooo… Haejin-ah, kita belajar bareng saja…”

Haejin langsung duduk tegak. ”Belajar bareng???”

”Iya, kalo belajar sendiri emang suka bikin nggak semangat…” kata Donghae sambil tersenyum pada wajah Haejin yang cemberut.

Shindong Ahjussi kemudian datang membawa pesanan Haejin. ”Ini Agesshi, jus jambu, gulanya sedikit, nggak pake susu kesukaannya Haejin Agesshi. Dan ada Donghae… kopi?”

”Ya, makasih ya Ahjussi…”

Akhirnya hari itu, Haejin mulai bersemangat belajar, karena pria idamannyalah yang membantunya belajar, meski keduanya kelas. Chihoon sering kali meledek Haejin yang jadi semangat belajar karena semangat dari Donghae yang memang juara sekolah.

Lembar di buku harianku ini, belumlah habis… tapi ceritaku di masa SMA-ku, akan segera habis dan berakhir. Ya Tuhan, rasanya aku ingin menghentikan waktu sekarang juga. Aku tidak ingin menjadi dewasa, aku tidak ingin menjadi mahasiswa… aku ingin menjadi angin, yang bisa berhembus kemanapun dia pergi…

Haejin menutup buku hariannya dan melihat jam, sudah pukul dua belas malam. Ya, tak terasa, setelah melalui perjuangan panjang, besok adalah hari pengumuman kelulusan. Haejin bukan tidak ingin lulus, tapi Haejin masih belum ingin berpisah dengan Donghae.

Ketika dia melihat ke luar jendela, gerimis turun. Haejin mau tak mau menjadi senang, perasaannya kemudian menghangat. Gerimis selalu membuat perasaannya menjadi hangat.

 

*Flashback End*

”Haejin-ah! Haejin-ah! Ireona… gerimis! Gerimis! Coba deh kamu liat keluar jendela… sekarang sedang gerimis!” Donghae nampak bersemangat, ”Inget kan, dulu kita pernah main gerimis bareng… bahkan pura-pura kalau ada gerimis…”

Tapi tubuh Haejin tetap diam, dengan selang-selang penopang hidup, dan dengan denyut nadi yang bergerak dengan irama lemah yang sama. Gerimis yang berbeda, di depan dua insan manusia yang sama.

”Haejin-ah…” Donghae mengelus pipi gadis itu, dan tanpa sadar mengecup dahinya. ”Ireona… bangunlah… bogoshipo…” air mata mengalir dari sudut mata Donghae. ”Bangunlah, Haejin-ah… kita lihat gerimis lagi sama-sama…”

 

*Flashback*

”CHUKAE!”

Haejin dan Chihoon berpelukan, kemudian tanpa tedeng aling-aling, keduanya saling menyematkan tanda tangan di kaus seragam masing-masing. Kemudian bersama teman-teman sekelas yang lain, saling membubuhkan tanda tangan lagi di masing-masing seragam. Sekarang seragam Haejin dan Chihoon sudah penuh.

”Aduuuh udah siaang…” Chihoon merenggangkan badannya. ”Haejin-ah, aku mau pulang! Aku harus memberitahu kabar ini, he he he… lagipula seragamku sudah penuh coretan. Kau mau pulang juga?”

Haejin menggeleng. ”Ani… aku masih menunggu seseorang…” dan Haejin menge-darkan pandangannya ke sekeliling sekolah, yang semuanya sudah ramai tapi tetap tidak ditemukannya sosok yang dia cari.

”Aigo! Mencari Donghae lagi?” tanyanya kemudian berdecak, dan menepuk bahu sahabatnya. ”Haejin-ah, ini sudah lulus… katakan kepadanya, nanti keburu kuliah… memang kau dan dia akan melanjutkan ke Universitas yang sama? Tidak, kan?”

Mendegar kata-kata Chihoon, Haejin langsung terdiam. Tapi Chihoon kemudian menepuk bahunya, dan pamit pergi. Tak lama Haejin yang mengedarkan pandangan di daerah sekitarnya. Masih banyak yang berebutan melihat pengumuman kelulusan, untuk sekedar mengecek berapa nilai mereka, dan banyak di sekitarnya yang sedang gantian memberikan tanda tangan di seragam.

Akhirnya Haejin menemukan sosok itu, berjalan dengan tenang dan santai. Sambil menyapa beberapa temannya. Seragamnya masih bersih, dia tersenyum pada beberapa teman yang menyapanya. Haejin sih yakin pria itu akan lulus, Haejin menghela napas dalam-dalam kemudian berjalan menghampirinya.

”Hai…” sapanya cerah.

”Hai…” balas Haejin, suaranya bergetar. ”Udah cek nilai?”

”Lulus…” Donghae mengangguk dan tersenyum. ”Bagaimana denganmu? Kalau lihat dari seragamnya yang penuh… lulus deh pasti. Chukae, ya…” Donghae mengelus rambut Haejin pelan.

Rasanya seperti ada aliran listrik yang menjalar, Haejin mengendalikan perasaannya lagi, kemudian berkata. ”Bolehkah aku menandatangani bajumu?”

”Keureom…” Donghae mengangguk. ”Bajuku belum ada yang menandatangani…” dia tertawa.

Haejin mengeluarkan spidol hitamnya dari dalam sakunya, dan membuka tutupnya. Donghae memandang bajunya kemudian menatap Haejin. ”Terserah deh… mau tanda tangan dimana…”

Haejin menatap baju putih polos itu, kemudian menghela napas. Dan menandatangani seragam Donghae di bagian dada kanannya. Harapanku, agar hatimu tahu disini ada hatiku… ucap Haejin dalam hati. ”Udah… sekarang gantian, kau yang tanda tangani bajuku!” Haejin menyerahkan spidolnya pada Donghae.

Donghae menatap seluruh baju Haejin yang sudah penuh dengan tanda tangan. ”Hmm…” Donghae melepas tutup spidol. ”Tapi, Haejin-ah… kayaknya bajumu sudah penuh deh…”

Haejin kemudian mengangkat kerah bajunya dan berbalik. ”Ani… selalu ada tempat kok, untukmu…”

Donghae tersenyum, kemudian menandatangani baju Haejin di bagian kerah dengan tanda tangan yang agak besar. ”Ikut aku, yuk…” Donghae langsung menggandeng Haejin pergi dari situ, Haejin ikut berlari. Keduanya berlari diiringi tiupan angin, dan bunga-bunga yang berguguran.

”Donghae-ah, kita mau kemana?” tanya Haejin.

”Ayo, tebak mau kemana?” Donghae terus berlari sambil menggandeng tangan Haejin, hingga ke bagian belakang sekolah. Mereka bisa melihat padang rumput yang indah di hadapan mereka.

Haejin terpana. ”Wow! Aku nggak pernah tau ada tempat seindah ini di belakang sekolah…” tapi kemudian kata-katanya terputus karena melihat wajah tampan Donghae sedang menutup matanya, menikmati semilir angin.

Ada suatu pepatah yang berkata, katakan perasaanmu pada momen dimana kamu merasa kamu bisa mengatakannya… karena, jika momen itu berlalu, kamu tidak akan pernah sempat mengatakan perasaanmu lagi.

Haejin tertegun, dibukanya mulutnya. ”Donghae-ah… sebenarnya…”

Donghae membuka matanya, kemudian menarik Haejin turun ke padang rumput itu. ”Haejin-ah… pura-pura kalau sekarang sedang gerimis, yuk…”

”Ne?” tanya Haejin kaget.

”Iya, bayangkan kalau sekarang itu gerimis… dan kita lagi menikmati gerimis itu,” sahut Donghae penuh senyum.

Haejin cuma bisa tersenyum. Kesempatan itu berlalu, benarkah? Haruskah aku menyimpannya di dalam lembaran ini? Sampai aku mati? Dan tidak pernah tersampaikankah perasaanku? Dan bagaimana dengannya? Sudah lama ingin kutahu, apakah dia juga mencintaiku sama seperti aku mencintainya?

”Tutup matamu…” kata Haejin pelan, sambil menutup matanya sendiri. ”Dan rasakan kalau bulir-bulir gerimis sedang menyentuhmu…” Donghae tersenyum dan ikut memejamkan matanya.

Keduanya mengangkat tangan mereka, membayangkan air mengalir pelan membasahi tubuh mereka, dan keduanya berputar di tengah padang rumput yang indah itu. Haejin masih saja memejamkan matanya, merasa sungguh bahagia. Tapi, Donghae telah membuka matanya, dia kemudian memetik bunga liar berwarna kuning yang ada di dekat mereka.

Haejin perlahan membuka matanya, dan kaget mendapati Donghae sudah memegang sekuntum bunga di hadapannya. Begitu Haejin meraihnya, Donghae berlari pergi sambil tertawa.

”HUAAAAA AKU DAPAT BUNGAAAAA‼!” Haejin jerit-jerit bahagia dan berputar di lapangan itu sendiri.

 

*Flashback End*

Kyuhyun menatap sosok Donghae yang berbaring ditepi ranjang Haejin, Kyuhyun kembali membuka buku harian Haejin, dan menemukan setangkai bunga yang sudah usang.

Buku itu menyimpan banyak hal yang dia tidak tahu tentang Haejin. Siapa yang menyangka, bunga yang didapatkannya nyari sepuluh tahun yang lalu masih dia simpan di belahan halaman buku ini. Hati Kyuhyun semakin sakit, hendak dibuangnya buku harian itu, namun tidak sanggup.

Sampai dia menoleh ke jendela, dan melihat sesosok wanita sedang menatap ke dalam kamar Haejin, lalu berlari menangis. Kyuhyun meletakkan kembali buku harian Haejin, dan berlari keluar kemudian menangkap lengan wanita yang sedang berlari sambil menangis.

”Yoonrae-ssi…”

Yoonrae menangis tersedu. ”Dia bilang… dia bilang… dia nggak akan kalah dengan kenangan!” Yoonrae kemudian duduk lemas, Kyuhyun ikut berjongkok. ”Kyuhyun-ssi, apa kau pernah mempertimbangkan perasaanku ketika kau meminta Donghae kesini menemu Haejin-ssi?”

”Yoonrae-ssi, mianhae…” ucap Kyuhyun pelan.

”Selalu dan selalu…” Yoonrae kembali menangis. ”Kau dan Donghae! Yang kalian pikirkan cuma Haejin! Kalian sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku! Kyuhyun-ssi, apa kau percaya cinta sejati?”

”Kalau saja cinta sejati itu artinya adalah Kau dan Donghae-ssi, serta aku dan Haejin…” jawab Kyuhyun sambil menunduk.

”Terima kasih, Kyuhyun-ssi, atas kedatanganmu… yang membuat rumah tanggaku berantakan!” Yoonrae berdiri dan pergi dari situ. Kyuhyun hanya bisa menghela napas dalam-dalam.

Kyuhyun memutuskan untuk menelusuri tempat-tempat yang disebutkan oleh Haejin di dalam buku itu, seperti kafe yang sering Haejin tuliskan kalau dia sering menghabiskan waktu di tempat itu, awalnya bersama Chihoon, belakangan lebih sering bersama Donghae begitu dia mau lulus.

Kyuhyun duduk dan memesan minuman yang biasa dipesan oleh Haejin. Jus jambu dengan sedikit gula, tanpa susu. Tapi yang tidak diduga olehnya adalah, bahwa kemudian Donghae juga datang kesitu, seolah-olah melengkapi potongan-potongan masa lalu Haejin.

”Dia biasa duduk disini…” Donghae berkata sambil tersenyum, dan duduk di kursi, kemudian dia mengelus meja itu.

Kyuhyun mengangguk, dan tersenyum, air mata kesedihan sudah tidak mampu lagi ditahan oleh Kyuhyun, meski begitu dia masih mencoba tersenyum. ”Dia dulu… aniya, bahkan sampai sekarang… masih suka minum jus jambu, tanpa susu, dan dengan sedikit gula…” kata Kyuhyun tersendat.

”Kyuhyun-ssi…” panggil Donghae pelan. ”Jangan berkata seolah-olah Haejin udah nggak ada!”

Kyuhyun menutup kedua wajahnya. ”Aku sudah berusaha… tapi aku masih tidak tau apakah dia bisa bertahan? Kondisinya masih sama, sama sekali nggak berubah… dia tetep tidur…”

”Kyuhyun-ssi…” Donghae tersenyum. ”Kau sudah berusaha sebaik mungkin, dan sekuat mungkin untuk Haejin. Dia beruntung memiliki tunangan sepertimu… tapi, Kyuhyun-ssi… aku juga sudah punya istri di rumah… masih harus berapa lama aku disini?”

 

*Flashback*

”Aku bosan belajar!” Haejin berbaring dan menutup wajahnya dengan buku.

”Katanya mau masuk Universitas Seoul?”

Haejin duduk. ”Oh iya, Donghae-ah, aku belum bertanya kepadamu kau mau masuk ke universitas apa?”

”Aku? Aku mungkin mau kembali ke Mokpo…”

”Mokpo?” ulang Haejin kaget. Hatinya sakit, dia kira meski tidak satu universitas dengan Donghae, setidaknya Donghae akan menuntut ilmu di kota yang sama. Tapi Mokpo???

Donghae mengangguk. ”Aku bosan di Seoul… mau ganti suasana…” jawabnya dengan ringan.

Setelah sering belajar bersama baik untuk menghadapi ujian sekolah hingga untuk ujian masuk universitas negeri, Haejin dan Donghae selalu bersama. Tapi, rasanya kebersamaan itu akan segera berakhir. Setelah ujian tes masuk universitas, yang kemudian pengumumannya disebarkan di koran pagi hari ini.

Haejin turun gedabrukan mencari koran pagi yang biasa diantar ke rumahnya, lalu segera mencari di kolom nama-nama. Dengan perasaan was-was dicarinya terus nama tersebut. Hingga dia menemukannya, Lee Donghae, Teknik Informasi, Universitas Mokpo. Haejin langsung lemas.

”Haejin-ah? Gimana? Dapet nggak di Universitas Seoul?” tanya Seulong Oppa yang penasaran. Tapi Haejin cuma diam, menjatuhkan korannya, dan naik ke kamarnya lagi dengan perasaan kacau.

Dia langsung mengganti bajunya dengan seragam, dan seperti mayat hidup berangkat ke sekolah, untuk segera menyelesaikan urusan administrasi dan berbagai keperluan terakhirnya di SMA-nya.

Hari ini hari terakhir, pikirnya. Dia harus bisa mengungkapkan perasaannya hari ini! Haejin bertekad, setelah sampai di sekolah. Chihoon menghampirinya.

”Chukae! Kau dan aku diterima di Universitas Seoul!” Chihoon memeluknya.

Haejin memeluknya, tapi kemudian melepasnya lagi. ”Chihoon-ah, kau lihat Donghae tidak?”

”Donghae?” tanya Chihoon. ”Kayaknya sih tadi… ada… udah mau pulang…” dia menunjuk ke arah lahan parkir.

Haejin berlari begitu saja meninggalkan Chihoon, dan melewati banyak teman-temannya. Menabrak beberapa, dan tidak peduli lagi sumpah serapah yang diucapkan oleh orang-orang yang ia tabrak, yang ia perlukan sekarang adalah menemui Donghae! Segera!
Dilihatnya sosok yang dia kenal itu, sedang menaiki sebuah taksi. Baru saja Haejin berteriak. ”DONGHAE!” tapi pria itu sudah masuk ke dalam taksinya, dan mobil itu mulai berjalan. Dengan air mata yang semakin deras, dikejarnya mobil itu. Tapi apa daya, tangan tak sampai.

Haejin berhenti, dan berbalik sambil menangis. Hari itu dia menangis terus, air matanya sama sekali tidak bisa berhenti. Chihoon selalu setia mendampinginya, Haejin yang berbaring sambil memeluk baju seragamnya, yang ditandatangani oleh Donghae.

”Haejin-ah, keumanhae…” kata Chihoon sambil membantu Haejin berdiri. ”Aku tidak suka melihatmu begini! Kau menangis seharian hanya karena Lee Donghae yang sama sekali tidak berpamitan kepadamu. Jangan sia-siakan air matamu Haejin-ah…”

”Tapi, Chi…”

”Nggak ada tapi! Janji, hari ini terakhir kali kau menangis untuknya! Karena besok, kau adalah mahasiswa yang akan digilai banyak pria!”

 

*Flasback, Donghae*

Hari ini adalah hari terakhir Donghae di Seoul. Donghae pergi ke sekolah untuk menyelesaikan administrasi, dan mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan untuk data-data kuliah di Mokpo.

Tak disangkal juga kalau matanya mencari gadis itu, gadis yang selalu ada di sampingnya sebagai sahabat beberapa bulan terakhir ini. Donghae sudah menyelesaikan administrasi dan mengambil semua dokumen yang dia perlukan, dan siang ini dia akan segera pergi ke Mokpo, karena diterima kuliah di kampung halamannya tercinta.

Sepertinya Haejin tidak muncul hari ini, perasaan sedih merayapi hati Donghae, sambil memegang dokumen-dokumen, dia ditunggu oleh taksinya, sebelum dia masuk ke dalam taksi yang menuju ke bandara, Donghae mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sosok Haejin, tapi tidak ditemukannya gadis itu.

Akhirnya Donghae masuk ke dalam taksi. Namun perasaannya berkata dia harus menoleh, dan begitu dia menoleh ke belakang setelah taksinya berjalan, dilihatnya sosok Haejin yang sedang berbalik badan memunggunginya.

 

*Flashback End*

 

”Aku disini sudah seminggu, dan masih belum ada perubahan. Jebal, masih harus berapa lama lagi aku disini?” tanya Donghae pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. ”Ara, kau boleh pulang, Donghae-ssi… kurasa memang sudah waktunya kau pulang. Maaf banyak merepotkanmu, terutama istrimu…” Kyuhyun mengangguk. ”Kutinggalkan kalian berdua untuk terakhir kali…” Kyuhyun melangkah keluar dari ruang rawat.

Donghae duduk lagi mendekati Haejin, dan menggenggam tangannya. ”Haejin-ah… mianhae… aku harus pulang…” katanya sambil mengusap matanya. ”Mungkin kau selama ini bertanya-tanya bagaimana perasaanku kepadamu… Donghae kemudian memeluk tubuh Haejin. ”Tapi jawabanku pun dari dulu hingga sekarang masih sama…” diciumnya bibir Haejin pelan, dan dia berkata dibibir Haejin. ”Aku juga mencintaimu selama ini…”

Hening, Haejin tetap tidak menjawab.

”Aku pulang ya…” dan Donghae melepaskan Haejin, lalu bergerak keluar dari ruang rawat Haejin.

Tepat ketika Donghae meninggalkan kamar, bunyi denyut nadi yang terekam dalam salah satu mesin, berubah menjadi bunyi yang panjang. Salah satu nyawa baru saja melayang.

 

*           *           *

Hari ini gerimis… buku ini tidak lagi berisi untaian indah dari tangan gadis yang sekarang sedang terbaring damai dibawah tanah yang basah. Buku ini kini dalam pelukan seseorang yang akan selalu mengenangnya.

Tuhan tau Haejin suka gerimis. Haejin-ah, kau memang ada di bagian masa laluku, tapi cintaku padamu, itu benar. Dan hari ini, esok, dan seterusnya, Yoonrae istriku yang ada di dalam hatiku…

Buku ini adalah kenangan, bukti nyata dan pasti, bahwa Lee Haejin pernah ada di dunia, pernah menggenggam buku ini, pernah menuliskan kisah hidupnya disini. Haejin-ah, saranghae…

Donghae menutup buku itu, dan berjalan pergi bersama Yoonrae, sementara Chihoon menggandeng kakaknya, Kyuhyun meninggalkan bumi pemakaman itu.

 

Jangan pernah mengira orang yang pergi meninggalkan kita, benar-benar pergi…

Karena dia tetap ada di dalam hati kita…

 

Tamat

nah akhirnya saya berhasil menamatkan kisahnya Haejin-Donghae-Kyuhyun-Yoonrae… sekali lagi saya tekankan ini adalah ADAPTASI alias CREDIT alias DITULIS BERDASARKAN film yang berjudul sama CINTA PERTAMA, yang main BCL sama Ben Joshua. oke, jadi kalau misalkan ada yang nanya ini PLAGIAT atau tidak, ya jawab sendiri saja… *wink*

makasih yang mau baca, yang mau komen… juga buat Christy alias Yoonrae, aduuuuh betapa baiknya Onnie-mu ini mau berbagi ikan denganmu… hahaha… saranghae… *deep bow*

13 thoughts on “Cinta Pertama ~Part 2~ Ending

  1. Onnie! Tanggung jawab deh bikin saya nangis kejer malem2 gini T.T
    sumpah demi ni ff membuka lukaku lagi huaaaa ini aja nulis komen sambil nangis ;_; maaf jadi curhat

  2. udah tau endingnya udahtau jalan ceritanya cuma beda cast tapi tetep sukses buat mata meleleh TT3TT
    hedehhhh~~
    haejin kasian ya belum sempet ngungkapin😦
    onnie ya masih sedihhhhhh😥

  3. feel’y dapet banget…
    aku gak prnh liat film’y, cmn bc novel’y…

    ff ne beda ma asli’y…
    feel’y lbh berasa, aku suka…🙂

  4. huwaaa sediihh .. jarang2 baca ff sad ending jinhae jadi gini niihh .. *elap ingus*
    ceritanya masa remaja banget . donge sama haejinnya masih muda~ *skrg?? << plak!!*
    bang kyunya kasiaan tp sumpaaah romantiiissshhhhhhh~

  5. chi ga nyante banget itu. kyu kasian banget yah demi si haejin dia rela datengin donghae meskipun sakit banget itu pasti.
    makin dibaca makin miris. sedih banget momma. kyu sama yoonraenya miris tapi haejin sama donghae lebih sedih lagi. ahh ga tega banget itu baca tiap kenangan diantara mereka. udah deh makin sedih aja ini cerita momma. bkin nangis ini.
    cuma kok yah itu donghaenya kaga mati sih yah? cuma haejin doang yang mati? kasian amat deh #plakk

  6. Sweet jadi mau nntn film cinta pertama eonn hehehe
    Ternyata hae mencintai haejin toh. Tapi sama-sama belum sempat mengutarakan. Tapi setidaknya pertanyaan haejin tentang perasaan hae terjawab walaupun diakhir hidupnya.
    Sweet eonnie😥

  7. Huaaaaa , ngelap ingusss

    dalemmmm bangetttt , hebat banget ngegambarin perasaanya , kayanya tambah jlebbb kalo sambil ngedengerin lagu sunny😥

  8. bener”nangis setelah baca ff ney. mskipun q ud pernah nonton filmny langsung .tapi, lewat tuturan kata yg eonnie tulis. q seolah seorng yg bsa ngerasain it secara langsung. semangat buat karya selanjutny:))

  9. sediiiih..
    kasian kyuhyunn… T.T
    donghae sih masi ada yoonrae..
    haejin bener2 trus cinta ama donghae ampe akhir hayatnya.. u.u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s