Cinta Pertama ~Part 1~

Pertemuan itu tidak ada yang abadi…

Karena, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan…

Namun, demikian pula halnya dengan perpisahan…

Karena perpisahan pun tidak ada yang abadi…

 

”Chi, mana Haejin?” Ibu Lee bertanya pada Chihoon, sahabat putri satu-satunya dalam keluarga. ”Tamu rame begini, masa ninggalin Kyuhyun sendirian nerima tamu sih?!”

”Lho, Haejin nggak ada ya Ajumma? Mungkin di kamarnya, biar Chi cari dulu ya…” Chihoon meletakkan piringnya, dan segera naik ke lantai atas, meninggalkan ingar-bingar.

”Chi…”

”Oh, Oppa… mengagetkanku saja…”

”Mau kemana?” tanya Kyuhyun.

”Mau panggil Haejin. Oppa mau kemana? Tamu kasian lho ditinggal, ini aku baru mau panggil dia…”

”Nggak usah, biar aku aja…” Kyuhyun tersenyum lembut, adik perempuannya, yang juga sahabat dari tunangannya kembali turun, sementara dia naik ke atas mencari tunangannya tersebut. Setelah membuka pintu kamar sang tunangan, dilihatnya tunangannya tersebut sedang berada di balkon, dengan gaun putih yang melambai, ditimpa sinar matahari, dan angin yang berembus.

Siluet Haejin dari belakang sungguh indah, tak heran Kyuhyun begitu mencintainya. Dan hari ini, setelah hubungan yang mereka bina selama beberapa tahun, Haejin akhirnya resmi menjadi tunangannya. Kyuhyun mendekatinya, dan memeluknya tiba-tiba. ”Kok aku ditinggal sendirian sih?”

Haejin kaget, dan berbalik. ”Eh, Kyuhyun-ah… aku…”

”Aku tau… kamu kan nggak suka keramaian…”

Haejin tersenyum. ”Oh ya? Emang Oppa tau semua tentang aku?” tanyanya dengan senyum yang agak janggal.

”Keureom, nggak suka keramaian… nggak suka susu, dan paling suka minum jus jambu, iya kan?”

Tiba-tiba Haejin meletakkan tangannya di kedua wajah Kyuhyun. ”Kamu tau aku nggak suka pelajaran Sejarah?”

”Masa sih?” tanya Kyuhyun heran.

”Tuh kan, belum semua tentang aku kamu tau…” ucap Haejin sambil tersenyum.

”Kok ngomongnya begitu sih?” tanya Kyuhyun lebih heran.

Haejin cuma menggeleng. ”Ani! Ayo kita turun Oppa! Kasian tamu-tamu dibawah, masa yang tunangan ngilang nggak balik-balik…” Haejin menggandeng tangan Kyu meninggalkan balkon kamarnya.

 

*Esok Paginya*

”Pagi, Eomonim…”

”Eh, Kyuhyun, pagi… sudah sarapan belum?” tanya Ibu Lee melihat calon menantunya sudah tiba di rumahnya.

”Ayo, Kyu… makan dulu…” kata Tuan Lee sambil baca koran di ruang tengah.

Kyuhyun membungkuk. ”Saya udah makan, Eomonin, Aboenim… Haejin mana? Sudah bangun?”

”Tadi sih sudah, mungkin sekarang masih di kamarnya… kamu lihat aja deh, ke atas…” kata Ibu Lee.

Kyuhyun mengangguk, dan melangkahkan kakinya ke atas. Begitu membuka pintu kamar tunangannya, dilihatnya Haejin sedang tidur pulas di atas kursi malas di balkon kamarnya. Haejin memang sering tidur di balkon kamarnya, Kyuhyun tersenyum dan melangkah maju, dan menyenggol pelan tubuh Haejin.

”Haejin-ah… ireona…” panggilnya lembut. Karena Haejin tak kunjung bangun, akhirnya Kyuhyun duduk di tepi kursi malas dan menggoyang tubuh Haejin, sambil berkata. ”Lee Haejin sayaaaang… calon istri Cho Kyuhyun, bangun dooong…” kepala Haejin terkulai lemas, dan darah mengucur dari hidungnya. Tangan Haejin memegang erat buku hariannya.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

”Oppa! Oppa!” Chihoon nampak panik. ”Apa yang terjadi sebetulnya?”

”Haejin ternyata terkena kanker otak stadium akhir…” jawab Kyuhyun gemetaran. ”Pembuluh darahnya pagi ini mulai pecah, dan dia… dia udah tidak sadarkn diri sampe sekarang…” Kyuhyun duduk di kursi sambil memeluk buku harian Haejin.

Chihoon terperangah melihat tubuh sahabatnya terbaring, hidup bergantung hanya dengan alat bantu. Haejin yang lincah dan ceria, yang sama sekali tidak pernah mengeluh, tiba-tiba kini terbaring di ranjang rumah sakit, tidak sadarkan diri sama sekali, dan harapan hidupnya tipis.

Kyuhyun menatap calon istrinya yang tidur, entah untuk berapa lama. Mendadak semua rencana indahnya membangun rumah tangga dengan Haejin menghilang, mengabur… hanya ada warna abu-abu, tidak jelas kemana. Logika dan akal sehat mengatakan bahwa Haejin akan pergi meninggalkannya, sementara perasaannya berdoa dan meyakinkan dirinya bahwa suatu saat nanti Haejin akan membuka matanya, dan mereka berdua akan bahagia.

”Harapan hidupnya sudah tipis…” dokter yang merawatnya setelah memeriksa mengatakan demikian kepada Ibu Lee dan Tuan Lee, serta Seulong, kakak laki-laki Haejin. ”Pembuluh darah di otaknya hampir semua sudah mulai pecah, saya sarankan, bahagiakanlah dia… disisa hidupnya yang hanya Tuhan yang tahu.” Rasanya jantung Kyuhyun direnggut begitu saja dari dalam rongganya, ketika mengetahui kalau dia harus menerima kenyataan, Haejin akan segera meninggalkannya.

Malam ini sunyi sekali, Haejin keadaannya tidak berubah. Terbaring diam, bernapas hanya karena alat-alat penopang hidup yang dipakai disekitarnya. Kyuhyun menunggui Haejin semalaman, sudah dua puluh empat jam gadis yang dicintainya itu tidak membuka matanya, dan Kyuhyun dengan setia menemani, sambil memeluk buku harian Haejin.

Apa yang bisa dia lakukan demi membahagiakan orang yang paling dicintainya ini, sambil bersandar disofa, dia melihat buku harian di tangannya. Buku harian kesayangan Haejin, nuraninya sebetulnya memberontak dia membuka buku itu, namun dengan dalih mungkin di dalam buku ini, ada keinginan yang belum tersampaikan oleh Haejin, maka dengan tangan gemetar Kyuhyun membuka buku harian itu perlahan-lahan.

 

*Buku Harian Haejin*

 

’Annyeong, namaku Lee Haejin… ini buku harian pertamaku, hadiah sweet seventeen dari sahabatku Chihoon. Rasanya aneh ya menulis dan menceritakan apa yang kurasakan di dalam kertas putih ini, tapi menyenangkan!’

’Masa SMA memang benar masa yang paling indah… penuh canda, tawa, persahabatan dengan teman-teman… dan juga dia… namanya, Donghae. Lee Donghae.’

 

Flashback, Haejin’s POV.

 

”Ahhhh hujan, hujan, hujan…” aku lari-lari mencari tempat bertedu. Ah sial! Sedikit lagi sampai juga di sekolah, pake hujan deras segala pula! Aku akhirnya berlindung di salah satu tenda kafe di dekat kompleks sekolahku. Huuuuh, aku menggosok tanganku, mengusap bulir-bulir hujan yang turun, ketika seorang anak laki-laki dengan koran di atas kepalanya ikut berteduh di sampingku.

Awalnya aku sempat bete! Siapa sih laki-laki ini? Tenda payung kafe ini kan kecil sekali! Dan aku wanita… seharusnya aku yang lebih perlu berteduh di hujan deras seperti ini! Aku melirik ke arah laki-laki yang sedang mengusap tangan dan bajunya dari bulir-bulir hujan. Dia menurunkan korannya, rambut cokelatnya basah dikibaskannya lembut, dan aku terpana!

Donghae! Ya Tuhan, aku sudah menanti kesempatan ini selama bertahun-tahun! Terima kasih Tuhan! Maafkan tadi aku mengeluh kepadamu… kalau begini aku rela hujan tidak berhenti hingga kiamat. Aku langsung memandang kedepan, dengan menggigit bibir! Ya Ampuuuun, ini benar-benar impianku… pangeran impianku dari aku kelas satu! Donghae…

Tak lama hujan melambat, dan menyisakan gerimis! Aigoooo… gerimis adalah fenomena alam yang paling aku sukai. Gerimis-gerimis bersama pria yang aku sukai, aku tersenyum dan mengulurkan tanganku ke depan menikmati air hujan yang turun ke tanganku. Ternyata dia melirikku, menatapku bingung yang nampak menyukai percikan air yang jatuh ke tanganku.

”Suka gerimis ya?” tanyanya.

Aku menoleh, kemudian mengangguk semangat sambil tersenyum. ”Ne, soalnya gerimis itu romantis…” kataku bahagia.

”Romantis?!” tanyanya heran, lalu berdecak. ”Dasar cewek! Kebanyakan nonton film romantis kacangan!”

What?! Rasanya petir menyambar ke kepalaku, dengan kesal aku tendang kakinya, kemudian aku menerobos hujan, meninggalkan dirinya yang kesakitan setelah kutendang. Aku berlari menuju pagar sekolahku yang belum ditutup di hari hujan seperti ini, karena sekolah memberi dispensasi terlambat jika terjadi hujan, aku langsung berlari masuk ke dalam kelasku, dan duduk di bangku paling depan.

Tak lama setelah aku duduk, guruku masuk. Tapi bisikkan itu menggangguku.

”Haejin-ah! Haejin-ah! Sssttt!”

Aku masih merapikan tasku, hingga Chihoon, sahabatku akhirnya melemparku dengan pinsil. ”Haejin-ah!”

Aku menoleh. ”Apaan, sih?!”

”Darimana sih? Jam segini baru dateng?”

”Sstt! Mau tau aja…” wajahku berseri-seri.

”Seneng banget sih… ada apa sih?!” tanyanya.

”Ada deh, tadi aku ketemu si tampaaaaan…”

”Nugu? Donghae?” tanyanya tertarik.

”Cho Chihoon! Lee Haejin! Kalian ini mau belajar atau tidak?!” tegur guruku yang melotot di depan kelas.

Jam istirahat, langsung saja Chihoon menggelayut di bahuku dari belakang. ”Eh! Cerita dooong… tadi ketemu Donghae?” tanyanya penasaran.

”He-eh…” aku ngangguk-ngangguk girang. ”Jadi tadi pagi aku kehujanan, aku neduh di kafe depan, taunya dia juga telat… dan ikut berteduh! Aaawww… aku beruntung banget!” ucapku girang.

”Jyaaaah!” Chihoon ikut senang dan mengacak rambutku sambil menuju ke balkon sekolah. Beberapa teman-teman kami sudah nangkring di balkon, melihat ke bawah. Padahal hari masih hujan, apa yang mereka tonton? Pikirku heran. Ternyata, dikala hujan begini, ada yang main basket juga? Aku dan Chihoon langsung mendekati balkon, dan melihat ke bawah. Mataku terbelalak lebar.

Donghae!

Dia dan anak basket, sedang bermain basket dengan bermandikan hujan, padahal dia bukan anak basket. Bayangkan aja! Dia sendirian yang pakai baju seragam sementara tim basket memakai baju basket, tapi Donghae bermain dengan lincah, dan nampak sangat senang.

”DONGHAE! HWAITIIIING!” teriakku penuh semangat. Sementara teman-temanku yang lain menoleh menatapku dengan ekspresi yang sudah biasa, ya… memang sudah bukan rahasia umur kalau aku naksir Donghae. Dan mereka tentunya siap meledekku sebentar lagi.

Benar saja, Sangmi kemudian berteriak. ”Ciyeee, Haejin… yang pangeran impiannya lagi main basket…” dan akhirnya satu koridor, yang kebayakan teman-teman sekelasku koor mendadak meledekku. Aku menjulurkan lidahku ke semua teman-temanku, dan meloncat setelah satu ide terlintas di benakku.

”Eh, Haejin-ah! Kau mau kemana?” tanya Chihoon, tapi melihatku yang meloncat sambil tersenyum, dan berlari dia cuma bisa geleng-geleng dan tersenyum, lalu kemudian melihat kebawah.

Aku ikut turun ke lapangan yang bermandikan hujan, dengan payung serta jas hujan putih transparan. Aku menari-nari dibawah hujan yang mengguyurku, memutari Donghae yang sedang memegang bola, teman-temanku di atas semua tersenyum melihat tingkah dan ulah konyolku. Donghae menatapku heran, masih sambil memegang bola.

”Kamu ngapain muter-muter kayak orang aneh begitu?!” tanyanya menusuk hatiku. Aku melempar payungku dengan geram, dan lagi-lagi menendangnya. Langsung saja aku pergi dari situ.

Esoknya, aku kembali bertemu dengannya. Langkahnya cool, seperti biasanya, tersenyum pada beberapa orang, kemudian menyapa temannya, dan melangkah santai di depanku. Aku hanya bisa mengaguminya dari belakang, dan melihatnya menghilang ketika masuk ke dalam kelasnya. Kemudian seperti biasa, setiap pagi, jika aku bertemu dengan teman sekelasnya, aku selalu mengucapkan hal yang sama pada tiap teman sekelasnya yang kutemui.

”Salam ya, buat Donghae… dari Haejin, Lee Haejin!”

Setelah pulang sekolah, aku tidak bertemu lagi dengannya, padahal aku sudah berusaha mencarinya ke segala penjuru sekolah, malangnya aku hari ini tidak bisa bertemu dengannya saat pulang sekolah. Akhirnya aku melangkahkan kaki pulang ke rumahku, ketika berbaring, telepon rumahku berdering, dan Eomma berteriak bahwa itu dari Chihoon, aku mengambil telepon yang berada di dalam kamarku, kemudian mengangkatnya.

”Haejin-ah! Sudah belajar belum?!”

”Belajar apa?” tanyaku malas, aku selalu tidak bersemangat jika tidak bertemu dengan Donghae.

”Sejarah! Besok ulangan tau!”

”Hah?! Besok ulangan?!” aku langsusng panik, dan duduk di kasurku. ”Aduuuh, kok bisa lupa sih?! Ya Chi, gimana dong? Kau datang ke rumahku ya, kita belajar sama-sama…”

”Aduuuh, mianhae, Haejin-ah… aku harus ke bandara untuk mengantarkan Oppaku yang mau kuliah di Austria, makanya aku menelepon untuk bertanya bagian mana yang akan diujikan besok.”

Akhirnya setelah Chihoon memutuskan sambungan teleponnya, aku membawa buku sejarahku ke kafe dekat sekolah. Bukunya rapi tidak terbuka, sementara aku membaringkan kepalaku di meja karena tidak bersemangat! Aigooo, aku paling benci pelajaran Sejarah.

”Permisi, Ageshi… ini pesanannya, jus jambu tanpa susu, dan gulanya sedikit…” kata Shindong Ahjussi.

”Gomawo, Ahjussi…”

”Yee… cheonmaneyo, Ageshi…” Shindong Ahjussi sudah kembali menghilang dari hadapanku.

Aku menghela napas, dan sebal memikirkan hari esok! Sejarah selalu membawa malapetaka buatku, tapi kemudian kurasakan kursi di depanku berderit, dan seseorang menjatuhkan dirinya di atas kursi itu.

”Titip salam melulu! Sampaikan ke orangnya langsung emangnya nggak bisa ya?” tanya suara yang sudah kukenal.

Aku mengangkat wajahku. Omo! Lee Donghae, dia sedang duduk di hadapanku, dia juga sudah memakai baju bebas, dan dia menatapku, tanpa kedip. Langsung saja aku membenahi mukaku yang acak-acakan karena Sejarah, dan duduk tegak.

”Yah! Kau bagaimana bisa disini?”

”Aku suka kesini memang kalau sore-sore…” jawabnya, kemudian melihat buku yang ada di hadapanku. ”Sejarah?! Kamu mau belajar sejarah kesini?”

Mendengar sejarah aku langsung membaringkan kepalaku dengan lesu lagi. ”Ne… benar-benar tidak penting! Aku benci Sejarah, aku tidak bisa belajar… penat! Padahal udah berusaha ganti suasana, tapi masih saja tidak ada kekuatan untuk belajar Sejarah…”

”Yah, Haejin-ah… belajar Sejarah itu, nggak harus dihapalkan tau…” aku mendongak dan menatapnya, dia kemudian tersenyum. ”Gini, belajar Sejarah, kalau dari buku, emang pasti bikin ngantuk, coba deh kamu belajarnya sambil nonton film. Kayak misalnya aja, waktu bagian Kuda Troya. Kalau kamu males bacanya lama-lama, mendingan kamu nonton film Troy, dari situ aja kamu udah bisa ngambil banyak pelajaran… terus, kalau tentang Nazi, kamu bisa nonton film Valkerie, disitu bisa diliat gimana Hitler…”

Sosoknya yang tampan, sempurna sekali di mataku, Ya Tuhan, dialah Lee Donghae, Cinta Pertamaku…

 

Flashback End

”Chihoon-ah!”

”Ne?”

”Donghae itu siapa?!” tanya Kyuhyun dengan suara sedingin es, keesokan harinya. Dilihatnya Chihoon terperangah.

”Oppa…” katanya kaget.

”Jawab aku, Lee Donghae itu siapa?” tanyanya.

”Darimana Oppa tau…?” kemudian ditatapnya buku harian yang dipegang oleh Kyuhyun. Chihoon ternganga. ”Oppa! Oppa membaca buku harian Haejin?”

”Itu tidak penting! Bagiku sekarang yang terpenting, kau jelaskan padaku, siapa laki-laki ini! Siapa Lee Donghae?!”

”Oppa! Tidak seharusnya Oppa baca buku harian Haejin! Itu kan privasi dia… kenapa malah Oppa baca?!”

Dengan histeris, Kyuhyun membuka buku harian Haejin dan berkata seperti orang gila. ”Kau lihat ini, Chihoon-ah?! Mendadak hari ini aku merindukan sosoknya, Donghae… neo eoddiya? Chihoon-ah! Dia menulis tentang Donghae di hari pertunangan kami! Dan ini… aku belum tau tentang arti cinta yang sebenarnya, makna cinta sejati… dan makna cinta pertama… apakah cinta sejati itu bukan cinta pertama? Atau cinta pertama itu bukan cinta sejati… hatiku masih gamang sebelum cinta sejati itu terjadi padaku… Hah! Cinta sejati? Cinta sejati maksudnya Donghae?!” Kyuhyun sudah seperti orang gila mondar-mandir di hadapan Chihoon sambil memegang buku harian Haejin.

”Oppa! Nggak seharusnya Oppa baca buku itu! Donghae itu masa lalu Haejin… sekarang dalam hidup Haejin hanya Oppa…”

”Apa katamu?! Hanya aku… Chihoon-ah, aku sama sekali tidak tahu dia selalu menderita sakit kepala… disini!” Kyuhyun menunjuk sebuah halaman. ”Dia menulis… sakit kepala ini begitu menyiksaku, Tuhan jangan ambil nyawaku sebelum jawaban atas segala doaku kutemukan… Chihoon-ah! Dibuku ini tidak pernah ada cerita antara aku dan dia, hanya ada Donghae! Lee Donghae!”

”Lalu Oppa mau apa? Itu salah Oppa sendiri! Kenapa Oppa buka-buka buku harian Haejin, sih?!”

”Aku nggak tau…” Kyuhyun menatap badan Haejin yang masih terbujur kaku, tak bergerak sama sekali. ”Kalau memang kebahagiaan terakhir yang dicari oleh Haejin adalah Donghae, aku akan mencari Donghae, dan membawa Donghae kepadanya… demi dia…”

*Mokpo*

Kyuhyun melajukan mobilnya memasuki kota Mokpo, setelah membaca alamat yang sudah dia cari dengan susah payah. Akhirnya, dia menemukan rumah yang dia cari. Rumah tropis yang memang dibangun dengan indah di tepi pantai. Kyuhyun memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari dalam mobilnya. Setelah menaiki beberapa undakan tangga untuk mencapai pintu masuknya, ditekannya bel rumah itu.

Tak lama kemudian seorang wanita muncul. ”Ossosaeyo… nuguseyeo?” tanya wanita itu sambil tersenyum.

”Annyeonghaseyo…” Kyuhyun membungkuk. ”Cho Kyuhyun-imnida, apa benar ini rumah Lee Donghae-ssi?”

”Ne… benar, ini rumah Lee Donghae, ada yang bisa dibantu?” tanya wanita itu masih sambil tersenyum.

”Saya mau bertemu dengan Lee Donghae-ssi…”

”Siapa, Yeobo?” kemudian seorang pria berambut cokelat muncul, sambil merangkul wanita yang ada dihadapan Kyuhyun.

”Annyeonghaseyo… Cho Kyuhyun-imnida, apakah kau yang bernama Lee Donghae-ssi?”

Pria itu mengangguk sambil membungkuk. ”Ne, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.

”Bisa kita berbicara sebentar…?”

Akhirnya Kyuhyun dan Donghae duduk berhadapan di halaman depan paviliun di rumah Donghae.

”Ada yang bisa dibantu? Apakah saya kenal Anda?” tanya Donghae keheranan.

”Saya, Cho Kyuhyun…” jawab Kyuhyun. ”Saya tunangan dari teman SMA Anda, Lee Haejin.”

Wajah Donghae yang awalnya mulus, mendadak berubah. Kentara sekali kalau dia kaget. Kemudian setelah dia bisa mengontrol ekspresinya, dia tersenyum. ”Ah, jinjja? Haejin… ya aku ingat dia tentu saja, apa kabarnya? Setelah kami lulus SMA, kami sama sekali tidak pernah bertemu… lalu kenapa tunangannya justru yang kesini?”

”Donghae-ssi, boleh saya bertanya siapa wanita tadi?”

”Ah, tadi… Kim Yoonrae, dia istriku…” jawab Donghae sambil tersenyum.

”Oh… algessimnida, begini… ada satu permohonan saya untuk Anda…” kemudian Kyuhyun menunduk. ”Haejin… Haejin… sekarang dia koma di rumah sakit, Dokter bilang harapannya tipis… dia kanker otak…”

Wajah Donghae tiba-tiba membeku, dia nampak sangat terkejut dengan berita yang dibawa oleh pria yang baru saja dikenalnya ini.

”Saya masih tidak tau dia bisa bertahan atau tidak… Dokter cuma meminta kami dari pihak keluarga, untuk membahagiakannya di saat-saat terakhir hidupnya…” tangisan Kyuhyun membuat Donghae benar-benar tidak dapat berbicara.

”Bantuan seperti apa yang Anda minta pada saya?” tanya Donghae lemah.

”Tolonglah, datanglah ke Seoul… temui Haejin… karena di buku hariannya, bahkan di hari pertunangan kami… dia masih menuliskan tentang Anda, Donghae-ssi.”

Donghae tertegun mendengar pernyataan dari pria yang ada di hadapannya ini, sementara dari dalam rumah, sesosok wanita sedang menatap kedua pria yang sedang berbicara ini dengan nanar. Tak lama kemudian, Kyuhyun pergi meninggalkan rumah mereka, sementara Donghae duduk terdiam, kedua tangannya bertaut, dan wajahnya nampak berpikir.

Kegelisahan terpancar jelas dari kedua mata Donghae, apa pun yang dibicarakan Kyuhyun padanya, telah membawa kegelisahan luar biasa terhadap suami yang sudah dinikahinya selama dua tahun belakangan ini. Akhirnya, apa yang Yoonrae takutkan terjadi, Donghae sekarang sedang mengemasi barang-barangnya dalam diam, sementara Yoonrae cuma dapat membantu melipat barang-barang yang diperlukan Donghae untuk dibawa ke Seoul.

”Berapa lama kamu disana?” tanya Yoonrae pelan.

”Mungkin tiga hari… atau mungkin juga lebih…” jawab Donghae pelan. Kemudian dia mendongak, dan menatap wajah Yoonrae. Donghae menghela napas sebentar, dan melanjutkan. ”Aku nggak akan pergi, kalau kamu nggak ngasih…”

Yoonrae menunduk, lalu menoleh dan menatap suaminya lekat-lekat. ”Donghae-ah… kamu janji kan, nggak akan kalah dengan kenangan?” tanyanya butuh kepastian.

Donghae nampak terperangah, kemudian dia terdiam, Yoonrae tetap menunggu kepastian, namun Donghae berdiri, dan mengecup pipi Yoonrae singkat, dan langsung pergi keluar, membawa tas berpergiannya, dan mengambil kunci mobilnya.

Yoonrae hanya bisa menangis melihat mobil Donghae mundur, dan kemudian melaju meninggalkannya sendirian, dengan sejuta perasaan takut yang berkecamuk di dalam dadanya.

TBC

annyeong semuanya… huhuhu, mianhae ya… aku tiba-tiba muncul ide ini begitu aja, sama sekali nggak sengaja banget. Keingetan sama Film Cinta Pertama, film Indonesia yang aku suka… diantara banyak film Indonesia yang nggak menarik… ini bener-bener adaptasi, dengan sedikit perubahan dari aku…

oh ya kenapa aku memilih adaptasi Cinta Pertama? karena aku juga punya kisah yang sama, aku punya cinta pertama, dan begitu lulus aku sama sekali nggak tau kabarnya, padahal aku dan dia sama-sama saling suka, hehehe jadi curhat. Pokoknya, aku nggak mau kayak Haejin di FF ini… nggak menyampaikan perasaannya sendiri pada Donghae. akhir kata, makasih buat yang mau baca bahkan menyempatkan komen.

*Deep Bow*

11 thoughts on “Cinta Pertama ~Part 1~

  1. aaaah keren onn ^^b
    diadaptasi ya? pantesan kayanya aku pernah denger ceritanya
    baca part 2 dulu ya onn #ngabuur

  2. makanya nggak asing sama ceritanya >.<
    hedehh iya!! aku juga suka sama cinta pertama .__.
    ceritanya bener-bener nyentuh TT3TT
    so sweet lah kyu disini,bener-bener rela nyakitin diri sendiri asal orang yang dia cintai bahagia :')
    adaptasi yang bagus onn!!
    lebih mendalami karena perannya anak suju ^^

  3. Emm, karena aku blm kenalan sama yang empunya blog, aku manggil eonni aja yaa^^
    Onn, aku suka banget cara eonni merangkai kata
    *dikata merangkai bunga?*
    #plakk #abaikan
    Bahasanya enak dibaca, ceritanya ngalir, dan feelnya dapet
    Yang paling berkesan buatku pas part Donghae pergi ga bilang apa2, kebayang gimana sakitnya Yoonrae ditinggal tanpa kepastian T.T
    Emm, ga tau lagi mau komen apa
    *terbang ke part selanjutnya*

  4. hai momma🙂
    aku udah baca..kkk~
    lupa lupa inget sama itu ceritanya sih .. ehehe :p
    kaget awalnya haejin tunangannya sama kyu. yah sbenernya ga rela karena biar gmana haejin cocoknya sama donghae doangan. trus masa abis tunangan tau tau haejinnya langsung ketauan sakit dan dirawat. haduh kasian banget itu~
    masa SMAnya haejin indah banget kayaknya yah🙂 kyu ga seharusnya baca itu. tau sih klo jadi kyu pasti kesel tapi kan tiap orang pasti punya kenangan. tapi ga nyangka juga itu kyu datengin donghae sampe ke mokpo. kasian juga yoonraenya pas nanya yg “kamu janji kan ga bakalan kalah sama kenangan?” eh donghaenya cuma bisa senyum. miris banget ceritanya. kayaknya emank aku kudu liat lagi deh itu film. ehehe😛

  5. Eonnie aku baru baca yang ini.
    Ada juga ff yang awalnya haejin ama kyuhyun hehehe.
    Hae cinta yah sama haejin?
    Kyuhyun disini keliatan dewasa banget😀

  6. Numpang ngubek ngubek library yaaa ,,, hehehehe

    so sweet , aku sih belum pernah nonton cinta pertama , tp kayanya sedihh banget😥

  7. waah.. rupanya ada ff ini..
    haejin ama kyu.. fufufu..😀
    aku suka ceritanya.. aku malah galau jadi yoonraenya.. u.u
    ngabur baca part 2 ah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s