Can It Be Love ~Part 9~

………

Haejin perlahan meraba perutnya, dan terperangah sendiri. Jadi ini penyebab semua pola makanku berubah? Dari suka menjadi tidak, dari tidak menjadi suka… karena bayi ini? Bayi Donghae… air matanya menetes sedih, atau entah harus senang. Di dalam perutnya, sekarang ada makhluk kecil mungil, ikan kecilnya, benih dari pria yang dicintainya… tapi bagaimana ini?! Apa yang harus dia lakukan? Perutnya takkan selamanya kecil begini, pasti lama kelamaan akan terlihat. Lebih lagi, apa yang harus dia katakan kepada kedua orang tuanya?!

Haejin membereskan semua testpack-nya, dan menyimpannya di dalam laci di samping tempat tidurnya. Dia harus mulai berhati-hati, tidak bisa lari-lari sembarangan. Haejin mengambil tasnya dan mengambil kunci mobilnya, lalu mengendarainya ke rumah sakit. Setelah mendaftar, dan menunggu beberapa saat, Haejin akhirnya di persilakan masuk ke dalam ruang praktek dokter,  dia diperiksa menggunakan alat USG.

”Ya… kehamilan Nyonya memasuki minggu kesepuluh…” jelas dokter itu sambil tersenyum menggerakan alat USG di perut Haejin, dan memandang gambar. Haejin juga ikut melihat gambar bergerak itu. Janinnya masih kecil mungil, cuma sudah berbentuk.

”Sudah dua bulan dong?”

”Ya jalan tiga bulan, Nyonya…” jawab Dokter itu hangat. ”Nyonya harus mulai menjaga kesehatan Nyonya, karena bulan-bulan awal kehamilan adalah saat-saat yang paling rawan. Nyonya tidak boleh capek-capek, dan harus mendapatkan asupan gizi yang baik.”

Haejin mengangguk sambil tersenyum.

”Kalau bisa dua minggu sekali check up kandungan, di usia-usia awal seperti ini. Dan ajak suami Nyonya juga, itu akan baik lho untuk kandungan Nyonya, janinnya akan merasa disayang oleh kedua orang tuanya…”

Haejin cuma bisa tersenyum, setelah selesai diperiksa, Haejin meminta daftar makanan-makanan yang baik untuk kandungannya, kemudian susu ibu hamil apa yang disarankan, setelah yakin pasti, dia membawa surat hasil pemeriksaannya, keluar dari ruang rawat.

”Noona?! Noona ngapain disini?!”

Haejin terperangah, Cho Kyuhyun berjalan menghampirinya, dengan dandanan yang stylish seperti biasa. ”Kyuhyun-ah!”

”Noona ngapain disini?”

”Aku nggak enak badan…” Haejin buru-buru memberi alasan. ”Jadi aku periksa, kau sendiri?”

”Aku mau periksa telingaku, udah sering terganggu waktu SMA…” jawab Kyu sambil tersenyum.

”Nggak sama Haerim?”

”Haerim kuliah, nanti pulang kuliah aku  mau jemput dia, Noona sekarang mau kemana?”

”Aku mau pulang, mau istirahat… duluan ya, Kyu…” Haejin buru-buru berlalu dari situ. Kyu menatap ruang praktik barusan, dan membaca plakat yang tertempel di pintu itu. ’DR. KIM RAEWOO, SPESIALIS KANDUNGAN’

”Kandungan?!” Kyu bingung, dan menggaruk-garuk sendiri kepalanya. ”Noona ke dokter kandungan?” lalu Kyu geleng-geleng sendiri, dan kembali berjalan mencari dokter spesialis THT.

Haejin kemudian membeli bahan-bahan makanan yang diperlukan di supermarket, beserta susu. Begitu sampai di rumah, dia memisahkan susu dan barang-barang lain, barang lainnya diberikan kepada ahjumma pengurus rumah, dan meminta agar dimasakkan makanan-makanan itu dengan catatan tanpa BAWANG, kemudian susunya di bawa naik ke kamarnya, dan disembunyikan di lemari kamarnya.

”Mau sampai kapan begini?” Haejin mengelus perutnya. ”Baby… sampai kapan Eomma nyembunyiin kamu?” tanya Haejin sendiri. ”Baby pasti lama-lama akan besar kan? Tapi walaupun Appa nggak ada…” air mata menetes dari pipi Haejin. ”Eomma akan berjuang buat kamu!”

*           *           *

”Ini sayur apaan, Ahjumma?” tanya Heejin heran melihat sayur yang terhidang di meja kecil dekat meja makan.

Chaerim Ahjumma menjawab. ”Nggak tau, Ageshi… ini Haejin Ageshi habis belanja minta dimasakkin ini…”

”Daun katuk?!” Yesung tiba-tiba nimbrung.

Heejin menoleh, ”Oppa…” cengirnya girang.

”Daun katuk?!” Yesung menunjuk panci itu heran. Heejin mengangguk dan mengangkat bahu. Yesung kembali geleng-geleng. ”Haejin, Haejin… seleranya makin hari makin aneh aja…”

”Mana gak pake bawang pula…” sahut Heejin. ”Apa rasanya…” masih terheran-heran sendiri.

*           *           *

Haejin duduk di pinggir jendela, hari ini sudah memasuki minggu keduabelas kehamilannya. Sudah masuk tiga bulan, dan kalau melihat bayangannya di kaca, tanpa baju, perutnya sudah mulai membuncit. Kecemasan semakin menghantui pikiran Haejin, kalau sudah masuk minggu keenambelas, perutnya pasti akan semakin terlihat. Apalagi, masuk bulan keempat, janinnya sudah mulai bisa bergerak.

Sejauh ini, kondisi kandungannya sangat sehat, karena Haejin betul-betul mendengarkan apa kata dokter, tapi lambat laun perutnya kan akan membesar, dan tidak mungkin disembunyikan lagi.

Pintu kamarnya diketuk, saking kerasnya Haejin berpikir, sampai dia tidak menyadari kalau pintu kamarnya sedang diketuk. Dan Heenim masuk ke kamar, lalu menyentuh bahu Haejin. ”Onnie…”

”Ah!” Haejin tersentak, dan menoleh. ”Heenim-ah… kau mengagetkanku saja…” Haejin terkekeh.

”Onnie melamun sih…” Heenim menghampiri Haejin. ”Onnie, gwenchana? Onnie belakangan ini selalu di kamar, tidak mau bekerja, dan banyak murung.” Wajah Heenim berubah sedih.

”Gwenchana, mungkin aku sedang dalam fase bosan bekerja…” Haejin menjawab asal.

Heenim mengangguk. ”Onnie bekerja dari umur Onnie dua puluh, sih…”

”Jadi sudah waktunya aku sedikit istirahat, kan?” kata Haejin.

”Onnie…” Heenim tiba-tiba menggenggam tangan Haejin. ”Aku mau minta maaf pada Onnie…”

Haejin mengernyit. ”Minta maaf kenapa?”

”Aku tahu kalau… kalau…” Heenim terbata-bata, dan menggigit bibir, lalu menghela napas, dan memutuskan mengatakan isi hatinya. ”Kalau… Onnie dan… dan Hae Oppa… saling mencintai.”

Haejin terkesiap. ”Kau dengar darimana?!”

”Aniyo, Onnie…” Heenim memaksa memegang tangan Haejin dan menggeleng. ”Aku hanya tahu…”

”Aniyo, Heenim-ah… aniyo…” Haejin buru-buru menggeleng. ”Aku dan Donghae sama sekali tidak ada hubungan apa-apa!” panik. ”Donghae mencintaimu, kok… percaya pada Onnie!”

Heenim mengangguk, nyaris menangis. ”Tapi, apa Onnie mencintai Jungsoo Oppa?”

Haejin mengangkat alis.

”Onnie, apa pun yang terjadi, tetaplah bahagia…”

Haejin memeluk adiknya. ”Kau yang harus bahagia, dan jangan pikirkan apa-apa lagi… Donghae mencintaimu. Dan Onnie juga mencintaimu, ara?! Dan Onnie sangat bahagia, kok…”

”Jinja?”

”Keureom…” Haejin mengangguk, dan melepaskan pelukannya. ”Sudah jangan cengeng!”

”Onnie-ah…” Heenim terlihat seperti memilih-milih kalimatnya. ”Oppa akan menikahiku…”

”Johta! Bagus doooong… chukae…” Haejin memeluk Heenim lagi.

”Onnie… Onnie harus bahagia!”

*           *           *

Leeteuk’s POV

Kondisi Haejin semakin memprihatinkan dimataku. Dia sama sekali tidak melihatku, bahkan memandangku sama sekali. Ini merupakan titik untukku, bahwa aku memang harus bisa menerima apa pun keputusannya. Sepertinya meski Donghae sudah pergi, hati Haejin pun tak mungkin untukku.

Pasti ada sesuatu yang terjadi kepadanya, dia jadi jarang bekerja. Dia jadi lebih sering makan, dan bobot tubuhnya bertambah terus. Aku senang dia jadi lebih berisi, tapi aku mulai curiga. Pernah suatu hari aku mengajaknya jalan ke Hyundai, milik Siwon, begitu masuk toko parfum, dia langsung muntah. Dia bilang ada Emporio Armanni disitu.

Tapi pikiranku langsung beralih kepada Donghae, itu parfum Donghae! Selalu jika ada Donghae, Haejin akan muntah-muntah, hingga Donghae datang tanpa memakai parfum, dan Haejin sehat walafiat.

Apakah dia? Aaissh! Kenapa aku bisa berpikiran seperti ini? Tapi aku benar-benar curiga, amat sangat curiga! Dan jika benar… ulah siapa? Aku harus memastikannya…

Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu kediaman keluarga Lee yang sangat megah. Aku sangat yakin Haejin ada di dalam, dia sudah malas sekali bekerja beberapa bulan ini. Kupencet bel rumahnya, dan Chaerim Ahjumma seperti biasa membukakan pintu.

”Ah, Leeteuk-ssi… silakan, silakan masuk…”

Aku melangkah masuk ke dalam ruang tamu mewah itu. ”Haejin ada, kan?”

”Agessi ada di atas, Tuan naik aja…”

Aku naik ke lantai dua.

Author’s POV

Haejin mengeluarkan buku kesehatan ibu hamil-nya setelah meminum susu emesis, susu hamil untuk yang sering mual-mual. Karena Haejin rawan mual, apalagi karena ini negara yang doyan bawang putih, Haejin jadi seperti vampir, gampang mual, dan susah untuk masuk nutrisi.

”Jalan tiga belas minggu…” Haejin menandai bukunya, sambil mengelus perutnya. ”Baby, otokhe? Eomma harus apa?” masih bergumam. ”Aduuuuh, mual lagi… Baby jangan bikin Eomma mual melulu doooong, nanti Eomma susah makan, kamu yang kurus dan unyil kayak Appa, mau?” dan Haejin beranjak ke kamar mandi, untuk muntah-muntah kembali. Setelah selesai, Haejin menekan tombol flush, dan langsung keluar dari kamar mandi, mendapati sosok seseorang yang sedang memegang buku kesehatan ibu hamilnya.

”Oppa?!”

Leeteuk menoleh, wajah Haejin pucat, dan dia nampak terperangah melihat bukunya di tangan Leeteuk, wajah Leeteuk datar, tanpa ekspresi. Haejin keringat dingin di depan pintu kamar mandi. Leeteuk berjalan ke arah pintu kamar tidurnya, dan mengunci pintunya.

”Oppa…”

Leeteuk masih memunggunginya, dan menghela napas dalam-dalam, lalu berbalik menghadap Haejin, sambil mengangkat buku itu. ”Ini apa?”

”Oppa…”

”Pertanyaanku salah! Anak siapa?” tanya Leeteuk saklek.

Haejin menunduk.

”Haejin-ah, jawab aku… anak siapa itu?”

Haejin menggeleng, dan memeluk perutnya, air matanya jatuh. ”Mianhae, Oppa… mianhae… aku tidak bisa mengatakannya! Ini anakku, ini anakku…”

Leeteuk menghampiri Haejin, dan memegang tangannya. ”Haejin-ah… harus berapa kalikah aku katakan kalau aku cinta padamu? Dan akan aku buktikan, aku menerimamu apa pun keadaanmu.”

Sebetulnya pernyataan itu sudah tegas, tapi Haejin menggeleng. ”Mianhae, Oppa… mianhae…”

Leeteuk akhirnya memeluk Haejin. ”Sudahlah, gwenchana… gwenchana…” meski hatinya sakit, dia akan selalu mendukung gadisnya ini.

Sekarang keduanya sudah duduk di teras berdua bersila, memandang langit dari balkon kamar Haejin. Haejin masih nampak murung, karena akhirnya rahasianya terungkap.

”Haejin-ah, mau sampai berapa lama kau menyembunyikannya?” tanya Leeteuk lembut. ”Perutmu lama kelamaan akan membesar, dan itu akan menimbulkan pertanyaan besar, dan pastinya pertanyaan itu mengarah padaku.”

Haejin tersenyum kecil, dan menunduk. ”Mianhae, Oppa… jeongmal mianhae… aku tidak bisa menjadi wanita yang Oppa harapkan! Aku bukan gadis yang baik…”

”Maksudku bukan begitu, semua yang kau lakukan pasti ada alasannya. Tapi bagaimana? Usia kandunganmu sudah masuk tiga belas minggu, jika menginjak tiga bulan, perutmu akan kelihatan, sekarang saja kau sudah terlihat tambah gemuk.”

”Molla, Oppa…” Haejin menggeleng, sambil memeluk lututnya. ”Eomma dan Appa pasti akan sangat kecewa, putri pertamanya, yang mereka harapkan, yang mereka banggakan, yang mereka percayai… tiba-tiba seperti ini…”

Leeteuk tersenyum. ”Apakah aku tidak boleh tau siapa ayahnya?”

”Biar aku yang tahu, Oppa… karena tahu atau tidak, tidak akan pernah ada bedanya…” jawab Haejin nanar.

*           *           *

”Haejin hamil!”

”Aku tahu.”

Leeteuk duduk di kasur, dan memandang dongsengnya yang akhirnya kembali ke dorm setelah dua tahun sibuk syuting, Kim Kibum. ”Kau tahu dia hamil? Dia cerita padamu?”

Kibum mengangguk, sambil memebereskan bajunya. ”Aku bilang padanya, percuma kalau mau disembunyikan, tapi dia sendiri juga pasti bingung bagaimana harus memberitahukannya kepada kedua orang tua dan keluarganya… terlebih, pada ayah anak itu.” Kibum menghela napas, dan kembali memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari.

Kalimat terpanjang yang pernah dikeluarkan oleh Kibum, pikir Leeteuk. Dia pasti tahu siapa ayah bayi yang dikandung Haejin. ”Kibum-ah… kau tahu siapa ayah bayinya?”

”Kalau tahu pun tidak akan merubah apa-apa, begitu katanya… tapi ya, aku tahu.” Kibum duduk di sebelah Leeteuk. ”Hyung… bagaimana keadaanmu, begitu tahu hal ini?”

”Kau khawatir padaku?” Leeteuk terkekeh.

”Ne… kau pasti terkejut…”

Leeteuk menghela napas dalam-dalam. ”Kalau ditanya terkejut, pastinya aku terkejut. Aku sampai pada titik bahwa dia memang bukan untukku, sekeras apa pun aku berusaha. Aku sudah belajar untuk melepaskannya dari awal, karena dia memang tidak cinta padaku…”

Kibum menatap Leeteuk lurus. ”Kau akan dapat penggantinya, Hyung… karena kau orang baik.” Kibum mengatakannya dengan serius.

”Gomawo, Kibum-ah…” Leeteuk memejamkan matanya, ketika tetes bening air mata ikut mengalir.

*           *           *

”Kyuhyun-ah, habiskan makananmu!”

Kyu memandang piringnya, setelah melamun lama. ”Ah iya! Mianhae…” lalu langsung melahap makanannya.

”Kibum pulang, Kyu! Harusnya kau bahagia!” celetuk Wookie.

”Aku bahagia… aku hanya bingung…”

”Pegangan!” sahut Heechul tak acuh sambil terus membakar samgyupsalnya, dan tidak melihat Kyu.

Kyu terkekeh melihat bawang putih di depannya. Semua menoleh, Shindong bertanya. ”Kenapa kau?”

”Ingat bawang putih aku ingat Haejin Noona, yang pasti muntah kalau mencium bawang putih… ah iya, Teukie Hyung… aku baru ingat!”

Teukie menoleh. ”Apa?”

”Kemarin setelah dari dokter untuk melakukan check up tentang telingaku, aku ketemu Haejin Noona di rumah sakit.”

”Haejin sakit?” tanya Yesung heran.

Kyu mengangkat bahu. ”Katanya sih begitu…”

”Kok kayaknya kau tidak yakin?” tanya Heechul sambil terus memakan samgyupsalnya.

”Iyalah, aku kan ngeliat dia keluar langsung dari ruang  praktek dokternya…”

”Yah berarti dia emang sakit, Kyu!” sahut Heechul tak sabar.

”Aniyo!” Kyu menggeleng. ”Kalau dokternya dokter umum iya deh… tapi dia keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan!”

Serentak, Leeteuk, Kibum, dan Donghae tersedak.

”Hyung!” pekik Yesung. ”Kau dan Haejin……”

”Aniyo! Aniyo…”

”Omo! Teukie…” Heechul geleng-geleng. ”Nikah dulu baru kawin! Itu peraturannya! Aigoooo… biarpun aku atheis, aku tahu aturannya!”

Kibum menepuk-nepuk dadanya sendiri, sementara Donghae pucat pasi.

”Teukie Hyung… kami akan punya keponakan?” tanya Wookie polos. ”Aigooo, bayinya pasti lucu!”

”Heh!” Donghae menggeplak kepala Wookie. ”Kata siapa Haejin hamil?! Kau ini… aish!”

”Jangan dipukul dong, Hae…” Sungmin mengelus kepala Wookie kasihan. ”Tapi serius, beneran Hyung?”

*           *           *

Donghae’s POV.

Ketika aku hendak mengambil air minum, aku melewati kamar Kibum. Dorm sepi, semua sudah tidur. Tapi kudengar ada suara-suara panik dalam kamar Kibum, dan aku berniat mendengar apa yang membuat Kibum yang tenang itu panik.

”KYU curiga!”

”Ara, Hyung! Ara…” bisik Kibum. ”Kita harus melakukan sesuatu… kita harus tolong Haejin!”

”Tapi apa? Kehamilan kan bukan sesuatu yang bisa disembunyikan dengan gampang, Kibum-ah! Sekarang walaupun perut Haejin belum membuncit, tapi Kyu melihatnya di dokter kandungan!”

Kibum menghela napas. ”Harusnya aku menemaninya check up kemarin!”

”Malah kau nanti yang dikira menghamili Haejin!”

”Tapi aku bisa memberitahunya kalau Kyu ada disitu!”

”Aku masih berpendapat kalau kita harus beritahu ayahnya…” suara Leeteuk terdengar geram.

”Tidak segampang itu Hyung… Haejin tidak mengizinkan!”

”Lalu, dia mau membesarkan bayinya sendirian?”

”Andai Donghae Hyung tahu kalau Haejin Noona sedang mengandung anaknya sekarang…”

Apa? Haejin? Hamil? Anakku? Pikiranku langsung macet, gelas yang kupegang terlepas dari tanganku, aku merogoh kantungku dengan panik, kulempar semua isinya, sampai aku menemukan kunci mobilku. Aku langsung turun ke bawah dan mencari mobilku, dan melarikannya ke rumah Haejin.

Ya Tuhan?! Apa yang terjadi… Haejin hamil? Jadi yang Kyu bilang benar? Haejin memang memeriksakan kandungannya?! Dan itu anakku? Darah dagingku sendiri, di rahim Haejin?! Jadi kemarin… waktu kita… jadi begini???

Aku akhirnya sampai di rumahnya, sudah gelap di jendela-jendela kecilnya. Hanya jendela-jendela kamar yang ada penghuninya yang masih menyala. Dan aku kenal benar jendela itu, jendela kamar Haejin, dimana aku pernah masuk lewat sana, dan memaksanya…… aku memanjat sulur-sulur pohon di dekat situ, dan meloncat naik ke balkon kamarnya.

Kudengar suaranya, dari dalam kamarnya, dia sedang apa ya? Pikirku, dari bayangannya, dia sedang mondar-mandir, sambil bersenandung. Aku mendengarnya bicara.

’Baby, kalau kau namja… jadilah tampan seperti Appamu, dan jika kau yeoja… jadilah kuat seperti Eomma-mu…’

Aku menghela napas, dan mengetuk pintu itu.

”Nuguseyo?!” suara Haejin panik.

”Aku…” jawabku pelan.

Haejin menghela napas, entah lega entah tertekan, dia mendekati pintu, dan membuka gorden, aku melihatnya dan dia menatapku nanar. ”Kau mau apa?!”

”Aku mau bicara…” kataku pelan.

”Kan kau bisa meneleponku, tidak usah naik kesini! Seperti maling!”

”Aku sudah disini, jadi buka pintunya!”

Haejin menghela napas, dan membuka kunci balkonnya, lalu membukakan pintunya, aku masuk, dan menutup pintu balkon, menguncinya lagi, dan menutup gordennya, Haejin menatapku malas.

”Kau mau bicara apa?!”

”Haejin-ah… jujur padaku!” aku langsung berkata tanpa berpikir. ”Benar, kalau kau sedang mengandung sekarang?!”

Mata Haejin terbelalak lebar, dia amat sangat terkejut, dan dia langsung lemas duduk di tepi tempat tidurnya. ”Bagaimana kau tahu?!”

”Tidak penting darimana aku tahu! Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?!” air mata menggenang di mataku. ”Itu anakku… Haejin-ah, itu anakku!”

Haejin memeluk perutnya. ”Ini anakku!”

”Kalau hanya kau mana mungkin anak itu ada! Dia ada karena kita berdua! Dia butuh kita berdua!” aku mulai mendekati Haejin. ”Dan kau akan menyembunyikannya terus?! Kau tidak akan pernah mengatakannya kepadaku kalau kau sedang hamil anakku?!”
Haejin cuma diam, dan nampak sedih.

”Aku akan membatalkan pernikahanku dengan Heenim!”

”Jangan! Jangan!” Haejin berdiri dan menangis. ”Kumohon, Donghae, jangaaaaan… jangan lakukan itu! Heenim adikku…”

”Yang kau kandung itu anakku!” teriak Donghae.

Haejin menutup matanya, sambil sesenggukan. ”Mianhae Donghae-ah… tapi jangan minta aku untuk memilih, karena aku akan tetap memilih adikku!”

Aku menjambak rambutku frustasi. ”Lalu kau akan apa?! Jebal, Haejin-ah… itu anakku! Kau berpikirkah ke depan? Jika nanti dia besar, dia akan bertanya siapa ayahnya! Temannya akan bertanya dimana ayahnya! Haejin-ah… itu anakku, itu anakku…” aku berlutut memeluk kaki Haejin. ”Jangan pisahkan aku dengan calon bayiku! Jebal!”

Haejin menangis sambil menatapku yang masih berlutut dan memeluk kakinya, tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan! Takdir sepertinya memisahkan kami, tapi bayi ini bukti kalau kami memang terikat satu sama lain! Aku yakin itu…

*           *           *

Author’s POV

Heejin, Haerim, dan Heenim mendengar teriakan dari kamar kakak sulung mereka, ketiganya berlari, baru ingin mengetuk pintu kamarnya sederet kalimat yang terdengar kemudian membuat mereka lemas tak bisa bergerak.

”Lalu kau akan apa?! Jebal, Haejin-ah… itu anakku! Kau berpikirkah ke depan? Jika nanti dia besar, dia akan bertanya siapa ayahnya! Temannya akan bertanya dimana ayahnya! Haejin-ah… itu anakku, itu anakku…”

Ketiganya menganga di depan kamar kakak mereka, apalagi kemudian mendengar Donghae dan Haejin menangis bersama karena sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka hadapi kemudian.

”Mwo? Oppa… Oppa…” Heenim langsung lemas duduk ke bawah, Haerim menangkapnya.

Haerim memeluk adiknya. Heenim lemas sekali mendengar kenyataan di hadapannya, tapi teka-teki keanehan kakaknya terungkap semua. Heejin masih membeku di depan pintu kamar.

”Onnie…” kata Heenim sambil berdiri, dia nampak linglung, dan tidak tahu arah. ”Aku mau keluar…”

”Heenim-ah!”

Heenim sudah keburu kabur, dengan membawa mobilnya pergi. Dia berdiri di tepi sungai han, sambil memandang sungai itu. Air matanya sudah habis untuk menangisi Donghae lagi sekarang, dia hanya ingin melarikan diri sementara, sebelum membuat keputusan tentang hubungannya.

’Donghae Oppa… saranghae…’ bisiknya.

*           *           *

”Ini handphone Donghae!”

”Aku sudah yakin dia pasti dengar tadi…” jawab Kibum.

Seluruh member cuma bisa duduk dan bengong, Donghae menghamili pacar Leeteuk, mungkin itu yang ada di pikiran mereka semua. Semua terlihat shock, rahasia ini sudah terbongkar. Apalagi Haerim dan Heejin sudah telepon Kyu dan Yesung untuk konfirmasi berita ini.

”Jadi intinya, Noona hamil, tapi anak Hae hyung?” tanya Wookie.

”Ceritanya panjang! Sekarang yang penting, bagaimana Donghae sama Haejin nikah dulu… kasian anaknya!” itu yang diucapkan sang leader dengan berbesar hati.

Bel apartemen berbunyi. Heechul menyeret kakinya ke pintu untuk melihat siapa yang datang.

”Nugu?” tanya Leeteuk padanya.

”Entah ya, Haejin dalam paket mini…”

”Maksudnya?”

”Kayak Haejin, tapi bukan… lebih kecil dari Haejin, lebih sipit dari Haejin… tapi mirip Haejin!”

Leeteuk berlari ke pintu. ”Itu Heenim!”

”Heenim?!” Heechul bingung, dan menunjuk dirinya sendiri.

”Heenim-ah?”

Heenim tersenyum, ”Annyeonghaseyo, Leeteuk Oppa… maaf mengganggu malam-malam…”

”Silakan masuk, Heenim-ah…” Heenim membungkuk pada Heechul yang seperti melihat ular, terpaku di pinggir pintu, lalu begitu Heenim masuk bersama Leeteuk Heechul geleng-geleng.

”Heenim? Heenim?” dia menunjuk Heenim, dan geleng-geleng. ”Aigooo… Heenim? Kenapa Heenim?”

Sekarang Heenim duduk dikeliling seluruh member kecuali Donghae, Heenim mengatakan maksud kedatangannya, dan semua member mengangguk memahami apa yang dia katakan.

”Aku bangga pada kalian berdua…” ucap Kibum sambil tersenyum. ”Teukie Hyung, Heenim-ah… kalian berdua orang baik! Percayalah, jodoh kalian pasti menanti kalian…”

“Semoga, Kibum-ah…”

TBC

wooaaaa udah part 9, berikutnya adalah part terakhir dari seri Can It Be Love… hahahaha… aku senang, makasih buat readers yang udah ngikutin dari part 1 sampe sekarang, aku berharap endingnya nanti gak mengecewakan… aku minta maaf kalau part ini agak mengecewakan, soalnya aku ngerjainnya sambil sakit mata TT___TT mianhae readers…

oiya untuk menambah semangat saya dalam menulis, saya makish buat Sebastian… yg udah ngingetin di Twitter tentang FF2 saya… wkwkwk, jangan lupa follow saya ya @nisya910716, dan kalo udah follow, kasih twit aja minta difollow, aku suka agak2 lupa ngecek followers, mianhae ya… hehehe… kamsahamnida *deep bow*

6 thoughts on “Can It Be Love ~Part 9~

  1. jahhh si hae baru tau -__-
    itu buruan tanggung jawab! *gemes*
    aduuhhhh sumpah saya bingung ni ngejelasinnya ke ortu mereka gimana u.u
    teuk sama heenim bijak banget :’)
    teuk oppa kamu udah menemukannya kok *tunjuk diri*
    sumpa ya si onnie sempet2nya bercanda -_- itu oppa saya si heechul bloon banget? /plakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s