Can It Be Love ~Part 8~

Can It Be Love ~Part 8~

Kedua orang tua Donghae akhirnya pamit, karena Donghae sendiri hilang.

Di depan kamar Heenim, Haejin mengetuk pintu kamarnya berkali-kali sambil menangis. ”Heenim-ah… Heenim-ah, buka pintunya…” didengarnya Heenim menangis, ”Heenim!” panggil Haejin lagi. ”Heenim, Sayang… Sayang buka pintunya dong…”

Heejin dan Haerim muncul.

”Udah, Onnie… gak usah, biar aku aja…” kata Haerim, ”Onnie juga keliatan shock, Heejin Onnie, tolong bawa Haejin Onnie ke kamarnya.”

Heejin membawa Haejin ke kamarnya, di dalam kamar Haejin, ia menangis dan memeluk Heejin erat-erat. Heejin balas memeluknya, Heejin tahu apa yang bergolak  dalam perasaan kakak dan adiknya ini.

”Otokhe? Otokhe?” hanya itu yang bisa dibisikkan oleh Haejin. Sementara di luar pintu kamarnya, Leeteuk mendengarkan tangisan Haejin, yang sepertinya sudah ditahan dari tadi.

”Hyung!”

Leeteuk menoleh, dan datanglah Yesung. ”Hyung, gwenchana? Hyung terlihat agak stress…”

”Yesung-ah…” sahut Leeteuk pelan, sambil melihat ke dalam kamar lagi. Yesung mengikuti arah pandangnya. ”Kenapa Haejin begitu mencintai Donghae?” tanyanya pelan, dan pilu.

Yesung terkejut, dan menatap Leeteuk kaget. ”Hyung…”

”Kenapa aku tidak bisa dicintai?” sambil tersenyum, setetes air mata turun. ”Aku sudah mencoba dengan segenap hatiku agar Haejin mencintaiku, tapi… rupanya aku memang tidak bisa menggantikan Donghae!”

Yesung menepuk-nepuk bahu Leeteuk. ”Jangan ganggu mereka dulu yuk, Hyung… Hyung juga sepertinya harus menenangkan diri.” Dan Yesung membawa Leeteuk pergi dari depan kamar Haejin.

Sementara Haerim pun tidak bisa sama sekali membujuk Heenim.

Heenim tidak mau membukakan pintu kamarnya, hanya menangis sedih di dalam kamarnya. Haerim akhirnya menyerah, dan memutuskan kembali ke ruang tamu, namun di ruang tamu hanya ada Kyu, yang nampak cemas. Dimana Yesung dan Leeteuk? Pikirnya.

”Leeteuk Hyung juga terguncang, Jagiya…” jawab Kyu menjawab pandangan bertanya Haerim.

Haerim duduk lemas di sofa. ”Aduuuuuuh, sekarang harus bagaimana, Oppa? Lihat keadaanya sudah seperti ini… Donghae Oppa kabur, Heenim dan Haejin Onnie sedih, Leeteuk Oppa juga jadi sedih!”

”Apa tidak sebaiknya kalian bilang pada orang tua kalian?” usul Kyu.

”Mungkin memang itu jalan satu-satunya… aku cuma tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Eomma dan Appa kalau tau, dan bagaimana dengan orang tua Donghae Oppa?”

”Aku juga bingung…” Kyu setuju.

Haerim menghela napas, ”Aku hanya takut Appa justru tidak akan membiarkan dua anaknya memiliki Donghae Oppa. Appa adalah ayah yang demokratis, selalu mau keadilan untuk anak-anaknya, kalau seperti ini… mungkin Appa akan marah dengan seseorang yang menghancurkan hati kedua anaknya.”

Kyu menelan ludah, masalah nambah panjang kalau memang itu yang akan terjadi nanti.

*           *           *

Donghae mengendarai mobilnya berputar-putar area Seoul, dia cukup shock dengan apa yang dia alami hari ini. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya membawanya ke rumah keluara Haejin, dan tanpa sepengetahuannya sama sekali kedua orang tuanya mau menikahkannya dengan Heenim, belum lagi Haejin ternyata sudah tau tentang rencana kedua orang tuanya tersebut.

Kenapa sepertinya dia sangat sulit mendapatkan gadis yang dicintainya? Apa dosa yang dia perbuat di masa lalu sehingga dia tidak bisa mendapatkan gadis itu? Tapi, dia marah… kenapa Haejin sudah tahu malah tidak memberitahunya sama sekali? Malahan dengan Teukie Hyung mewakili kedua orang tuanya, menerima lamaran dari orang tua Donghae sendiri? Donghae benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Haejin?!

Tiba-tiba rencana gila melintas dipikirannya, diremnya mobilnya, lalu dengan cepat, diputar balikkannya stang mobil, dan mobilnya melaju kencang menuju rumah Haejin, tanpa memikirkan konsekuensi rencananya.

Sementara di rumah keluarga Haejin, Heejin akhirnya meninggalkan Haejin yang sudah tenang, dan tertidur, meski agak gelisah. Heenim juga sudah tidak ada suaranya, mungkin sudah tertidur. Haerim dan Kyu keluar, sementara Yesung masih menemani Jungsoo mabuk. Akhirnya Heejin memutuskan untuk ikut tertidur.

Haejin berbalik badan, menatap ke arah balkon kamarnya, pikirannya terus melayang-layang, dia memikirkan Donghae, memikirkan adiknya, memikirkan Jungsoo Oppa, dan memikirkan dirinya paling akhir. Belum pernah seumur hidupnya dia memiliki masalah sepelik ini. Dia mencoba memejamkan matanya lagi, tapi tidak bisa, masalah itu bercokol terus di kepalanya, hingga pemandangan di balkon kamarnya membuatnya terbelalak, seseorang berdiri di balkon kamarnya. Bayangannya dipantulkan sinar lampu yang redup dari balkon.

Haejin buru-buru duduk, dan mengambil obat semprot nyamuk. Maling dari mana ini? Pikirannya teralihkan, sekarang ketakutan yang muncul, pokoknya kalau maling itu masuk, matanya harus disemprot!

Bayangan itu makin mendekat ke pintu kaca balkon, yang memang cuma ditutupi tabir, jadi bayangannya terlihat jelas. Tapi, maling itu bersuara. ”Haejin-ah… buka pintunya!”

Haejin tergagap, ”Donghae?” lalu dia membuka tabir dan gorden, Donghae memang berdiri di hadapannya. Tanpa senyum indah dari matanya yang indah juga, Haejin menatapnya.

”Kau sedang apa disini?” tanya Haejin dingin.

”Buka pintunya!”

”Aku tanya kau mau apa kesini?” balas Haejin tak kalah galak.

”Kau mau pintumu tetap utuh, kan? Jangan kau kira aku tidak sanggup merusaknya, ya?”

Haejin menghela napas, dan membuka kunci pintu balkonnya, ”Aku punya pintu masuk di bawah!”

Donghae mendorong Haejin agak kasar, lalu dia masuk, dan mengunci pintu balkon, serta menutup kembali tabir, dan gorden, lalu berbalik, menatap Haejin. Mata tajamnya seolah-olah sudah menghakimi Haejin.

”Apa sih maksudmu?!” tanyanya.

”Maksud apa?” tanya Haejin.

”Kau tahu aku sama sekali tidak tahu soal rencana orang tuaku! Dan kau malah membantu mereka untuk menikahkanku dengan Heenim!” dia benar-benar kehilangan kesabaran. ”Kau itu sudah kubilang berkali-kali, kenapa kau masih juga tidak mau mengerti persaanku, sih?!”

Haejin menghela napas. ”Appa dan Eommaku memintaku untuk mewakili mereka, Donghae-ah… lagipula kedua orang tuamu juga…”

”Setidaknya kau bisa bilang padaku!” bentak Donghae.

”Lalu kalau aku bilang?! Kau akan apa?!”

”Aku akan menolaknya! Sumpah Demi Tuhan, Haejin-ah… mau sampai kapan kita begini? Aku tidak mencintai Heenim sama sekali, dan kau!” tunjuknya. ”Kau bilang kemarin kau cinta padaku! Apa itu hanya agar aku bisa sembuh?!”

”Aniyo! Aku tidak serendah itu!” jerit Haejin. ”Aku benar-benar mencintaimu, Donghae-ah…” Haejin menangis. ”Itu jangan dipertanyakan, tapi rasanya sulit untuk bersama…”

Donghae menghela napas, ”Aku tidak  percaya padamu! Kau hanya bisa menyakiti hatiku terus!” ucapnya pedas. ”Kau mempermainkan perasaanku, tau?! Aku sudah berusaha setengah mati untuk selalu mengikuti segala permintaanmu, tapi ini balasanmu?!”

”Aniyo…” Haejin menggeleng. ”Hanya saja adikku, Heenim itu adikku, andai kau dijodohkan dengan orang lain yang bukan adikku, aku pun akan berjuang sepertimu, Donghae-ah, agar kita bersama…” air mata berlinangan. ”Tapi Heenim itu adikku! Dan dia mencintaimu juga sudah dari dulu… aku tidak mau merampasmu…”

Donghae diam, masih menatap Haejin kesal. ”Kalau begitu buktikan padaku kalau kau memang cinta padaku!”

”Apa maksudmu?”

”Kalau kau memang tidak bisa membuktikannya, aku akan ke kamar Heenim sekarang juga dan bilang kalau aku cinta padamu dan kau cinta padaku!”

Haejin terperangah, dia masih diam. Tapi Donghae sudah terlalu emosi malam ini, melihat Haejin cuma diam, Donghae hendak keluar dari kamar, refleks Haejin menarik kemeja Donghae di bagian lengan sekuat tenaga, dan kemudian langsung robek, hingga seluruh bagian dadanya. Hingga dada putihnya terlihat benar-benar jelas, Haejin kaget dan refleks mundur.

”Mi…mi…mianhae…”

Donghae berbalik, menghadap Haejin. Dengan satu tarikan napas, tanpa memberi kesempatan pada Haejin untuk berteriak, Donghae mencium bibirnya kasar, Haejin memberontak, memukul-mukul badan Donghae, tapi ditariknya tangannya begitu langsung menyentuh dada Donghae.

”Donghae… Donghae… lepas… lepas…” ringisnya kesakitan.

Didorongnya Haejin ke dinding, punggungnya menghantam dinding, Haejin sudah menangis histeris, ingin melepaskan Donghae, tapi Donghae terlalu emosi, melumat bibirnya kasar. Kemudian Haejin ditarik, dan didorong ke kasurnya, Haejin menangis terus.

”Donghae-ah, andwe! Andwe… jangan! Jangan! Ja…” tapi bibirnya dibungkam oleh ciuman liar Donghae lagi. Usaha Haejin sia-sia, karena tenaga Donghae, yang berkat pengaruh album keempatnya, membuat Haejin tergolek lemah, dan pasrah menerima apa yang terjadi kemudian.

*           *           *

Haejin terbangun, ruangan masih gelap, begitu juga diluar. Ini masih malam, Haejin duduk, kedinginan. Menarik selimut untuk menutupi badannya yang tidak dilapisi sehelai benang pun, dia melihat wajah damai Donghae yang dibalut selimut di sebelahnya, sama sepertinya, tak ada sehelai benangpun yang melekat pada tubuhnya. Mereka melakukan hubungan terlarang itu, Haejin langsung menangis dan menundukkan kepalanya ke dalam selimut. Terisak-isak, tubuhnya berguncang-guncang. Sakit di badannya belum ada apa-apanya dibanding sakit dihatinya.

Teganya Donghae melakukan itu padanya? Ini memperumit masalah! Mungkin, karena isak tangis Haejin, akhirnya Donghae terbangun, dan duduk, nampak menyesal telah membuat gadis yang dicintainya menangis seperti ini. Tapi bagi Donghae, tidak ada jalan lain!

”Haejin-ah…”

Haejin diam, terus menangis. Donghae menyentuh bahunya, tapi Haejin langsung menghempaskan tangannya, dan terus menangis. Donghae diam, dia sedih sekali melihat Haejin menangis seperti ini. Dipeluknya Haejin dari belakang, tidak peduli Haejin memberontak sekuat tenaga, tapi Donghae terus memeluknya, Haejin juga bisa merasakan air mata Donghae yang menetes di punggung telanjangnya.

”Wae? Wae? Wae?” tanya Haejin sambil menangis, dan menghentakkan kakinya, sehingga seprai dan selimut berantakan. ”Kenapa kau melakukan ini padaku?! Kau jahat! Kau jahat! Kau jahat!” Haejin menangis histeris, sementara Donghae hanya bisa memeluknya dari belakang.

”Aku mencintaimu, Haejin-ah… aku tidak mau kehilangan dirimu…” sahut Donghae. ”Kalau kau anggap aku jahat! Kau boleh mengatakan apa saja… asal kau tidak pergi! Aku tidak mau kehilanganmu…” Donghae menangis sedih. ”Aku sendiri bingung harus bagaimana, Haejin-ah, karena kau menganggap sepele perasaanku! Kalau bagimu ini salah, maaf… tapi aku tidak menyesal melakukannya, karena aku mencintaimu dengan segenap hatiku dan jiwaku!”

Haejin diam dan pasrah. Miliknya paling berharga, diambil oleh orang yang dicintainya, ditengah kemelut ini, entah dia harus senang atau harus sedih. Pikirannya masih bercokol soal Jungsoo Oppa dan Heenim, tapi kata-kata Donghae barusan juga menyadarkannya, dia tidak pernah memikirkan perasaan Donghae. Tapi bagaimana? Memang harus ada yang tersakiti diantara kita berempat. Aku diam saja, Donghae terus memelukku dari belakang sambil menangis.

”Donghae-ah…” bisik Haejin.

”Hmm?”

”Kurasa kita memang tidak pernah bisa bersama…”

”Andwee!” sahutnya pilu.

Haejin menghela napas panjang. ”Aku baru menyadarinya malam ini! Aku terlalu lama bermimpi… Donghae-ah, sudahlah… aku tidak akan pernah kembali padamu! Kau mau bersama Heenim atau tidak terserah, tapi aku sudah melukai adikku, melukai Jungsoo Oppa, melukaimu… dan melukai diriku sendiri!”

”Andwe!” tangis Donghae semakin pilu, dipeluknya Haejin semakin erat. ”Andwe! Jangan tinggalkan aku… jangan tinggalkan aku, jebal…”

”Mianhae…”

”Haejin-ah…”

”Mianhae, Donghae-ah… aku bersumpah, tidak akan pernah kembali lagi kepadamu…” dan dengan kekuatan yang dipunyainya, dia melepaskan Donghae, membuka selimutnya, dan memakai jas mandi. ”Kalau kau mau tidur disini terserah, aku mau keluar… atau kau bisa pergi sekarang!”

Donghae berdiri, dan memakai boxernya. ”Aku mencintaimu, Haejin-ah! Dan aku tau kau juga!”

”Aniyo!” Haejin menggeleng. ”Aku tidak mencintaimu lagi! Setelah apa yang kau perbuat padaku malam ini! Hatiku tertutup rapat untukku, jadi jangan harap aku mau kembali padamu meski kau sudah merenggut kehormatanku!”

Kata-kata itu benar-benar menusuk ke dalam hati Donghae, ya… aku memang bersalah, dia membenciku, pikir Donghae. Donghae langsung memakai semua bajunya, dan melompat keluar dari balkon. Setelah Donghae pergi, Haejin jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu setelah aksi cool yang dia lakukan tadi! Mana mungkin, Donghae-ah… kau itu cinta pertama dan terakhir bagiku, tapi ini demi kebaikan kita bersama, Donghae-ah. Biar aku dan kau yang terluka, daripada Heenim dan Jungsoo, yang tidak tahu apa-apa, dan kita permainkan mereka dibelakang mereka.

*           *           *

Satu Bulan Kemudian

Haejin meregangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, kemudian membereskan mejanya sambil melirik jam. Ya Tuhan, setengah satu. Ya, Haejin kembali ke kebiasaan lamanya, setelah putus dengan Donghae, yakni bekerja keras hingga malam, hingga menghindari seluruh anggota keluarganya.

Meski Haejin dan Donghae bersikap seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka, jika terpaksa bertemu hanya bertukar sapa seadanya. Tapi, Yesung, Heejin, Kyuhyun, Haerim, Leeteuk, dan Heenim tahu ada sesuatu diantara mereka. Mereka telah berpisah, meski tidak kentara. Dan tidak ada yang tahu apa penyebab mereka berpisah, yang jelas Donghae sudah kembali berubah menjadi pacar yang baik bagi Heenim, begitu pula Haejin.

Hari ini, adalah hari teramat malam baginya untuk pulang, karena menghindari pesta di rumah. Kyu-Haerim serta Yesung-Heejin malam ini bertunangan, maka Haejin sedang malas, apalagi kalau disana pasti ditanya-tanya kapan menyusul. Tapi teleponnya terus berdering meski diabaikan, akhirnya dia membuka akun twitternya. Heejin dan Haerim mementionnya sebuah foto, begitu dibuka foto Heejin-Yesung bertukar cincin, dengan batu kura-kura di atasnya, dasar maniak kura-kura!

Lalu foto Haerim dan Kyu bertukar cincin. Kalau yang ini, couple skinship, mesra-mesraan suka nggak tau tempat dan waktu, aigooo mereka ciuman didepan semua orang?! ckckck, nikah saja belum… lalu foto terakhir, adalah foto Donghae berlutut di hadapan Heenim.

Apa ini?! Donghae melamar Heenim?! Hati Haejin langsung sakit, Ya Tuhan, kuatkan hatiku… kuatkan hatiku… asal Heenim bahagia, Donghae bahagia… aku pun bahagia! Tuhan… Tuhan tolong aku… Haejin membaca tulisan di bawahnya, Donghae tiba-tiba melamar Heenim,😄.

Kemudian kuambil ponselku, dan kulihat pesan teratas dari Heejin.

From : Naui Heejin

Onnie? Kau masih disana? Onnie kau tegaaaa… kami kan sedang bertunangan! Onnie, Donghae Oppa tiba-tiba melamar Heenim! Kami bertunangan berenam, kenapa Onnie tidak ada sih?! Onnie benar-benar merusak kebahagiaan kami! Onnie saranghae…

Donghae melamar Heenim! Akhirnya dia melamar adikku, entah aku harus senang atau sedih… Tuhan, bantu aku Tuhan! Tuhan bantu aku, agar sanggup kurelakan… bila dia bukan untukku *BCL mode : on*

Esoknya, Haejin merasa tidak sehat, dia terlalu lelah bekerja, jadi dia memutuskan untuk istirahat di rumah saja, dan berharap Donghae tidak akan datang, atau dia akan berkunci di dalam kamar seharian penuh. Tapi, kenyataan berbicara lain, sejak pagi Donghae sudah datang, bersama Yesung dan Kyuhyun. Padahal Haejin baru saja keluar dari kamar dan begitu melihat kebawah, ketiga cowok itu baru masuk ruang tamu.

”Jagiya!” pekik Haerim dari tangga, dan dia langsung menghambur ke pelukan Kyu. Heejin dan Yesung langsung ke kolam ikan di belakang, mereka sedang proyek ternak kura-kura. Sementara Heenim di dapur, Donghae bergegas ke dapur.

Haejin yang rencananya mau turun, jadi batal, dia langsung kembali ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Sementara di bawah, Heenim mengumumkan sarapan sudah siap. Yesung dan Heejin buru-buru cuci tangan dan duduk di meja makan, sementara Haerim dan Kyu sambil berangkulan duduk juga di meja makan, Donghae sudah duduk duluan disana.

Heenim meletakkan sup di tengah-tengah. ”Ini sup bawang Perancis… he he he, aku liat di Internet…”

”Aaaah, sepertinya enak…” puji Kyu.

”Gomawo, Jagiya…” kata Donghae sambil tersenyum. Heenim mengangguk sambil tersenyum, lalu kembali ke dapur.

Heejin berkata. ”Kau tidak makan, Heenim-ah?”

”Aku mau antar ini ke Haejin Onnie dulu…” Heenim muncul membawa nampan. ”Sepertinya dia tidak enak badan, dia tidak masuk kerja hari ini.”

”Tumben…” komentar Yesung. Donghae memakan supnya tanpa komentar sama sekali, meski kupingnya terpasang sangat tajam. Heenim naik ke atas.

Diketuknya pintu kamar Haejin, didengarnya Haejin menjawab, dan Heenim masuk. Baru saja Heenim masuk membawa supnya, Haejin sudah duduk mendadak, dan lari ke kamar mandi. ”BAWANG!” teriaknya sambil muntah.

Heenim bingung. ”Onnie? Waeyo? Onnie, gwenchana?”

”Bau bawang!” jawab Haejin serak dari dalam kamar mandi. ”Itu apa sih?!” teriaknya dari kamar mandi.

Heenim menjawab. ”Sup bawang Perancis, Onnie…”

”Bawangnya berapa banyak? Woeeeeek…” muntah lagi. ”Woeeeek! Woeeeek! Astagaaa…”

Heenim nampak khawatir. ”Ya udah, Onnie… aku bawa pergi supnya…” Heenim turun ke bawah membawa mangkuk supnya lagi. Kelima wajah di meja makan menatapnya heran.

”Lho, kok dibawa turun lagi?” tanya Haerim.

”Onnie nyium bau bawang langsung muntah…” sahut Heenim heran, dan meletakkan supnya di meja, kebingungan.

”Muntah?! Gara-gara bau bawang?” ulang Yesung. ”Ada-ada aja… emang Haejin alergi bawang?”

”Nggak…” jawab Heejin, Haerim, dan Heenim kompak.

”Kok bisa?” tanya Kyu juga heran.

”Ya udah, bawain apa kek gitu… minta sama Ahjumma…” usul Yesung. ”Yang hangat-hangat, mungkin perutnya lagi dingin kali. Kebanyakan kerja sih… lama-lama bisa tipes dia, lebih sibuk dari kita yang penyanyi…”

Donghae dan Kyu terkekeh lalu memakan kembali supnya, Heejin akhirnya ikut makan, dan menghabiskan supnya. Semua berkomentar makanannya enak, Haejin kemudian muncul di dapur, begitu kakinya baru selangkah masuk dapur, dan mencium wangi bawang, dia langsung menekap mulutnya dan kabur ke kamar mandi bawah.

”WOEKKK!”

”Onnie!” pekik Heejin. Dia, Haerim, dan Heenim langsung meninggalkan makanan mereka lalu mengikuti ke kamar mandi, Haejin terus menerus memuntahkan isi perutnya, akhirnya Ahjumma-ahjumma di dapur buru-buru membersihkan sisa-sisa bawang dan sup.

Wajah Haejin sedikit pucat. ”Kok bau bawangnya bikin mual ya?”

”Onnie istirahat aja deh di kamar…” kata Heejin sambil membawa Haejin ke atas. ”Nanti makanannya kita ambilin, oke?”

Haejin berbaring lagi. Tak lama dibawakan oleh Haerim dan Heenim bubur abalon, tanpa bawang sama sekali, lalu Haejin memakannya lahap. Sementara Heejin, Haerim, dan Heenim menatapnya heran.

”Emang enak gak pake bawang, Onnie?” tanya Haerim penasaran.

Haejin mengangguk-angguk semangat. ”Enak kok,” lalu menyendok bubur, dan memakannya lagi.

”Gak biasanya… orang Korea kan suka bawang, Onnie… masa tiba-tiba Onnie gak suka bawang, sih?” tanya Heejin benar-benar heran.

Haejin mengangkat bahu, dan menenggak buburnya habis. ”Mollayo… aish! Enak sekali bubur ini, masih ada tidak?”

”Nanti kutanya ahjumma, kami mau  kuliah… Onnie tak apa-apa kan ditinggal sendiri disini?” tanya Heenim.

”Tentu, aku cuma mau istirahat, kok…”

Dan ditinggalkannya Haejin sendirian di rumah, setelah puas tidur sampai siang dan menghabiskan tiga mangkuk bubur abalon sepagian ini. Siangnya Haejin turun ke bawah, dan membuka kulkas sambil memakai masker pelindung agar tidak membaui bawang, dan akhirnya Haejin melihat plastik jeruk, tiba-tiba air liurnya menetes, dan dia mengambil jeruk itu, langsung seplastik dan membawanya ke kamarnya.

Sore harinya, sepulangnya dari kampus Haerim langsung membuka kulkas, kan shock jeruk-jeruknya hilang! Diantara empat bersaudara Lee ini, dia yang paling menyukai jeruk.

”Chaerim Ahjumma…” panggilnya. ”Jerukku hilang kemana?”

”Jeruk?” Chaerim Ahjumma melihat isi kulkas. ”Nggak ada yang masak jeruk kok, Ageshi… kemarin terakhir pakai jeruk tapi udah habis, dan baru beli lagi kan? Apa mungkin Haejin Ageshi?”

Haerim mengernyit, dan tertawa. ”Yah, Ahjumma… kau lupa Haejin Onnie tidak suka jeruk?”

”Habis di rumah tidak ada yang memasak jeruk…”

Haerim jadi penasaran. ”Ya sudah, tolong belikan jeruk lagi ya… ini uangnya…” Haerim mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar seratusribuan, lalu dia naik ke atas, mengetuk pintu kamar Haejin, begitu pintu dibuka, jeruk-jeruk itu masih di dalam plastik, namun tinggal kulit dan biji.

”Onnie!” pekik Haerim.

Haejin terbangun, dan langsung duduk, wajahnya mengantuk. ”Ah, Haerim-ah… sudah pulang?”

Haerim geleng-geleng, dan duduk di pinggir kasur Haejin. ”Onnie, ini jeruk 3kg Onnie semua yang makan?”

Haejin melirik bekas jeruk, dan nyengir bersalah. ”He he he… iya… maaf ya, itu punyamu ya? Mianhae akan kuganti, habis sepertinya jeruk-jeruk itu tadi lezaaaaat sekali…” Haejin menjilat bibirnya.

”Onnie ini sakit apa sih?” Haerim memegang dahi Haejin. ”Bawang jadi nggak suka! Onnie kan tidak pernah menyentuh jeruk, seumur hidup Onnie!”

”Makanya, aku baru tahu kalau jeruk itu rasanya seenak ini… Haerim-ah, ayo temani aku beli jeruk…”

”Tak perlu, aku sudah minta ahjumma beli…”

Haerim keluar dari kamar Haejin dan menutup pintu di belakangnya, ”Haejin Onnie ini kenapa sih? Penyakit aneh… dari suka bawang, sekarang jadi benci makan bawang. Dari yang benci jeruk, jadi sekarang 3kg jeruk juga kuat dia makan… aigooo…” Haerim geleng-geleng.

*           *           *

Sudah satu bulan penyakit aneh itu diderita Haejin, dan Haejin malas benar kalau disuruh ke dokter. Cuma pola makan yang berganti, makannya tambah banyak. Sekarang dia suka sekali makan ubi Jepang, dan harus ubi yang dari Jepang yang dia makan. Selain itu dia jadi suka Kiamboi putih dan merah, yang asemnya amit-amit banget.

Jeruk apalagi, sudah itu kalau makan, pasti lebih dari satu porsi, malah kadang-kadang jadi 3 porsi. Haejin menyadari kenaikan berat badannya, dan merasa, jika stress memang dia lari ke makan. Jaman SMA dulu, ketika dia ujian akhir, saking stressnya hanya dalam waktu tiga hari, dia naik delapan kilogram.

Apalagi masalah ini? Dia bisa naik dua belas kilo. Leeteuk sangat senang melihat Haejin berat badannya naik, jadi Haejin tidak kurus-kurus amat. Leeteuk juga rajin membawakan Haejin jeruk.

Sebulan kemudian, Haejin terbangun pagi-pagi, begitu dia turun hendak sarapan, dia melihat semua berkumpul. Leeteuk, Yesung, Donghae, dan Kyu. Berikut adik-adiknya, aduuuh rutin sekali sekarang mereka sarapan bersama. Mereka sudah rapi, sepertinya habis ini mereka ada jadwal. Haejin langsung menekap mulutnya lagi, dan lari panik ke kamar mandi.

”Haejin-ah!” pekik Leeteuk.

”WOEKK! WOEKK! WOEEEEK‼!”

Haerim panik. ”Gak ada yang masak pakai bawang lho…”

Haejin terus mengeluarkan isi perutnya, sementara Heenim dan Heejin saling pandang bingung.

”Siapa yang pakai Emporio Armani?” Haejin muncul, dengan wajah pucat, dan memencet hidungnya. ”Ngaku! Siapa yang pake parfum Emporio Armani?”

”Aku…” jawab Donghae pelan.

Haejin tidak tahan lagi, dia lari lagi ke kamar mandi, dan muntah lagi.

”Kok dia bisa tau?” tanya Donghae heran. Sementara Yesung membaui badan Donghae, mengendus-endus.

”Kau ini sedang apa?!” tanya Leeteuk.

Yesung mendongak. ”Wanginya enak kok! Tapi nggak nyengat-nyengat amat, nggak kayak minyak nyong-nyong…”

”Iya… wanginya enak, kok…” tambah Haerim.

”Tapi dia bisa tau itu Emporio Armani?” tanya Donghae lagi-lagi heran. ”Bener kata Yesung Hyung, orang ini gak wangi-wangi amat kok bisa kecium?!”

Heejin geleng-geleng. ”Hidungnya Haejin Onnie emang lagi tajam-tajamnya ya… ckckck…”

*           *           *

Ada yang aneh dalam diri Haejin dua bulan ini. Pola makannya berubah total, berat badannya mulai naik, dan sering muntah kalau mencium bau-bauan tertentu. Bawang dan Emporio Armani terutama.

Haejin juga sekarang jadi malas bekerja, sering tidur. Tapi berhubung kerjaannya sudah banyak yang selesai, dan cutinya selama bertahun-tahun tidak pernah diambil, perusahaan tidak pernah mempermasalahkan, ayahnya malah mendukung kalau dia mau ambil istirahat.

Pagi ini ketika terbangun, tanpa mencium apa-apa, Haejin sudah mual. Haejin lari ke kamar mandi, dan muntah-muntah. Haejin mencuci mukanya, dan buru-buru turun sambil memakai masker, dan mencari jeruk, lalu memakannya banyak-banyak, untuk mengurangi mualnya.

”Kenapa, Ageshi?” tanya Chaerim Ahjumma melihat Haejin yang menelan satu buah jeruk langsung.

Haejin menelan jeruk dengan susah payah, lalu menjawab. ”Nggak tau, aku pagi-pagi bangun langsung mual, terus mau jeruk…” Haejin mengupas satu jeruk lagi.

”Hmm…” Chaerim Ahjumma manggut-manggut. ”Ageshi kayak orang hamil aja!”

Haejin langsung tersedak. ”Mwo?! Uhuk, uhuk…” Chaerim Ahjumma langsung memberinya segelas air, Haejin langsung meminumnya.

”Bukannya saya menuduh… cuma seperti orang hamil.”

”Orang hamil?!” tanya Haejin balik.

”Ne, orang hamil itu… hidungnya sensitif, ada bau-bau tertentu yang orang hamil kalo cium jadi mual, terus kadang-kadang makanan yang mau dia makan tertukar-tukar, dari yang dia suka dia jadi nggak suka, dari yang dia nggak suka jadi suka…”

Hamil?! Jinja?! Haejin cuma nyengir nggak jelas, dan langsung buru-buru naik ke kamarnya, dan membuka laptopnya. Di situs Daum, di kolom keyword dituliskannya kalimat : Tanda-tanda Kehamilan. Begitu selesai diketiknya tombol enter, dan segera saja kolom-kolom situs menyambutnya. Dikliknya kolom paling atas, dan hasilnya terbuka di hadapannya, dan dia mulai membaca.

Tanda-tanda Awal Kehamilan :

  1. 1. Terjadinya perubahan pada payudara
  2. 2. Munculnya bercak darah atau flek, yang diikuti kram perut
  3. 3. Mual dan Muntah

Sekitar 50% perempuan yang mengalami kehamilan akan memiliki tanda-tanda ini. Pemicunya adalah peningkatan hormon secara tiba-tiba dalam aliran darah. Hormon tersebut adalah HCG (Human chorionic Gonadotrophin). Selain dalam darah, peningkatan hormon ini juga terjadi pada saluran air kencing. Makanya, alat test pack kehamilan dilakukan melalui media air seni, hal ini dilakukan untuk mengukur terjadinya peningkatan kadar hormon HCG tersebut. Peningkatan hormon ini akan mengakibatkan efek pedih pada lapisan perut dan menimbulkan rasa mual. Rasa mual ini biasanya akan menghilang memasuki kehamilan trimester kedua. Jika, rasa mual dan muntah masih terjadi pada usia kehamilan trimester kedua, sebaiknya periksakan dan konsultasikan mengenai hal ini ke dokter anda, karena akan mengganggu kehamilan anda.
Mual dan muntah ini biasa
morning sickness karena biasanya terjadi pada saat di pagi hari. Namun kenyataannya, mual dan muntah dapat terjadi pada siang dan malam hari juga. Bahkan morning sickness terjadi hanya ketika si ibu mencium aroma atau wewangian tertentu.


  1. Sering buang air kecil
  2. Pusing dan sakit kepala
  3. Rasa Lelah dan Mengantuk yang berlebih

(Sumber —> http://www.bidankita.com)

Haejin terdiam, perubahan payudara? Dia meraba payudaranya, ada yang berubah atau tidak, dia tidak tahu. Flek? Iya sih bulan lalu, cuma flek doang… mens-nya nggak terlalu banyak. Mual dan muntah? Terjadi ketika si ibu mencium aroma atau wewangian tertentu? Ya Tuhan…

Sering buang air kecil? Kalau itu sih dia memang beser. Pusing dan sakit kepala? Nggak juga ah… Rasa lelah dan mengantuk yang berlebih? Iya, jadi sering tidur akhir-akhir ini…

Kalau memang benar ini kehamilan? Haejin meraba perutnya… hubungan seksnya hanya dengan satu orang seumur hidup. Lee Donghae, dia penyebabnya kalau memang ini benar.

Lalu kalau itu benar? Apa yang harus dia lakukan? Pokoknya pertama-tama, dia harus tau pasti, hamil atau tidak. Dia membeli testpack di minimarket terdekat, untung wajahnya dewasa, jadi dikira memang orang yang sudah menikah. Lalu di kamar mandi dalam kamar tidurnya, dia mencoba kelima testpack itu satu demi satu, tanpa melihat hasilnya terlebih dahulu. Kecemasan benar-benar menggelayutinya sekarang, setelah selesai. Ditunggunya sebentar, lalu dilihatnya kelima testpack tersebut. Kelima testpack itu menjawab hal yang sama :

  1. Positif
  2. +
  3. =
  4. ll
  5. <>

Haejin langsung duduk lemas di lantai kamar mandi, dan memeriksa testpack-nya satu persatu, berharap muncul keajaiban dan merubah simbol maupun tulisan di testpack tersebut. Tapi apa daya, tulisan maupun simbol-simbol di alat tersebut tidak berubah, dia dinyatakan hamil.

TBC

4 thoughts on “Can It Be Love ~Part 8~

  1. sudah kuduga habis baca haejin sakit.
    nahlooooo itu hae tanggung jawab
    tapi giliran lumayan adem ayem ada aja konfliknya !!
    hae ngawur sih -_- seenaknya aja. uwiiihhhh ga salah tuh kyu sama haerim yang sekinsip? /dihajar xD
    wkwkwk,ketauan deh nisya onn yadong *pantatin* /dihajar xD

  2. aigo~~
    haejin’y hamil…
    curiga haejin’y muntah2 nyium bawang n sk yg asem2…
    tmbh runyam donk masalah’y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s