Can It Be Love ~Part 7~

I’m Back…

”Jangan disini, jangan sampai mereka melihatmu… eh, kita.” Heenim ditarik pergi oleh orang itu, dibawanya Heenim ke dalam mobilnya.

Heenim menangis sesenggukan, dan menutupi wajahnya. Pria yang di sebelahnya juga menangis tertahan, tanpa suara, hanya air mata yang mengalir, dia bersandar di kursinya. Sementara lama kelamaan tangisan gadis yang disebelahnya semakin besar, dan semakin pilu.

”Haejin Onnie tega! Donghae Oppa juga tega! Mereka tidak bilang apa-apa di depan kita! Mereka diam saja, ternyata…” Heenim histeris, menggebuk-gebuk dasbor mobil. Yang punya mobil hanya diam menatap keluar jendela. Heenim menoleh, dan melihat pria yang biasanya selalu tampak tertawa dan lucu itu sedang menangis tanpa suara.

Leeteuk.

”Oppa, otokhe? Apa yang harus kita lakukan?”

Leeteuk menggeleng. ”Molla…” jawabnya lirih.

”Oppa… kau sudah tahu?” tanya Heenim dengan wajah berlinang air mata. ”Kau tau mereka…”

Teukie menjawab. ”Baru melihat tadi pagi, dan meskipun aku sudah melihat dan mendengar, aku masih mau membuktikannya.”

”Tadi pagi?”

”Ne, tadi pagi aku menjenguk Donghae, dan Haejin ada disana… saling mengutarakan perasaan mereka. Tidak bisa dijangkau, aku tidak bisa menyalahkan keduanya… mereka sudah saling jatuh cinta semenjak kami pertama kali bertemu di rapat pembuatan CF Anycall kami yang pertama. Donghae mundur karena dikiranya Haejin menyukai Kibum, dan Haejin kukira juga dulu dia menyukai Kibum, tapi kalau dipikir lagi… dia menjauh karena Donghae menjauh!”

Heenim menatap Leeteuk nanar. ”Maksud Oppa, empat tahun lalu? Onnie dan Donghae Oppa?”

”Mereka berdua mungkin tidak menyangka kalau akan dijodohkan seperti ini…” Leeteuk mengeluh.

”Tapi empat tahun lalu aku juga sudah menyukai Donghae Oppa!”

”Ya kalian sama! Jangan kau salahkan onniemu terus…” tegur Teukie. ”Karena itu tidak ada gunanya, perasaanmu dan perasaannya sama, jadi jangan karena Donghae mencintainya kau menyalahkannya!”

”Kenapa Onnie tidak bilang?!” Heenim berkeras.

”Karena dia bilang ataupun tidak, keadaannya akan tetap sama kalau melihat sikapmu sekarang! Kau pasti akan tetap marah padanya…”

Heenim menangis lagi. ”Aku juga manusia, Oppa… aku juga punya perasaan! Aku juga sayang pada Donghae Oppa! Aku yakin cintaku tidak kalah besar dengan cinta Haejin Onnie padanya, tapi…”

”Itu tidak berarti!” Leeteuk tiba-tiba menggebrak setir. ”Kau kira aku tidak sakit hati, Heenim-ah?!” bentaknya. ”Tapi aku tidak bisa marah, karena perasaan manusia, bukan manusia itu sendiri yang mengatur!”

Heenim terdiam.

”Sakit hati? Iya, aku juga sakit hati karena gadis yang kucintai sejak empat tahun lalu, mencintai adik kesayanganku… dan adik kesayanganku itu juga mencintai gadis yang kucintai! Heenim-ah, aku dan kau sama…”

”Lalu apa yang harus kita lakukan, Oppa? Sumpah, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan…” tanya Heenim di sela-sela tangisnya. ”Apa aku tidak boleh mencintai dan dicintai?”

”Bukan begitu… aku juga belum tau apa yang akan kulakukan, kalau aku pribadi, aku akan menunggu… menunggu kenyataan itu membuka sendiri, atau mereka berdua akan menjelaskannya padaku.”

”Wae?”

”Aku itu manusia yang cukup bodoh, Heenim-ah…” sahut Teukie lagi. ”Aku tidak berani mengungkap kenyataan, hanya menunggu… tapi aku tidak akan menyesal, karena aku yang memilihnya jadi wanita di dalam hatiku…” Teukie melirik Heenim sambil tersenyum. ”Aku tidak akan memaksamu untuk mengambil tindakan yang sama dengan yang aku ambil, yang jelas aku tidak akan pernah menyakiti Donghae. Aku sangat menyayanginya juga… Donghae adikku, aku kenal Donghae jauh lebih dulu sebelum aku mengenal Haejin, aku tidak mau karena Haejin persaudaraanku dan Donghae berakhir. Jika memang jodohku, Haejin akan kembali padaku… tapi jika bukan, Tuhan punya rencana untukku dan dia.”

Heenim mendengarkan ucapan Leeteuk dengan seksama. Leeteuk Oppa sangat bijaksana, aku harus bisa sepertinya. Jangan karena Donghae Oppa, cintaku pada Haejin Onnie dialihkan.

*           *           *

Haerim dan Kyuhyun mengendap-endap dari belakang, begitu dilihat mereka Teukie berjalan dan menarik Heenim yang menangis, Haerim dan Kyuhyun bersembunyi di balik tanaman. Sebetulnya sih, kalau Leeteuk dalam keadaan ’sadar’ pasti menyadari kalau ada Haerim dan Kyu disitu, namun Leeteuk juga sedang berusaha menahan tangisnya. Begitu keduanya menghilang, Haerim dan Kyu langsung penasaran, apa yang membuat kedua manusia itu menangis. Kemudian begitu keduanya berjingkat melihat isi kamar pasien Donghae, keduanya juga terperangah.

”Haejin Noona?!” pekik Kyu.

”Donghae Oppa?!” pekik Haerim.

Dari belakang keduanya Heejin dan Yesung saling pandang kaget. Sepertinya kenyataan sudah terbongkar. Cinta terlarang Haejin dan Donghae sudah terkuak lebar sekarang, Leeteuk dan Heenim sudah tau, tambah lagi Haerim dan Kyuhyun. Heejin dan Yesung kemudian menarik Haerim dan Kyuhyun dari situ. Sekarang mereka duduk berhadapan di meja sebuah kafe.

Yesung dan Heejin menceritakan permasalahan Haejin dan Donghae kepada mereka berdua. Mereka berdua terperangah mendengarnya, sangat kaget dan cukup terguncang.

”Empat tahun lalu? Berarti saat aku masih trainee dong?” tanya Kyu kaget. ”Yaaaah, kasihan sekali mereka berempat.”

”Makanya, aku berharap… kita tidak perlu mencampuri urusan mereka,” Yesung menatap Heejin, Haerim, dan Kyu bergantian. ”Biar mereka yang mencari jalan keluarnya, aku berharap Leeteuk Hyung dan Heenim bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik…”

”Kalau Teukie Oppa aku yakin, Oppa…” sahut Heejin cemas. ”Tapi kalau Heenim…” langsung Heejin geleng-geleng.

Haerim mengangguk. ”Heenim…”

”Sudahlah, jangan dipikirkan lagi… kalau mereka bertindak kelewatan baru kalian sebagai kakaknya turun tangan, kalian kan saudara kandung mereka.” Usul Kyuhyun kemudian.

*           *           *

”Donghae-ah…” bisik Haejin. ”Punggungku pegal…”

Donghae melepaskan cengkramannya pada leher Haejin, dan melepaskan ciumannya, sambil tersenyum nakal. ”Awas kau kalau aku sudah sembuh nanti…”

Well, yang terjadi sesudah kau sembuh rasanya akan lebih parah daripada ini, kita akan berpisah Lee Donghae. Batin Haejin sedih.

”Jagiya? Jagiya? Kok melamun?”

”Ani, hanya mengantuk…” jawab Haejin, sambil beralih ke barang-barang bawaannya. Membuka kantong tidurnya.

”Haejin-ah, jangan tidur disitu… sudah tidur disini saja, pintunya kau kunci, lampu kau matikan…”

”Mana boleh aku tidur di kasur pasien, yang sakit kan kau!”

”Haejin-ah, sudahlaaaah… kau kira aku ini kena kanker apa? Kau harus tidur disini! Disebelahku! Tidak perlu takut, tanganku masih diinfus, aku tidak akan apa-apakan kau… aku cuma mau memelukmu…”

Haejin menatap puppy eyes itu. Kemudian melihat keadaan kasur yang memang cukup luas, tapi dia yakin begitu dia tidur disitu, kasur akan sempit, dan tidak ada jarak diantara dirinya dan Donghae nanti. Haejin masih berpikir, tapi kemudian Donghae bangkit, dan berjalan pelan.

”Donghae-ah!” pekiknya. ”Kau belum sembuh benar, jangan jalan-jalan!”

”Habis kau lama!” Donghae menghampiri pintu, menguncinya, dan mematikan lampu, lalu menggandeng Haejin ke tempat tidur. Haejin menurutinya, Donghae memeluknya dari belakang, Haejin bisa merasakan napas hangatnya di tengkuknya, hangat sekali.

Haejin memejamkan matanya, tanpa terasa, keduanya terus tertidur berpelukan hingga fajar menyingsing. Haejin membuka matanya perlahan-lahan, karena sinar matahari sudah mulai masuk ke dalam kamar rawat Donghae, Haejin mengerjapkan matanya berulang kali.

Omo! Posisinya berubah! Semalam rasanya Haejin dipeluk hanya dari belakang, sekarang dia tidur menyamping, tepat menghadap Donghae, satu tangan Donghae masih di pinggangnya, dan tangannya berada di leher Donghae, tak lama Donghae juga membuka matanya, dan langsung tersenyum, ”Haejin-ah… pagi Sayang…” Haejin tersenyum.

Langsung dikecupnya bibir Donghae tanpa sadar, karena terpengaruh wajah tampan yang tersenyum ketika baru bangun itu. Donghae tidak menyia-nyiakannya, langsung dilahapnya bibir dan lidah Haejin. Haejin sampai lemas, apalagi masih pagi.

Ini kan masih pagi, batin Haejin. Kenapa ciumannya sudah sedahsyat ini padahal ia baru bangun, aku mau meledak. Eksplorasi pasien ini sungguh hebat, ciumannya panas, tapi lembut, dan terasa sangat pas, seolah-olah bibir mereka dibuat untuk saling mengecup dan saling mengisi. Haejin akhirnya megap-megap melepaskan ciuman Donghae, Donghae hanya terkekeh kecil, wajahnya memerah.

”Yah! Kau ini, pagi-pagi…”

”Ha ha ha…” dia hanya tertawa.

Haejin duduk, merapikan rambutnya dan menguncirnya, Donghae ikut duduk, dan mengecup pundak Haejin. ”Mau kemana?”

”Mandi, aku mau ke kantor…” jawabnya. Donghae langsung melingkarkan tangannya di pinggang Haejin. ”Yah! Kau ini seperti anak kecil yang mau ditinggal eommanya saja…”

”Aku baru bisa mendapatkanmu tiga hari, Jagiya… setelah empat tahun menunggu, mana mungkin aku melepasmu begitu mudah?”

”Yah! Aku ini cuma mau mandi, dan kerja…” lalu Haejin melepaskan pelukan Donghae. ”Aku mau mandi, aku mandi dulu ya…” Haejin tersenyum pada Donghae dan membawa tas mandinya ke dalam kamar mandi.

Setelah selesai mandi, Haejin bersungut-sungut keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya agak bete, dan dia mengeluh terus.

”Kenapa?” tanya Donghae heran.

”Aku lupa bawa hairdryer…” katanya. ”Rambutku jadi masih basah deh…” dia memasukkan tas mandinya ke dalam ransel besarnya, dan mengeluarkan sisir, lalu duduk di tepi tempat tidur Donghae, dan menyisiri rambut panjang ikalnya yang indah itu.

”Sini, aku sisirin…” Donghae mengambil sisirnya, dan menyisiri rambut Haejin pelan. Rambutnya memang sudah lembut, tidak susah sama sekali merapikannya. ”Nah, hadap sini… biar kubelah rambutnya…”

Haejin menghadap Donghae, dan Donghae membagi rambut Haejin jadi dua bagian di bagian tengah. Padahal biasanya rambut Haejin belah pinggir di bagian kanan, Haejin cemberut.

”Yah! Rambutku kenapa kau belah tengah?”

”Supaya dahimu kelihatan…” Donghae menatap dahi Haejin. ”Kau cantik sekali…” lalu dengan penuh perasaan dikecupnya dahi Haejin. Lalu dia berbisik, ”Aku paling suka melihat dahimu, apalagi kalau kau sedang memakai bando ditarik ke belakang, ketika sedang syuting CF…”

”Mwo?! Aku malah merasa aku sangat jelek kalau aku mondar-mandir saat mengurus syuting CF?!”

”Ani, aku malah suka, kau sangat seksi kalau sedang capek dan serius!”

”Mwo?!” Haejin malah bingung.

Lalu Donghae mengecup bibirnya lembut lagi, Haejin balas mengecup dan memejamkan matanya, tak lama Haejin melepaskan diri dari Donghae. ”Sudah ah! Nanti aku tidak berangkat-berangkat, barang-barang kusembunyikan disini ya…”

”Oke… nanti malam tidur sini lagi ya…” kata Donghae.

Haejin mengangguk. ”Ne… aku berangkat ya, jangan lupa makan obat, saranghae…” Haejin tersenyum.

”Nado…” Donghae melambai, dan Haejin keluar dari kamarnya.

*           *           *

Kantor Samsung Anycall, Seoul.

”Sasangnim, barusan saja Youngwoon Sasangnim menelepon, katanya ada yang ingin dibicarakan dengan Anda.” Kata sekertarisnya langsung.

Haejin mengangguk. ”Jam berapa Appa telpon?”

”Sekitar sepuluh menit yang lalu, Sasangnim…”

”Ada kerjaan apa hari ini?”

”Seperti biasa masih kosong, Sasangnim… tapi dari bagian desain sudah minta Anda untuk mengecek desain bulan Oktober.”

”Bawa ke ruanganku saja ya…” Haejin langsung masuk ke dalam ruangannya dan meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di kursinya, dan meraih telepon kantornya, menghubungi ayahnya, yang sekarang sedang berada di Afrika Selatan, bersama ibunya, dalam rangka promosi Samsung Anycall.

”Yeoboseyo, Haejin-ah…” sahut Appanya. ”Kau baru tiba di kantor ya?”

”Ne, Appa… Appa apa kabar?”

”Baik, Appa dan Eomma baik-baik saja disini… Appa dengar perusahaan terlalu lancar dipegang olehmu?” Appanya terkekeh. ”Dasar workaholic, padahal sudah Appa jodohkan dengan laki-laki, tapi pekerjaanmu tetap saja lancar… aish! Memang benar-benar anak Appa…”

Haejin tertawa. ”Pokoknya pekerjaanku lancar…”

”Ne, Appa percaya… oh iya, ada hal penting yang ingin Appa sampaikan…” kata Appa lagi.

”Iya ada apa, Appa?”

”Ayah dari Donghae, kemarin sempat bertemu dengan Appa dan Eomma disini…” hati Haejin mencelos mendengar ayahnya berbicara mengenai Donghae. ”Kemudian, Appanya Donghae khawatir soal Donghae yang kecelakaan kemarin itu. Bagaimana keadaannya sekarang?”

Haejin menghela napas lega, kirain apa! ”Donghae sudah lumayan sehat kok, Appa… mudah-mudahan bisa cepat keluar dari rumah sakit.”

”Yah syukurlah, Heenim bagaimana? Sering menjenguk Donghae, kan?”

”Ne…” jawab Haejin hati-hati.

”Iya, Appa dan Eommanya Donghae sudah terlalu khawatir, Donghae suka tidak menjaga kesehatannya sendiri sih. Mungkin dalam minggu-minggu ini mereka akan membicarakan pernikahan…”

”Mwo?!”

”Ne, Appa dan Eomma Donghae memutuskan untuk menikahkan Donghae dan Heenim segera. Orang tua Donghae khawatir kalau Donghae selalu ceroboh jika tidak punya pendamping. Dan orang tua Donghae sudah sangat dekat dan sangat menyukai Heenim. Kau tidak keberatan, kan?”

”Eh?” kaget Haejin. ”Kenapa aku harus keberatan?”

”Yah kalau adikmu yang paling kecil menikah duluan…” sahut Appa. ”Kau juga mulailah pikirkan pernikahan. Jungsoo sudah duapuluh delapan, kau sudah duapuluh lima… sudah pantas menikah.”

Haejin tersenyum kecut, dan menjawab. ”Aku masih mau fokus di karierku dulu, Appa…”

”Karier terus… apa sih yang kamu cari? Masuk Forbes saja kau sudah… mau ngapain lagi? Ya sudah, kalau begitu… saat keluarga Donghae melamar, kau yang terima ya… Appa dan Eomma masih harus disini.”

”Mwo? Aku? Kenapa aku?”

”Karna kau kan anak paling tua, dan dengan Jungsoo saja kau mewakili Appa dan Eomma ya…”

”Memang kapan mereka akan melamar?”

”Sesudah Donghae keluar dari rumah sakit, makanya kau bersiaplah…”

Haejin sudah tidak mendengar apa yang Appa-nya katakan lagi, dia langsung bengong dan diam di tempat. Pasti, saat-saat bahagianya bersama Donghae tidak berlangsung lama. Haejin tiba-tiba mau menangis lagi, Aku dan Donghae memang saling mencintai, tapi memang takdir kami bukan bersama, bahkan keluarganya menyukai Heenim! Haejin-ah kau bodoh! Beraninya kau masuki hubungan mereka‼! Batin Haejin.

Ruang kerjanya diketuk.

”Ne?”

Sekertarisnya masuk lagi, membawakan sebuah map kulit, ”Ini contoh desain yang saya bilang tadi pagi, Sasangnim.”

”Ah iya bawa sini…”

Sekertarisnya menyerahkannya, Haejin buru-buru membukanya, saking tegangnya dia menyenggol gelas, dan gelasnya jatuh ke bawah dan pecah. Sekertarisnya panik, dan segera memanggil OB. Haejin duduk termenung saja, setelah dia membuat keputusan, dia tidak akan bisa mundur lagi.

Sementara di rumah, Heenim tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Heejin dan Haerim berusaha membujuknya keluar, bahkan mengantarkan sarapan ke kamarnya, semua ditolak oleh Heenim. Heenim cuma diam memeluk lutut, sambil menatap ke luar jendela, ketika ponselnya berbunyi.

”Yeoboseyo…”

”Yeoboeyo, aigooo calon menantu Eomonim kenapa ini? Suaranya kok gak bersemangat sekali?”

Heenim tersentak, Eomma-nya Donghae Oppa. ”Eomonim… annyeonghaseyo,” Heenim langsung menceriakan suaranya.

”Annyeong… apa kabarmu hari ini?”

”Aku baik, Eomonim…” jawab Heenim berbohong. ”Eomonim sendiri apa kabar? Kudengar dari Eomma, Eomonim sekarang sedang studi banding di luar negeri?”

”Iya, benar… tapi sekarang ada urusan yang harus kami selesaikan, sekaligus Ikan kecil itu sakit, jadi kami pulang.” Jawab Eomonim riang. ”Kami sudah sempat menjenguk sebentar, tapi Donghae terlihat agak suram… dia itu selalu saja, ceroboh, tidak hati-hati.”

Heenim tertawa saja mendengar keluh kesah ibunda Donghae.

”Kalau begitu, Heenim-ah, sebenarnya aku dan Appa-nya Donghae kesini sebetulnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu.”

”Denganku?”

”Ne, makanya kita bertemu yuk, hari ini… kau bisa kan? Jam makan siang nanti saja, bagaimana?”

”Oke, bisa Eomonim… mau bertemu dimana, Eomonim?”

”Di restoran waktu itu saja, ya… oke sampai ketemu, Heenim-ah…”

”Ya sampai ketemu, Eomonim…” Heenim memutuskan sambungan, dan berpikir. Apa yang ingin dibicarakan kedua orang tua Donghae Oppa padanya, apa Donghae Oppa sudah cerita kalau dia memilih Haejin Onnie? Tapi di awal pembicaraan, Eomonim masih memanggilnya calon menantu, apa yang terjadi? Maka daripada bertanya-tanya Heenim memutuskan langsung mandi dan menyiapkan dirinya pergi ke restoran itu.

Setelah berbincang-bincang dan makan siang bersama, akhirnya kedua orang tua Donghae berbicara. Dan yang di dengarnya merupakan kabar mengejutkan, entah bagaimana Heenim harus menyikapinya. Kedua orang tua Donghae ingin segera menikahkan dirinya dengan Donghae, terngiang jelas kata-kata Aboji tadi, bahwa beliau ingin Heenim selalu menjaga Donghae. Kecelakaannya Donghae kemarin, masih membuktikan kalau anak itu harus ada pendamping, begitu menurut aboji.

Apa yang harus Heenim katakan, dia bingung sendiri. Haejin Onnie dan Donghae Oppa saling mencintai, Heenim tidak mau ditolak, lebih baik dia mundur. Namun kalau dia mundur, Haejin dan Donghae akan tahu kalau Heenim sudah tahu rahasia mereka, sementara Heenim mau agar Haejin dan Donghae yang mengakui hubungan mereka secara jujur. Heenim kembali ke rumah, begitu masuk rumah, sepi. Heejin dan Haerim kuliah, pastinya. Heenim sudah tidak nafsu berangkat kuliah karena permasalahan yang begitu pelik pada hidupnya ini? Seumur hidup, Haejin, Heejin, Haerim, dan Heenim tidak pernah bertengkar, tapi kenapa sekarang sekalinya diberi masalah, harus yang seberat ini? Heenim menatap foto dirinya dan ketiga kakaknya, Heejin Onnie dan Haerim Onnie begitu beruntung. Yesung Oppa dan Kyuhyun Oppa sangat mencintai mereka berdua, dan keduanya juga mencintai balik.

Tapi, nasibnya dan nasib Haejin Onnie? Bertolak belakang, Haejin Onnie malah dijodohkan dengan Leeteuk Oppa, yang tidak dia cintai, sementara meski Heenim mendapatkan pria yang dicintainya, tapi naasnya Donghae malah mencintai kakak kandungnya. Heenim menghela napas, menatap jendela dengan nanar lagi.

*           *           *

Donghae akhirnya diperbolehkan pulang, dengan catatan tidak boleh menyetir dulu dalam waktu dekat. Haejin masih belum bilang apa-apa, begitu juga dengan enam orang lain yang mengetahui kalau hubungan Jinhae sudah ketahuan, tidak bilang apa-apa.

Malam ini, kedua orang tua Donghae, beserta Donghae akan datang ke rumah Haejin. Hanya Haejin yang tahu maksud kedatangan orang tua Donghae, karena beberapa hari yang lalu kedua orang tua Donghae juga sudah bertemu dengannya. Heenim juga sebetulnya sudah tahu, hanya saja Heenim pura-pura tidak tahu. Rumah itu sekarang rasanya dingin sekali, satu sama lain saling menjaga rahasia, dan berbicara seperlunya. Donghae sendiri, diajak ke rumah keluarga Haejin diam saja, karena Donghae tidak tahu maksud orang tuanya.

”Oppa…”

Leeteuk tersenyum pada Haejin yang menghampirinya, ”Ada apa, Jagi?”

”Nanti malam tidak ada acara, kan? Bisa ke rumahku?” tanya Haejin lagi.

”Ehm… kalau begitu akan kusuruh Sungmin menggantikanku siaran, memangnya ada apa?”

Haejin tersenyum datar. ”Orang tua Donghae mau melamar Heenim, Eomma dan Appa kan sedang tidak ada, jadi kata Appa, aku dan Oppa yang mewakili saja. Hanya lamaran kok. Setelah itu begitu menuju ke pernikahan, Appa dan Eomma yang akan mengurus.”

Leeteuk tersentak mendengarnya. Dibacanya wajah Haejin, Haejin tersenyum, tapi Leeteuk tahu pasti sesuatu bergolak di dalam hati gadis yang sangat dicintainya itu. Tapi kenapa semua ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin Donghae akan diam saja kalau dinikahkan? Padahal Donghae dan Haejin masih diam-diam bertemu. Apa mereka putus?

Malamnya semua terkuak. Ketika pembicaraan mengarah ke lamaran, Donghae kaget bukan main. Ternyata dia belum diberitahu soal ini sama sekali.

”Apa maksud Appa dan Eomma?!” teriaknya sambil berdiri. Heenim sudah mau nangis, dan Haejin menunduk. ”Menikah? Ya Tuhan, aku masih dua puluh lima tahun… dan Heenim! Dia masih kuliah…”

”Apa salahnya dengan itu?” tanya Eomma Donghae. ”Haejin-ah, apa kata orang tuamu?”

”Appa dan Eomma setuju…” sahut Haejin tanpa berani memandang wajah Donghae, sementara Donghae menatap Haejin galak.

”Haejin-ah! Jadi kau sudah tau?!” tanyanya dingin.

”Ne…”

”Sejak kapan?”

”Sejak kau di rumah sakit…”

Donghae membanting gelasnya ke bawah, dan keluar dari rumah. ”Aku belum mau menikah!”

Heenim berdiri dan membungkuk pamit  pada kedua orang tua Donghae, lalu lari masuk ke kamar. Haejin, Heejin, dan Haerim berteriak, ”Heenim-ah!” Haejin berdiri lalu langsung berlari mengejarnya. Leeteuk, Heejin, Yesung, Haerim, dan Kyu saling pandang.

TBC

2 thoughts on “Can It Be Love ~Part 7~

  1. haduhhh udah lumayan sekinsip mulu ehh ini ada aja yang mau nikah >.<
    eomma sama appa hae juga masak ngelamar ga ngomong anaknya dulu.
    soo oppa baik bangeet TT3TT
    aduh saya deg-degan nih gimana hasilnya -_-
    aku baca next chap yah onn..

  2. Naaah bnr kn mkin ribet smuany…aigoo, hae sm haejin kl emang mw go public istilahny,cpet dberesin, ksian kn hee sm teuk dn jg ortu kalian yg ga tw ap2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s