Can It Be Love ~Part 6~

sebelumnya author mau curhat dulu aaaah…


jadi ceritanya, gimana sih aku bisa dapet inspirasi Can It Be Love? adik sepupu yg paling kecil, umurnya baru 4 tahun, itu udah bener-bener ngeh sama KPOP *gara2 saya juga sih* tapi, dengan enaknya dia bilang : “Kakak di Super Junior sama Leeteuk aja deh, aku sama Donghae!” dan sejak saat dia kenal Super Junior, dia merasa Ikanku itu milik dia… ckckck, dan lahirlah FF ini… dia sebagai tokoh Heenim, karena kelakuannya walaupun cewek, bener2 Heechul banget! wakakaka, dan skrg saiia harus nyembunyiin photocard Donghae dari CD 4jib supaya nggak dia embat! *kakak macam apa aku ini* tapi karena cintaku pada Hae sudah terlalu dalam, takkan kubiarkan monster kecil itu merebut Hae!!!

jadi itulah curhatan saya, dan ini dia FF-nya :

Haejin memasuki ruang rawat Donghae. Dengan denyut nadi Donghae yang terus bergerak lemah, pelan, pelan, dan tetap pelan. Lampu pun yang menyala hanya lampu tidur di samping kasur Donghae, yang hanya memancarkan cahaya pelan. Haejin menatap pria yang paling dicintainya itu, Haejin duduk di kursi, dan mendekatkan kursi tersebut ke ranjang Donghae.

Diraihnya tangan Donghae yang tidak terkena selang infus, dan digenggamnya. ”Donghae-ah, aku tau kau mendengarku…” air mata mengalir dari mata Haejin. ”Donghae-ah, waekeurae? Kenapa kau seperti ini? Hiks…” semakin tidak kuat ditahan tangisnya. ”Aku bingung harus bagaimana, Donghae-ah… jangan tinggalkan aku dulu…” tangisnya semakin menjadi. ”Saranghae, Donghae-ah, saranghae… biarpun kau tidur, aku tau kau mendengar… aku mencintaimu, dengar itu? Apa pun yang terjadi… dari dulu, saat awal pertama aku mengenalmu… tidak pernah ada Kibum, tidak pernah ada Jungsoo Oppa, yang ada hanya kau… Lee Donghae. Bangunlah, bangunlah, jebal…” diciumnya tangan Donghae. Dan dia menelungkup, menangis hingga tertidur.

*           *           *

Donghae merasakan kesadaran kembali menyelusupi pikirannya, dicobanya membuka matanya. Sinar matahari pagi sudah masuk ke dalam kamar rawatnya, kepalanya masih berat, namun matanya perlahan-lahan membiasakan diri, dan dia merasakan tangannya masih di genggam seseorang. Donghae melirik, rambut ungu-cokelat seorang wanita terlihat, dengan mata sembab, karena menangis semalaman.

Haejin?! Pekik pikirannya kaget. Kepala gadis itu bergerak, namun kedua tangannya tetap menggenggam tangan Donghae, seolah tidak mau kehilangan pegangan. Air mata bahagia mengalir di pipi Donghae, tak lama mata gadis itu terbuka, perlahan-lahan, dan akhirnya benar-benar sadar.

”Donghae?!” pekiknya kaget.

Donghae tersenyum. ”Haejin-ah…”

”Gwenchana? Apa yang sakit?!” dia langsung panik, dan seradak-seruduk mencoba berdiri, dan mencari tombol untuk memanggil suster. Tapi Donghae menahan tangannya.

”Jangan panggil suster dulu…”

”Tapi kau sudah sadar, mereka harus diberitahu tentang keadaanmu…”

”Haejin-ah, jawab aku… apa yang kau lakukan disini? Kau menangis semalaman, kau menggenggam tanganku terus…”

Air mata Haejin kembali mengalir, dan tiba-tiba dia memeluk Donghae. ”Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku…”

”Aku tidak akan meninggalkanmu… aku janji, aku janji… maafkan aku telah membuatmu khawatir…”

Tak lama, Haejin berhasil mengendalikan dirinya lagi, kemudian dia memanggil suster dan dokter. Donghae sudah sadar sepenuhnya, tapi masih perlu istirahat untuk memulihkan keadaan seperti semula. Setelah dokter pergi, Haejin duduk lagi, dan menggenggam tangan Donghae lagi. Donghae tersenyum bahagia menatap wajah Haejin, keduanya tidak bertukar kata sama sekali, hanya saling menatap, seolah belum pernah melihat wajah satu sama lain selama bertahun-tahun.

”Apa yang kau lakukan hingga kecelakaan?” tanya Haejin akhirnya setelah lama keduanya saling tatap tanpa bicara.

Dia tersenyum, pahit. ”Aku cemburu.”

”Pada?”

”Ya padamulah, masa pada Yesung Hyung!” jawabnya kesal. ”Kau menghilang cepat sekali pagi itu. Kau tidak mau bertemu denganku,” dia menggenggam tangan Haejin erat. ”Padahal aku ingin bicara denganmu… aku cuma mau berpikir positif, bahwa kau memang bekerja. Hingga akhirnya aku menemukanmu di taman hiburan, berpelukan dengan Jungsoo Hyung!”

Haejin menggigit bibir.

”Kukira kau dan aku dalam posisi sama, kita sama-sama mencoba untuk membahagi-akan pasangan kita. Kau dan Jungsoo Hyung, aku dan Heenim. Tapi, itu mustahil sekali untukku, Haejin-ah… Demi Tuhan aku mencoba mencintai Heenim, tapi tidak bisa…”

Haejin menunduk.

”Aku tahu kau juga begitu, kau pasti berusaha agar kau mencintai Jungsoo Hyung. Aku tidak tahu bagaimana denganmu, yang jelas aku sendiri tidak bisa… aku… aku…  cinta padamu…” akunya lagi. ”Aku mencoba, sungguh…” katanya dengan nada memohon. ”Tapi bukan salahku aku mencintaimu, Haejin-ah… jebal, izinkan aku mencintaimu…”

”Ara…” Haejin mengangguk, sambil menunduk. ”Aku juga… merasakan hal yang sama. Aku mencoba mencintai Jungsoo Oppa, terlebih…” Haejin mendongak, menahan air matanya tumpah. ”Heenim sangat mencintaimu, Donghae-ah…”

”Begitu juga dengan Jungsoo Hyung…”

”Dan aku menyayangi Heenim!” tambah Haejin lagi.

”Tapi aku cinta padamu!”

Haejin mengangguk. ”Aku juga, aku juga cinta padamu…” akunya sambil menangis. ”Kau kira kenapa aku dipeluk Jungsoo Oppa kemarin? Karena aku melihat Heenim menciummu…”

Dia kaget, Donghae mengusap pipi Haejin yang menangis. ”Kita akui saja perasaan kita, Haejin-ah. Dengan begitu, tidak ada yang terluka!”

”Molla, bagaimana dengan Heenim dan Jungsoo Oppa? Mereka jelas akan terluka, karena kita…”

”Jika kita memaksa pura-pura mencintai mereka, justru itu yang lebih terluka lagi!” Donghae berkeras.

”Sudahlah, jangan dibahas dulu… kau belum sembuh!” keluh Haejin.

Tanpa keduanya sadari, ada seorang pria yang berdiri di depan pintu, dan mendengarkan seluruh percakapan mereka, pria itu membawa buket bunga untuk adik kesayangannya, ketika mendengar sang adik, dan sang pujaan hati ternyata saling mencintai, pria itu tersentak kaget.

”Donghae dan Haejin?” dia lemas, bersandar ke dinding, dan kemudian langsung pergi dari tempat itu.

Leeteuk’s POV

Harusnya aku sadar dari awal. Haejin tidak pernah mencintaiku, hanya aku yang memberikan terlalu banyak cinta padanya, tanpa peduli dia akan membalas atau tidak. Kukira Haejin hanya perlu waktu, waktu untuk membiasakan diri mencintaiku, setelah Kibum. Ternyata, kenyataan baru menghantamku setelah aku tahu semuanya. Haejin tidak pernah mencintai Kibum, yang dia cintai adalah adik kesayanganku, Donghae.

Air mata mengalir ke pipi leader ini, pikirku. Hah, aku leader Super Junior, dan Super Junior dipermainkan perasaannya oleh seorang gadis. Akhirnya aku sampai ke dorm, langsung masuk, tanpa memedulikan adik-adikku yang lain memanggilku dan menanyakan keadaan Donghae, wajahku masam, dan aku langsung mengunci diriku di dalam kamar.

End Of Leeteuk’s POV.

*           *           *

Seoul International Hospital

”Makan sudah, minum obat sudah…” kata Haejin sambil tersenyum di samping ranjang Donghae. ”Sekarang sudah hampir siang, kurasa member dan adikku akan kesini.” Haejin tersenyum. ”Jadi aku harus pamit, aku pulang dulu ya, Donghae-ah… jaga dirimu…”

Donghae menarik tangan Haejin. ”Andwe!”

”Donghae-ah…” keluh Haejin.

”Aku kan sedang sakit…” kata Donghae mendadak manja. ”Kau harus temani aku…”

”Lee Donghae, jangan aneh-aneh…” keluh Haejin mengelus tangan Donghae yang menggenggam tangannya. ”Aku juga kan harus bekerja, orang di rumahku sekarang pasti bingung melihatku tidak ada… oke? Sebaiknya masalah kita dibicarakan nanti saat kau sudah keluar dari rumah sakit, ara?”

Donghae masih menatap Haejin dengan pandangan tidak-mau-melepaskanmu. ”Janji kau tidak meninggalkanku, kan?”

”Mwo?!”

”Haejin-ah… jebal…”

Haejin menghela napas, dan mengangguk. ”Ne…”

”Jadi kapan kau kesini lagi?” tanya Donghae. ”Kalau kau tidak kesini lagi, maka aku tidak mau melepasmu!”

”Yang jelas aku tidak mungkin kesini pada saat ramai, mungkin nanti malam lagi… oke? Aku pergi dulu ya…” Haejin melepaskan genggaman Donghae perlahan, dan melambai, kemudian keluar dari ruang rawat Donghae.

Dari parkiran, Heenim turun membawa makanan. Begitu dia menutup pintu mobil, dilihatnya seseorang yang sangaaaaat dikenalinya. Rambut hitam yang hilite, purplebrown. Mengenakan celana bahan, dan kaus yang semalam dipakai olehnya, hanya ditutupi mantel, dan berjalan terburu-buru ke arah taksi.

”Haejin Onnie?” Heenim menatap sosok yang masuk ke taksi itu. ”Apa yang dia lakukan disini?” Heenim kaget. ”Kukira Onnie ada di kantor…” Heenim meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi kantor.

”Samsung Anycall, Selamat Pagi… ada yang bisa dibantu?”

”Ne, ini aku Heenim…” kata Heenim. ”Ahjussi, apakah Onnieku semalaman bekerja lagi?”

”Oh, Heenim Ageshi… aniyo, Haejin Sasangnim sama sekali tidak kesini, Ageshi… karena Sasangnim giat sekali bekerja, pekerjaan untuk bulan ini, sudah beliau selesaikan semua.” Jawab Ahjussi itu.

Heenim kaget. ”Jeongmal? Aaah, ne… kalau begitu kamsahamnida…” Heenim memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. ”Lalu? Onnie dimana semalaman ini? Kenapa sekarang Onnie ada di rumah sakit?” Dengan pikiran penuh tanda tanya, Heenim memasuki gedung rumah sakit itu.

Baru saja dia mau masuk ke dalam kamar rawat Donghae, dilihatnya buket mawar di lantai. Heenim meraihnya, dan melihat kartunya, dari Leeteuk. Heenim jadi semakin bingung, kemudian di ketuknya pintu, dan dibukanya. Dilihatnya Donghae sedang tertidur.

Donghae kemudian bergulik, dan membuka matanya, dilihatnya Heenim sedang tersenyum. ”Ah, Heenim-ah…”

”Oppa, gwenchana?”

”Ne…” jawab Donghae sambil membetulkan letak kepalanya. ”Kapan kau kesini?” tanya Donghae.

”Aku baru saja tiba, Oppa…”

Donghae mengangguk. ”Kau tidak kuliah?”

”Jadwalku agak longgar hari ini, Oppa…” jawab Heenim bersemangat sambil duduk di tepi kasur Donghae. ”Kalau Oppa mau, aku rela kok bolos kuliah demi menjaga Oppa seharian.”

”Tak perlu…” jawab Donghae. ”Masa hanya gara-gara aku kau sampe bolos kuliah, itu tidak boleh.”

Heenim tersenyum. ”Arasseo, Oppa…  Oppa lain kali kalau menyetir tidak boleh ngebut-ngebut lagi, ya… walaupun jalanan sepi, kasian kan badan Oppa, sampai seperti ini. Oiya, aku bawakan Oppa makanan… hari ini aku masak lagi, lho… Oppa mau kan?”

Donghae tersenyum. ”Ne…”

”Tapi kali ini Onnie juga tidak ada… kenapa ya, setiap aku masak Onnie selalu tidak ada?”

”Onnie siapa?”

”Haejin Onnie…”

Donghae mengangguk-angguk. ”Kemana lagi dia? Dasar direktur sibuk, pasti lembur lagi di kantornya, ya?” Donghae berusaha menutupi jejak Haejin yang semalaman menemaninya.

”Ne, Onnie memang hobi kerja…”

Sorenya, setelah semua jadwal Super Junior minus Donghae, Kibum, Hankyung, dan Kangin. Seluruh member, datang ke rumah sakit menjenguk Donghae. Semuanya berisik di dalam kamar rawatnya, untung ini VIP, kalau biasa mungkin mereka sudah diusir satpam.

”Bagaimana keadaanmu, Hae?” tanya Eunhyuk sambil ikut baring di pinggir ranjang, kemudian ditarik Ryeowook turun.

”Sudah benaaaaaaar-benar sehat! Apa tidak bisa aku dirawat di rumah saja?” tanya Donghae dengan nada mengeluh.

Kyuhyun geleng-geleng. ”Ckckck, sulit dipercaya kalau kemarin Hae Hyung koma, dan sekarang sudah berbaring dengan amat santainya di ranjang. Kudengar, Heenim tadi kesini?”

”Nah!” Heechul menjentikkan jari. ”Pasti gara-gara si Heenim, makanya sehat begini. Aih-aih, kekuatan cinta memang benar-benar hebat!”

Semua tertawa, kecuali Yesung yang ketawa setengah hati, dan Donghae yang cuma nyengir sinis. Teukie cuma tersenyum antara niat dan tidak niat. Heechul rupanya menyadari kemuraman Teukie.

”Yah, Teukie-ah… ada apa denganmu sih?! Hari ini dia diam saja, moodnya jelek sekali… lebih jelek dari ketika moodku sedang jelek…” Heechul merangkul Teukie. ”Lihat, dongseng kesayanganmu sudah sehat, Teukie… kenapa kau tidak gembira sama sekali?”

Teukie tersenyum. ”Aku gembira… hanya saja perasaanku sedang tidak enak.” Jawabnya hambar.

”Mwo?? Waeyo?” tanya Donghae heran.

”Aniyo, gwenchana…”

Mereka akhirnya melanjutkan ngobrol-ngobrol, dan nontonin suster nyuntik si Donghae, kemudian malamnya mereka kembali pulang. Di perjalanan, dalam van Teukie berkata pada Sungmin.

”Sungmin-ah, kau bisa gantikan aku siaran?”

”Mwo? Waeyo?” tanya Sungmin heran. ”Hyung masih tidak enak badankah? Ya sudah, aku siaran deh malam ini. Ajak Kyuhyun, yaaaa?” pinta Sungmin sambil mengedip-ngedipkan matanya.

”Terserah kau saja…” jawab Teukie sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil, sementara Sungmin menelepon Kyuhyun yang naik van satunya lagi.

*           *           *

Haejin turun dari mobilnya tepat di teras rumah, supirnya membawa mobilnya masuk ke dalam garasi, sementara Haejin masuk ke dalam rumah. Wangi masakan menguar, kemudian muncul Heenim.

”Onnie!” sapanya riang.

”Halooo…” Haejin masuk dapur. ”Wanginya enak bangeeeet…”

”Eh, jeongmal?” tanya Heenim girang. ”Ini aku buat sup ayam ginseng, untuk Donghae Oppa… juga buat Eomma, Appa, Haejin Onnie, Heejin Onnie, dan Haerim Onnie…”

Haejin tersenyum. ”Oke… aku ganti baju dulu ya, dan mau mandi… kerjaanku banyak sekali hari ini.” Dengan penuh keluhan, Haejin naik ke kamarnya, sementara Heenim menatapnya heran.

”Ahjussi di kantor bilang Haejin Onnie sudah tidak ada kerjaan… yah, mungkin Haejin Onnie memang suka kerja.”

*           *           *

From : fishy

Kau dimana??? Rumah sakit sudah sepi, tidak ada siapa-siapa lagi… malam ini menginap lagi ya J haejin-ah saranghae❤

To : fishy

Aku masih di rumah. Masih rame disini, Kyuhyun dan Yesung Oppa main lagi kesini… aish! Mereka tidak bisa lepas sedikit saja dari Heejin dan Haerim. Bikin iri… L

From : fishy

Wkwkwkwkwk, sabar jagiya… mereka menginap lagi, kah? Malam ini kau nginap sini lagi, harus! Kau nginap kan?

To : fishy

Iya, iya aku menginap… tapi aku mau bawa kantung tidur, tidur semalaman mem-bungkuk di kasurmu pinggangku pegal!

From : fishy

Kau tidur di kasurku saja, kita berdua… hahahaha, ara ara… jangan lama-lama ya jagiya, aku sudah kangen padamu.

To : fishy

Iya tunggu saja…

Haejin menutup flip ponselnya, dan meletakkannya di meja kerjanya, kemudian dia berdiri, dan langsung masuk ke kamar mandi, dan menyalakan radio di dalam kamar mandi, seperti biasa, untuk membuatnya semakin rileks, kalau mandi selalu mendengarkan musik.

Pintu kamarnya diketuk, Heenim memanggilnya berulang kali, namun tidak ada jawaban, maka Heenim langsung masuk, dan mendengar suara musik dari dalam kamar mandi.

Haejin sedang mandi, kemudian Heenim hendak keluar ketika ponsel kakaknya terang benderang, dan bergetar berputar di atas meja kerjanya. Heenim kira ada telepon, namun begitu melihat layarnya. Sms masuk dan yang membuatnya terkejut, nama pengirim sms yang terlihat di layar itu. Fishy… hanya ada satu orang yang dipanggil fishy, Donghae Oppa! Heenim langsung ingat bayangan ketika Haejin keluar dari dalam rumah sakit, dan berita bahwa dia tidak di kantor semalaman. Dengan rasa penasaran dibukanya pesan dari Donghae.

From : fishy

Oke jagiya, aku tunggu… saranghae… bogoshipo… jangan lama-lama kesininya yaaaa… aku sendirian di rumah sakit, tak ada yang jaga…❤

Heenim nyaris menjatuhkan ponsel kakaknya, kemudian buru-buru diletakkan-nya lagi ponsel itu di atas meja, setelah sebelumnya pesan dari Donghae dihapusnya, Heenim langsung buru-buru keluar dari kamar kakaknya, bersandar di pintu dan keringat dingin. Lalu masuk ke dalam kamarnya, melepas celemeknya begitu saja, dan duduk lalu buru-buru mengambil ponselnya, dari lima belas sms yang ia kirimkan kepada Donghae, hanya satu yang dibalas, itu pun membuatnya berhenti mengirim sms lagi.

From : Saranghaeyo Oppa

Ne, gwenchana… tanganku masih diinfus, mungkin tidak bisa balas smsmu. Aku baik-baik saja kok, belajar yang benar ya J

Heenim hampir menangis. Apa maksud semua ini? Apa yang terjadi? Donghae Oppa dan Haejin Onnie? Kenapa sms itu mesra banget, dan Donghae Oppa bilang… bilang saranghae… air mata menetes di pipi Heenim. Pintu kamarnya diketuk.

”Heenim-ah, Heenim-ah… heh, kokinya kok hilang sih?!” teriak Haerim dari depan pintu kamarnya.

Heenim berdeham, agar suara tangisnya teredam. ”Onnie, kepalaku sakiiit… Onnie makan saja duluan, semua sudah disiapkan, aku mau istirahat dulu!” balas Heenim dari dalam kamar.

”Mwo?!” Haerim kaget.

Kemudian dari belakangnya, Kyu memeluknya tiba-tiba. ”Apa yang kau lakukan disini, Jagi?”

”Oppa! Mengagetkan saja…”

”Hahahaha…” Kyuhyun tertawa renyah. ”Lho, katanya mau memanggil si Heenim, dimana dia?”

”Gak tau, Heenim bilang badannya gak enak…”

”Lha? Kok gitu? Tadi masak girang-girang aja…” komentar Kyu, kemudian merangkul Haerim pergi dari situ.

Heenim memeluk lututnya sendiri di atas tempat tidur, didengarnya banyak suara langkah kaki. Suara Yesung Oppa dan Heejin Onnie yang tertawa berdua, begitu juga Kyuhyun Oppa dan Haerim Onnie. Bahkan sekilas mendengar suara Haejin yang pamit tidur. Heenim duduk diam, kaku tidak bergerak, yakin kalau Haejin akan pergi ke rumah sakit.

Jadi, semalam Haejin Onnie di rumah sakit, menunggui Donghae Oppa. Dan air mata Heenim mengalir lagi, apa yang harus kulakukan? Kalau ternyata kakak kandungku, adalah wanita yang dicintai pria yang kucintai?

Malam semakin larut, mendekati pukul sebelas, suara-suara berisik dari kamar Heejin Onnie mulai tidak terdengar. Heejin Onnie pasti sudah tertidur, dan Yesung Oppa juga sudah kembali ke kamarnya. Hanya Haerim Onnie dan Kyu Oppa yang masih cekikikan di dalam kamar Haerim Onnie, sampai Heenim beranjak ke jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halaman depan rumah mereka. Sosok yang dikenalinya lewat.

Langsing, dengan cardigan bertudung berwarna abu-abu, menutupi kepalanya, celana bahan, dan tas besar. Menaiki mobil, dan mobil itu kemudian pergi keluar dari pelataran parkir rumahnya. Segera Heenim keluar dari kamar, dan buru-buru turun ke bawah.

”Lho?!” Kyu yang sedang berdiri di balkon kamar Haerim melihat Heenim masuk ke mobil, dan mobil langsung pergi.

”Kenapa?” tanya Haerim yang sedang membersihkan wajahnya di depan meja rias.

”Heenim mau kemana tuh? Naik mobil?”

Haerim memandang mobil Heenim yang pergi dari rumah. ”Oppa, kita ikutin yuk!” Kyu mengangguk, dan mereka berdua langsung naik ke mobil Kyu, dan mengikuti mobil Heenim.

Haerim dan Kyu terkekeh ketika melihat mobil Heenim masuk ke dalam pelataran parkir, dan memarkir mobilnya sejauh mungkin dari mobil Heenim supaya tidak ketahuan. Haerim dan Kyu keluar dari dalam mobil.

”Jagiya, kau yakin kita akan masuk ke dalam dan membuntuti si Heenim?” tanya Haerim heran.

”Yaaah, masa kau tidak penasaran sih adikmu ngapain?”

Haerim mengangguk-angguk, ”Tapi kalau kita ketahuan, aku tidak mau tanggung jawab ya, Oppa?”

”Ne…” Kyu berbalik, dan bingung lagi.

Haerim menatapnya. ”Oppa? Kenapa lagi? Ayo ke dalam, katanya mau intip Heenim dan Donghae Oppa?”

Kyu menatap sedan hitam di hadapannya, kemudian mengisyaratkan pada Haerim dengan tangannya, agar Haerim mendekatinya. Haerim menghampirinya dengan pandangan penuh tanya.

”Kenapa, Oppa?”

”Ini…” Kyu menunjuk mobil di sebrang mobil yang ia parkir. ”Sedan hitam ini, nomor plat ini… rasanya aku kenal…”

Haerim menatap mobil itu lekat-lekat, kemudian menekap mulutnya. ”Ini kan mobil… Haejin Onnie?” Haerim langsung mengambil ponselnya dan menelepon Heejin.

”Yeoboseyo?” kuap Heejin.

”Onnie! Cek kamar Haejin Onnie, Haejin Onnie ada di kamar tidak?” tanya Haerim panik.

”Mwo?! Cek sendiri sanaaaa… aku ngantuk sekali… besok pagi aku mau liat kura-kura di…”

”Aku di rumah sakit sekarang! Tidak bisa mengecek, cobalah kau cek, Onnie… palli!”

Suara mendesak dari Haerim membuat Heejin beranjak bangun, dan menuju kamar Haejin, dibukanya kamar itu, dan kosong. ”Lho?! Kok  kosong?”

”Mwo?!” pekik Haerim. ”Ne, ne… aku mengerti, makasih Onnie!”

Heejin buru-buru ke kamar Yesung dan membangunkannya. ”Oppa, irona! Oppa… kita ke rumah sakit, yuk!”

”Wae?!” tanya Yesung kaget. ”Donghae kenapa?”

”Molla! Yang jelas sekarang sepertinya Haejin Onnie sedang di rumah sakit bersama Donghae Oppa. Dan Haerim sama Kyu juga disana… palli!”

*           *           *

Dorm Super Junior.

Setelah berpura-pura istirahat, Leeteuk bangun dan memeriksa seluruh dongsengnya. Eunhyuk dan Sungmin siaran Sukira, Yesung dan Kyuhyun pacaran, sementara yang lainnya sudah positif tidur semua. Maka, Leeteuk buru-buru keluar dari dorm, masuk lift, dan turun ke bawah, kemudian menaiki mobilnya, dan mengendarainya menuju rumah sakit. Siap melihat dan menghadapi kenyataan pahit yang terbentang di hadapan.

*           *           *

Haejin turun dari mobilnya, mengambil tasnya, dan kantung tidurnya, kemudian segera mengunci mobilnya lagi, dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dan mengetuk pintu kamar Donghae, Donghae menyahut, dan Haejin membuka pintu kamarnya.

”Annyeong…” sapa Haejin sambil menutup pintu kamarnya.

”Annyeong…” balas Donghae sambil duduk tegak, dan langsung tersenyum sumringah.

Haejin menaruh barang-barang bawaannya di sofa, lalu menarik kursi dan mendekatkan diri ke ranjang Donghae. ”Bagaimana keadaanmu hari ini?” sambil tersenyum.

”Gwenchana, apalagi sudah melihatmu… benar-benar sehat!”

”Aish! Belajar darimana kau bahasa aneh itu?” Haejin geleng-geleng. ”Sudah makan?”

Donghae mengangguk seperti anjing jinak. ”Sudah minum obat?” tanya Haejin lagi.

Lagi-lagi Donghae mengangguk, kemudian dia menatap Haejin. ”Kalau begitu, mana hadiahnya?”

”Hadiah apaan?”

”Aku kan sudah makan…” kata Donghae dengan mata berbinar seperti anak kecil. ”Aku juga sudah minum obat…”

”Yah, kau seperti anak TK saja…”

”Ne, aku kan masih polos…”

Haejin terbahak. ”Kau? Kau polos?” lalu Haejin tertawa ngakak, dan menekap mulutnya. ”Lupa! Ini kan rumah sakit, aku tidak boleh berisik ya?” Donghae menarik-narik tangannya.

”Kau harus memberiku hadiah!”

”Ini sudah tengah malam, mana mungkin aku mencarikanmu hadiah…”

”Siapa yang minta dibelikan hadiah sih?”

”Lalu?”

”Popo…” sahut Donghae manja.

Mata Haejin terbeliak. ”Mwo?! Popo…? Yaish!” Haejin memukul tangannya, dan dilihatnya Donghae mengaduh kesakitan. Haejin panik dan memegang tangan, badan, kepala, kaki. ”Sakit ya? Aiiih, mianhae… mianhae… mana yang sakit? Mana yang sakit? Aduuuuh…”

Donghae kemudian tersenyum, dan dengan tangan bebas-infusnya, ditariknya tubuh Haejin hingga bibir mereka bertemu. Haejin kaget, tapi ya sudah lah, apa boleh buat, maka dipejamkannya saja matanya, dinikmatinya sensasi kupu-kupu yang menggelepar di perutnya.

Ya ampun, Donghae-ah… sedang sakit saja ciumanmu sedahsyat ini, apalagi kalau kau sedang sehat? Aku sampai tidak sanggup melepaskanmu, bibirmu bisa lembut dan panas pada saat bersamaan, Tuhan! Darimana Kau menciptakan kenikmatan ini. Haejin terus membatin, ketika lidah Donghae masuk dan bermain dengan lidahnya.

*           *           *

Heenim jatuh dan merosot di depan pintu, dari kaca kecil di depan pintu kamar Donghae, pemandangan di dalam kamar terlihat sangat jelas. Air mata duka mengalir, dan tangisannya tak bisa dibendung, dari belakang tiba-tiba ada yang merangkulnya begitu saja.

”Jangan disini, jangan sampai mereka melihatmu… eh, kita.” Heenim ditarik pergi oleh orang itu, dibawanya Heenim ke dalam mobilnya.

TBC

ya begitulah part ini, mulai senin tertanggal 28-06-2010 s/d 05-07-2010 saya hiatus… oiya mungkin saya tetap buka twitter sesekali, jadi semangati saya yaaa @nisya910716… saranghae ^_^ dukung Jinhae couple terus yoo, apalagi saya lagi hamil… *waras kumat*

4 thoughts on “Can It Be Love ~Part 6~

  1. oalah sejarahnya gara-gara berantem sama adeknya ngerebutin fishy toh? xD
    wkwkwkwk
    ihirrr sekinsip lagi nih jinhae. si ikan mahhh sakit-sakit masih napsuan.
    tebak-tebak berhadiah ahh. itu pasti angel teuk yah?
    merana banget jadi heenim sama jungsuu tapi jinhae juga merana -_-

  2. aihh ternyata ff curhatan toh momma.. memang apapun harus dilakukan demi menyelamatkan suami kita yah mommma *toss*
    cie cie yang udah sama sama nyatain perasaannya nii yeee *toeltoel*
    hm comment dkin nih momma.. yg pas pada ngikut ke rumah sakit itu agak kecepetan klo menurutku.. wkwk
    ahh sumpah lah yahh poppaku lucu banget sih kyak anak kecil gtu minta dipoppo.. ahh adegan yang paling aku demen ini mahh… wkwk :p
    hmm sabar yah buat heenim sama teuki.. kalian ga akan bisa masuk dalam cinta momma sama poppa.. wkwk :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s