The Stab of Jelangkung (Graveyard PG-15)

Dendam, Amarah, dan Benci…

Itu makananku…

tapi cinta dan kasih sayang…

itu kunci untuk melawanku…

Ririn, jika kau setia dengan perasaanmu pada Siwon, kau bisa melawanku…

tapi, Ririn… kau gamang karena kau mencoba mencuri hati Donghae…

Kau, dan keenam temanmu, sasaran empuk bagiku…


*Kamar Leeteuk*

Malam hampir mencapai puncaknya. Leeteuk yang sudah terlelap dari pukul sepuluh tadi sekarang sedang dibuai oleh alam mimpi. Awalnya mimpi biasa, hanya warna-warni indah beterbangan, namun tiba-tiba saja mimpinya berubah menjadi dunia yang serba hitam. Bayangan-bayangan putih berkelebatan. Teriakan-teriakan ketakutan. Wajah-wajah yang pucat, jeritan-jeritan nyaring memekakkan telinga, dan yang lebih parah lagi, boneka Jelangkung yang beterbangan.

Dan bohlam di atas tempat tidur Leeteuk pecah. PYAAAARRR‼! Kaca di lemari pakaian Leeteuk ikut pecah. PRANK! Leeteuk tersentak bangun mendengar suara-suara barang pecah di dalam kamarnya. Serpihan beling dari bohlam yang pecah berhamburan menghujani tubuhnya. Leeteuk berteriak, dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Bingkai-bingkai di dinding kamarnya yang megah pun ikut pecah, Leeteuk meraih selimut dan menutupi badannya sambil meringkuk di sudut ranjangnya.

Pyaaaaarrrr‼!

Praaaaaaannnk‼!

Wuuussssssss‼!

Dalam sekejap semua barang yang terbuat dari kaca di dalam kamar Leeteuk pecah berkeping-keping. Leeteuk hanya bisa meringkuk dan tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya dapat bingung menghadapi kekuatan yang tak pernah di bayangkan olehnya. Dia nampak ketakutan.

 

*Teras Rumah Siwon*

 

”Aku benar-benar tidak mengerti kenapa bisa ada kejadian seperti ini? Kejadian ini benar-benar diluar akal sehat. Nggak logis! Ini aneh… aneh banget…” tutur Leeteuk dengan wajah bingung dan nampak resah.

”Sekarang, kau mungkin baru ditunjukkan bahwa ada kekuatan lain yang diluar kemampuan manusia, Teukie-ah. Kau boleh tak percaya, namun pada kenyataannya kau sendiri yang ditunjukkan, kau mengalami sendiri, kan?” Donghae menanggapi.

”Donghae-ah, ini tidak masuk akal…” kata Leeteuk lagi.

Shindong menyahut. ”Perasaanku tidak enak!”

”Apa maksudmu?! Maksudmu kita akan mati, Shindong-ah?” tanya Eunhyuk grogi berat.

”Heii… ya nggak gitu juga lah, Eunhyuk-ah…” Haejin menenangkan.

”Aduuuuh, kukira ini semua sudah selesai…” Ririn nampak cemas.

Shindong langsung nyembur. ”Ini semua gara-gara kau, Ririn-ah!”

”Yah! Kenapa kau cuma bisa menyalahkan pacarku, sih?!” Siwon menyergah dengan marah. ”Bantuin mikir, kek!”

”Udah, udah… keumanhae… jangan salah-salahan terus.” Donghae melerai.

Haejin menatap berkeliling. ”Jadi, apa dong nih jalan keluarnya sekarang?” tanyanya tegas.

Donghae mengembuskan napas. ”Kalau menurutku sih, tapi ini menurutku saja ya, aku tidak tahu kalian akan setuju atau tidak, tapi solusiku satu-satunya ya cuma kita harus ke ’orang pintar’. Karena ini semua kan udah diluar kemampuan kita sebagai manusia. Atau ada yang punya ide lain?” usul Donghae.

Semua yang ada disitu, bahkan Leeteuk mengangguk dan menyetujui saran Donghae tersebut.

”Aku sangat setuju! Bener-bener setuju… aku nggak mau main sama yang namanya setan deh!”

”Apaan sih?!” desis Haejin menyuruhnya diam. Eunhyuk cuma nyengir sok manis kepada Haejin.

”Ada yang kenal nggak?” tanya Siwon.

Leeteuk menjawab. ”Aku tau dulu… Heechul, sahabatku yang hilang di Pyounggu, bersama gengnya pernah pergi ke ’orang pintar’ namanya Lee Soo Man.” Sahut Leeteuk membuat semua lega.

”Kau tau tempatnya dimana?” tanya Donghae.

”Nggak tau persis, tapi daerahnya aku tau…”

”Oke, gimana kalau kita kesana secepatnya?” usul Siwon yang sudah benar-benar tidak tahan dengan teror itu.

 

*           *           *

Malam itu juga, Leeteuk mengajak semuanya untuk pergi menemui ’orang pintar’ yang bernama Lee Soo Man tersebut. Semuanya menaruh harapan besar kepada Lee Soo Man ini. Selama ini mereka tak pernah sama sekali berurusan dengan ’orang pintar’ manapun.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, mobil Siwon memasuki jalanan berbatu-batu yang sempit dan temaram.

”Bener nih jalannya, Teukie-ah?” tanya Siwon pada kakaknya.

”Kayaknya mendingan kalau ada orang kita tanya dulu, deh…” sahut Leeteuk.

Siwon menghentikan mobil begitu dilihatnya beberapa orang berkumpul di sebuah pondok kecil. Leeteuk keluar dari dalam mobil, dan menghampiri pondok tersebut.

”Permisi… numpang tanya, rumanya Lee Soo Man-ssi, dimana ya?”

”Lee Soo Man-ssi? Aaah, dari sini lurus aja terus, nanti ada pertigaan, ambil yang kiri. Jalannya lebih kecil dan rusak, ikuti terus jalan itu sampai mentok, baru kemudian belok kanan, disitu ada rumahnya. Cari aja rumah adat, yang ada pendoponya…”

”Kamsahamnida, Ahjussi…”

”Ne, cheonmaneyo…”

Mobil Siwon kembali meluncur, mengikuti petunjuk yang diberikan tadi. Tak sampai lima belas menit, mereka akhirnya menemukan rumah Lee Soo Man. Lee Soo Man menerima Leeteuk cs di ruang tamunya yang beralaskan bantal-bantal empuk. Leeteuk, Siwon, Ririn, Haejin, Donghae, Shindong, dan Eunhyuk duduk mengitari Lee Soo Man. Di tengah-tengah mereka, asap kemenyan yang dibakar mengepul, menyebarkan bau dan suasana magis.

”Kedatangan kami kemari untuk minta tolong pada Haraboji…” Siwon membuka pembicaraan. ”Udah berapa malam ini, kami diganggu terus oleh hal-hal aneh. Kami nggak tau apa yang sebenarnya mengganggu kami…” siwon berhenti sebentar, kemudian melanjutkan. ”Mungkin awalnya, karena kami iseng-iseng main jelangkung…”

”Padahal itu hanya buat lucu-lucuan aja, Haraboji…” tambah Ririn.

”Jadi kalian pikir main jelangkung itu lucu?!” Lee Soo Man tiba-tiba membenak, matanya menatap tajam ketujuh muda-mudi yang sedang duduk melingkarinya itu.

Haejin melotot kesal kepada Ririn yang ngomongnya asal banget.

”Kalian ini anak muda sering kurang ajar! Tidak menghormati keberadaan makhluk lain seperti mereka menerima keberadaan manusia‼! Kalian pikir memangnya mereka tidak bisa marah?!” Lee Soo Man menatap lebih tajam lagi, membuat semuanya menundukkan kepala, tak ada yang berani balas menatap pandangan Lee Soo Man. ”Dengan main jelangkung, kalian telah membuka pintu gerbang antara dunia manusia dan makhluk lain. Makhluk apa saja bisa terpanggil, dan bisa jadi banyak yang terpanggil! Jangan coba-coba mengusik mereka kalau kalian memang tidak ingin diganggu! Mereka bisa membalas perbuatan kalian lebih kejam darpada yang kalian bayangkan! Camkan itu!”

Ririn semakin menunduk, ia kini benar-benar merasa bersalah.

”Iya, Haraboji… kami salah, kami nyadar kok…” Haejin akhirnya angkat bicara melihat penyesalan yang mendalam di wajah Ririn. ”Untuk itu makanya kami mau minta tolong sama Haraboji supaya kami tidak diganggu lagi.”

”Dari bermacam gangguan yang kami alami, yang aneh adalah gambar petak engklek, dan kata-kata Pyounggu.” Leeteuk ikut menjelaskan. ”Haraboji, mungkin ingat, dulu ada empat orang yang pernah datang kesini… kemudian mereka hilang di Pyounggu. Mereka itu teman saya, Haraboji…”

Mendengar cerita Leeteuk, wajah Lee Soo Man menjadi tegang. Ia menunduk dan menabur kemenyan di atas dupanya. Asap memenuhi ruangan. Eunhyuk bengek, Haejin menepuk-nepuk bahunya. Suasana mistik semakin kental, karena bulu kuduk mereka tiba-tiba meremng. Mulut Lee Soo Man tampak komat-kamit mengucapkan sesuatu.

”Haraboji, apakah ini ada hubungannya dengan empat orang yang hilang di Pyounggu itu?”

”Sssttt!” Lee Soo Man memotong pertanyaan Leeteuk yang menganggu konsentrasinya. Leeteuk terdiam. ”Saya bisa merasakan kehadirannya… ya… dia ada disini…” bisik Lee Soo Man.

Leeteuk, Donghae, Siwon, Ririn, Haejin, Eunhyuk, dan Shindong kompak merapat, dan melihat sekeliling sambil ketakutan.

”Kalian telah memanggil arwah anak yang dibantai di desa Pyounggu. Anak itu dibantai, karena keluarganya dianggap tukang teluh dan anak itu menjadi tumbal dari dukun lain di desa itu, Dukun Park Jin Young. Arwah anak itu tidak pernah tenang, karena dikuburannya… ditancapkan boneka jelangkung oleh teman-teman kalian!” dia tiba-tiba menunjuk ketujuh orang yang ada disitu. ”Teman-teman kalian itu mmbuat arwah anak itu marah! Sangat marah‼!”

”Siapa anak itu, Haraboji?” tanya Donghae.

”Ssttt‼!” wajah Lee Soo Man teap tertunduk mengikuti asap kemenyan, tubuhnya seperti menegang dan bergetar. Eunhyuk seperti biasa, ketakutan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Haejin, Haejin cuma bisa pasrah, karena dia yakin Eunhyuk kali ini benar-benar ketakutan, bukan mau cari kesempatan.

”Kalian!” teriak Lee Soo Man, ketujuhnya nyaris melonjak. ”Kalian harus copot boneka jelangkung itu dari kuburannya! Copot jelangkungnya itu segera! Kalian harus ke Pyounggu secepatnya! Bawa boneka jelangkungnya kemari! Cepat! Atau kalian akan terlambat!”

Eunhyuk benar-benar sudah memeluk Haejin, kali ini Haejin berontak, dan memukul-mukul tangan Eunhyuk yang melingkari perutnya.

”Tapi, Haraboji… kami nggak tau dimana Pyounggu itu!”

”Kami kan nggak tau kuburanny ada dimana!”

”Kita harus cari kuburannya dimana?”

”Pergi‼! Cepat… cepat! Kalian pergi sekarang juga‼! Copot jelangkungnya! Pergi kalian sekarang juga!” teriak Lee Soo Man.

”Tapi, Haraboji…”

”Pergi sekarang ke Pyounggu! Cari kuburan itu dan copot jelangkungnya! Sekarang juga‼!”

 

*Rumah Siwon*

”Aku tak yakin dengan perjalanan kita ke Pyounggu ini. Firasatku mengatakan kalau perjalanan ini akan membawa bencana untuk kita.” Keluh Shindong sambil memeriksa isi tasnya.

”Kenapa gitu, Shindong-ah?” tanya Haejin.

”Tadi malem, aku mimpi kita semua mati dibunuh penduduk desa Pyounggu! Nggak satupun dari kita selamat!”

”Tapi sekarang kita masih hidup, kan?”

”Tapi ini semua aneh bagiku, Haejin-ah… teman-teman Leeteuk kan semuanya hilang di Pyounggu gara-gara main jelangkung. Trus ngapain kita juga harus kesana sih, Haejin-ah? Gimana kalau nanti yang ada kita malah ikutan hilang kayak teman-temannya si Leeteuk?! Apa sih sebetulnya maksudnya Soo Man Haraboji itu?”

Haejin menutup ritsleting tasnya dan menghadap Shindong. ”Maksudnya, biar kita nggak digangguin lagi sama setan itu, Shindong-ah! Kalo nggak, kita bakalan di hantuin terus, kau mau? Udah deh, aku yakin ini emang jalan keluar yang paling baik, yang harus kita lakuin.”

Dan Haejin masuk ke dalam rumah, meninggalkan Shindong yang nampak tidak puas. ”Terserah deh.”

 

*OTW Pyounggu*

Siwon duduk di kursi depan, menemani Leeteuk yang menyetir mobil, beberapa kali melirik spion dalam untuk melihat posisi Ririn yang duduk disamping Donghae. Sejak berangkat, Siwon sudah gerah melihat Ririn yang tampak bermanis-manis pada Donghae. Dan sekarang, emosi Siwon sudah di ubun-ubun melihat Ririn tertidur dii bahu Donghae. Dan di sebelah Donghae, duduk Haejin yang menguap beberapa kali. Malam semakin larut, dan mereka mulai memasuki jalanan yang semakin sepi.

Siwon mencoba memusatkan perhatian pada peta yang dipegangnya, tapi baru sesaat, ia kembali melihat spion untuk memperhatikan Ririn. Tiba-tiba Siwon terkesima, wajah Ririn dilihatnya berubah menjadi seraut wajah yang pernah dilihatnya di bioskop. Siwon mengalihkan pandangan dengan takut, dan mengucek-ngucek matanya.

”Siwon-ah, waeyo? Kau mengantuk?” tanya Leeteuk.

”Ani, aniyo… gwenchana…”

Siwon menenangkan diri, kembali memberankan diri untuk melirik kaca spion. Kali ini wajah Ririn telah kembali. Siwon menarik napas lega, tapi ketika dia melirik kaca spion untuk melihat Ririn lagi. Wajah Ririn telah kembali berubah menjadi wanita yang tadi! Siwon gemetaran, bagaimana mungkin Ririn bisa berubah menjadi setan wanita itu? Siwon kembali berkonsentrasi pada peta di tangannya dan ta melihat lagi ke arah spion.

Di bangku paling belakang, Shindong juga setengah mengantuk. Kepalanya terayun-ayun karena menjadi berat oleh kantuk yang menyerang. Tiba-tiba di pinggir jalan yang gelap, Shindong melihat sosok wanita berambut panjang, dengan gaun putih, dan mata kosong menatap penuh kebencian, dan perut membesar.

Hostes Bunting!

Setan itu menatap dirinya. Shindong terkesiap, dan merasa aliran darahnya mengalir deras. Sosok itu jelas sekali berdiri di antara pepohonan. Anehnya, meski hanya berdiri, sosok Hostes Bunting itu seakan bergerak mengikuti mobil dan tetap berada di jkar pandangnya. Shindong ingin bersuara, mengungkapkan sesuatu, tapi lidahnya kelu, tak bisa mengeluarkan suara apa pun. Di sebelahnya, Eunhyuk, yang semua tertidur, mendadak terbangun.

”Teukie-ah! Bisa berhenti sebentar, nggak? Aku mau buang air kecil banget nih!” seru Eunhyuk dari belakang.

”Kebelet banget, Eunhyuk-ah?” tanya Leeteuk. ”Tunggu ya, kucarikan tempat yang agak aman…”

”Aduuuh, udah di ujung banget, nih! Buruan!” kata Eunhyuk.

Ririn akhirnya terbangun mendengar keributan suara Eunhyuk, Ririn menguap dan menoleh ke kanan dan kekiri. Siwon meliriknya dari spion, dan merasa lega mendapati wajah Ririn tak berubah.

”Udah dimana, nih? Masih jauh nggak, Siwon-ah?” tanyanya.

”Belum tau, Jagi… daerahnya gelap banget!”

”Teukie-ah! Berhenti dulu dooooong, aduuuuuh!”

”Tunggu agak terangan dikit, Eunhyuk-ah…”

”Tuh, depan sana agak terangan dikit, Teukie-ah… berhenti disana aja, kasian Eunhyuk.” Usul Donghae menunjuk.

Shindong menyela. ”Woi woi woi… mendingan kita jangan pada berhenti deh…”

”Kenapa sih, Shindong-ah? Kan kasian tuh Eunhyuk, ngompol lagi dia…” sahut Haejin.

”Aduuuuh, percaya deh padaku! Pokoknya jangan berhenti dulu!”

”Kenapa sih, Shindong-ah?!” Eunhyuk mendorong Shindong. ”Nanti ngompol, nih! Kau mau aku ngompol disini?!”

”Bukannya gitu…” Shindong menggeleng-geleng. ”Soalnya tadi… aku melihat, di pinggir jalan… ada… ada…”

”Ada apaan, Shindong-ah?!” tanya Siwon. ”Yang jelas dong kalo ngomong!”

”Ada… Hostes Bunting!”

Semua langsung kaget, dan menoleh ke belakang.

”Mwo?! Hostes Bunting? Serem amat namanya…” komentar Ririn.

”Iya itu apaan, Shindong-ah? Aku baru pertama kali dengar…” tambah Haejin.

”Kau tau darimana itu Hostes Bunting?” tanya Leeteuk. ”Hostes kok bunting, sih?”

”Iya coba deh jelaskan, Hostes Bunting itu apa?”

Shindong menggigit bibir. ”Jadi yang kudengar ceritanya begini, dulu ada cewek, kerjanya jadi hostes. Suatu kali dia hamil, trus cowok yang hamilin dia nggak mau tanggung jawab, nggak mau ngawinin sampe akhirnya cewek itu gantung diri dalem keadaan hamil! Makanya hantunya dia dipanggil Hostes Bunting, karena gitulah keadaannya.” Jawab Shindong.

”Aigooo! Seramnya… jadi terus dia gentayangan gitu dong, Shindong-ah? Sosoknya seperti apa?” tanya Ririn.

”Iya, Shindong-ah, wujudnya seperti apa?” tanya Eunhyuk.

Shindong menjawab. ”Yang kulihat tadi sih… pake baju putih panjang, perutnya hamil besar… rambutnya panjang menutupi separo mukanya. Mukanya sih nggak jelek, tapi matanya itu. Serem banget!”

”Aahh sereeeeem! Haejin-ah…” Eunhyuk langsung merengek.

”Aku juga tadi lihat…” Siwon menimpali.

”Hah?! Siwon-ah, kau lihat?! Lihat dimana?” semua langsung rame.

Siwon menjawab. ”Disini… di dalam mobil…”

”Haaahhh???‼!”

”Dimana, Siwon-ah? Dimana?!”

”Aduuuh, takuuuut…” suasana menjadi heboh di dalam mobil mendengar penjelasan Siwon barusan.

”Siwon-ah, jangan nakut-nakutin kita, dong!” seru Eunhyuk.

”Buat apa aku menakut-nakuti kalian semua? Aku memang tadi melihatnya, tadi di pangkuan Ririn waktu tidur!”

”Hah?!”

”Matilah!”

”Jagiya‼! Kau jangan begitu doooong, masa di pangkuanku sih?!”

”Trus dia kemana?”

”Nggak tau…” sahut Siwon gemetaran. ”Abis dua-tiga kali aku melihatnya dari spion dalam, trus dia hilang begitu saja.”

Haejin memeluk tubuhnya. ”Aduh merinding nih!”

”Pantas kau tadi seperti orang ketakutan, Siwon-ah.” Leeteuk ikut menimpali.

Siwon kemudian meneruskan penjelasannya. ”Aku sudah beberapa kali melihat setan itu. Pertama, waktu kita nonton sama-sama di bioskop. Dia duduk dibangku sebelahmu, Ririn-ah!”

”Ah, gila! Kenapa kau tidak memberitahuku?!” seru Ririn.

”Soalnya aku juga ragu sama mataku sendiri, selain itu aku tak mau kau tambah takut, Ririn-ah.” Sahut Siwon.

Ririn terdiam. ”Kenapa Hostes Bunting itu muncul selalu didekatku?”

”Nggak usah dipikirin, Jagiya… itu nggak berarti apa-apa…”

”Hmm… mungkin karena kau yang pertama main jelangkung, Ririn-ah…” sahut Eunhyuk.

”Makanya kan dari awal aku sudah…” Shindong berkata.

”Shindong-ah, keumanhae!”

Tapi tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak. Dan tiba-tiba saja mesinnya mati, berikut lampu sorot di depan.

”Teukie-ah, kenapa berhenti?” tanya Donghae heran.

”Molla… tiba-tiba mati…” Leeteuk heran sendiri.

Haejin dan Shindong kompak berkata. ”Nyalain mesinnya lagi!”

”Iya, iya…” Leeteuk mencoba menstarter mobilnya. Nggggg… nggg…

”Kok nggak mau hidup?” tanya Siwon heran. ”Kenapa mobilnya, Teukie-ah?”

”Ayo, Teukie-ah! Nyalakan mobilnya, aku takut!” cicit Eunhyuk.

Leeteuk mencoba menstarter lagi sampai beberapa kali, tapi mesin mobil tidak mau hidup juga. Semua langsung keringat dingin, dan duduk gelisah. Eunhyuk sudah gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki.

”Aneh, mobil ini nggak pernah ngadat sekali pun!” keluh Leeteuk.

”Aduh, gimana kalo nggak bisa hiduo? Aku nggak mau semalaman berada di tempat seperti ini‼!” kata Shindong.

”Tenang, tenang… jangan panik. Biarin dulu sebentar, baru coba lagi nyalain mobilnya, Teukie-ah…” Donghae memberi saran dan mencoba menenangkan.

Ngggg…. Nggggg…. Ngggg….

”Terus, Teukie-ah… terus! Udah mau hidup tuh tadi!” seru Haejin.

Leeteuk mencoba lagi, dan mesin mobil akhirnya hidup, semua menarik napas lega.

”Eunhyuk-ah, kau jadi mau buang air kecil, tidak?” tanya Leeteuk.

”Nggak… nggak… aku masih tahan sampai besok pagi! Kita langsung jalan saja!” seru Eunhyuk.

Leeteuk segera menjalankan mobil, kembali menembus kegelapan malam yang membuat mereka bekeringat dingin. Di belakang mobil, Hostes Bunting tampak melayang-layang mengikuti lajunya mobil. Wajahnya dingin tanpa ekspresi tapi matanya menyorotkan dendam dan kebencian.

 

*Paginya*

Mobil hitam itu akhirnya sampai di ujung jalan yang buntu. Hanya ada gubuk tua, dan hutan lebat semua mengelilingi mereka. Begitu sampai, ketujuhnya langsung turun dan memakai ransel mereka. Di atas gubuk tersebut burung gagak hitam berkoak-koak berisik, membuat Shindong merinding.

”Aduuuuh, coba deh kalian lihat! Itu burung gagak! Badlook tau nggak?! Aku nggak yakin perjalanan ini baik untuk kita!” seru Shindong.

”Yah! Shindong-ah, kau berisik sekali! Sudah, kalau kau memang tidak suka kau boleh pulang!” seru Siwon kesal.

Leeteuk dan Donghae kembali dari memeriksa gubuk itu.

”Gubuknya kosong! Kayaknya mendingan kita bagi jadi dua kelompok aja deh, biar nggak kemaleman. Soalnya kita kan nggak pake rencana ngingep segala, gimana, Teukie-ah?” tanya Donghae pada Leeteuk.

Leeteuk mengangguk. ”Aku setuju!”

”Ya udah, kalau begitu gini aja… patokannya, dapet atau nggak dapet jelangkungnya, paling telat, sebelum gelap harus udah sampe disini.” Donghae kembali meneruskan rencananya.

”Kalo gitu, Siwon dan Ririn ikut aku, sisanya… ikut Donghae, gimana?” tanya Leeteuk.

Akhirnya mereka berpencar. Donghae berjalan duluan, membawa golok untuk menebas semak belukar yang ada di hadapan mereka. Sementara Haejin, Eunhyuk, dan Shindong mengekor di belakangnya. Mereka akhirnya tiba di padang luas, cukup terang, dan sedikit semak.

”Donghae-ah! Kami capek, istirahat dulu ya!” seru Eunhyuk.

Donghae akhirnya berhenti, dan menurunkan tasnya, berikut menancapkan goloknya di pohon. Haejin menurunkan ranselnya, dan mengeluarkan botol minuman lalu menenggaknya.

”Dari tadi kek hutannya enak gini…” gumam Eunhyuk. ”Ah, kita foto-foto yuk! Haejin-ah, kita foto-foto yuk!”

”Ah ogah ah! Males!” tolak Haejin sambil bersandar di dahan pohon.

Eunhyuk mengeluarkan kameranya dan memberikannya kepada Shindong. ”Shindong-ah! Foto aku dengan Haejin dong!”

”Ah, Eunhyuk-ah! Kubilang aku sedang malas…” Haejin langsung menekuk wajahnya. Tapi Eunhyuk tidak peduli, dan malah berdiri lalu memasang gaya di sebelah Haejin. Shindong mengambil gambar mereka beberapa kali sampai Eunhyuk mau merangkul Haejin.

”Eh! Apa-apaan, nih?! Enak aja peluk-peluk! Udah deh nggak usah kebanyakan gaya! Cepetan!” judes Haejin. Akhirnya Eunhyuk bergaya biasa saja.

Donghae tiba-tiba saja sudah memakai carrier-nya lagi dan berkata. ”Ayo jalan lagi!” dan berlalu begitu saja.

”Iiih kok gitu sih?! Aku kan belum difoto?!” seru Shindong.

”Udahlah, buruan!” Haejin juga buru-buru memakai ranselnya dan mengikuti Donghae lagi masuk ke dalam hutan.

”Rese banget, sih!” kata Shindong ngomel. ”Emang dikiranya dia siapa?! Orang baru kenal juga! Udah sok-sok jadi pemimpin!”

”Iya, emang dia siapa sih?!” Eunhyuk ikut mengeluh. ”Kayaknya dia suka deh sama Haejin. Udah sini, kau aku saja yang fotoin…” akhirnya Eunhyuk meraih kameranya dan mengambil gambar Shindong.

Donghae muncul lagi. ”Eh! Kalian bisa serius sedikit nggak, sih?! Kita kesini tuh bukan mau main-main! Urusan bisa panjang nih kalo kalian main-main terus kayak begini!” Donghae menatap Shindong dan Eunhyuk kesal. Haejin menatap mereka tanpa ekspresi dari jauh, akhirnya Shindong dan Eunhyuk mengikuti Donghae dengan langkah diseret dan penuh gerutu.

Sementara itu kelompok satunya, Leeteuk, Siwon, dan Ririn juga masuk hutan bersama-sama, dan masih belum menemukan kuburan anak kecil yang dimaksud oleh Lee Soo Man Haraboji itu.

”Aduuuuh, bentar lagi gelap nih!” Leeteuk meletakkan goloknya dan memandang ke langit. ”Lupa banget! Kayaknya waktu itu Heechul pernah memberitahuku patokannya apa…”

Siwon menghela napas. ”Hutan ini gede banget, Teukie-ah… gimana kita bisa diharapkan untuk nemu kuburan itu dalam satu hari?! Mana sekarang udah mau gelap pula!”

Leeteuk menoleh menatap adiknya yang nampak lelah itu. ”Jangan pesimis gitu dong, Siwon-ah…”

Tanpa mereka sadari, Ririn yang sedang berjalan-jalan sendirian di balik pohon tempat mereka, entah apa yang membuat Ririn terus berjalan, kemudian dia tersandung sesuatu. Ketika Ririn mundur dan melihat apa yang di sandung, Ririn terperangah.

Kuburan itu tertutup ranting-ranting dan daun-daun, tidak terlihat seperti kuburan jika Ririn tadi tidak menyandung batunya. Namun yang membuat Ririn gemetaran, adalah boneka jelangkung berdiri tegak di atas kuburan itu. Inilah kuburan yang mereka cari.

To Be Continued

oke baiklah saudara-saudara… bagaimana Part 3-nya, pada puas??? hehehehe… sudah mulai menegangkan belum??? rencananya mau dibikin 3 part, tapi nampaknya molor… hehehe… sengaja aku publish jam segini, karena aku publish semalem jam dua belas, banyak readers yang ketakutan… wakakaka… :)

seperti biasa komennya saya tunggu, dan akan saya balesi satu persatu. gomawo sebelumnya… saranghae *deep bow*

FB : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : nisya910716 (yg mau di follback mention aja :) )

ym : nisya_siregar

Credit : Film + Novel = Tusuk Jelangkung

About these ads

One thought on “The Stab of Jelangkung (Graveyard PG-15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s